Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Menumbalkan Putri yang Sudah Dibuangnya
Wandira terkesiap menatap ketampanan dan aura maskulin Cakrawirya yang begitu mendominasi, napasnya sedikit tertahan.
"Ngapunten, Raden," sapa Wandira dengan suara paling merdu yang dimilikinya, membungkuk hormat menonjolkan keanggunan keratonnya yang memesona.
"Kulo Raden Ajeng Wandira, putri dari Kanjeng Tumenggung Danurejo. Kulo belum pernah melihat Raden di sekitar sini."
Cakrawirya menghentikan langkahnya sejenak, melirik Wandira dari sudut matanya dengan ekspresi luar biasa bosan.
"Oh," respons Cakrawirya kelewat datar, tanpa setitik pun niat untuk membalas sapaan perkenalan itu.
Pemuda itu justru menarik kursi kayu di depan Sawitri dan duduk tanpa diundang, menopang dagunya dengan sebelah tangan.
"Gadis berwajah pucat yang duduk di depan kulo ini jauh lebih memukau daripada gelar panjang yang kowe sebutkan, Raden Ajeng Wandira."
Cakrawirya menatap wajah datar Sawitri dengan binar mata geli yang tersembunyi.
"Bagaimana, Ndara Tabib? Boleh kulo bergabung menikmati sate sapi ini?"
Sawitri menyesap es gempol plerednya dengan tenang, menikmati sensasi dingin yang menyapu tenggorokannya di tengah udara Mataram yang mulai gerah.
Ia sepenuhnya mengabaikan kehadiran Raden Cakrawirya yang sedari tadi menopang dagu, menatapnya dengan binar mata geli yang tersembunyi.
Tatapannya sesekali menyapu ke lantai bawah, mengamati beberapa abdi dalem yang mulai berbisik-bisik seraya melirik ke arah meja mereka.
"Informasi menyebar lebih cepat daripada wabah disentri di pasar ini," gumam Sawitri sangat pelan.
"Dan dalam hitungan jam, Kanjeng Tumenggung Danurejo pasti akan mendengar laporan bahwa putri buangannya kini bergelar 'Ndara Tabib'."
Sawitri mencoba menggali memori masa lalu tentang sosok ayah kandungnya itu, namun yang tersisa di benak tubuh ini hanyalah bayangan pria otoriter dengan kumis tebal yang tak pernah sekali pun menatap putrinya dengan kehangatan.
"Apa yang sedang kau pikirkan hingga keningmu berkerut begitu dalam, Ndara Tabib?"
Suara bariton Cakrawirya memecah keheningan di antara mereka, membuyarkan analisis internal Sawitri.
"Kulo sedang memikirkan anatomi leher manusia," jawab Sawitri datar, tanpa sedikit pun repot menatap wajah pemuda itu.
"Kulo bertaruh, jika kulo menusukkan jarum perak ke titik saraf vagus di leher Raden sekarang, jenengan akan kehilangan kesadaran dalam waktu kurang dari tiga detik."
Ndari, yang baru saja selesai menyantap klepon ketannya, langsung tersedak hebat mendengar ancaman klinis sang majikan.
Cakrawirya justru tertawa renyah, tawa yang dalam dan menggetarkan, membuat beberapa pengunjung kedai menoleh dengan tatapan terpesona.
"Ancaman yang sangat spesifik dan efisien. Kulo menyukainya," sahut Cakrawirya santai, mencomot sepotong jadah bakar dari piring Sawitri tanpa permisi.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Sawitri bangkit berdiri, merapikan lipatan jarik batiknya.
Ndari bergegas mengikuti, menenteng beberapa bungkusan daun jati berisi bahan makanan untuk Nyi Inggit.
"Kulo permisi, Raden. Banyak hal yang harus kulo kerjakan daripada meladeni omong kosong jenengan," ucap Sawitri dingin.
"Tentu," Cakrawirya tersenyum misterius, tidak berusaha menahan kepergian Sawitri.
Namun, saat Sawitri dan Ndari melangkah keluar dari kedai Bale Raos, hiruk-pikuk pasar mendadak pecah oleh suara gamelan yang bertalu-talu.
Rombongan prajurit keraton berpakaian merah menyala berbaris rapi membelah jalanan, mengawal sebuah tandu berukir naga emas.
"Gusti... itu tandu milik Raden Mas Dhaniswara dari Kadipaten Demak!" bisik seorang pedagang kain di samping Sawitri dengan nada takjub.
"Kudengar beliau datang khusus untuk melamar salah satu putri Tumenggung Danurejo!"
Sawitri menghentikan langkahnya seketika. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang salah.
"Melamar putri Tumenggung?" batin Sawitri. "Jika Wandira atau Ratih yang dilamar, mengapa berita ini mboten sampai ke pesanggrahan?"
"Karena bukan mereka yang dilamar, Ndara Tabib."
Sebuah suara membisik tepat di belakang telinga Sawitri, membuat bulu romanya meremang.
Cakrawirya entah bagaimana sudah berdiri tepat di belakangnya, berdiri cukup dekat hingga Sawitri bisa mencium aroma cendana yang menguar dari surjan pemuda itu.
"Apa maksudmu?" Sawitri berbalik cepat, menatap Cakrawirya dengan tatapan menusuk.
Cakrawirya tersenyum tipis, matanya mengunci pandangan Sawitri.
"Kanjeng Tumenggung Danurejo baru saja menerima pinangan dari Kadipaten Demak. Dan yang diminta untuk menjadi istri Raden Mas Dhaniswara... adalah putri sulung yang sah."
Cakrawirya memiringkan kepalanya, menatap Sawitri dengan intensitas yang membingungkan.
"Yaitu jenengan, Raden Ajeng Sawitri."
Udara panas Mataram mendadak terasa membekukan tulang.
"Logika yang sangat cacat," desis Sawitri dingin. "Tumenggung mboten pernah menganggap kulo ada. Mengapa tiba-tiba menyerahkanku pada bangsawan Demak?"
"Karena Raden Mas Dhaniswara terkenal memiliki temperamen yang sangat buruk dan konon telah membunuh tiga istri sebelumnya," jawab Cakrawirya tenang, seolah sedang menceritakan dongeng sebelum tidur.
"Tumenggung mboten ingin mengorbankan putri kesayangannya, jadi ia menumbalkan putri yang sudah dibuangnya."
Sawitri mengepalkan tangannya kuat-kuat. Emosi personal yang selama ini ia kunci rapat-rapat, perlahan mulai merembes keluar.
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah seorang dokter forensik mandiri yang tak pernah membiarkan siapa pun mendikte hidupnya. Dan kini, ia dihadapkan pada realita pahit sebagai pion catur seorang ayah yang kejam.
"Kulo mboten akan pernah membiarkan orang bodoh menentukan nasib kulo," desis Sawitri, suaranya sarat akan aura membunuh.
Cakrawirya menatap gadis di hadapannya dengan kekaguman yang tak bisa disembunyikan.
"Lalu, apa rencana jenengan, Ndara Tabib?" tanyanya lembut, sebuah provokasi halus yang menantang.
Sawitri menatap lurus ke depan, ke arah tandu emas yang semakin menjauh.
"Kulo akan membedah keluarga Danurejo dari dalam, hingga mereka memohon ampun pada setiap inci tulang rusuk kulo."