Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Dengan gerakan santai namun penuh tekanan, ia melemparkan sebuah amplop putih ke atas meja di depan Hakim Chen. Amplop itu meluncur beberapa sentimeter sebelum berhenti tepat di hadapan sang hakim.
“Setelah melihat isinya, baru buat keputusan,” kata pria itu datar.
Alis Hakim Chen berkerut. Ia menatap pria di depannya beberapa detik sebelum akhirnya membuka amplop tersebut. Tangannya mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalamnya.
Begitu melihat gambar itu, wajahnya langsung berubah.
Tangannya yang memegang foto sedikit gemetar.
“Tuan Zhou… apa maksudmu dengan semua ini?” suaranya naik tanpa ia sadari. Ia langsung berdiri dari kursinya. “Kenapa foto putriku ada di tanganmu? Kau mengikutinya?”
Di foto itu terlihat putrinya sedang berjalan sendirian di jalan, masuk ke kampus, bahkan saat duduk di sebuah kafe. Jelas seseorang telah mengawasinya cukup lama.
Tuan Zhou tersenyum tipis, seolah menikmati reaksi itu.
“Hakim Chen,” katanya pelan namun tajam, “putrimu cantik dan masih muda. Kalau terjadi sesuatu padanya bukankah sangat disayangkan?” Ia sedikit membungkuk, menatap foto di tangan hakim itu.
“Dia punya mimpi yang bagus… ingin menjadi hakim seperti ayahnya.”
Hakim Chen mengepalkan tangannya. “Kau mengancamku menggunakan putriku?” tanyanya dengan suara tertahan. “Apa sebenarnya yang kau inginkan?”
Tuan Zhou menegakkan tubuhnya kembali.
“Jessica telah membunuh orang tuanya. Dia pantas mati,” katanya tanpa ragu. “Hukum harus adil. Jadi jalankan eksekusinya dalam dua hari ini. Aku tidak ingin menunggu lama.”
Ruangan terasa semakin menekan.
Hakim Chen menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya meski dadanya dipenuhi amarah dan kecemasan.
“Tuan Zhou,” katanya akhirnya, nada suaranya kembali lebih terkendali, “saya hanya mengadili kasus ini. Putusan memang sudah saya jatuhkan.”
Ia meletakkan foto itu kembali ke meja. “Namun tanpa tanda tangan dari dua hakim tingkat tertinggi, eksekusi belum bisa dilaksanakan. Setelah melewati peninjauan Pengadilan Tinggi Provinsi Kota S, berkas itu akan dikirim ke Mahkamah Agung Rakyat. Jika disetujui, eksekusi akan segera dijalankan.”
“Aku tidak butuh semua proses yang memperlambat jalannya hukuman itu,” ujar Tuan Zhou dengan nada dingin.
Hakim Chen menatapnya dengan wajah tegang. Ia mencoba menahan emosinya, meski ancaman terhadap putrinya masih terbayang jelas di kepalanya.
“Tuan Zhou, ini negara hukum,” jawabnya perlahan namun tegas. “Jika aku langsung menjalankan hukuman mati, jangankan berhadapan dengan Mahkamah Agung, menghadapi pengadilan tingkat provinsi saja aku tidak akan bisa. Semua orang tahu siapa Hakim Li. Tanpa persetujuannya, tidak ada eksekusi yang bisa dijalankan.”
Mata Tuan Zhou menyipit tajam..“Kalau begitu jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi pada putrimu,” ancamnya sambil berbalik hendak pergi.
“Tunggu!” seru Hakim Chen cepat.
Pria itu berhenti, namun tidak menoleh.
Hakim Chen menarik napas panjang, dadanya terasa berat.
“Akan kulakukan sesuai permintaanmu,” ucapnya akhirnya dengan suara tertahan. “Tapi kau harus berjanji tidak akan menyentuh putriku.”
Sudut bibir Tuan Zhou terangkat tipis, seolah ia sudah menduga jawaban itu.
***
Di tempat lain, suasana jauh lebih sunyi.
