NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.

​Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.

​Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.

​Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanpa Arah

"Jadi, bapak sedang liburan, ya?" tanya Otto, nadanya ramah namun terukur.

Bibir pria tua itu melengkung menjadi senyuman kecil. "Benar, nak. Hanya berkeliling melihat tempat yang belum sempat dikunjungi. Kalian berdua juga?"

Otto melirik Eliana sekilas, memastikan rekannya siap sebelum bicara lagi. "Kami juga sedang jalan-jalan. Kota ini luar biasa; kami sangat menyukainya." Ia menyenggol lengan Eliana dengan lembut.

Merasakan senggolan itu, Eliana menarik napas dalam, memaksa gelombang frustrasi di hatinya untuk mereda sejenak, lalu memasang senyum terbaiknya. "Benar sekali! Kota yang sangat indah dan ramai! Penduduknya juga ramah-ramah!"

Pria tua itu mengamati mereka dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang lambat dan teliti. Alisnya yang putih berkerut sedikit, matanya yang abu-abu tajam dan menilai. Otto dan Eliana saling bertukar pandang singkat.

"Kenapa kalian memakai baju aneh seperti itu?" Pria tua itu lalu memusatkan pandangannya pada topeng kelinci putih di kepala Otto, matanya yang tua namun masih tajam berbinar penuh rasa ingin tahu yang tak disembunyikan.

Otto langsung menyemburkan tawa, suaranya dibuat-buat riang dan sedikit berlebihan. "Hahaha… Ini gaya kami, pak! Biar kelihatan beda dari yang lain!" Otto lalu berpose dramatis, membusungkan dada dan memperlihatkan mantel cokelatnya yang lusuh dengan bangga. "Keren kan, pak?"

Melihat tingkah aneh Otto, pria tua itu terkekeh pelan, tawanya kering namun terdengar tulus, menggetarkan bahunya yang ringkih. "Iya, nak. Itu cukup keren. Aku jadi ingat masa mudaku dulu, suka tampil beda." Ia menggeleng-geleng kecil. "Nama kalian siapa?"

Otto berbalik menghadap pria tua itu, berdiri tegak. "Namaku Steve. Dan yang pendiam ini temanku. Namanya Felicia."

"Steve… Felicia…" gumam pria tua itu pelan, berusaha mengingat. "Izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Synel, nak. Synel Arcturus." Ia mengulurkan tangannya yang berusia namun masih kokoh dan hangat.

Otto menerima jabatan tangan itu, genggamannya kuat dan penuh energi, tangannya yang dingin menggenggam tangan hangat Synel. "Senang bertemu, Tuan Synel. Semoga hari Bapak menyenangkan."

"Iya. Baiklah, aku harus pergi sekarang, nak. Masih banyak tempat yang ingin kukunjungi hari ini. Sampai jumpa." Synel mulai berjalan menjauh, langkahnya santai, menyusuri kerumunan pasar yang mulai mengental.

"Hati-hati, pak! Jangan lupa beli oleh-oleh!" Otto melambaikan tangan riang ke arah punggung Synel sampai pria itu berbelok di sudut jalan dan hilang dari pandangan di balik kios-kios.

Begitu sosok itu benar-benar lenyap, suasana di antara mereka langsung berubah drastis. Cahaya palsu di mata Otto padam seketika.

"Menjengkelkan," ucap Eliana pelan.

Otto dan Eliana kemudian melanjutkan perjalanan mereka, tapi sekarang keheningan yang pekat, dingin, dan berat menyelimuti mereka. Otto berjalan cepat tanpa tujuan jelas, hanya mengikuti arus kaki, sementara Eliana hanya mengikuti beberapa langkah di belakang, raut lelah dan kesal jelas terpahat di wajahnya yang mulai berkerut.

Eliana akhirnya memecah kesunyian yang menindih. "Kalau kau terus berjalan tanpa tujuan, kita takkan pernah menemukan Bos Eldric, Otto. Ini buang-buang waktu."

Otto tidak berhenti, bahkan tidak melambat. Suaranya dingin dan tanpa emosi. "Kita? Kau bisa pergi cari sendiri kalau mau. Kenapa malah mengikutiku?"

