Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.
Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.
Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.
୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantor
...୨ৎ──── C A V E L L ────જ⁀➴...
Aku berdiri di balkon sambil memandang halaman dan para penjaga, aku gak menoleh saat mendengar langkah kaki.
Aku mengenali langkah Mama. Bersiap menghadapi sejuta pertanyaan, aku pun berbalik menghadapnya.
Dia duduk di salah satu kursi santai dan berkata, "Keii bilang gadis itu cantik."
Aku mendekat lalu duduk di kursi lain. Dengan mata tertuju pada Mama, aku berkata pelan, "Bibi Keii benar."
"Kamu membawa Cherry untuk diri kamu sendiri?" tanyanya langsung ke inti.
"Gak." Aku melirik pintu kaca yang terbuka sebelum berkata, "aku mau menjodohkan Farris dengan Cherry."
"Oh." Alis Mama terangkat. "Farris anak yang sangat baik. Dia akan memperlakukan Cherry dengan baik."
"Lebih baik lagi kalau dia juga baik pada Farris," gumamku.
"Selalu protektif," kata Mama sambil tertawa kecil.
"Jangan bilang ke dia dulu. Aku harus bicara dengan Farris sebelum dia tahu tentang pernikahan ini."
"Oke." Dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Luke pasti sangat marah karena kamu membawa calon istrinya."
"Mungkin."
Tatapanku menyusuri wajah Mama berhenti pada mata kosongnya.
Dia kehilangan penglihatannya pada malam saat aku membunuh Papaku. Sudah sembilan belas tahun berlalu, tapi aku masih ingat setiap detik malam itu.
Teriakan Mama saat Papaku memukulinya.
Tendangan di kepalanya yang membuat dia koma selama tiga minggu.
Darahnya yang membasahi lantai.
Aku kehilangan kendali dan memukuli Papa sampai mati dengan tangan kosong. Wajahnya gak bisa dikenali lagi saat aku selesai. Malam itu mengubah seluruh hidupku.
Aku menjadi pemimpin Marunda saat berusia sembilan belas tahun.
Saat itu Mamanya Vloo adalah pembantu rumah tangga kami. Karena aku tumbuh bersama Vloo, dia satu-satunya pria yang aku percaya. Kami memindahkan Mama kami ke mansion ini, tempat mereka dijaga oleh pasukan kecil.
Vloo selalu berada di sisiku saat aku membangun kekaisaranku. Satu-satunya orang lain yang aku anggap teman dekat adalah Remy, salah satu bos Marunda.
Aku peduli pada Tully, Braun, dan Farris, tapi aku lebih cocok dengan Remy. Dia mengerti aku.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Mama.
"Semuanya," bisikku.
Dia berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Aku memegang tangannya dan menariknya mendekat sebelum menyandarkan kepalaku ke perutnya. Aku menutup mata saat dia mengusap rambutku.
"Beban kamu sangat berat," katanya pelan. "Mama khawatir sama kamu."
"Aku baik-baik saja," jawabku. "Jangan khawatir."
"Bagi orang lain, mungkin kamu adalah Capo dei Capi, tapi bagi Mama kamu tetap bayi Mama. Mama akan selalu mengkhawatirkanmu."
Sudut bibirku terangkat. Aku berdiri lalu memeluknya erat. "Aku sayang Mama."
"Mama lebih sayang kamu, anakku."
Vloo keluar ke balkon dan bertanya, "Siap?"
Aku mengangguk lalu menjauh dari Mama.
"Aku ke SCBD. Aku akan coba pulang akhir pekan."
"Oke." Dia menepuk lenganku. "Hati-hati di luar."
"Selalu."
Aku mencium kepalanya lalu berjalan bersama Vloo menuju helipad.
Aku duduk di ruang pribadiku yang menghadap seluruh klub. Larron dan Torra sedang memberi laporan tentang proyek pembangunan dan klub.
"Serikat pekerja gak memberi masalah," kata Larron.
Aku mengangguk. "Bagus."
"Ada orang yang ingin membangun gedung tinggi dekat hotel. Itu akan menghalangi pemandangan Sungai."
Aku menghela napas. "Buat mereka berubah pikiran dan jual tanah itu ke kita."
Orang-orangku sudah terlatih dengan baik. Mereka akan menggunakan cara apa pun yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Salah satu hal paling sulit yang harus aku pelajari adalah mempercayai anak buahku dan gak melakukan semuanya sendiri.
Saat mereka berdiri untuk pergi, aku melihat Torra berjalan sedikit pincang. Itu mengingatkanku saat Remy menembak kakinya karena dia sempat menyakiti Rainn.
"Torra, gimana kaki kamu?" tanyaku.
"Aku bakal minum obat nanti, bos. gak perlu khawatir."
