Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Setelah cukup lama bercermin dengan wajah puas, Bima melambaikan tangan kepada pramuniaga. “Tolong bungkus pakaian lamaku yang tadi. Aku ingin membawanya pulang. Jangan lihat aku seperti itu—celana yang kupakai tadi harganya cuma lima puluh ribu, tapi sudah menemaniku cukup lama.”
Sari benar-benar ingin memasang papan di kepalanya bertuliskan: Aku tidak mengenal bajingan ini.
Setelah keluar dari Grand Indonesia, Sari meminta Bima mengemudikan mobil kembali ke rumah. Ia perlu mengganti pakaian untuk menghadiri pesta nanti malam. Di rumah, Wanda kebetulan sedang berada di ruang tamu.
Gadis itu mengenakan piyama tipis dan tengkurap di sofa sambil membaca novel. Dadanya tertekan ke bantal hingga tampak seperti dua bola voli yang pipih.
“Eh, Jagoan kita sudah datang?” Mata gadis itu langsung berbinar ketika melihat Bima. “Hari ini kelihatannya sangat rapi!”
“Jagoan?” Sari tampak bingung.
“Benar! ‘Delapan kali semalam’, singkatnya begitu, tahu?” kata Bima sambil membusungkan dada.
“Pergi saja kau!” Sari menggertakkan gigi, lalu masuk ke kamar dengan kesal untuk berganti pakaian.
“Nona Wanda, jangan bergerak! Tetaplah seperti itu!” kata Bima cepat ketika melihat Wanda hendak bangun. “Di rumah sendiri saja, tidak perlu repot-repot. Posisi seperti itu sudah sangat baik! Kalau kau bangun, aku justru yang merasa tidak nyaman!”
Kalau ia benar-benar duduk tegak, pemandangan dua “bola voli” yang tertekan itu tentu akan hilang.
“Baiklah, kalau begitu aku tidak akan bergerak,” kata Wanda polos. “Di kulkas ada cola dan susu. Ambil saja kalau ingin minum.”
“Kalau begitu aku minum susu.” Bima berjalan ke kulkas, mengambil satu kotak susu, lalu duduk di samping Wanda. Ia meneguk sedikit susu sambil melirik ke arah dada gadis itu dan mengangguk-angguk. “Hmm… susu yang bagus!”
“Oh, itu yang kau minum milikku. Susu Kak Sari sebenarnya lebih enak. Sayangnya sudah habis kuminum,” kata Wanda santai tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.
“Hah? Susumu… dan susu Sari lebih enak?” Bima hampir menyemburkan minumannya. Kedua gadis ini bahkan belum menikah—bagaimana bisa…
“Ya. Punyaku beli di supermarket. Sedangkan milik Kak Sari dibawa langsung dari peternakan organik di Lembang oleh temannya. Rasanya jauh lebih enak. Ada masalah?” tanya Wanda dengan wajah heran.
“Tidak ada masalah… aku hanya merasa sebenarnya kau cukup baik.” Bima buru-buru menggelengkan kepala, merasa pikirannya sendiri terlalu kotor. Namun ia tetap berteriak ke arah kamar Sari:
“Sari! Wanda bilang susumu enak! Nanti kalau ada kesempatan biarkan aku mencicipinya juga!”
Bam! Dari dalam kamar terdengar suara sepatu menghantam pintu.
Pandangan mata Bima kembali tertuju pada Wanda. Sepasang “bola voli” yang tertekan itu terlalu menggoda. Ia menundukkan kepala sedikit dan mendekat, seolah ingin melihat lebih jelas sambil menyamarkan gerakannya dengan melirik buku yang sedang dibaca gadis itu.
“Oh? Legenda Pendekar Racun Nirwana? Kamu suka membaca novel silat?” tanyanya sambil tersenyum.
“Penggemar berat!” jawab Wanda dengan bangga. “Selama itu novel silat terkenal, tidak ada yang tidak kuketahui!”
Bima tersenyum tipis. “Jangan terlalu percaya diri. Aku akan mengajukan tiga pertanyaan, semuanya dari novel silat. Kalau kamu bisa menjawabnya, barulah kamu benar-benar hebat!”
“Baik! Tanyakan saja! Kalau aku tidak bisa menjawabnya, kamu boleh melakukan apa saja!” kata gadis itu penuh semangat.
“Baiklah, kita mulai.”
Bima mengangkat satu jari.