"Sudah kukatakan berkali-kali, karena kita satu tim." Eliana berhenti sejenak di tengah langkah, bibirnya melengkung menjadi senyuman sinis yang ia yakini tak terlihat oleh Otto dari belakang. "Tak mungkin seorang Tangan Kanan meninggalkan anak buah lainnya."

"Kau adalah Tangan Kiri, ingat itu." Otto bicara tajam. "Master Iago adalah satu-satunya pemimpin sejati organisasi. Dan Eldric hanya Tangan Kanan dan sekadar mengisi kursi kosong. Jangan lupa hierarki sebenarnya."

"Ya, ya, ya. Mau Tangan Kiri atau Tangan Kanan, kau tetap anak buah juga, Otto." Eliana mempercepat langkahnya, kini berjalan sejajar, meski tetap menjaga jarak.

Mereka tiba di sebuah gang sempit dekat sebuah losmen tua, tempat yang tak asing bagi Eliana. Matanya langsung mengenali dinding bata merah yang kusam dan jalan setapak berbatu. Itulah tempat di mana ia membunuh para penghuni losmen malam itu dan bertemu Iago untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Kini, gang itu sudah bersih, tak ada jejak darah atau mayat. Dinding bata dan tanah becek yang kotor telah menelan semua bukti dengan rakus.

"Kenapa?" tanya Eliana, bingung, matanya menyipit curiga.

"Ini gang yang kau ceritakan padaku, kan? Tempat kau menemukan Master?"

"Iya. Terus? Mau apa?"

"Tidak ada. Hanya ingin melihatnya." Otto menjawab sambil lalu, matanya yang tersembunyi menyapu dinding, tanah, dan sudut-sudut gelap dengan teliti.

Eliana langsung menghela napas panjang dan berat, kesabarannya menipis. "Otto, apa sebenarnya yang ingin kau lakukan sekarang? Karena kalau kau benar-benar hanya ingin berkeliaran tanpa tujuan, aku akan terpaksa meninggalkanmu. Sungguh."

Mendengar ancaman itu, Otto langsung berbalik dan berjalan pergi tanpa sepatah kata pun, bahunya mengangkat acuh tak acuh dalam gerakan yang jelas-jelas meremehkan. "Aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Dan aku tidak peduli jika kau pergi."

Melihat Otto pergi begitu saja tanpa menoleh, Eliana menarik napas sedalam-dalamnya hingga dadanya mengembang penuh, berusaha membuang semua frustrasinya ke udara pagi yang dingin. Ia lalu berjalan dengan langkah mantap ke arah yang berlawanan dari Otto, menuju sebuah bangunan bata yang lebih tinggi di ujung gang.

Dengan lincah dan senyap, ia memanjat dinding rumah menggunakan tonjolan-tonjolan bata dan pipa saluran air yang berkarat—jari-jarinya yang kuat mencengkeram setiap celah dengan presisi sempurna, otot-ototnya bekerja efisien.

Dalam hitungan detik, gadis itu mencapai atap, lalu berdiri tegak di puncaknya, menikmati pemandangan pagi Citywon yang menakjubkan—hamparan atap merah, menara gereja yang menjulang, dan sungai yang berkelok di kejauhan, semuanya diselimuti kabut tipis keemasan.

Puas dengan suasana indah dan udara sejuk yang menyegarkan paru-parunya yang terbiasa dengan bau kota, ia langsung melompat dengan anggun dari satu atap ke atap lainnya. Kaki-kakinya yang lentur mendarat dengan senyap di atas genteng tanah liat yang licin.

Burung-burung merpati yang bertengger di atap genteng tua kaget dan beterbangan panik saat kakinya mendarat di dekat mereka—sayap-sayap mereka berdebar keras memecah kesunyian.

Saat sedang melompat ke atap berikutnya yang lebih rendah, Eliana akhirnya melihat Bos Eldric dan anak buahnya dari kejauhan. Ia langsung berhenti di puncak sebuah rumah toko dua lantai, berjongkok rendah hingga hampir menyatu dengan genteng, dan mengamati mereka dari jarak yang aman dengan mata tajamnya.

