NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 11

Sebulan kemudian, deru helikopter sewaan memecah kesunyian hutan Kalimantan. Siska menggenggam tangan Arlan yang duduk di pangkuannya dengan antusiasme yang campur aduk. Di bawah mereka, hamparan hijau yang dulunya tampak seperti karpet tanpa ujung, kini mulai memperlihatkan pola-pola arsitektur organik yang menyatu dengan alam—inilah embrio Kota Hutan yang mereka mimpikan.

Begitu pintu helikopter terbuka di landasan semen darurat, Andi sudah berdiri di sana, kulitnya tampak lebih gelap dan wajahnya lebih tirus, namun matanya memancarkan binar yang tak pernah Siska lihat selama mereka di Jakarta.

"Bunda! Ayah!" Arlan berteriak kegirangan, lari menerjang pelukan Andi begitu kakinya menyentuh tanah.

Andi mengangkat putranya tinggi-tinggi. "Lihat itu, Lan? Itu jembatan yang Ayah bangun. Dan di bawah sana, ada ribuan teman 'Jaka' yang sedang tumbuh."

Siska berjalan mendekat, menghirup udara hutan yang kaya akan oksigen. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menatap Andi dengan senyum lega. "Kamu terlihat seperti orang hutan yang sangat bahagia, Ndi."

"Lebih dari bahagia, Sis. Di sini, setiap keputusan yang kita ambil langsung terasa dampaknya," sahut Andi sambil merangkul istrinya.

Mereka diajak menuju pusat kendali utama yang kini sudah lebih permanen. Mahesa menyambut mereka dengan sikap yang jauh lebih santai. Ia bahkan berjongkok untuk menyapa Arlan. "Halo, Jagoan. Mau lihat rahasia hutan ini di layar monitor?"

Di dalam ruangan, Mahesa memperlihatkan sistem monitor yang sudah diperbarui. Tidak ada lagi kabel yang menarik perhatian primata. Sebagai gantinya, sensor-sensor itu kini tersembunyi di dalam resin yang menyerupai tekstur kulit kayu.

"Siska, lihat ini," Mahesa menunjuk sebuah layar. "Bukan hanya kesehatan pohon, sistem AI kita sekarang bisa mendeteksi frekuensi suara gergaji mesin dalam radius lima kilometer. Jika ada pembalakan liar, sistem akan langsung mengirim koordinat ke satpam hutan dalam hitungan detik."

Siska tertegun melihat kecanggihan itu. "Ini bukan lagi sekadar proyek konstruksi, Mahesa. Ini adalah sistem pertahanan alam."

"Itu ide Andi," Mahesa melirik rekannya. "Dia bilang, tidak ada gunanya menanam kalau kita tidak bisa menjaganya."

Sore harinya, mereka bertiga berjalan menuju area persemaian utama. Andi membawa sebuah bibit pohon ulin yang paling sehat. "Arlan, ingat Jaka di Jakarta? Ini adalah sepupunya. Kita akan tanam di sini, di jantung Kalimantan, supaya dia bisa jadi raksasa yang melindungi semua hewan di sini."

Dengan tangan mungilnya yang belepotan tanah, Arlan membantu ayahnya menimbun akar bibit itu. Siska berlutut di samping mereka, tidak peduli lagi dengan noda tanah di celana kain mahalnya. Baginya, pemandangan ini jauh lebih berharga daripada peluncuran proyek properti termewah di pusat kota.

Saat malam turun dan bintang-bintang mulai menghiasi langit Borneo yang bersih tanpa polusi, mereka duduk di teras kamp kayu yang menghadap ke sungai.

"Ndi," bisik Siska sambil menyandarkan kepala di bahu suaminya, sementara Arlan sudah terlelap di dalam kamar kayu yang sederhana. "Dulu kita pikir pertempuran kita adalah melawan Ayah atau melawan Mahesa."

Andi mengangguk, merangkul Siska erat. "Ternyata pertempuran sebenarnya adalah melawan ego kita sendiri. Untuk mau berhenti membangun bagi diri sendiri, dan mulai membangun bagi mereka yang bahkan belum lahir."

"Kita berhasil, kan?"

"Kita baru memulai, Sis. Tapi setidaknya, kali ini kita punya tim yang tepat."

