Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *30
Sungguh, pernikahan bahagia yang mereka berdua bayangkan sebelumnya, sama sekali tidak pernah mereka rasakan sekarang. Pernikahan bahagia itu kini hanya tinggal mimpi saja. Karena kenyataan yang mereka tempuh, sangat berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam impian mereka berdua.
Marvel sebelumnya sempat membayangkan jika ia menikah dengan Yara, maka rumah tangganya akan selalu bahagia. Karena karakter Yara selalu ceria. Berbeda dari Rin yang mempunyai karakter serius setiap saat.
Sementara Yara pula dulunya membayangkan, kalau dia menikah dengan Marvel, maka rumah tangganya akan selalu tenang dan bahagia. Karena dia sudah melihat bagaimana sikap Marvel pada kakaknya.
Dia menolak dijodohkan dengan orang asing yang sama sekali tidak ia kenali. Lalu, dengan berani menjadi penjahat dalam hubungan kakaknya dengan calon si kakak hanya ingin hidup bahagia setelah menikah.
Sayangnya, mimpi selalu tak seindah kenyataan. Kebahagiaan itu tidak datang. Malahan, pernikahannya dengan orang tersebut berbanding terbalik dari yang ia harapkan.
"Asal kamu tahu, Yara. Aku sungguh sangat menyesal menikah dengan mu," ucap Marvel pada akhirnya.
Mata Yara membulat sempurna. "Kamu pikir, aku tidak merasakan perasaan yang sama, Kak Marvel?"
"Asal kamu tahu, aku juga menyesal karena telah menikah dengan mu. Jika saja aku tahu bagaimana sifat asli mu, maka aku tidak akan sudi menikah dengan mu, tau?"
Plak! Satu tamparan mendarat di pipi Yara. Tidak terlalu keras, tapi cukup membuat Yara kaget bukan kepalang. Dunia Yara berhenti untuk sesaat lamanya.
Manik mata gadis itu langsung berkaca-kaca. Perlahan, tangannya bergerak menyentuh pipi yang sedikit terasa panas.
"Kamu, tampar aku?"
"Apa, aku tampar kamu, lalu kamu mau apa?"
"Kak Marvel. Kamu!"
"Kenapa? Aku tampar kamu supaya kamu sadar, yang salah di sini adalah kamu. Jika bukan karena bujukan mu waktu itu, hidupku tidak akan jadi begini."
Yara tertawa lepas. Namun, dari kedua matanya mengalir air bening yang membelah pipi. Bibir tertawa, tapi mata menangis. Perih hatinya tidak tergambarkan lagi.
"Kamu menyalahkan aku di sini, padahal kamu juga salah. Kamu yang bersedia kabur bersama ku. Aku hanya mengajakmu pergi tanpa memaksa. Lalu kenapa, hanya aku yang kamu salahkan sekarang, ha?"
"Diam! Jangan bahas lagi soal itu. Karena hal itu sangat-sangat membuat aku merasa menyesal. Jika saja aku tahu kejadiannya akan begini, aku gak akan pernah milih buat kabur bersama kamu. Sungguh, itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku."
"Kamu pikir aku tidak menyesal?"
"Aku tidak ingin bahas lagi."
Keduanya saling bicara dengan nada tinggi. Ternyata, keduanya saling adu emosi. Tidak ada yang ingin mengalah. Makanya, setiap hari, perdebatan itu terjadi. Lalu, akan berakhir dengan saling banting barang. Setelahnya, sama-sama menghindar tanpa menyelesaikan masalah dengan jelas.
Sungguh, keduanya sama-sama tidak sadar saat ini. Yang mereka dapatkan adalah karma. atas luka yang telah mereka berikan pada Rin. Mereka mengkhianati Rin dengan kabur bersama. Lalu, membuat Rin terpaksa meninggalkan kota untuk menikah dengan pria desa. Tapi, yang maha kuasa telah memberikan imbalan yang setimpal untuk mereka semua. Yang awalnya terluka, telah menemui kebahagiaan yang sesungguhnya. Sementara yang awalnya bahagia, kini hidup dengan penyiksaan batin tanpa henti.
*
"Mama."
"Yara. Kok, kamu datang sendirian. Marvel mana?"