Di ruang pertemuan penjara wanita, Jaksa Wu duduk berhadapan dengan Jessica Zhou. Lampu putih di ruangan itu membuat wajah Jessica terlihat pucat dan lelah.
“Jessica Zhou,” kata Jaksa Wu dengan nada profesional. “Saya Jaksa Wu. Kami akan melakukan penyelidikan ulang atas kasus pembunuhan terhadap Tuan Zhou dan Nyonya Zhou. Jika Anda tidak keberatan, saya ingin mendengar langsung apa yang sebenarnya terjadi malam itu.”
Jessica menunduk beberapa saat sebelum menjawab. Suaranya pelan dan serak.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi,” katanya. “Aku terbangun di ruang tamu. Saat sadar… aku melihat kedua orang tuaku sudah bersimbah darah.”
Tangannya sedikit gemetar ketika mengingat kejadian itu.
“Di tanganku ada pisau… pisau itu penuh darah mereka.”
Jessica menutup matanya sejenak. “Tidak lama kemudian kakakku pulang… dan melihat semuanya.”
Jaksa Wu memperhatikannya dengan serius, mencoba menangkap setiap detail.
“Apakah Anda masih ingat kegiatan Anda hari itu? Pergi ke mana saja, bertemu siapa?” tanyanya lagi.
Jessica menggeleng perlahan.
“Aku sudah mencoba mengingatnya berkali-kali… tapi kosong. Tidak ada bayangan apa pun.”
Ruangan kembali hening sejenak sebelum Jaksa Wu melanjutkan pertanyaannya.
“Selain kakak Anda, apakah ada orang lain yang datang ke rumah malam itu?” tanya Jaksa Wu. “Dan mengenai kata sandi pintu rumah keluarga Zhou… siapa saja yang mengetahuinya?”
“Yang tahu hanya kami sekeluarga,” jawab Jessica pelan.
Jaksa Wu menatapnya beberapa detik sebelum kembali bertanya.
“Apakah Jeff Zhou juga mengetahuinya?”
Jessica langsung menggeleng.
“Paman tidak tahu. Sandi pintu itu adalah rahasia keluarga Zhou.”
Jawaban itu membuat Jaksa Wu terdiam. Ia membuka kembali berkas laporan forensik yang ia bawa, matanya menelusuri baris demi baris dengan serius.
"Sesuai laporan sidik jari… hanya anggota keluarga Zhou yang pernah menyentuh tombol sandi pintu itu. Tidak ada sidik jari Jeff Zhou sama sekali," batin Jaksa Wu.
Alisnya sedikit berkerut.
Di atas kertas itu semuanya terlihat jelas, seolah kasus ini memang sempurna mengarah pada Jessica.
Jessica yang duduk di depannya tampak gelisah. Ia menggenggam kedua tangannya erat di atas meja.
“Jaksa Wu…” suaranya lirih.
Pria itu mengangkat kepala.
“Menurutmu siapa pelakunya?” tanya Jessica dengan mata penuh harap. “Apakah aku masih punya kesempatan untuk bebas?”
Jaksa Wu belum sempat menjawab ketika Jessica melanjutkan dengan nada pahit.
“Aku sudah mencoba mengajukan banding… tapi ditolak.”
Mata Jaksa Wu langsung berubah. “Apa? Bandingmu ditolak?” ulangnya, jelas terkejut.
Jessica mengangguk perlahan.
“Iya. Aku merasa tidak adil, jadi aku mencoba mengajukan banding. Bukankah setiap terdakwa punya hak untuk itu?” katanya dengan suara bergetar. “Tapi kenapa aku tidak mendapatkannya? Permohonanku ditolak berkali-kali.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa semakin sunyi.
Jaksa Wu menatap wanita muda di depannya dengan tatapan tajam.
Ada yang sengaja menutup jalannya.
Ia perlahan menutup berkas di tangannya.
"Sepertinya memang ada seseorang yang sangat ingin Jessica tetap menjadi tersangka… dan tidak pernah keluar dari penjara ini," batin Jaksa Wu.