NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:809
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Menjalin Kembali

*Januari, awal tahun baru.*

Jakarta memasuki tahun baru dengan cuaca yang tidak menentu. Kadang hujan deras, kadang panas menyengat. Tapi di rumah Menteng, suasananya selalu hangat, apalagi sekarang dengan kehadiran anggota baru.

Lastri resmi pindah ke Jakarta dua minggu setelah acara syukuran. Ia menyewa apartemen kecil di kawasan Tebet, tidak jauh dari rumah Menteng. Setiap akhir pekan, ia pasti mampir, membawa oleh-oleh atau sekadar duduk-duduk menemani anak-anak bermain.

Pagi itu, Sabtu, Lastri datang lebih awal. Ia membawa kue tradisional buatannya sendiri—getuk dan klepon, makanan favorit Rarasati dulu.

"Tante Lastri!" sambut Rara riang begitu melihatnya. "Bawa apa?"

"Ini, getuk dan klepon. Tante buat sendiri."

"Wah, Rara suka klepon!"

"Melati juga suka!" teriak Melati yang berlarian dari dalam.

Lastri tertawa. "Kalau gitu, kita makan bareng, yuk."

Mereka duduk di ruang keluarga. Kalara dan Nadia ikut nimbrung, sementara Arsya dan Raka masih di kamar (hari libur, mereka malas bangun). Lastri membagikan kue, matanya berkaca-kaca melihat anak-anak itu makan lahap.

"Ini resep turun-temurun dari nenek," katanya. "Dulu Rarasati juga suka banget. Setiap pulang sekolah, dia pasti minta dibikinin."

Kalara tersenyum. "Ibu suka makanan manis?"

"Iya. Kata orang, hamil kamu dulu, dia ngidam manis terus. Mungkin karena itu kamu juga manis."

Kalara tertawa. "Ah, Tante."

Nadia ikut mencicipi klepon. "Enak banget, Tante. Boleh diajarin?"

"Mau belajar? Tentu, Nak. Nanti Tante ajarin."

Lastri menatap Nadia dengan hangat. Ia sudah tahu cerita Nadia—tentang masa lalunya yang juga tidak mudah, tentang bagaimana ia dan Arsya bertemu kembali. Lastri merasa bersyukur keponakannya mendapat pendamping seperti Nadia.

"Om! Ayah! Bangun! Ada kue!" teriak Rara ke arah tangga.

Tak lama, Arsya dan Raka turun dengan rambut acak-acakan. Mereka menyapa Lastri, lalu langsung mengambil kue.

"Enak, Tante," puji Arsya. "Resep turun-temurun?"

"Iya. Dari nenek buyut kalian."

Arsya mengunyah perlahan. "Jadi, ini makanan yang juga dimakan Ibu dulu?"

"Setiap hari, hampir. Dulu waktu kalian masih dalam kandungan, dia sering minta dibawain. Katanya, biar anak-anaknya nanti suka makanan tradisional."

Kalara terharu. "Dan kita memang suka."

"Berarti doanya terkabul."

Mereka tersenyum. Momen-momen kecil seperti ini yang memperkuat ikatan keluarga.

***

Setelah sarapan, Lastri mengajak Kalara dan Nadia ke dapur. Ia ingin mengajari mereka membuat getuk dan klepon.

"Besok-besok kalau anak-anak minta, kalian bisa buat sendiri," katanya.

Pelajaran memasak berlangsung seru. Kalara yang biasanya gosong, kali ini berusaha serius. Nadia lebih telaten, tangannya lincah membentuk bola-bola klepon.

"Tante, waktu kecil sama Ibu, bagaimana?" tanya Kalara di sela-sela.

Lastri berhenti sejenak. "Waktu kecil? Rarasati itu kakak yang baik. Dia selalu jagain aku. Waktu aku diganggu teman, dia yang bela. Waktu aku nangis, dia yang hibur."

"Kenapa dulu Ibu pergi dari rumah?"

Lastri menghela napas. "Karena dia cinta sama ayah kalian. Orang tua kami tidak setuju. Asmara dianggap dari kasta rendah. Tapi Rarasati bilang, cinta tidak kenal kasta. Dia pilih pergi."

Nadia memegang tangan Lastri. "Pasti berat."

"Sangat berat. Aku kehilangan kakak terbaik. Tapi aku tahu dia bahagia. Dan itu cukup."

Kalara diam. Ia membayangkan ibunya, seorang wanita muda yang berani melawan arus demi cinta.

"Tante," panggil Kalara. "Makasih sudah cerita."