Mereka sedang duduk santai di meja luar sebuah kedai makanan sederhana yang ramai. Sebagian sibuk menyantap roti hangat dan sup dalam mangkuk tanah liat, mengepulkan uap, sementara yang lain berdiri dengan waspada di sudut-sudut, mengawasi sekeliling, tangan tak jauh dari senjata tersembunyi di balik jubah.

Yakin dengan sasarannya, Eliana dengan mulus melompat turun ke jalan belakang yang sepi, mendarat dengan lutut ditekuk menyerap benturan, lalu mendekati mereka.

"Itu Eliana!" seru salah satu anak buah yang sedang berjaga, suaranya penuh kelegaan bercampur kaget.

Semua anggota yang duduk langsung kaget dan menoleh serempak. Beberapa yang sedang makan bahkan tersedak karena kaget, batuk-batuk kecil sambil memukul-mukul dada.

"Yo, Eliana!" sapa Eldric riang, mengangkat salah satu tangannya yang besar dan berotot. Senyuman lebar terukir di wajahnya yang sangar dan berjanggut, namun matanya yang tajam tetap waspada, memindai sekeliling di balik senyum itu.

"Yo, Bos!" balas Eliana, berusaha terdengar ringan dan ceria meski hatinya masih kesal setengah mati.

Menyadari Eliana datang sendirian, Eldric menyuruh anak buahnya untuk melanjutkan makan dengan gerakan kepala yang halus. Lalu, ia memberi isyarat pada Eliana untuk mengikutinya menjauh, ke sebuah sudut yang lebih sepi di dekat tumpukan tong sampah kayu yang berbau tajam.

Setelah jarak mereka dari anggota lain cukup untuk bicara pribadi, Eldric mulai berbicara, suaranya rendah dan mendesak.

"Dia di mana?" tanyanya, tidak perlu menyebut nama.

"Seperti biasa, Bos. Dia sedang berkeliaran entah ke mana sekarang," jawab Eliana jujur, matanya menatap lantai batu yang kotor, menghindari tatapan Eldric.

"Apa?!" Suara Eldric meninggi tanpa sadar. Ia menarik napas panjang dan berat, menenangkan diri dengan jelas, urat di lehernya berdenyut. "Kenapa kau membiarkannya pergi sendirian, Eliana? Bukannya kau harus menjaganya?"

"Pria itu sangat sulit dikendalikan, Bos. Kau tahu betapa keras kepalanya, kan?" Eliana mengangkat bahu, gestur frustrasi yang jarang ia lakukan, menunjukkan betapa lelahnya ia.

"Cih… Pria itu…" Alis Eldric berkerut tajam dan matanya menyipit menyimpan amarah yang menggelegak di belakangnya. Tangannya yang besar mengepal, urat-urat hijau tipis terlihat menonjol di lengan bajunya yang ketat. "Baiklah, lupakan dulu soal Otto. Bagaimana hasilnya? Apa kau menemukan Master?"

Eliana sedikit terkejut dengan perubahan topik yang tiba-tiba, tapi ia cepat menyesuaikan. Matanya perlahan menghindari pandangan Eldric lagi, tapi kali ini ia cepat menenangkan diri, menekan kegelisahan yang menggelitik di tenggorokannya, dan kembali menatap Bosnya dengan mata datar.

"Kami tidak menemukannya," kata Eliana, berusaha menjaga suaranya tetap datar.

Eldric langsung menghela napas panjang dan berat, seakan sudah mengantisipasi jawaban itu. Bahunya yang bidang turun naik. "Begitu ya." Ia menengadah, menatap langit biru cerah yang ironisnya sangat damai dan tak peduli pada kekacauan di bawah. "Dia di mana ya sekarang?"

Eliana merasa sedikit lega karena Bosnya tidak bertanya lebih lanjut soal keberadaan Iago. Meski ia tidak setuju dengan keputusan Otto meninggalkan Iago bersama gadis berambut merah dan adiknya, ia memilih tidak memberitahu Eldric soal itu.

Memikirkan urusan internal Organisasi IV yang rumit ini membuatnya merasa stres dan lelah yang mendalam. Angin pagi yang sejuk berhasil meregangkan otot-ototnya yang tegang sesaat, memberinya sedikit kelegaan. Kali ini, ia penasaran apa yang mungkin dilakukan Otto sambil berkeliaran sendirian di kota ini.

