Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Diam
Mobilnya tiba tepat ketika jarum jam hampir menunjuk pukul sepuluh kurang lima menit. Langkah CEO itu terdengar tegas menyusuri lorong kantor, yang dipenuhi aktivitas pagi.
Setelan jasnya kembali rapi, langkahnya panjang dan hampir tergesa. Matanya turun sekilas pada jam tangannya, memastikan hitungan menit yang terus berjalan.
Ia berjalan sendiri, tanpa bayangan asistennya yang biasanya selalu mengikuti beberapa langkah di belakang.
Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menunduk hormat.
"Pagi, Pak."
Ia hanya mengangguk singkat tanpa memperlambat langkahnya.
Di mejanya, Nadira sedang menginput data laporan harian. Saat mendengar langkah cepat mendekat, ia segera mengangkat kepala.
Matanya sedikit melebar.
Biasanya ia selalu datang bersama asistennya. Tapi kali ini, dia berjalan sendiri tanpa berhenti sekedar menoleh ke arah ruang kerja itu.
Nadira berdiri dan sedikit menunduk, "Pak,.... "
Namun CEO itu segera melewati mejanya begitu saja, bahkan seolah tak menyadari ia dipanggil. Langkahnya langsung menuju ruang meeting di ujung koridor.
Nadira mengerjap bingung, "tumben sekali... " gumamnya pelan.
CEO itu berbelok ke lorong ruang meeting. Tepat di depan pintu, seseorang sudah berdiri menunggu, asistennya.
Candra, asistennya itu tampak sedikit lega begitu melihat atasannya datang, meski ekspresinya tetap profesional.
"Silahkan, Pak." Ujarnya pelan sambil menyerahkan tablet berisi jadwal.
CEO itu menerimanya tanpa berhenti berjalan. "Semua sudah siap?"
"Sudah, Pak. Sejak lima menit lalu."
Ia mengangguk singkat, lalu berhenti sesaat sebelum membuka pintu ruang meeting.
Pintu terbuka. Suasana percakapan di dalam ruangan langsung mereda ketika ia masuk. Dalam sekejap, ekspresinya berubah, tenang, tegas dan sepenuhnya profesional.
Para peserta rapat langsung berdiri.
"Selamat pagi, Pak."
Ia mengangguk singkat, "silahkan duduk."
Kursi ditarik pelan. Layar presentasi sudah menyala, menampilkan laporan kuartal berjalan.
Asistennya berdiri di samping layar. "Agenda hari ini, evaluasi proyek kerja sama kuartal kedua dan pembahasan revisi anggaran," jelasnya singkat sebelum memulai presentasi.
Slide demi slide berganti.
Angka-angka muncul. Grafik naik turun. Target dan proyeksi dipaparkan dengan rinci.
CEO itu duduk tegak di kursinya, jemarinya saling bertaut di atas meja. Tatapannya tertuju pada layar, sesekali mengangguk kecil. Dari luar, ia terlihat sepenuhnya fokus.
Namun, terkadang pandangannya kosong, pikirannya berjalan ke arah lain.
".... Kenaikan biaya operasional sebesar delapan persen dibanding bulan sebelumnya," Lanjut manager keuangan.
Ruangan menunggu tanggapan.
Beberapa pasang mata perlahan beralih ke kursi utama.
CEO itu tak langsung menjawab.
Asistennya melirik sekilas, menyadari jeda yang tidak biasa itu.
Barulah CEO itu menarik napas pendek dan membuka map di depannya.
"Penyebab utamanya?" tanyanya tenang.
"Distribusi dan perubahan vendor, Pak."
Ia mengangguk pelan, ekspresinya kembali tajam, "kalau begitu evaluasi kontraknya. Saya ingin opsi alternatif sebelum akhir minggu."
Diskusi kembali berjalan. Pertanyaan-pertanyaan tetap tepat sasaran, keputusan yang ia berikan tetap cepat dan rasional. Tidak ada yang salah secara profesional.
Meeting berlangsung cukup lama.
Ketika presentasi terakhir selesai, ia menutup mapnya perlahan.
"Baik, revisi anggaran dikirim ulang sore ini. Saya ingin laporan final sebelum Jumat."
Semua langsung mencatat.
Ia berdiri lebih dulu. "Terima kasih. Meeting selesai."
Pintu ruang kerja itu tertutup perlahan begitu CEO kembali dari ruang rapat.
"Semua meeting berikutnya tetap sesuai jadwal, Pak." ujar asistennya hati-hati.
Adrian hanya mengangguk singkat, lalu berdiri di depan jendela besar menghadap kota.
Bayangan Naya terus muncul tanpa diundang.
Wajah gadis itu. Dan yang paling menganggu, kemungkinan Naya sudah tahu dia datang ke rumah sakit.
"Bagaimana reaksi Naya saat ibunya bercerita melihatku di sana? Apa dia merasa terganggu?" .Pertanyaan itu yang muncul di pikiran Adrian.
"Candra," panggilnya tiba-tiba.
"Iya, Pak." responnya cepat.
Pria itu masih membelakangi. "Menurutmu..... Seseorang akan merasa terganggu tidak, kalau ada orang lain diam-diam memperhatikannya?"
Asistennya sempat terdiam. Pertanyaan itu jelas bukan tentang pekerjaan. Pertanyaan seperti itu tidak pernah muncul di tengah jam kerja.
"Memperhatikan..... dalam arti peduli, Pak?"
"Tanpa diketahui," tambahannya singkat.
Asistennya berpikir sebelum menjawab, "kalau orang itu tahu belakangan... reaksinya bisa macam-macam, Pak. