Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 31
Awalnya sunyi.
Tetapi bukan sunyi yang damai seperti di bawah semesta jingga dan pohon emas itu.
Entah bagaimana, kini Zenna terbenam dalam sunyi yang berat.
Dingin.
Menekan.
Kemudian, perlahan dan samar, getaran udara dan suara-suara asing mulai terdengar.
“...tekanannya mulai naik, Dok!”
“Jaga saturasi! Jangan sampai drop lagi!"
Zenna mulai merasakan tubuhnya sendiri. Berat. Remuk. Seakan ia patung batu yang baru saja dihancurkan dan ditata ulang oleh tangan-tangan dingin dan serampangan.
Bahkan bernapas saja begitu menyakitkan.
Zenna merasakan pelupuk matanya seakan membatu, ketika ia mencoba membukanya untuk kembali melihat dunia.
Sekali.
Dua kali.
Gagal.
Seolah ada sesuatu yang menahannya untuk tertutup.
"Nyonya Zenna, Anda bisa dengar saya...?"
Suara itu lembut namun asing.
Zenna kepayahan meresponnya. Menggerakkan satu jari saja rasanya seperti memindahkan gunung. Membuka kelopak mata saja rasanya seperti memecahkan permukaan danau es setebal tujuh kaki.
Tetapi rintihan lemah berhasil lolos dari tenggorokan dan bibirnya yang sekering gurun pasir.
Perawat dan dokter mendengarnya, dan seketika saling menyeru.
"Dok...!"
"Ya, aku juga mendengarnya. Nyonya Zenna, Anda sudah sadar?"
Setelah tarikan napas kesekian yang rasanya seperti menghirup jarum, akhirnya Zenna berhasil membuka mata.
Cahaya putih sejenak membutakan pandang. Kepala Zenna riuh berputar. Sesuatu yang dingin perlahan menembus kulit dan mengaliri nadi--seperti hujan es yang teguh mengetuk jendela tipis kesadaran diri.
Tak lama kemudian, segalanya mulai kembali tenang dan terang.
"Syukurlah Anda sudah sadar, Nyonya Zenna."
Seraut wajah lelaki bersih dan menawan merasuki netra Zenna. Netra hitam di balik kacamata beningnya menelisik tajam setiap reaksi Zenna.
"Siapa... Anda...?" tanya Zenna terbata, dengan suara sangat serak dan pecah, seperti serpihan kaca.
"Saya Dokter Kenan, yang bertanggung jawab merawat Anda di rumah sakit ini, Nyonya Zenna," jawab lelaki itu ramah dan lembut. "Saya senang akhirnya Anda sadar. Anda bisa melihat dan mendengar saya dengan jelas? Apa yang Anda rasakan sekarang?"
Dokter Kenan memeriksa kondisi Zenna dengan seksama, yang masih terlalu lemah untuk bicara, apalagi bergerak.
"Bram...," bola mata Zenna perlahan menari, mencari-cari. "Bram..."
Dokter Kenan terdiam sejenak usai melepas stetoskop dari telinganya.
"Anda saat ini dirawat di kamar ICU, Nyonya Zenna. Tak boleh ada yang menjenguk sampai kondisi Anda stabil, termasuk suami Anda. Tetapi jangan khawatir, saya akan mengabari Tuan Bram bahwa Anda sudah sadar. Begitu Anda pulih, Anda akan bisa bertemu lagi dengannya," tutur Dokter Kenan lembut.
Kepalanya yang masih sedikit berputar membuat Zenna kembali memejamkan mata. Dengan lambat ia akhirnya ingat: mual hebat, sesak, sensasi panas, tertusuk, dan menyakitkan seperti dibakar hidup-hidup di pesta itu, sebelum akhirnya ia hilang kesadaran.
Apa yang terjadi denganku...?
Zenna belum sanggup melontarkan tanya. Ia memutuskan tetap memejamkan mata, samar mendengar instruksi Dokter Kenan untuk pemberian beberapa jenis cairan dan obat baru demi menunjang kondisinya yang seperti habis diseruduk truk.
"Anda boleh beristirahat, Nyonya Zenna. Jangan banyak bergerak atau bicara dulu. Saya dan perawat akan selalu menjaga Anda. Jika ada sesuatu yang Anda rasakan, atau ada sesuatu yang Anda butuhkan, katakan saja, ya..."