Lastri tersenyum. "Kalian berhak tahu. Kalian adalah bagian dari cerita itu."

***

Sore harinya, Raka mengajak semua orang jalan-jalan ke kota tua. Ide spontan, karena cuaca cerah setelah hujan semalam.

"Kita naik kereta wisata, yuk!" ajak Rara.

"Setuju!" sahut Melati.

Maka berangkatlah mereka bertujuh—Arsya, Nadia, Kalara, Raka, Lastri, Rara, dan Melati. Dua mobil, tapi Rara memaksa naik satu mobil saja.

"Adek sama Rara di mobil Om aja!"

"Boleh, boleh."

Sepanjang jalan, Rara bercerita tentang sekolahnya, tentang teman-teman, tentang lukisan yang baru saja memenangkan lomba. Melati sesekali menimpali dengan celetukan lucu. Lastri tertawa melihat mereka.

Di kota tua, mereka berjalan-jalan di antara bangunan kolonial. Rara dan Melati naik kereta wisata yang ditarik sepeda, sementara yang lain berjalan di samping. Suasananya ramai, tapi mereka menikmati.

"Kota Jakarta ternyata indah juga," kata Lastri. "Dulu aku hanya lewat, nggak pernah keliling."

"Iya, Tante. Banyak tempat menarik," sahut Nadia.

Mereka berhenti di sebuah kafe tua. Raka pesan kopi untuk orang dewasa, es krim untuk anak-anak. Rara dan Melati asyik dengan eskrimnya, sementara yang lain ngobrol santai.

"Tante," panggil Arsya tiba-tiba.

"Hm?"

"Aku mau tanya sesuatu."

"Apa, Nak?"

Arsya ragu sejenak. "Waktu Ibu pergi dari rumah, apa beliau sempat... marah? Sakit hati?"

Lastri menatapnya lama. "Marah? Pasti. Sakit hati? Jelas. Tapi dia tidak pernah menyesal. Dia bilang, lebih baik sakit hati karena pilihan sendiri daripada menyesal karena tidak berani memilih."

Arsya mengangguk. "Seperti itu ya ibuku."

"Kuat. Seperti kalian."

Kalara meraih tangan Arsya. Mereka tersenyum.

Matahari mulai condong. Mereka memutuskan pulang sebelum macet. Di perjalanan, Rara dan Melati tertidur kelelahan. Lastri duduk di kursi depan, menatap langit senja.

"Terima kasih," bisiknya pelan.

"Untuk apa, Tante?" tanya Arsya yang menyetir.

"Untuk menerimaku. Untuk membuka pintu. Aku tidak menyangka akan punya keluarga sehangat ini."

Arsya tersenyum. "Tante, kami juga berterima kasih. Tante datang dan melengkapi cerita tentang Ibu."

Lastri menangis, tapi kali ini tangis bahagia.

***

Malam harinya, setelah anak-anak tidur, Lastri pamit pulang. Kalara dan Arsya mengantarnya sampai pintu.

"Tante, minggu depan main lagi, ya," pinta Kalara.

"Pasti, Nak. Tante janji."

Lastri melambai, lalu pergi. Mobilnya meluncur di jalan Menteng yang lengang.

Di ruang keluarga, Arsya dan Kalara duduk bersama Nadia dan Raka.

"Gue seneng Tante Lastri ada," kata Kalara. "Kayak dapat ibu lagi."

"Iya," sahut Arsya. "Dia banyak tahu tentang Ibu. Cerita-cerita yang nggak kita dengar dari mana pun."

Nadia meraih tangan Arsya. "Ini berkah. Setelah sekian lama, kalian punya keluarga dari pihak Ibu."

Raka mengangguk. "Dan dia baik. Tulus."

Mereka diam sejenak. Lalu Kalara teringat sesuatu.

"Kak, omong-omong, gue mau ngomong."

"Apa?"

"Gue... gue hamil lagi."

Udara membeku. Lalu Arsya melompat, memeluk adiknya.

"Apa?! Serius?!"

"Iya. Dua bulan."

Raka tersenyum lebar. "Aku mau kasih kejutan, tapi dia nggak bisa diem."

Kalara memukul lengan Raka. "Bukan nggak bisa diem. Tapi gue excited!"

Nadia ikut memeluk. "Selamat, Kara! Wah, Rara bakal punya adik lagi!"

"Iya. Semoga kali ini laki-laki, biar ada yang jagain Rara dan Melati."

"Bisa cewek lagi, nggak papa," kata Raka. "Yang penting sehat."

