Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Capter 16 - Inspeksi Kecantikan Hari Pertama
Pagi hari datang dengan cerah.
Sinar matahari menyelinap lembut di antara pepohonan yang berjajar di halaman sekolah.
Udara masih terasa sejuk.
Beberapa siswa mulai berdatangan.
Ada yang berjalan santai sambil bercanda dengan temannya, ada juga yang tergesa-gesa karena takut terlambat.
Di salah satu kelas…
Isya sudah duduk di bangkunya.
Di sampingnya ada Ayin.
Keduanya tampak akrab seperti biasa.
Ayin membuka buku catatannya, sementara Isya merapikan pensil dan bukunya dengan rapi.
“Kamu ngerjain tugas matematika semalam?” tanya Ayin.
Isya mengangguk kecil.
“Iya… tapi nomor terakhir Isya agak bingung.”
Ayin langsung mendekatkan kursinya.
“Sini lihat.”
Mereka berdua mulai berdiskusi pelan.
Suasana kelas masih santai.
Beberapa siswa lain masih mengobrol, ada juga yang bercanda.
Sementara itu…
Di luar sekolah.
Di depan gerbang besar yang mulai ramai oleh siswa yang datang…
seorang gadis berdiri dengan tenang.
Usianya tidak jauh berbeda dengan para siswa di sana.
Penampilannya terlihat rapi dan berkelas.
Wajahnya cantik, dengan tatapan yang tenang namun tajam memperhatikan sekeliling.
Ia berdiri beberapa saat di depan gerbang.
Matanya mengamati bangunan sekolah yang luas di hadapannya.
Beberapa siswa yang lewat sempat melirik.
Bukan karena mengenalnya…
tetapi karena aura gadis itu terasa berbeda dari kebanyakan siswa yang datang pagi itu.
Ia lalu menarik napas pelan.
Matanya kembali melihat papan nama sekolah yang berdiri di dekat gerbang.
Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.
“Hoo…”
“Jadi ini SMA N 1 Lahat.”
Gadis itu melangkah masuk ke halaman sekolah dengan santai.
Beberapa siswa yang lewat mulai melirik.
Ada yang menoleh sebentar.
Ada juga yang memperhatikannya lebih lama.
Gadis itu menyadari semua tatapan itu.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Dalam hatinya ia berbisik pelan.
“Heee… lihat mata-mata yang memandang ini.”
Matanya bergerak ke arah kanan.
Di sana ada seorang siswa berkacamata yang sedang berdiri sambil memegang buku.
Gadis itu memperhatikannya sebentar.
“Heee… kalau yang begini pasti langsung kicep lihat ayy.”
Ia lalu menoleh sedikit ke kiri.
Empat orang anak laki-laki sedang berdiri sambil mengobrol.
Namun sekarang perhatian mereka jelas tertuju padanya.
Gadis itu tersenyum semakin lebar. Sembari berbisik dalam hati.
“Hooo… lihat empat orang itu.”
“Mereka pasti lagi melihat kecantikan ayy.”
Ia menahan tawa kecil.
“Hehe… kalau begitu kalian beruntung.”
“Karena akan aku buat kalian semakin terpesona.”
Sorot matanya berubah sedikit tajam.
Seolah sedang menyiapkan sesuatu.
“Heee… ini adalah jurus wanita.”
Ia kemudian berjalan melewati mereka.
Saat tepat berada di depan keempat anak laki-laki itu…
ia mengibaskan rambutnya dengan dramatis.
Persis seperti iklan sampo di televisi.
Keempat anak itu langsung terdiam.
Salah satu dari mereka bahkan sampai berkata pelan.
“Eh… siapa itu?”
“Cantik banget…”
“Anak baru ya?”
Gadis itu terus berjalan santai.
Namun dari sudut matanya ia masih melirik mereka tanpa menoleh.
Dalam hatinya ia kembali berbisik.
“Hehehe…”
“Lihat mata mereka.”
“Pasti sekarang mereka penasaran dengan anak cantik yang baru datang ke sekolah ini.”
