Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Daniel
Lantai 30 – Elysium Medical Institute – Malam Hari.
Tidak lama setelah kepergian Kimberly, pintu terbuka lagi. Daniel masuk dengan tablet medis di tangan—rutinitas pemeriksaan malam yang sudah menjadi kebiasaan.
Dia memeriksa Rafael dengan efisiensi seorang profesional—tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, refleks saraf. Semua normal. Bahkan lebih baik dari normal.
"Pemulihan berjalan sangat baik," kata Daniel sambil mencatat data di tablet.
"Tubuh lo merespons terapi dengan sangat positif."
Rafael mengangguk tanpa bicara. Dia menunggu—menunggu sesuatu yang dia tahu akan Daniel katakan.
Dan dia benar.
Daniel meletakkan tablet, lalu duduk di kursi samping ranjang.
Ekspresinya berubah—dari dokter yang memeriksa pasien menjadi seseorang yang akan menyampaikan sesuatu penting.
"Gue sudah memikirkan cara yang tepat," katanya pelan.
"Cara untuk membuat opini publik tentang lo."
Rafael menatap Daniel dengan penuh perhatian.
"Segera gue akan menggelar konferensi pers," lanjut Daniel.
"Di depan publik. Mengundang wartawan, pejabat, dan pengusaha terkenal. Untuk mengumumkan kebenaran tentang kematian lo."
"Kebenaran?" Rafael menaikkan alis.
"Versi yang bisa diterima publik," Daniel mengoreksi.
"Gue akan menyatakan bahwa lo mengalami kecelakaan lalu lintas yang sangat parah. Kecelakaan yang membuat kepala lo terbentur dengan keras—mengakibatkan Traumatic Diffuse Axonal Injury. DAI."
Rafael mengerutkan kening.
"Bukannya itu sama saja dengan kebohongan?"
Daniel mengangguk tanpa ragu.
"Berbohong untuk kebaikan. Rafael, tidak ada orang yang benar-benar jujur di dunia ini—kecuali orang itu malaikat."
Dia bersandar di kursi, menatap langit-langit ruangan.
"Dengan mengumumkan bahwa lo memiliki DAI, publik akan mengerti kenapa proses pemulihan lo memakan waktu sangat lama. DAI adalah cedera otak yang sangat serius—bisa menyebabkan koma berkepanjangan, kehilangan fungsi motorik, bahkan kematian."
Daniel menatap Rafael lagi.
"Tiga bulan adalah waktu yang paling tepat dan terasa nyata buat gue berjuang nyembuhin lo. Tidak terlalu cepat sampai mencurigakan, tidak terlalu lama sampai tidak masuk akal."
Rafael diam, memproses strategi itu. Dari sisi logika, rencana Daniel solid. Tapi ada satu masalah.
"Bagaimana jika ada orang lain yang punya penyakit DAI?" Rafael bertanya.
"Apa lo yakin benar-benar bisa menyembuhkan penyakit itu?"
***
Pertanyaan itu membuat Daniel terdiam untuk beberapa saat.
Ruangan menjadi sangat hening. Hanya suara ventilasi yang mendengung pelan.
Lalu Daniel menarik nafas panjang.
"Tidak sekarang," jawabnya jujur. "Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba."
Dia menatap Rafael dengan pandangan yang serius—pandangan seorang dokter yang akan mengambil risiko besar.
"Dengan kata lain, gue akan melakukan eksperimen untuk orang yang punya penyakit ini. Gue akan membuat obat. Gue akan mencoba menyembuhkan DAI—penyakit yang menurut mayoritas dokter adalah incurable."
Rafael merasakan sesuatu mengejutkan di dada. Daniel tidak hanya akan berbohong tentang penyakit Rafael—dia akan berusaha membuat kebohongan itu menjadi kenyataan.
Ini bukan hanya tentang melindungi Rafael.
Ini tentang mengubah dunia medis.