...****************...

Saat berpisah tadi, Otto mengambil rute menuju wilayah distrik yang lebih dekat dengan tembok dalam Kerajaan Valemira, area yang lebih makmur dengan bangunan batu dan toko-toko bagus. Ia berjalan tanpa tergesa-gesa, menyusuri jalanan yang mulai ramai, sampai akhirnya masuk ke sebuah kedai kecil yang ramai, bertanda "Kuda Hitam" yang sudah memudar dimakan waktu.

Udara di dalam kedai itu hangat dan beraroma kuat: bir tua yang asam, daging asap yang gurih, dan kayu bakar yang terbakar. Ia memesan sepiring rebusan daging dan segelas bir hitam dari pelayan yang sibuk, lalu duduk di salah satu meja pojok yang paling gelap, membelakangi dinding, matanya mengawasi seluruh ruangan.

Di sana, jauh dari kerumunan dan sorotan mata-mata yang mungkin mengintai, ia akhirnya melepas topeng kelincinya untuk pertama kalinya sejak pagi.

Rambut peraknya yang seperti platinum, halus dan berkilau, jatuh lembut menutupi dahinya yang pucat. Mata birunya yang tajam—biasanya tersembunyi di balik lubang topeng—sekarang terbuka, menatap kosong ke luar jendela berkabut, memantulkan cahaya redup dari lampu-lampu gantung di dalam.

Saat ia sedang menikmati kesendirian yang langka dan pemandangan buram di luar jendela yang berembun, suara keras pecahan piring dan gelas tiba-tiba memecah keriuhan rendah di kedai.

CRASH!

Pecahan keramik beterbangan di lantai kayu. Ia langsung menoleh dengan refleks.

Di seberang ruangan, dekat pintu masuk yang besar, pria tua bernama Synel tadi sedang berhadapan dengan sekelompok lelaki besar berwajah sangar dan berseragam resmi yang mencolok—jubah putih bersih dengan suluran benang emas rumit di tepiannya, berkilauan indah di cahaya lampu minyak.

"Maafkan aku, n-nak. Aku tidak sengaja, sungguh," kata Synel dengan nada memohon.

"Maaf? Tidak, tidak, tidak..." Lelaki terbesar di antara mereka menderu dengan suara menggelegar yang menggema di langit-langit kayu rendah. Wajahnya merah padam oleh amarah dan alkohol. "Tidak lihat baju mahalku? Hah?! Ini jubah upacara! Kau tahu berapa harganya?!" Ia langsung dan dengan kasar menarik kerah jubah putih Synel yang bersih, mengangkat pria tua itu hampir terangkat dari tanah.

Teman-teman pria itu, sekitar empat atau lima orang, hanya berdiri di belakangnya dengan tangan di pinggang atau bersedekap, tertawa riang dan tampak sangat bersemangat menyaksikan konfrontasi itu.

"Kau perlu diberi pelajaran, Pak Tua," geramnya, napasnya membuang alkohol ke wajah Synel.

Seketika, tanpa peringatan, ia melempar tubuh Synel yang ringkas hingga terhuyung hebat sebelum jatuh ke lantai kayu yang keras dengan gedebuk yang menyakitkan dan memilukan.

Suara jatuhnya membuat beberapa pelanggan lain melongo dengan mulut terbuka, sendok berhenti di tengah jalan, tapi tak seorang pun berani bergerak atau bersuara. Hanya suara Synel yang merintih pelan yang terdengar.

Pesanan Otto tiba di mejanya. Saat piring rebusan daging yang mengepul diletakkan di depannya oleh seorang pelayan muda yang wajahnya pucat pasi karena ketakutan, Otto hanya mengangguk singkat tanpa mengalihkan pandangan dari keributan.

Pemilik kedai, seorang pria gemuk dengan apron kotor dan penuh noda, mendekati Otto dengan wajah berkeringat dingin dan penuh kekhawatiran, membungkuk di samping mejanya.

"Jangan, nak," bisik pemilik itu dengan suara nyaris tak terdengar, matanya melirik cemas ke arah keributan yang semakin menjadi. "Jangan terlibat. Demi kebaikanmu sendiri."