Mereka tertawa. Kabar gembira di awal tahun.

***

Seminggu kemudian, Kalara memeriksakan kehamilannya ke dokter. Hasilnya baik, janin sehat. Usia delapan minggu.

Malam harinya, mereka mengadakan syukuran kecil. Hanya keluarga inti, ditambah Lastri yang diundang khusus. Mama Kalara dan Ayah Arsya juga datang. Pak Willem ikut hadir meskipun kesehatannya mulai menurun.

"Ini berkah," kata Mama Kalara. "Semoga anaknya sehat, pintar, dan berbakti."

"Aamiin," sahut semua.

Rara dan Melati paling senang. Mereka akan punya adik lagi.

"Adek, kita punya adik!" teriak Rara.

"Iya, Kakak! Melati mau jadi kakak juga!"

"Kamu kan udah jadi kakak? Adek Melati kan adiknya Rara."

"Oh iya, ya. Berarti Melati jadi kakak dua kali?"

Semua tertawa. Logika anak-anak selalu lucu.

Lastri duduk di samping Kalara, memegang tangannya. "Kamu kuat, Nak. Nanti Tante bantu jagain."

"Makasih, Tante."

"Jangan sungkan. Tante senang bisa membantu."

Malam itu, doa-doa dipanjatkan. Harapan-harapan baru digantungkan. Rumah Menteng semakin ramai, semakin hangat.

***

Februari tiba. Kalara memasuki trimester kedua, perutnya mulai terlihat. Rara dan Melati bergantian menempelkan telinga ke perut Mama, mencoba mendengar detak jantung adik.

"Adek, panggil kakak, dong," pinta Rara.

"Dia masih kecil, belum bisa ngomong," jelas Kalara.

"Terus dia ngomong apa?"

"Dia nendang-nendang. Itu caranya ngomong."

"Oh..." Rara lalu berkata ke perut Kalara, "Adek, kalau mau ngomong, nendang aja, ya."

Semua tersenyum.

Arsya dan Nadia juga sibuk dengan proyek baru—desain untuk sebuah museum di Yogyakarta. Mereka bekerja sama, seperti biasa, saling melengkapi.

"Malam ini lembur lagi?" tanya Nadia.

"Iya. Deadline minggu depan."

"Aku temani."

"Kamu nggak capek?"

"Bersamamu, nggak capek."

Arsya tersenyum. Mereka berdua memang tak terpisahkan.

***

Di tengah kesibukan, Lastri rutin datang setiap akhir pekan. Ia membantu Kalara mengurus Rara dan Melati, kadang memasak, kadang bercerita. Hubungan mereka semakin akrab.

Suatu sore, saat duduk di beranda belakang, Lastri bertanya pada Kalara, "Kamu nggak pernah penasaran tentang keluarga ayah kandungmu?"

Kalara tertegun. "Ayah kandung?"

"Iya. Asmara. Kamu tahu tentang dia?"

"Dari cerita-cerita. Tapi nggak banyak. Kak Arsya tahu lebih banyak, karena sempat tinggal sebentar dengan ayahnya."

Lastri menghela napas. "Aku dengar, keluarga Asmara juga tinggal di Jakarta. Mungkin kalian perlu menemui mereka."

Kalara diam. Ia belum pernah berpikir ke arah itu. Selama ini fokusnya pada keluarga Ibu, pada Rarasati. Ayahnya Asmara—ia tahu namanya, tahu fotonya, tahu sedikit cerita. Tapi keluarga besar Asmara? Tidak pernah.

"Tante kenal mereka?"

"Tidak langsung. Tapi dulu, sebelum Rarasati dan Asmara menikah, aku sempat bertemu ibunya. Wanita baik, sederhana. Dia sangat menyayangi Asmara."

Kalara menatap Arsya yang baru keluar. "Kak, denger nggak?"

Arsya mengangguk. "Aku dengar. Aku juga pernah berpikir ke sana. Tapi selalu urung."

"Kenapa?"

"Takut. Takut mereka tidak mau menerima. Takut masa lalu terulang."

Lastri meraih tangan Arsya. "Nak, keluarga itu tidak selalu sempurna. Tapi kalian berhak tahu. Kalian berhak punya hubungan dengan mereka, jika mereka mau."

Arsya dan Kalara bertukar pandang.

"Gimana, Kak?" tanya Kalara.

Arsya menghela napas. "Kita pikirkan. Nanti. Setelah bayi ini lahir."

Kalara mengangguk. "Setuju."

***

Malam harinya, Arsya tidak bisa tidur. Ia duduk di balkon, menatap langit.