"Dia .... "
Yara mengantungkan kalimatnya. Dia bingung harus bicara apa. Setelah perdebatannya terakhir kali, dia dan Marvel tidak lagi saling bicara. Mereka hanya diam dengan wajah tegang dan kesal.
Lalu, Yara pun memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya. Dia ingin menenangkan diri di sini. Meluapkan segala sakit yang hatinya derita.
"Mama."
Yara malah langsung memeluk tubuh sang mama dengan erat. Tentu saja, wanita tua itu dibuat kebingungan akan ulah anak bungsunya yang sangat berbeda dari biasanya.
"Yara. Ada apa? Kamu kenapa?"
"Aku, lelah, Ma."
"Lelah? Karena apa? Beres rumah?"
"Siapa yang datang?"
Pertanyaan yang datang dari arah dalam rumah membuat ibu dan anak langsung melepaskan pelukan. Perhatian keduanya pun langsung teralihkan.
"Papa."
"Yara. Kok kamu pulang? Kenapa?"
"Papa. Apa aku tidak bisa pulang ke rumah lagi? Apa aku benar-benar tidak lagi punya tempat di sini?"
"Tempat? Kamu sudah punya rumah. Kenapa harus pulang? Bukankah kamu sudah bahagia setelah menikah dengan orang yang kamu inginkan?"
"Papa." Yara menundukkan wajahnya dengan sangat sedih.
Ingin sekali dia ceritakan perihal kehidupan rumah tangganya bersama Marvel. Namun, rasa malu itu masih ada. Dia tidak mungkin berkeluh kesah pada kedua orang tuanya karena pernikahannya yang tidak bahagia. Karena apa yang dia punya saat ini adalah pilihannya sendiri.
"Yara." Sang mama terlihat sedih. Mungkin, dia tahu apa yang anaknya pendam. Maklum, ikatan seorang ibu itu sangat kuat bukan?
"Mama, boleh aku masuk?"
"Iya. Ayo masuk, Nak."
Sang mama menyambut Yara dengan hangat. Tapi tidak dengan papanya. Orang tua itu masih terlihat kesal akan apa yang sebelumnya Yara lakukan. Wajahnya masih tidak bersahabat sedikitpun.
"Cepat pulang nanti," ucap papanya sebelum beranjak meninggalkan anak dan istrinya.
"Papa ngomong apa sih? Nggak bagus ngomong gitu sama anak."
"Anak yang sudah menimbulkan masalah wajar jika diberikan kata-kata yang tidak baik, bukan?"
"Papa."
Yara hanya menundukkan wajahnya dengan sedih. Sang mama mulai menghibur Yara sesaat setelah kaki suaminya beranjak menjauh dari mereka berdua.
"Yara. Jangan sedih. Papa kamu kan memang selalu begitu. Sudah, jangan dengarkan apa yang ia katakan."
"Papa masih tidak bisa memaafkan aku, Ma. Aku tahu itu. Papa masih kesal karena ulah yang telah aku buat sebelumnya."
Hembusan napas berat mamanya lepaskan.
"Lama kelamaan, papa mu akan memaafkan kamu. Biarkan saja dia begitu hingga waktunya tiba, hubungan kalian pasti akan membaik."
"Ma. Apakah kak Rin juga sama seperti papa? Atau, mungkin kak Rin juga tidak akan memaafkan aku karena kesalahan yang telah ku perbuat padanya."
Mamanya menatap Yara dengan tatapan lekat. "Rin .... " Kata itu hanya tergantung tanpa ada kelanjutan. Mungkin, sang mama sedang mencari sambungan kata yang pas untuk diucapkan. Sayangnya, tidak menemukan kata apa. Hasilnya, kata itu terputus begitu saja.
"Aku yakin kak Rin lebih marah padaku dari papa, Ma. Dia gak akan maafkan aku." Yara berkata dengan wajah sangat terluka.
Mamanya langsung mengelus bahu anaknya dengan lembut. "Jangan berpikiran seperti itu, Ara. Mama yakin, kakakmu pasti sudah memaafkan kamu. Dia tidak akan marah lagi padaku sekarang."
"Tapi, lihatlah papa, Ma. Papa masih marah padaku. Dan aku yakin, kak Rin juga sama. Karena sejak saat itu, aku sudah berulang kali mengirimkan pesan pada kakak. Sayangnya, kakak tidak membalas pesan ku satu kali pun."