Ia berjalan dengan langkah ringan.
Wajahnya terlihat sangat puas.
“Hihi… mau bagaimana lagi.”
“SMA N 1 Lahat ini memang akan diberkahi…”
“Karena ada sosok wanita cantik di sini.”
Ia menahan tawa kecil.
“Hehe… bahkan aku sendiri sampai kehabisan kata-kata.”
“Yaa… begitulah kecantikan ayy.”
Ia tersenyum-senyum sendiri sambil berjalan.
kemudian ia terus berjalan melewati halaman sekolah.
Sampai akhirnya langkahnya berhenti di depan sebuah pintu.
Di depan ruang guru.
Gadis itu berdiri dengan tenang.
Tangannya memegang tas kecil di depan tubuhnya.
Wajahnya tetap percaya diri seperti biasa.
Sesekali ia melihat ke arah koridor sekolah.
Senyum tipis masih menghiasi wajahnya.
------------------------------------------------------------------------
Sementara itu…
di dalam kelas.
Isya dan Ayin sedang berbincang santai seperti biasa.
Ayin sedang bercerita sesuatu dengan semangat.
Isya hanya tersenyum sambil mendengarkan.
Suasana kelas pagi itu cukup ramai.
Beberapa siswa masih bercanda.
Beberapa yang lain sibuk membuka buku.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka.
Ibu Nas masuk ke dalam kelas.
Suasana langsung sedikit lebih tenang.
“Baik anak-anak…”
“Ada pengumuman sebentar.”
Semua mulai memperhatikan.
Ibu Nas melanjutkan.
“Hari ini kita kedatangan siswi baru.”
Beberapa siswa langsung saling berbisik.
“Anak baru?”
“Serius?”
Ibu Nas menoleh ke arah pintu.
“Mei.”
“Silakan masuk.”
Beberapa detik kemudian…
seorang gadis berjalan masuk dengan langkah tenang dan anggun.
Rambutnya bergerak pelan mengikuti langkahnya.
Wajahnya terlihat sangat percaya diri.
Seluruh kelas langsung berbisik.
“Cantik banget…”
“Serius ini anak baru?”
“Wah…”
Mei menyadari semua tatapan itu.
Namun ia hanya tersenyum.
Dalam hatinya ia berbisik kecil.
“Heee… ini tentu sudah biasa.”
“Namanya juga cewek cantik yang baru gabung ke kelas.”
Ia menegakkan bahunya sedikit.
“Baiklah…”
“Untuk membuat semuanya makin kicep…”
“Ayy akan keluarkan jurus andalan.”
Ia lalu tersenyum manis.
“Assalamu’alaikum.”
“Selamat pagi semuanya.”
“Semoga kita bisa berteman dengan baik yaa.”
Senyumnya terlihat cerah dan menggoda.
Beberapa siswa bahkan langsung terdiam melihatnya.
Ibu Nas tersenyum.
“Nah, kalian sudah lihat orangnya.”
“Sekarang tolong akur dengan Mei.”
Lalu beliau berkata lagi.
“Mei, kamu mau duduk di mana?”
Mei berpikir sebentar.
Namun dalam hatinya ia kembali berbisik.
“Heee… tempat duduk yaa.”
“Kalau tempat duduk tentu harus yang selevel dengan Mei.”
Ia kemudian berkata dengan sopan.
“Ahh… ibu, Mei masih bingung mau duduk di mana.”
“Mungkin ada tempat yang direkomendasikan?”
Ibu Nas melihat ke sekeliling kelas.
“Ah… bagaimana kalau di situ?”
“Di sebelah Udin.”
Udin langsung terlihat sangat semangat.
Ia duduk tegak.
Hidungnya bahkan terlihat mengembang dan mengempis karena terlalu senang.
Mei melirik sebentar.
Wajahnya tetap tersenyum.
Namun dalam hatinya…
“Ihhh apaan…!!”
“Gak mau… gak mau…”
“Gak level sama ayy.”
“Lihat bajunya kumel… mana gendut lagi…”
“Pasti bau bawang.”