Nadia keluar, duduk di sampingnya. "Pikirin omongan Tante Lastri?"

"Iya."

"Kamu takut?"

"Takut. Tapi juga penasaran."

Nadia meraih tangannya. "Apa pun keputusanmu, aku dukung."

Arsya menatapnya. "Makasih, Nad."

Mereka diam. Angin malam berhembus, membawa wangi melati.

***

Maret tiba. Kandungan Kalara semakin besar, usia tujuh bulan. Dokter mengatakan semuanya sehat. Rara dan Melati sudah tidak sabar menanti adik baru.

Suatu sore, saat mereka berkumpul di ruang keluarga, telepon berdering. Raka yang mengangkat.

"Halo? Iya, benar. Ini rumah Menteng." Wajahnya berubah. "Sebentar, saya panggilkan."

Ia menutup telepon, lalu berkata pada Arsya, "Kak, ada yang cari. Katanya dari keluarga Asmara."

Udara membeku.

Arsya bangkit, mengambil telepon. "Halo?"

Suara di seberang, wanita paruh baya, terdengar bergetar. "Halo... ini dengan Arsya? Putra dari Asmara?"

"Iya, benar. Ini siapa?"

"Ini... ibumu. Ibu dari Asmara. Nenekmu."

Arsya tertegun. Dunia seperti berhenti.

"Nenek?"

"Iya, Nak. Maaf... maaf baru menghubungi. Aku tahu tentang kalian dari Lastri. Dia mencariku beberapa minggu lalu."

Arsya menatap Lastri yang tiba-tiba menunduk. Tante Lastri ternyata sudah bergerak diam-diam.

"Ibu... Nenek mau ketemu kami?"

"Jika kalian mau. Aku sudah tua, Nak. Umurku 78. Aku tidak ingin mati dengan penyesalan."

Arsya menelan ludah. "Kami... kami akan pikirkan."

"Tentu, Nak. Ini nomorku. Kapan pun kalian siap, hubungi aku."

Telepon ditutup. Arsya terdiam lama.

Kalara mendekat. "Kak? Siapa?"

Arsya menatapnya. "Nenek kita. Dari pihak ayah."

Semua terdiam. Rasa campur aduk memenuhi ruangan.

Lastri angkat bicara, "Maaf, aku tidak bilang. Aku pikir, kalian butuh waktu. Tapi setelah aku ketemu dia, aku tahu dia tulus. Dia ingin bertemu."

Kalara menangis. Raka memeluknya.

"Ini terlalu banyak," bisik Kalara. "Pertama Tante Lastri, sekarang nenek..."

Arsya menghela napas. "Kita hadapi bersama. Seperti biasa."

Mereka mengangguk. Keluarga ini sudah terbiasa menghadapi kejutan.

Malam itu, mereka berdiskusi panjang. Akhirnya, mereka memutuskan untuk bertemu. Tapi tidak sekarang. Setelah Kalara melahirkan.

"Biar fokus dulu," kata Arsya. "Setelah bayi lahir, kita semua pergi. Kenalan dengan nenek."

Kalara setuju. "Iya. Kita hadapi bersama."

***

April tiba. Kalara melahirkan pada tanggal 14, pukul 3 sore. Bayi laki-laki, sehat, dengan rambut tipis dan mata sipit. Berat 3,2 kg, panjang 49 cm.

"Laki-laki!" teriak Raka bahagia. "Aku punya anak laki-laki!"

Rara dan Melati menjerit senang. "Adik! Adik!"

Nama diberikan: Asmara Bagaskara. Nama pertama dari kakeknya, nama kedua berarti matahari—harapan agar ia menjadi penerang keluarga.

Arsya menggendong bayinya dengan hati-hati. Matanya berkaca-kaca.

"Ini anak kita, Nad," bisiknya. "Keluarga kita makin besar."

Nadia tersenyum. "Iya, Sayang."

Malam itu, rumah sakit ramai oleh keluarga. Lastri datang dengan kue tradisional. Mama Kalara dan Ayah Arsya juga hadir. Pak Willem meskipun lemah, tetap datang.

"Ini generasi baru," katanya. "Penerus keluarga."

Arsya menatap semua orang. Keluarganya. Yang dulu tercerai-berai, kini bersatu. Yang dulu penuh luka, kini sembuh.

Ia teringat janji untuk bertemu nenek dari pihak ayah. Setelah semua ini, ia akan menepatinya. Bersama Kalara, bersama keluarga.

Karena keluarga adalah segalanya.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!