Tentang menemukan penyembuhan untuk penyakit yang dianggap tidak bisa disembuhkan.
"Untuk membuat semua ini terasa nyata,"
Daniel melanjutkan, tangannya bergerak dengan gesture yang menunjukkan betapa kompleksnya rencana ini,
"Gue membutuhkan pasien yang mengidap DAI. Pasien yang bisa gue jadikan subjek penelitian. Gue akan mencoba berbagai metode—terapi sel punca, stimulasi magnetik transkranial, obat-obatan eksperimental."
Dia berhenti, berjalan ke rak buku di sudut ruangan, mengambil sebuah jurnal medis tebal.
"Lihat ini," katanya sambil membuka halaman-halaman yang penuh dengan diagram otak manusia.
"DAI terjadi saat kepala mengalami akselerasi atau deselerasi yang sangat cepat—seperti dalam kecelakaan mobil. Akson-akson di otak—serabut saraf yang menghubungkan neuron—terputus atau rusak."
Jari Daniel menunjuk ke diagram yang menampilkan serabut-serabut halus yang robek.
"Mayoritas kasus DAI berakhir dengan kematian atau disabilitas permanen. Hanya sedikit yang pulih—dan pemulihannya memakan waktu bertahun-tahun dengan hasil yang tidak sempurna."
Rafael menatap diagram itu. Kerumitan otak manusia terlihat jelas—jutaan koneksi yang saling terkait, sistem yang sangat fragile.
"Tapi," Daniel menutup buku itu, menatap Rafael dengan api yang menyala di matanya,
"Kalau gue bisa menemukan cara untuk memperbaiki kerusakan akson, untuk meregenerasi koneksi neural yang terputus—itu akan menjadi breakthrough terbesar dalam dunia neurologi."
Dia berhenti sejenak, lalu menatap Rafael dengan tatapan yang dalam.
"Ini bukanlah sesuatu yang bisa gue tangani dengan cepat. Butuh proses. Butuh trial and error. Butuh waktu—mungkin berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun—untuk benar-benar menemukan metode yang efektif."
Daniel berjalan ke jendela, menatap kota yang tidak pernah tidur di luar sana. Lampu-lampu gedung pencakar langit berkilauan seperti konstelasi bintang yang jatuh ke bumi.
"Gue sudah menghubungi beberapa kolega di berbagai rumah sakit," katanya tanpa berbalik.
"Meminta mereka untuk merujuk pasien DAI ke sini. Tentu saja, dengan informed consent yang proper. Gue tidak akan melakukan eksperimen tanpa izin."
Rafael mendengarkan dengan seksama. Rencana Daniel tidak hanya melindungi Rafael—tapi juga membuka jalan bagi penelitian medis yang bisa menyelamatkan ribuan nyawa.
"Oleh karena itu," suara Daniel pelan tapi tegas,
"Lo harus sabar untuk waktu yang lebih lama, Rafael. gue tidak bisa mengeluarkan lo dari rumah sakit ini sampai gue yakin bahwa cerita yang kita bangun bisa bertahan di mata publik."
Dia berbalik, menatap Rafael.
"Gue tidak akan membiarkan lo keluar dan menghadapi dunia jika gue belum siap melindungi lo dari pertanyaan-pertanyaan yang akan datang. Gue akan memastikan setiap detail dari cerita ini sempurna—tidak ada celah, tidak ada keraguan."
Rafael menatap Daniel dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia ingin keluar dari ruangan ini, ingin kembali ke dunia, ingin mengambil kembali hidupnya. Tapi di sisi lain, dia mengerti logika Daniel.
Jika dia keluar sekarang tanpa persiapan matang, konsekuensinya bisa jauh lebih buruk dari dikurung di rumah sakit.
"Berapa lama?" tanya Rafael.
"Berapa lama gue harus nunggu?"
Daniel tidak langsung menjawab. Dia menatap Rafael dengan pandangan yang sulit dibaca—campuran antara kepastian dan keraguan.