“Gak ada… gak bisa begini.”
Namun di luar ia tetap tersenyum sopan.
“Ahh ibu…”
“Tempat itu agak gelap dan jauh.”
“Mei kurang suka kalau terlalu di belakang.”
Anak-anak yang duduk di sana langsung terlihat kecewa.
“Ahh… gak jadi duduk sini…”
Ibu Nas berpikir lagi.
“Kalau begitu… di depan saja.”
“Di sebelah Dadang.”
Dadang langsung buru-buru mengelap kursinya dengan tangan.
Seolah ingin memastikan kursinya bersih untuk Mei.
Dadang melihat mei sembari mengacungkan jempol.
Mei melirik lagi.
Senyumnya tetap manis.
Namun bisikan hatinya kembali muncul.
“Ihhh… gak mau.!!”
“Itu cowok gayanya kayak bapak-bapak tahun 90-an.”
“Gak cocok sama ayy yang kekinian.”
“Lihat tasnya kisrok… lihat bajunya…kickeminem”
“Kayak anak zaman dulu banget.”
Mei lalu berkata dengan lembut.
“Ahh ibu…”
“Kurang baik kalau duduk sama cowok.”
“Mei tidak biasa begitu.”
Ibu Nas terlihat mulai bingung.
“Kalau begitu… di mana ya?”
“Tempatnya hampir penuh.”
Mei mulai melirik ke seluruh kelas.
Matanya bergerak dari satu meja ke meja lain.
Hingga tiba-tiba…
ia berhenti.
Tatapannya terpaku pada satu tempat.
Di sana duduk seorang gadis dengan wajah yang sangat manis imut dan cantik.
Itu Isya.
Mei langsung membeku beberapa detik.
Dalam hatinya ia berteriak.
“Whattttttttt…?!”
“Itu cewek cute banget!”
“Ahh gawat…”
“Kecantikan ayy bisa tersaingi ini…”
Tanpa sadar ia bahkan sampai menaruh tangan di keningnya.
Seolah sedang melihat sesuatu yang jauh.
Ia bahkan sedikit mencondongkan tubuh untuk melihat lebih jelas.
Beberapa siswa mulai bingung melihat tingkahnya.
Namun Mei tidak sadar.
Ia terus menatap Isya.
Lalu kembali berbisik dalam hati.
“Eh… tapi kalau dipikir-pikir…”
“Masih tetap cantik ayy .”
“xixi…”
“Seragam rapi…”
“Pakai jaket yang semua orang suka…”
“Oke sudah di putuskan…”
“Kamu wanita cantik nomor dua setelah ayy.”
“Masih bisa dimaklumi.”
Ia tersenyum kecil.
“Dan izinkanlah keberuntungan bersamamu…”
“Karena ayy akan duduk di sebelahmu.”
Mei lalu mengangkat tangan.
“Ah ibu…”
“Mei mau duduk di situ.”
“Di sebelah situ.”
Ibu Nas melihat ke arah itu.
“Ah iya…”
“Tapi tempatnya sudah penuh.”
Mei menunjuk.
“Itu ibu…”
“Di sebelah situ ada laki-laki yang duduk di sebelah perempuan.”
“Itu kan kurang baik.”
“Mungkin biar saya saja yang menggantikan tempatnya.”
Lalu ia menatap siswa laki-laki itu dengan wajah sangat imut dan mata yang berbinar.
“Boleh kan?”
Siswa itu langsung seperti terkena panah.
“A-ah iya…”
“Silakan saja…”
“Saya duduk sama Dadang juga tidak apa-apa, Muehehehe.”
Ibu Nas mengangguk.
“Baiklah kalau begitu.”
“Sudah diputuskan.”
Mei tersenyum puas.
“Baik bu.”
Ia berjalan menuju kursi itu.
Lalu duduk dengan anggun di samping Isya.
Ia menoleh dan tersenyum.
Isya yang sejak tadi melihat semua itu akhirnya menyapa dengan ramah.
“Halo…”
“Assalamu’alaikum.”