Di kejauhan, suara alam Kalimantan terdengar seperti simfoni yang megah. Di tengah kegelapan hutan, cahaya-cahaya kecil dari sensor AI milik Mahesa berkedip lembut seperti kunang-kunang elektrik, menjaga setiap jengkal masa depan yang sedang mereka rawat bersama.

Beberapa bulan setelah kunjungan ke Kalimantan, kabar mengenai kesuksesan integrasi teknologi dan konservasi di Kota Hutan menyebar melampaui batas negara. Sebuah konsorsium lingkungan internasional mengundang Gunawan Group untuk mempresentasikan model mereka di sebuah forum global di Singapura.

Di belakang panggung, Siska merapikan kerah kemeja Andi yang tampak sedikit kaku. "Tarik napas, Ndi. Kamu sudah menghadapi orang utan dan dewan direksi yang galak. Para investor ini jauh lebih mudah ditaklukkan."

Andi terkekeh, meski tangannya sedikit dingin. "Aku lebih suka menjelaskan struktur fondasi pada pekerja lapangan daripada bicara di depan ratusan orang berpakaian tuxedo ini, Sis."

"Kamu tidak bicara sebagai kontraktor hari ini," Siska menangkup wajah suaminya, menatapnya dengan penuh keyakinan. "Kamu bicara sebagai orang yang sudah melihat masa depan tumbuh dari tanah merah. Bicara saja dari hati."

Saat nama mereka dipanggil, Siska dan Andi berjalan berdampingan menuju podium. Mahesa sudah duduk di barisan depan, tampak bangga melihat sistem buatannya dipamerkan sebagai standar baru dunia. Presentasi itu tidak dimulai dengan grafik keuntungan, melainkan dengan video singkat Arlan yang sedang menanam bibit 'Jaka' di tengah hutan Kalimantan.

"Teknologi sering kali dianggap sebagai lawan dari alam," buka Andi, suaranya kini stabil dan menggema di seluruh aula. "Tapi bagi kami, teknologi adalah jembatan yang kita butuhkan untuk pulang kembali ke bumi. Kami tidak membangun kota di atas hutan; kami membangun kota yang menjadi bagian dari hutan."

Siska menyambung dengan suara yang elegan namun penuh otoritas. "Warisan bukan lagi soal berapa banyak emas yang kita simpan, tapi berapa banyak kehidupan yang kita selamatkan. Proyek ini adalah bukti bahwa keberlanjutan adalah investasi yang paling menguntungkan dalam jangka panjang."

Tepuk tangan berdiri yang meriah menyambut akhir presentasi mereka. Para jurnalis dan pemimpin industri berebut untuk mendekat. Namun, di tengah keriuhan itu, mata Siska bertemu dengan mata Pak Gunawan yang berdiri di pojok ruangan. Ayahnya tidak mendekat, hanya memberikan anggukan kecil—sebuah pengakuan tertinggi yang pernah diberikan pria itu kepada siapa pun.

Malam harinya, mereka bertiga—Siska, Andi, dan Mahesa—duduk di balkon hotel yang menghadap ke arah laut.

"Jadi, apa rencana selanjutnya?" tanya Mahesa sambil menyesap kopinya. "Setelah ini, pasti banyak perusahaan global yang ingin membeli sistem kita."

Siska menoleh ke arah Andi, lalu kembali ke Mahesa. "Kita tidak akan menjualnya, Mahesa. Kita akan menjadikannya open source untuk proyek konservasi non-profit di seluruh dunia. Kita cari untung dari pembangunan fisiknya, tapi teknologinya harus milik bumi."

Mahesa tertegun, lalu tersenyum lebar. "Tentu saja. Aku seharusnya sudah menebak jawaban itu dari kalian berdua."

Andi merangkul Siska, menariknya ke dalam dekapan hangat di bawah langit Singapura yang terang. "Membangun jembatan itu satu hal, Sis. Tapi memastikan semua orang bisa melewatinya secara gratis... itu baru namanya kemenangan sejati."

Di kejauhan, lampu-lampu kota tampak seperti bintang yang jatuh ke bumi. Namun bagi mereka, cahaya yang paling terang tetaplah cahaya dari masa depan yang telah mereka mulai tanam di pelosok Borneo—sebuah masa depan yang kini tidak lagi terasa seperti mimpi, melainkan sebuah kenyataan yang sedang tumbuh dengan kuat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!