"Kenapa? Kau mau aku menikmati makanan sambil melihat dia dipukuli di depan mataku?" tanya Otto balik, suaranya rendah dan dingin.

"Tidak, nak, bukan itu maksudku. Tapi… mereka itu orang-orang penting dari Gereja Cahaya. Yang memimpin mereka adalah Lavernus, prajurit elit Gereja Cahaya. Kalau kau ikut campur, kau bisa dapat masalah serius."

"Gereja Cahaya?" Otto bergumam sinis. "Memalukan..." Dengan gerakan yang cepat, ia mengambil topeng kelincinya dari samping piring dan mengenakannya kembali.

Wajahnya yang pucat dan ekspresif, yang sebentar terbuka, kembali tersembunyi di balik porselen putih yang tak bernyawa dan tak terbaca. Ia mendorong lembut tangan pemilik kedai yang masih menghalangi jalannya, lalu berjalan dengan tenang dan mantap menuju kelompok preman berseragam putih itu.

Mereka sedang menendangi Synel yang kini terbaring tak berdaya di lantai kayu yang kotor, hampir tak sadarkan diri. Tubuh ringkihnya bergerak setiap kali kena tendangan, tapi ia hanya bisa merintih lemah. "Mati, mati, mati," mereka mengejek berulang-ulang.

Otto tiba di dekat mereka, berdiri dengan tenang dan tak bergerak. Kehadirannya yang tiba-tiba dan sunyi membuat beberapa dari mereka berhenti dan menatapnya curiga.

"Hah?" Lavernus melirik Otto yang muncul entah dari mana di sampingnya, kesal karena interupsi di saat-saat menyenangkan. Matanya yang merah menyipit. "Kau mau mati juga, Topeng Kelinci?"

"Orang bodoh macam apa yang mau mati dengan sia-sia?" balas Otto.

Mata Lavernus langsung menyipit lebih tajam dan alisnya yang tebal berkerut dalam. Ia meninggalkan Synel yang merintih lemah di lantai dan berjalan mengancam mendekati Otto dengan langkah-langkah berat dan menakutkan, sepatu botnya yang besar berdekap keras di lantai kayu—thud, thud, thud.

"Dengar, bocah bertopeng kelinci sialan," desisnya dengan suara serak penuh ancaman, bau alkohol yang asam dan menyengat tercium jelas dari napasnya yang memburu. "Aku akan memberimu satu kesempatan untuk meminta maaf padaku. Dengan syarat… kau jilat sepatuku sampai bersih." Ia mengangkat satu kakinya, memperlihatkan sepatu bot kulit hitam yang kotor.

Otto tidak bergeming, tidak mundur setapak pun. "Bodoh sekali," ucapnya lantang, cukup untuk didengar semua orang di kedai yang kini hening. "Siapa yang akan minta maaf pada orang sepertimu? Mungkin kau perlu bercermin dulu."

"Kau brengsek…"

Dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuhnya yang besar dan tampak lamban, Lavernus menghunus pedang panjang yang tergantung megah di pinggangnya.

Baja itu keluar dari sarung dengan suara shing yang panjang dan mengancam. Cahaya dari jendela yang kotor menyambar bilah baja yang tajam—kilauan yang dingin dan mematikan.

Otto sama cepatnya, bahkan lebih cepat. Tangannya menarik dua belati pendek dari balik mantel cokelatnya yang lusuh.

"Kau membahayakan dirimu sendiri, Kelinci," desis Lavernus, senyum tipis penuh keyakinan merekah di bibirnya yang tebal, matanya bersinar dengan antisipasi pertumpahan darah.

"Aku takut sekali," kata Otto dengan nada datar yang justru semakin mengejek, tubuhnya condong sedikit ke depan dengan lutut lentur, dua belati dipegang terbalik dengan sempurna, ujungnya mengarah ke musuh.

1
Panda%Sya🐼
Benci? kerana apa itu, btw tadi aku bacanya Lego pas di baca lagi ternyata Lago 😭
Panda%Sya🐼: Astaga iyakah maaf ya Mungkin kerana huruf I L aku kira Lago /Pray//Facepalm/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!