Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah alasan
Kini Clara tengah bersiap untuk bekerja. Dari kampus, ia berjalan kaki menuju toko buku kecil milik Pak Ardi. Langkahnya santai, tas selempang menggantung di bahu, pikirannya setengah tertinggal pada jadwal kuliah hari ini.
“Selamat siang, Pak,” sapa Clara lebih dulu begitu memasuki toko.
Pak Ardi yang sedang menunduk meneliti beberapa lembar nota tampak termangu sejenak, lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum. “Siang juga, Nak Clara,” jawabnya, tanpa menyinggung perubahan pada diri Clara hari ini.
“Bukunya lengkap, Pak?” tanya Clara lagi sambil meletakkan tasnya di belakang meja kasir.
Pak Ardi menghela napas pelan. “Sepertinya enggak. Antara nota sama barangnya nggak sesuai,” katanya, masih sibuk mencocokkan catatan.
Clara melangkah mendekat. “Sini, Pak. Biar Clara aja yang cek. Bapak belum makan siang, kan?” tawarnya tulus.
Pak Ardi tersenyum kecil, lalu mengangguk dan menyerahkan nota pembelian pada Clara. Tak lama kemudian, ia pamit pulang ke rumahnya yang letaknya tak jauh dari toko.
Clara mulai menghitung tumpukan buku dengan saksama. Satu per satu ia cocokkan dengan nota, menulis ulang, lalu memberi tanda pada judul-judul yang tidak ada. Setelah selesai, ia menyusun buku-buku itu ke rak sesuai kategorinya.
Ia terlalu fokus sampai tak menyadari ada seseorang berdiri di belakangnya.
Saat Clara berbalik, langkahnya tertahan. Natan berdiri tak jauh darinya, tersenyum kecil. Mata mereka bertemu tanpa sengaja, dan dunia seolah berhenti beberapa detik.
Darah Natan berdesir. Di hadapannya, Clara terlihat berbeda, mengingatkannya pada Clara semasa SMA. Versi lama yang selalu ia perhatikan dari jauh.
“Kak Natan?” sapa Clara akhirnya, membuyarkan lamunan itu.
“Iya, Clar,” sahut Natan pelan.
“Mau cari buku, ya, Kak?” tanya Clara sambil mengangkat beberapa buku di tangannya.
Tanpa banyak bicara, Natan bergegas membantu mengangkat buku-buku itu dan ikut menyusunnya di rak.
Mau cari kamu, batinnya, tapi tentu saja tak mungkin ia ucapkan.
“Iya, Clar. Aku lagi nyari buku filsafat. letaknya dimana?” katanya, berbohong dengan nada yang dibuat senatural mungkin.
Clara langsung berjalan ke sudut rak lain, langkahnya cekatan. Natan mengikutinya, menjaga jarak yang sopan.
“Di sini, Kak,” ucap Clara sambil menunjuk deretan buku.
“Makasih ya, Clar,” balas Natan.
“Sama-sama. Nanti kalau ada yang mau ditanyain, bisa panggil aku.”
Natan mengangguk patuh. Setelah Clara kembali ke pekerjaannya, Natan pura-pura mencari buku yang ingin dibeli. Namun sesekali, matanya justru mengikuti Clara yang sedang sibuk menyusun dan mencatat.
Seperti biasa, hampir menjelang jam dua siang toko buku itu mulai ramai. Beberapa pengunjung duduk di sudut membaca buku yang memang disediakan gratis, buku-buku terbuka di hadapan mereka, laptop menyala, suara ketikan berpadu dengan bisik-bisik pelan. Ada pula yang hanya singgah sebentar untuk membeli buku lalu pergi.
Pak Ardi sudah kembali dan membantu di bagian belakang toko.
Kini Clara berdiri di depan kasir, sibuk melayani pembeli. Tangannya cekatan, senyumnya sopan, suaranya lembut setiap kali menyebutkan total harga atau mengucap terima kasih.
Natan memilih duduk di kursi yang menghadap ke arah kasir. Sebuah novel terbuka di tangannya, tapi halaman yang sama sudah lama tak ia balik. Matanya lebih sering terangkat, mencuri pandang ke arah Clara.