Aku mengangguk lalu mengambil HPku. Aku membuka grup chat para bos Marunda lalu memulai panggilan video.
Saat wajah mereka muncul di layar, aku berkata, "Besok pagi jam sembilan ada rapat di klubku. Jangan terlambat."
"Kamu bisa aja kirim pesan," gumam Tully sambil menguap. Dia punya bayi kembar di rumah, jadi aku membiarkannya.
"Bayi-bayi itu bikin kamu kurang tidur?" tanya Remy.
"Iya. kamu tahu sendiri," kata Tully sambil tertawa.
Remy dan Rainn juga sedang menunggu anak kedua. Keluarga mereka semakin besar. Itu berarti lebih banyak orang yang harus aku lindungi.
"Sampai besok," kataku lalu menutup panggilan.
"Ada apa?" tanya Vloo.
"Gak ada."
Dia menuangkan wiski dari koleksi pribadiku lalu memberikannya padaku. Dia mengangkat alisnya.
"Mereka semua mulai berkeluarga," kataku.
"Kenapa, itu jadi masalah?"
"Berarti lebih banyak orang yang harus aku lindungi."
"Mereka punya penjaga sendiri," kata Vloo sambil berdiri di depan kaca satu arah yang menghadap klub. Matanya menyapu seluruh ruangan.
"Gak dengan Farris. Bajingan itu keras kepala dan selalu ceroboh." Aku meneguk wiski dan merasakan alkohol membakar tenggorokan. "Ingatkan aku untuk bicara dengannya."
"Baik."
Saat aku menikmati wiski, pikiranku kembali pada Cherry. Saat dia masuk ke ruang makan tadi pagi, sulit untuk gak menatapnya.
Aku gak akan mengakuinya keras-keras, tapi aku suka cara dia berpakaian.
Sial.
Aku bahkan gak ingat kapan terakhir kali bersama wanita.
Enam bulan?
Aku mengerutkan kening dan menatap Vloo. "Kapan terakhir kali aku bercinta?"
"Astaga." Dia menggeleng. "Yang pirang itu?"
"Yang mana?"
Dia tertawa. "Pokoknya udah lama."
Apa aku harus khawatir karena aku gak membutuhkan wanita selama berbulan-bulan ini?
Tiba-tiba ingatan tentang Cherry yang menunduk di sampingku saat jet mendarat muncul di kepala. Aku hampir menggeram.
Sial.
Aku langsung berdiri dan keluar dari ruangan untuk mengusir ingatan itu.
"Kita mau ke mana?" tanya Vloo saat berjalan di sampingku.
"Penthouse."
Aku butuh kesendirian untuk mengisi ulang energi, setelah dua hari berada di sekitar banyak orang.
Saat kami masuk ke SUV, Vloo bertanya, "Mau aku pesan makan?"
"Boleh."
Aku melihat keluar jendela dan sekali lagi Cherry muncul di pikiranku.
Tadi malam di helikopter, saat dia mencengkeram pahaku, aku merasakan ketertarikan yang gak aku inginkan.
Aku mengerutkan dahi dan mengusap bibirku sebelum memaksa diri mengusir pikiran tentang wanita itu.
Saat Vloo menghentikan SUV di parkiran bawah tanah, aku langsung membuka pintu dan keluar. Mataku menyapu area sekitar sebelum berjalan menuju lift.
Saat lift naik ke lantai paling atas, Vloo berkata, "Aku bakal pesan steak."
"Oke."
Pintu lift terbuka dan aku masuk ke penthouse. aku melonggarkan dasi sambil berjalan ke kamar.
"Aku mau mandi. Kasih tahu aku kalau makanan sudah datang."
"Baik."
Aku masuk ke kamar mandi lalu membuka keran. Setelah melepas pakaian, uap langsung memenuhi ruangan.
Saat aku masuk ke bawah pancuran air hangat, pikiranku kembali pada Cherry dan aku menghela napas.
Setelah aku menjodohkan dia dengan Farris, aku harus mulai memikirkan diriku sendiri.
Aku butuh seorang pewaris.
Aku juga gak muda lagi.
Tapi siapa?
Sial, sebenarnya itu gak terlalu penting. Selama wanita itu bisa memberiku anak, aku gak peduli.
Aku menghela napas lagi sambil mulai membersihkan tubuhku. Aku benci pernikahan.
Waktuku terbatas. Memiliki orang lain yang harus aku urus hanya akan membuatku semakin lelah. Itu bukan sesuatu yang perlu aku pikirkan sekarang. Yang perlu aku lakukan adalah menyingkirkan Maliki dan orang-orangnya dari Jakarta.
Setelah masalah itu selesai dan Farris bertunangan dengan Cherry, baru aku akan memikirkan lagi soal mencari istri untuk diriku sendiri.