“Pertanyaan pertama. Dari Novel Pendekar Cakar Elang. Cakra menunggu kekasihnya selama enam belas tahun setelah kehilangan satu lengan. Pertanyaannya… selama belasan tahun itu, bagaimana cara Cakra memotong kuku jarinya?”
“Hah?”
Wanda menatap tangannya sendiri dan mencoba membayangkannya. Ia berpikir keras sejenak, lalu mengerucutkan bibir. “Uh… aku harus memikirkannya lagi. Tanyakan saja pertanyaan kedua dulu!”
Bima melambaikan tangan dengan santai. “Baiklah. Pertanyaan kedua. Dalam Novel Golok Pembunuh Iblis, Satria Langit selama bertahun-tahun kakinya dirantai besi. Jadi… bagaimana dia mengganti celana dalamnya?”
“Hah? Ganti celana?” Wanda kembali terdiam.
Bima tertawa kecil. “Tidak tahu juga? Baiklah, pertanyaan ketiga. Dalam Legenda Pendekar Racun Nirwana, Ratna Pradana berlatih ilmu Cakar Tulang Putih, kukunya panjang dan melengkung tajam. Jadi… bagaimana dia mencebok pantatnya?”
Wanda langsung menyerah. Ia mengangkat kepala dan menatap Bima dengan kagum.
“Bang Bima, aku tidak menyangka kamu cukup hebat! Cara berpikirmu luas sekali! Aku sudah baca novel-novel itu berkali-kali, tapi tidak pernah memikirkan pertanyaan aneh seperti ini!”
“Tentu saja!” kata Bima dengan bangga. “Sebenarnya keahlianku yang paling hebat adalah… menceritakan lelucon!”
“Lelucon? Aku juga suka!” Wanda langsung bersemangat. “Ceritakan satu!”
“Bima, kamu mau menceritakan lelucon pada Wanda? Bagus sekali. Ceritakan juga padaku, biar aku dengar!”
Suara dingin tiba-tiba terdengar dari arah kamar. Sari keluar dari kamar setelah berganti pakaian. Ia mengepalkan tangan kecilnya, tersenyum tipis—tetapi sorot matanya hampir menyemburkan api. Bajingan ini sudah cukup menghancurkan dirinya, sekarang bahkan Wanda pun ingin dia racuni pikirannya!
Melihat ekspresi yang hampir membunuh itu, Bima buru-buru mundur. “Sudah hampir waktunya. Leluconnya lain kali saja!” katanya cepat. “Oh iya… pakaianmu sekarang cukup bagus. Aku beri nilai tiga puluh dua jempol!”
Sari menata rambutnya dengan sanggul sederhana, mengenakan riasan tipis, dan mengenakan gaun malam ungu. Gaun itu bertali setengah bahu, memperlihatkan leher ramping serta bahu putihnya yang halus. Potongannya membentuk lekuk tubuh yang sempurna. Dari kejauhan, ia tampak seperti seekor angsa ungu yang anggun—mewah sekaligus memikat.
Namun ketika melihat Bima menatapnya tanpa sedikit pun menahan diri, amarah Sari semakin memuncak.
“Bima! Kalau kamu berani lagi menceritakan lelucon pada Wanda, aku tidak akan melepaskanmu!”
“Kak Sari? Kenapa? Aku suka mendengar lelucon!” protes Wanda.
“Pokoknya tidak boleh!” kata Sari dengan kesal. “Dia bukan orang baik. Lelucon apa yang bisa keluar dari mulutnya?”
Wanda mengerucutkan bibirnya. “Menurutku Bang Bima cukup baik. Humoris, pintar, dan sabar. Kamu yang terlalu galak. Dia selalu tersenyum walaupun kamu memarahinya.”
“Belahan jiwaku!” seru Bima hampir menitikkan air mata.
“Humoris? Itu namanya lidah licin!” Sari menggertakkan gigi. “Hmph… tidak adil. Kamu saja berbicara dengannya ‘delapan kali semalam’, masa dia tidak boleh menceritakan dua lelucon padaku?” gumam Wanda dengan wajah kesal.
“Apa yang kamu katakan?” Sari langsung melotot. Melihat kakaknya benar-benar marah, Wanda cepat-cepat diam, namun diam-diam ia memberi isyarat kecil ke arah Bima. “Nanti ceritakan secara diam-diam!”
Bima pun mengangguk dengan wajah serius.