Setiap kali melihatmu…
aku selalu jatuh cinta lagi,
gumamnya dalam hati.
Ada sesuatu yang menghangat di dadanya setiap kali Clara tersenyum pada pelanggan. Senyum yang sederhana, tapi jujur. Dan sebuah kilasan balik muncul begitu saja.
Hari itu matahari terik. Lapangan sekolah penuh oleh siswa-siswi baru yang berbaris rapi atau setidaknya berusaha rapi. Masa orientasi sekolah selalu identik dengan teriakan, aturan aneh, dan wajah-wajah gugup.
Olivia sebagai penanggung jawab kelompok D sedang berdiri di depan lima orang yang tengah menundukkan kepala.
“Kenapa kartonnya tipis begini?”
Suaranya tegas. Tajam.
Semua anggota kelompok langsung menoleh ke satu arah.
Clara.
Gadis itu berdiri paling ujung. Rambutnya di ikat asal, keringat mulai membasahi pelipisnya.
“M-maaf, Kak… saya kira yang dimaksud karton itu..”
“Kira?” potong Olivia cepat. “Instruksinya jelas. Karton tebal A3. Ini HVS!”
Beberapa teman sekelompok hanya bisa terdiam dengan hati yang dongkol.
“Duh, score kita bisa kurang!” “Gara-gara satu orang doang!” bisik yang lain.
Clara menunduk. Tangannya gemetar memegang kertas tipis itu.
Di pinggir lapangan, Natan berdiri bersama beberapa pengurus OSIS lain. Awalnya ia hanya mengamati biasa saja. MOS selalu penuh drama kecil seperti ini.
“Kalau pinjam dari kelompok lain, boleh gak kak?,” ujar salah satu anggota kelompok.
"Kamu gak dengar peraturan yang disebutkan kemaren? Tukar barang apapun tidak diperbolehkan.” sahut Olivia lagi.
Natan menghela napas pelan, Lalu ia melihat sesuatu yang berbeda.
Clara tidak menangis. Tidak membela diri. Tidak kabur.
Ia hanya diam… lalu perlahan mengangkat wajahnya.
“Kalau… dilipat jadi struktur segitiga mungkin bisa lebih kuat, Kak.”
Olivia menatapnya tidak sabar. “Apa?”
Clara berjalan maju, berjongkok, mulai melipat kertas itu menjadi bentuk zig-zag.
“Kalau dibuat jadi rangka… bebannya nggak akan langsung jatuh ke tengah.”
Jemarinya bergerak cepat, ia menyusun lapisan-lapisan, menggulung beberapa bagian jadi silinder kecil sebagai penyangga.
Teman sekelompoknya mulai membantu dengan instruksi dari Clara.
Lima belas menit kemudian, jembatan dari kertas HVS itu berdiri.
Dan ketika botol air diletakkan di atasnya… Ia tidak roboh.
Sunyi, Olivia terdiam beberapa detik.
“Yasudah. Lanjutkan ke bangunan lain.” Nada suaranya masih tegas, tapi tidak lagi marah
Di kejauhan, Natan tersenyum tipis.
Awalnya biasa saja.
Tapi entah kenapa… gadis itu membuatnya penasaran, bukan karena kesalahannya tapi karena cara dia bertanggung jawab.
Dan sejak hari itu, tanpa Clara tahu, ada sepasang mata yang mulai memperhatikannya lebih lama dari seharusnya.
“Kak Natan?”
Suara Clara di dunia nyata membuatnya tersentak dari lamunan.
Natan mengedipkan mata, kembali ke toko buku yang ramai.
“Iya?” jawabnya, sedikit gugup.
“Kak Natan mau minum? Dari tadi baca terus,” tanya Clara sambil tersenyum.
Natan terkekeh kecil. “Boleh. Aku mau pesan kopi hitam tanpa gula.”
Clara mengangguk, lalu kembali melayani pelanggan lain sebelum akhirnya pergi ke dapur toko.
Natan memandangi punggungnya, senyum tipis terbit di wajahnya.