"Gue nggak tahu pasti," jawabnya jujur.
"Mungkin sebulan. Mungkin dua bulan. Tapi gue janji—gue akan bekerja secepat mungkin."
Dia berjalan kembali ke kursi, duduk, lalu menatap Rafael dengan serius.
"Sementara itu, lo harus fokus sama pemulihan fisik lo. Terapi berjalan harus intensif. Lo harus kembali ke kondisi prima—tidak hanya untuk meyakinkan publik, tapi juga untuk diri lo sendiri."
Rafael mengangguk pelan.
"Dan satu lagi," Daniel menambahkan.
"Jangan beritahu siapapun tentang AH-Cell yang ada di tubuh lo. Tidak Kimberly, tidak Alvin, tidak Williams—tidak ada seorangpun. Itu adalah rahasia yang harus kita bawa sampai mati."
"Kenapa?" Rafael bertanya.
"Karena jika dunia tahu tentang AH-Cell," jawab Daniel dengan nada yang sangat serius,
"Lo tidak akan lagi dilihat sebagai manusia. Lo akan dilihat sebagai subjek penelitian. Sebagai senjata biologis. Sebagai ancaman."
Dia berhenti sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap.
"Ada pihak-pihak—pemerintah, korporasi, organisasi gelap—yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan teknologi AH-Cell. Dan jika mereka tahu teknologi itu ada di dalam tubuh lo..."
Daniel tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi implikasinya sudah sangat jelas.
Rafael akan menjadi target.
Bukan hanya target pembunuhan—tapi target penculikan, eksperimen, pembedahan.
Mereka akan membedah tubuhnya untuk menemukan rahasia AH-Cell.
Dan Rafael tahu—di dunia yang dia tinggali, di dunia di mana uang dan kekuasaan adalah segalanya—tidak ada yang mustahil.
"Oke. Gue ngerti," kata Rafael akhirnya.
Daniel mengangguk, lalu berdiri.
"Istirahatlah. Besok kita mulai terapi intensif. Lo harus siap."
Dia berjalan menuju pintu, tapi sebelum keluar, dia berbalik sejenak.
"Rafael," panggilnya.
"Gue tahu ini berat. Gue tahu lo ingin segera kembali ke hidup lo. Tapi percayalah sama gue—gue melakukan semua ini untuk melindungi lo."
Rafael menatap Daniel—pria yang menyelamatkan nyawanya, yang berjuang selama tiga bulan untuk membawanya kembali dari ambang kematian, yang sekarang merencanakan strategi kompleks hanya untuk memastikan Rafael bisa kembali ke dunia dengan aman.
"Gue percaya sama lo," kata Rafael.
"Dan terima kasih."
Daniel tersenyum tipis. "Sama-sama."
Lalu dia keluar, meninggalkan Rafael sendirian di ruangan yang semakin gelap—hanya diterangi oleh cahaya kota di luar jendela.
***
Rafael berbaring di ranjang, menatap langit-langit.
Waktu. Dia butuh waktu.
Waktu untuk tubuhnya pulih sepenuhnya.
Waktu untuk Daniel membangun cerita yang sempurna.
Waktu untuk dunia luar siap menerima kembalinya Rafael Alkava.
Tapi yang paling penting—waktu untuk merencanakan apa yang akan dia lakukan setelah keluar dari tempat ini.
Karena Rafael tahu—dunia di luar sana sudah berubah.
AGE sudah tidak lagi murni miliknya.
Ryzen dan Zen entah di mana.
Aliansi baru terbentuk.
Kekuatan baru bermunculan.
Dan di suatu tempat, di Jakarta yang jauh, Salma mungkin masih menangisi kematiannya.
Rafael menutup mata.
Dia akan kembali. Tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.
Dia akan kembali—dan kali ini, dia akan memastikan tidak ada yang bisa memisahkannya lagi dari orang-orang yang dia cintai.
***
BERSAMBUNG...