Zenna mengangguk lemah. Sesungguhnya ia menginginkan sesuatu, tetapi terlalu berat rasanya untuk mengajukan itu. Ia begitu tak berdaya, hingga tak punya pilihan selain pasrah bagai sepotong ranting kecil hanyut diombang-ambing arus laut dingin.
Asa kecil itu hanya bisa terlantun lirih dalam batin Zenna yang kini meniru langit mendung, serupa patahan doa, diiringi rasa sendu dan rindu yang menyusup dalam tiap denyut nadi tanpa bisa dia bendung.
Bram... aku ingin kamu di sini bersamaku...
***
'Bram...'
Entah bagaimana, Bram seakan mendengar suara lirih Zenna memanggil namanya. Ia seketika menegakkan kepala dari tumpukan pekerjaan di atas meja kerjanya, dengan nanar memandang seisi kantornya yang lengang dan berdekorasi serba hitam dan cokelat itu.
Zenna...?
"Bram."
Pintu terbuka dan Paman Darwin memasuki ruangan dengan langkah tegap. Ia menurunkan ponsel dari telinga kanannya dan mematikannya, kemudian berkata, "Aku baru saja ditelepon dokter pribadiku. Ia bilang, Zenna sudah sadar."
Bram nyaris tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bongkahan karang tajam yang selama ini menyuruk kalbunya, serta-merta terangkat dan menjelma butiran debu di udara kaya cahaya.
"Zenna... sudah sadar?"
Tenggorokan Bram tercekat. Dengan cepat ia bangkit, menyambar jasnya yang tersampir di kursi, dan berjalan menuju pintu.
"Kamu mau ke mana?" tegur Paman Darwin.
"Rumah sakit," tangan Bram sudah hampir menyentuh gagang pintu. "Aku harus berada di sisi Zenna sekarang. Dia pasti membutuhkanku."
"Kamu lupa Rendy sudah melarang siapapun mendekati Zenna saat ini? Bahkan seekor lalat saja tidak bisa hinggap di kulit Zenna tanpa izin Rendy!" tukas Paman Darwin tajam.
"Aku tak peduli! Zenna istriku! Kalau perlu, akan kuhancurkan pintu dan jendela ruang ICU agar bisa menemuinya!" balas Bram dengan nada keras.
"Jangan bodoh, Nak!" Paman Darwin kini menahan bahu Bram dengan tangannya yang berkerut namun sangat kuat. "Rendy bisa memasukkanmu ke penjara kalau kamu berulah begitu! Kamu mau kondisi istrimu kembali memburuk gara-gara itu?"
Bram melepas cekalan tangan Paman Darwin, napasnya memburu kasar.
"Lantas aku harus apa?!" gerungnya. "Diam saja dan tak berbuat apa-apa, sementara Zenna sendirian di sana?!"
"Bukankah sudah kukatakan padamu? Zenna aman di sana. Ada dokterku yang merawat dan menjaganya. Dan kalau kamu mau segera bersatu dengan Zenna lagi, kamu harus secepatnya mengalahkan Rendy--"
"Kita sudah melapor dan menuntutnya, Paman, tapi itu tak cukup untuk membuatnya takluk hingga melepaskan Zenna!" Bram nyaris berteriak.
"Tentu. Kita butuh lebih banyak bukti untuk bisa membuatnya berhenti bersikap gila begitu. Itu artinya, sudah saatnya kita bergerak, kan?" pungkas Paman Darwin.
"Maksud Paman...?"
"Aku punya rencana. Tapi jika kamu mau aku membantumu, aku harus tahu dan yakin bahwa kamu tak akan mengkhianatiku."
Ekspresi Paman Darwin kini sekeras karang. Tatapan nyalangnya menuntut janji.
"Maksud Paman...?" Bram benar-benar tak paham sekarang.
"Aku tak akan membantumu jika kamu kelak membuangku seperti sampah tak berguna! Kamu dan Zenna berencana menyingkirkanku dari jabatan Ketua Dewan Komisi Atmaja Group--bukan begitu?!"
***
bram pantai aja dari jauh
Semangat nulisnya thor... makin ke sini makin seru ceritanya, narasinya juga bagus, layak dimarathon dan ditunggu updatenya /Good/