"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Runtuhnya Istana Pasir
[POV: Vaya]
Aku menyetir pulang dengan tangan yang gemetar hebat di atas kemudi. Kata-kata Rian terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. “Tanyakan bagaimana perusahaan ayahmu tiba-tiba bangkrut... Apakah itu benar-benar kebetulan?”
Sepuluh tahun lalu, ayahku adalah pengusaha tekstil yang cukup sukses. Lalu tiba-tiba, dalam semalam, gudang terbakar, investor menarik diri, dan hutang menumpuk. Di saat itulah, keluarga Elvaro datang membawa tawaran investasi dengan satu syarat: Pernikahanku dengan Narev.
Begitu sampai di apartemen, aku tidak menunggu lift dengan tenang. Jantungku berpacu. Saat pintu apartemen terbuka, Narev sudah berdiri di sana. Wajahnya pucat pasi, matanya mencari-cari luka di tubuhku.
"Vaya! Syukurlah kau pulang," Narev langsung menerjangku, mencoba memelukku, tapi aku mundur satu langkah. Tanganku terangkat menahannya.
"Jangan sentuh aku, Narev. Belum sekarang," kataku dengan suara yang pecah.
Narev membeku. Tangannya menggantung di udara. "Apa yang terjadi? Rian menemuimu, kan? Apa yang dia katakan? Dia menyakitimu?"
Aku berjalan melewati Narev menuju ruang tengah. Aku melihat Mici sedang duduk di karpet, sedang menyusun balok kayu. Begitu melihatku, Mici berdiri dan berlari mendekat.
"Mama! Uyang!" Mici memeluk kakiku.
Aku mengelus rambut Mici, mencoba mencari kekuatan dari sentuhan itu. Namun, suara hati Mici kali ini terasa sangat gelap, penuh dengan kabut hitam.
“Hati Mama warnanya abu-abu tua... Mama marah. Papa hatinya warnanya merah gelap, Papa takut rahasianya ketahuan lagi. Mici takut... jangan berantem...”
Aku menatap Narev yang berdiri di belakangku dengan wajah kaku. "Narev, jujur padaku. Apa yang terjadi dengan perusahaan Ayah sepuluh tahun lalu?"
Narev terdiam. Ruangan itu seketika menjadi sangat sunyi, hanya terdengar detak jam dinding yang terasa seperti vonis mati.
"Vaya, itu masalah bisnis yang rumit—"
"JANGAN PAKAI BAHASA BISNIS PADAKU!" teriakku, membuat Mici tersentak dan mulai sesenggukan. "Rian bilang kamu yang merancang kebangkrutan itu. Kamu yang membuat Ayah tidak punya pilihan selain menyerahkanku padamu. Benar begitu, Narev Elvaro?"
Narev memejamkan matanya rapat-rapat. Rahangnya mengeras sampai otot-otot di lehernya terlihat menonjol. "Rian melebih-lebihkan ceritanya, Vaya."
"Tapi kamu tidak menyangkalnya!" aku mendekat, memukul dadanya dengan kedua tanganku. "Jawab aku! Apa kamu yang menyabotase investor Ayah? Apa kamu yang sengaja mempercepat penagihan hutang bank lewat relasi ayahmu?!"
Narev menangkap kedua tanganku, menguncinya di depan dadanya. Matanya yang kelabu kini dipenuhi air mata yang tidak dia biarkan jatuh. "IYA! AKU MELAKUKANNYA!"
Aku terkesiap. Mendengarnya langsung dari mulutnya terasa jauh lebih menyakitkan daripada tuduhan Rian.
"Ayahmu saat itu sudah di ambang kehancuran karena spekulasi saham yang salah, Vaya! Jika bukan aku yang mengambil alih, keluarga kalian akan hancur total dan jatuh ke tangan kreditor jahat!" Narev berteriak, suaranya parau oleh keputusasaan. "Aku hanya mempercepat prosesnya agar aku punya alasan sah untuk masuk dan melindungimu! Agar aku punya hak untuk membawamu ke rumahku!"
"Melindungiku?!" aku tertawa getir di sela tangis. "Kamu menghancurkan harga diri Ayahku, Narev! Kamu membuatku merasa seperti barang dagangan yang ditukar dengan investasi! Itu bukan perlindungan, itu perampokan!"
"Aku mencintaimu!" Narev mengguncang bahuku pelan. "Aku tahu Rian sedang mendekatimu saat itu, dan aku tahu dia tidak punya apa-apa untuk menjagamu. Aku hanya ingin memastikan kau aman di bawah sayapku!"
"Sayap yang kamu buat dari reruntuhan hidupku?" aku melepaskan tanganku dari genggamannya dengan paksa. "Kamu benar-benar monster, Narev. Kamu egois. Kamu tidak pernah memikirkan perasaanku. Semua hanya tentang obsesimu untuk memilikiku."
Tiba-tiba, isak tangis Mici pecah. Suara hatinya meledak di kepalaku, begitu keras sampai aku harus memegang kepalaku sendiri.
“STOP! JANGAN TERIAK-TERIAK! Mama jahat kalau bilang Papa monster! Papa nangis setiap malam di depan foto Mama yang lama! Papa kerja sampai pagi buat balikin pabrik Eyang (Kakek)! Mici benci berantem! Mici mau pergi saja!”
Mici melepaskan bonekanya dan berlari menuju kamarnya, membanting pintu dengan keras.
Aku dan Narev sama-sama terpaku. Kebenaran dari batin Mici tentang Narev yang mencoba mengembalikan pabrik Ayah membuatku terdiam.
"Vaya..." Narev berbisik, dia jatuh berlutut di lantai, menutupi wajahnya dengan telapak tangan. "Aku tahu aku salah. Aku menghabiskan tujuh tahun terakhir mencoba menebusnya. Aku sudah membeli kembali semua aset ayahmu secara diam-diam dan menaruhnya atas namamu. Aku ingin memberitahumu saat kau sudah benar-benar mencintaiku... tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi."
Aku menatap pria yang bersimpuh di depanku. Dia adalah penghancur sekaligus penyelamatku. Dia adalah monster yang mencintaiku sampai rela menjadi jahat.
"Narev," suaraku melemah. "Kenapa kamu tidak pernah bicara? Kenapa harus selalu dengan cara yang ekstrem?"
"Karena aku takut," Narev mendongak, matanya merah dan basah. "Aku takut jika aku jujur, kau akan langsung lari ke Rian. Dan melihatmu bersama dia adalah kematian bagiku, Vaya."
Aku terduduk di sofa, merasa seluruh energiku terkuras habis. "Aku ingin bicara dengan Mici. Jangan masuk ke kamar dulu."
Aku melangkah menuju kamar Mici, meninggalkan Narev yang masih bersimpuh di ruang tengah dalam kesunyian yang menyiksa. Di dalam kamar, Mici meringkuk di bawah selimut, bahunya berguncang.
Aku naik ke tempat tidur, memeluknya dari belakang. "Mici... maafkan Mama."
Mici berbalik, matanya sembab. "Mama... Papa nggak jahat. Papa sayang Mama. Jangan pergi ya?"
“Hati Mama masih pecah... tapi warnanya mulai ada sedikit cahaya putih. Mama... tolong maafin Papa. Kasihan Papa sendirian di luar...”
Aku memejamkan mata, mencium kening Mici. Luka ini sangat dalam, Narev. Tapi melihat anak ini, melihat usahamu yang diam-diam mencoba memperbaiki apa yang kau hancurkan... aku tidak tahu apakah aku harus tetap membencimu atau mulai belajar menerima cacatmu.
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa