NovelToon NovelToon
Istri Yang Diremehkan: Dokter Jenius

Istri Yang Diremehkan: Dokter Jenius

Status: tamat
Genre:Dokter Genius / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:76.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.

Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.

Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa, dan keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 33.

Veronica menatap semua orang di ruangan itu sebelum akhirnya matanya berhenti pada Angkasa. “Kalian tidak bisa melakukan ini.”

Salah satu dokter terlihat bingung.

“Dokter Veronica, ini keputusan medis—”

Namun Veronica memotongnya. “Aku tidak peduli!”

Tatapannya langsung menuju Arunika. “Kau tidak akan menjadikan Bang Angkasa kelinci percobaanmu.”

“Ini bukan percobaan tanpa dasar.” Arunika menatap Veronica tanpa emosi.

“Risiko tetap ada!” bentak Veronica.

Ia berjalan mendekat dengan wajah marah. “Jika sesuatu terjadi padanya—”

Namun sebelum ia selesai bicara, Angkasa berkata pelan. “Cukup.”

Angkasa menatap Veronica dengan tenang.

“Ini adalah keputusanku sendiri.”

Veronica menatapnya tidak percaya. “Bang…”

“Aku tahu apa yang aku lakukan.” Angkasa melanjutkan ucapannya. Ia menoleh ke arah Arunika, tatapannya jauh lebih lembut sekarang. “Lagipula… jika aku benar-benar harus mempertaruhkan nyawaku, aku lebih suka mempertaruhkan nya di tangan Dokter Arunika.”

Beberapa orang langsung menahan nafas saking tak percayanya dengan kata-kata Angkasa. Sementara Veronica, benar-benar membeku. Dan Arunika, untuk sesaat... tidak tahu harus menjawab apa.

Ruang konferensi masih diliputi keheningan setelah kata-kata Angkasa.

Udara terasa berat.

Semua orang di ruangan itu seolah menunggu—bukan keputusan medis, tapi reaksi Arunika. Namun seperti biasa… wanita itu tidak memberi mereka apa yang mereka harapkan.

Ekspresi Arunika tetap datar.

Tenang.

Terkendali.

Arunika menatap Angkasa beberapa detik, lalu berbalik menuju meja.

“Semua yang terlibat dalam proyek ini,” ucapnya akhirnya, suaranya kembali profesional, “Harus memahami satu hal.”

Ia menatap seluruh ruangan. “Ini bukan eksperimen sembrono.”

Beberapa dokter langsung menegakkan punggung.

“Setiap prosedur, setiap tahap, dan setiap keputusan akan melalui evaluasi ketat.” Arunika berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih dalam. “Dan jika ada satu saja indikasi risiko fatal… uji coba akan dihentikan.”

Tatapan Arunika kemudian beralih ke Angkasa. “Termasuk untukmu.”

Angkasa tidak menjawab, namun sudut bibirnya terangkat tipis. Seolah jawaban itu justru membuatnya semakin yakin.

Sementara itu, Veronica masih berdiri di tempatnya, wajahnya pucat. Tangannya mengepal erat. “Jadi… kau benar-benar akan melakukannya?” suaranya terdengar lebih pelan sekarang, tapi masih menyimpan emosi.

“Ya.” Arunika menjawab tanpa keraguan.

Veronica tertawa kecil, tapi kali ini tidak ada kesan angkuh. “Kau bahkan tidak ragu…”

“Dan kau, Bang…” Tatapan Veronica lalu jatuh pada Angkasa, suaranya sedikit bergetar. “ Benar-benar mempercayakan hidupmu padanya?”

Angkasa menatap Veronica dengan ekspresi tenang. “Sejak dulu, aku selalu memilih jalan yang paling berisiko. Dan sejauh ini… aku belum pernah menyesal.”

Kalimat itu seperti pisau yang menekan dada Veronica, dia menutup matanya sejenak lalu membukanya kembali. Kali ini tatapannya tidak lagi hanya dipenuhi emosi, ada sesuatu yang lain... kekhawatiran.

“Aku akan ikut dalam tim medis.”

Semua orang langsung menoleh.

Arunika sedikit mengangkat alis.

Veronica melanjutkan dengan tegas. “Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya.”

“Dan aku juga tidak akan membiarkanmu melakukan kesalahan.” Ia menatap langsung ke arah Arunika dengan tatapan menantang.

Beberapa detik suasana kembali tegang.

“Kalau begitu… lakukan pekerjaanmu dengan benar.” Arunika hanya menjawab singkat. Tidak ada emosi berlebihan, tak ada penolakan. Hanya pernyataan profesional.

Veronica terdiam, karena dia tidak menemukan celah untuk menyerang Arunika. Karena di hadapannya sekarang bukan “saingan cinta”, melainkan seorang pemimpin proyek. Dan posisinya dalam proyek... berada dibawah Arunika.

Rapat berlanjut.

Semua detail mulai dibahas.

Jadwal uji coba tahap pertama.

Persiapan alat.

Simulasi prosedur.

Hingga kemungkinan komplikasi yang bisa terjadi.

Arunika memimpin semuanya dengan presisi, setiap pertanyaan dijawab tanpa ragu. Setiap keraguan diluruskan dengan data, dan setiap keputusan diambil dengan cepat.

Di sudut ruangan, Angkasa hanya diam. Duduk di kursi rodanya, matanya tidak pernah lepas dari Arunika. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapannya, bukan hanya ketertarikan. Bukan juga hanya rasa kagum. Tapi juga... kebanggaan.

Beberapa saat kemudian, rapat akhirnya selesai. Orang-orang mulai keluar satu per satu, ruangan menjadi lebih sepi.

Tersisa Arunika, Angkasa, dan Veronica.

Namun Veronica tidak berkata apa-apa. Ia hanya melirik Arunika sekilas, lalu berbalik dan keluar. Kali ini tanpa kata-kata tajam. Tanpa sindiran, dan tanpa ancaman.

Pintu tertutup.

Kini benar-benar hanya tinggal dua orang.

Arunika merapikan tabletnya. “Seharusnya kau kembali ke ruang perawatan.”

Nada suaranya kembali dingin.

Profesional.

Angkasa tersenyum kecil. “Tidak ada kata ‘terima kasih’ untuk pasien yang sudah menyelamatkan reputasi proyekmu?”

Arunika berhenti sejenak, lalu menoleh. “Aku tidak butuh reputasi.”

Jawabannya singkat.

Angkasa tertawa pelan. “Benar, kau memang tidak pernah butuh apa pun.”

Beberapa detik mereka saling diam.

Lalu Angkasa berkata lagi, lebih pelan. “Tapi aku.... membutuhkanmu.”

Kalimat pria itu cukup untuk membuat udara di ruangan itu berubah, Arunika menatapnya. Tatapannya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang bergetar di dalamnya.

“Aku dokter mu, dan hanya itu.”

Angkasa tersenyum tipis. “Untuk sekarang.”

Arunika mengernyit sedikit, tapi dia hanya memanggil perawat. “Antarkan Tuan Angkasa kembali ke ruang rawat.”

Perawat segera mendorong kursi roda Angkasa keluar.

Namun sebelum benar-benar pergi, Angkasa menoleh sekali lagi pada Arunika. Dan kali ini… senyumnya sedikit lebih dalam.

Di dalam ruangannya sendiri, Arunika akhirnya duduk. Begitu sunyi, dan tenang. Ia memejamkan mata sejenak, tangan yang tadi memegang tablet kini perlahan mengepal. Detak jantungnya… masih belum sepenuhnya kembali normal.

Setiap kata-kata Angkasa terus terngiang di kepalanya.

"Aku menyukaimu..."

“Aku membutuhkanmu...“

Arunika membuka matanya perlahan.

Tatapannya kembali dingin, terkendali seperti biasa. Meski jauh di dalam hatinya, ia tak bisa lagi menyangkal… benteng pertahanan yang selama ini ia bangun dengan begitu sempurna, perlahan mulai retak.

Dan benteng pertahanan hatinya telah runtuh, ditembus oleh seorang pria bernama... Angkasa.

1
ρυтяσ✨
trimakasih untuk karya'y thor... 🥰🥰🥰🥰semua bahagia dengan jalan takdir'y masing" tanpa ada rasa iri dan dendam di hati
Muft Smoker
cerita ny bagus Dan recommend bgt
Muft Smoker
waah makasih kak author udh kasih cerita yg bnr2 keren ,,
suka banget dg tokoh utamany ,, Arunika ,,
tenang , tepat Dan cepat ,,

dtggu karya hebat selanjutnya kak ,,
sehat2 selalu kak ,,
ρυтяσ✨
Arunika emang kereeeen
ρυтяσ✨
ternyata adegan itu'y di skip ya thor🤣🤣🤣🤣tidak di kasih rincian nota🙈🙈🙈eee kek belanja yaaa di kasih nota
Muft Smoker
istri mu cemburu krn gx mampu seperti mama ny Arunika ,,
ia kalah jauh di bawah sana ,, makany pikiran ny pendeek ,, 😏😏😏
Muft Smoker
terungkap sedikit demi sedikit ,, 😏😏😏
niktut ugis
kasihan angkasa
Rini
keren 🥰🥰🥰, makasih thor ceritanya, semangat trus berkarya 💪💪💪
Rere💫: Makasih kak🤗
total 1 replies
Rohmi Yatun
makasih thor udah sampe end.. ditunggu karya selanjutnya👍🙏
Rere💫: Nuhun kak say🙏🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Akhirnya cerita selesai tak ada kebencian diantara mereka yang telah berseteru.
Rere💫: 🙏🙏🙏🤗🤗🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Akhirnya lamaran dari Angkasa terucap untuk Arunika Elena memang gentle girl
vj'z tri
edodoe dah kaya beli bakso ajj ngelamar nya/Facepalm//Slight//Slight//Slight//Slight/
Aditya hp/ bunda Lia
tak terasa tamat juga .. terimakasih Thor 🙏
tetap semangat dengan karya barunya
Aditya hp/ bunda Lia: duh, ... sayang banget 😢
total 2 replies
niktut ugis
dokter Riana adalah dokter spesialis kiat² jd pelakor 🤣🤣
My Family Cake 96
good
Tiara Bella
makasih Thor udh menyuguhkan cerita yg bagus dan menarik....semangat dan sukses selalu....😍/Kiss//Kiss//Kiss//Kiss/
Tiara Bella: oh pantesan gk lihat lg up ....
total 4 replies
Tiara Bella
wow gercep nya bang Angkasa....
sunaryati jarum
Jangan kebablasan kalian belum menikah, Angkasa kau seorang perwira dan Arunika kau seorang dokter hebat, kendalikan nafsu kalian Jaga etika jangan kotori profesi kalian dengan melakukan kegiatan yang hanya halal untuk pasangan yang sudah menikah
sunaryati jarum
Ego dan gengsi kok dipertahankan jika Arunika lelah mengejarmu dan ditangkap pria lain kamu akan menyesal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!