NovelToon NovelToon
DARI LAWAN HATI MENJADI CINTA SEJATI

DARI LAWAN HATI MENJADI CINTA SEJATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.

Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.

Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Jaket Denim

Kenzo tidak menunggu jawaban Reina. Ia menyambar helmnya dengan gerakan kasar, mengabaikan pesanan soto yang baru saja diletakkan penjaga warung di atas meja. Matanya terpaku pada pria paruh baya di seberang jalan yang kini melangkah mendekat dengan langkah angkuh yang sangat Reina kenali—langkah seorang penguasa.

"Kenzo Dirgantara."

Suara pria itu rendah, namun memiliki otoritas yang sanggup menghentikan kebisingan jalanan. Reina terpaku. Ia mengenali wajah itu dari majalah bisnis yang sering dibaca ayahnya. Bapak Bramantyo, pemilik jaringan logistik terbesar di negeri ini.

"Ayah," bisik Kenzo. Suaranya tidak lagi lantang seperti saat bernegosiasi dengan Bang Jago. Ada nada getir dan kekalahan di sana.

Bramantyo berdiri tepat di depan meja mereka, mengabaikan keberadaan Reina seolah gadis itu hanyalah bagian dari dekorasi warung yang kumuh. Matanya menatap tajam ke arah jaket denim Kenzo yang kotor terkena debu jalanan.

"Jadi ini alasan kamu menolak les privat ekonomi akhir pekan ini? Bermain kuli di pinggir jalan dengan... siapa ini? Teman tawuranmu?" sindir Bramantyo dingin.

Reina berdiri, merasa harga dirinya terusik. "Maaf, Pak. Saya Reina, Ketua OSIS SMA Garuda. Kami sedang urusan dinas sekolah untuk—"

"Dinas sekolah?" Bramantyo memotong dengan tawa sinis. "Anak saya tidak butuh 'dinas' untuk mengurus tenda karatan. Dia punya perusahaan untuk dipimpin nanti, bukan menjadi pesuruh organisasi amatir."

Kenzo mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Ini bukan soal pesuruh, Yah. Ini soal tanggung jawab. Aku sudah janji pada timku."

"Janji? Janji seorang Dirgantara itu di ruang rapat, bukan di gudang preman," Bramantyo memberi kode pada sopirnya. "Pulang sekarang. Atau fasilitasmu dicabut, termasuk motor sampah ini."

Kenzo terdiam. Reina bisa melihat pergulatan batin yang hebat di mata cowok itu. Sang pemberontak yang biasanya tidak takut pada siapa pun, kini tampak seperti burung rajawali yang sayapnya baru saja dipatahkan.

"Ken..." bisik Reina pelan, menyentuh lengan Kenzo.

Kenzo menepis tangan Reina perlahan. Ia menatap Reina dengan pandangan yang sangat asing—pandangan yang penuh rasa malu. "Maaf, Rein. Sepertinya... kerja sama kita hari ini selesai di sini."

Kenzo menyerahkan kunci motornya pada sopir ayahnya dan masuk ke dalam mobil mewah itu tanpa menoleh lagi. Mobil melesat pergi, meninggalkan Reina berdiri sendirian di pinggir jalan yang berdebu, memegang helm putih yang masih hangat bekas pakainya.

Gudang Sekolah - Pukul 16.00 WIB

Reina kembali ke sekolah dengan angkutan umum. Pikirannya kacau. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia salah menilai Kenzo. Kenzo bukan sekadar anak nakal yang hobi pamer kekuatan; dia adalah seorang anak yang sedang berusaha lari dari ekspektasi raksasa di pundaknya.

Ia memutuskan untuk pergi ke gudang sekolah, berniat merapikan dekorasi lama untuk mengalihkan pikiran. Namun, nasib sial sepertinya belum beranjak. Saat ia sedang sibuk menarik gulungan kain merah di pojok gudang, suara klik terdengar dari luar.

Pintu gudang tertutup rapat.

"Halo? Siapa di luar? Tolong!" teriak Reina sambil menggedor pintu besi yang berat itu.

Napas Reina mulai memberat. Udara di gudang itu sangat tipis dan penuh debu. Ia meraba sakunya—sial, ponselnya tertinggal di tas yang ia letakkan di ruang OSIS. Reina merosot ke lantai, mencoba mengatur napasnya yang mulai tersengal. Asma ringannya mulai bereaksi terhadap debu dan rasa panik.

"Tolong..." suaranya melemah.

Tiba-tiba, terdengar suara gaduh dari jendela kecil di bagian atas gudang. Seseorang melompat turun dengan tangkas, mendarat di atas tumpukan matras bekas dengan bunyi bug!

"Reina? Kamu di sini?"

Itu suara Kenzo. Dia kembali. Bajunya sudah berganti menjadi kemeja rapi, tapi napasnya terengah-engah seolah dia baru saja berlari maraton.

"Ken... sesak..." gumam Reina.

Kenzo segera menghampiri Reina, melihat wajah gadis itu yang mulai pucat. Tanpa ragu, ia membuka kancing kemejanya, menyisakan kaos dalam, lalu menyampirkan kemeja itu ke bahu Reina. Ia menarik Reina ke dalam pelukannya, mencoba menenangkan detak jantung gadis itu.

"Tenang, Rein. Tarik napas pelan-pelan. Aku di sini. Aku nggak akan biarkan kamu sendirian lagi," bisik Kenzo tepat di telinga Reina.

Dalam kegelapan gudang yang pengap itu, untuk pertama kalinya, tembok besar di antara mereka benar-benar runtuh. Reina mencengkeram kaos Kenzo, mencari pegangan di tengah sesak napasnya, sementara Kenzo terus membisikkan kata-kata penenang yang belum pernah ia ucapkan pada siapa pun sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!