“Salam kenal ya.”
Mei menatapnya. Dan tersenyum.
"iya salam kenal"
Mei duduk di kursi barunya.
Tepat di bangku sebelah Isya dan Ayin.
Ia meletakkan tasnya dengan anggun, lalu menyilangkan tangan di atas meja.
Sementara itu Isya dan Ayin kembali memperhatikan pelajaran di depan.
Namun Mei…
justru diam-diam mulai memperhatikan Isya dari samping.
Matanya bergerak perlahan dari atas sampai ke bawah.
Dalam hatinya ia mulai menghitung.
“Hmmm…”
“Wajahnya imut sih.”
“Matanya juga bagus…”
Mei menyipitkan mata sedikit.
“Tapi tenang.”
“Ayy tetap lebih unggul.”
Matanya mulai turun melihat seragam Isya.
“Seragamnya rapi…”
“Tapi jelas bukan merek mahal.”
Ia sedikit mengangkat dagunya dengan bangga.
“Kalau punya ayy…”
“Ini pasti sudah edisi premium.”
Matanya lalu melihat jaket yang dipakai Isya.
“Hmmm… jaketnya lucu juga.”
“Tapi tetap saja…”
“Bukan merek terkenal.”
Mei semakin percaya diri.
Namun ia belum selesai.
Matanya mulai melirik ke bawah meja.
“Sekarang…”
“Sepatu.”
Namun meja sedikit menutup pandangannya.
Mei berpikir sebentar.
Lalu tiba-tiba…
“Ups!”
Pensilnya jatuh ke lantai.
Isya yang mendengar langsung menoleh.
“Oh… jatuh.”
Mei langsung membungkuk mengambilnya.
Namun sebenarnya…
ia sedang mengintip sepatu Isya.
Matanya bergerak cepat menilai.
“Hmmm…”
“Sepatu biasa.”
“Tentu saja bukan merek mahal.”
Ia mengambil pensilnya lalu kembali duduk dengan tenang.
Dalam hatinya ia tersenyum puas.
“Baiklah…”
“Setelah pengecekan menyeluruh…”
“Kesimpulannya…”
“Ayy masih unggul.”
Ia menahan senyum kecil.
Isya menoleh ke arahnya dengan polos.
“Kamu tidak apa-apa?”
Mei langsung tersenyum manis.
“Oh tidak apa-apa.”
“Hanya pensil jatuh.”
Isya mengangguk ringan.
“Syukurlah.”
Di sebelah Isya…
Ayin yang sejak tadi diam ternyata memperhatikan.
Ia menyipitkan mata ke arah Mei.
“Hmmm…”
Lalu ia sedikit mendekat ke Isya dan berbisik pelan.
“Sya…”
Isya menoleh.
“Iya?”
Ayin melirik Mei sebentar.
“Anak baru itu…”
Isya berkedip bingung.
“Kenapa?”
Ayin berbisik lagi.
“Kayaknya agak aneh.”
Isya makin bingung.
“Aneh?”
Ayin mengangguk kecil.
“Iya.”
“Dari tadi dia lihat-lihat kamu kayak lagi ngecek barang di toko.”
Isya langsung tertawa kecil.
“Ahh… enggak mungkin.”
Ayin masih menyipitkan mata ke arah Mei.
Sementara Mei di bangku sebelah mereka…
masih tersenyum puas sendiri.
Dalam hatinya ia berkata dengan penuh kemenangan.
“Baiklah.”
“Pertarungan kecantikan hari ini…”
“Ayy menang telak.”
Ia hampir tertawa kecil sendiri.
Namun ia menahan diri.
Karena di depan kelas…
Ibu Nas masih menjelaskan pelajaran.
Sementara Isya…
tetap mencatat pelajaran dengan tenang.
Tanpa menyadari apa pun yang baru saja terjadi di sampingnya.
Dan tanpa disadari oleh mereka bertiga…
hari itu adalah awal dari hubungan yang akan penuh dengan kejadian lucu di antara mereka.
---Namira Ahsya\_\_
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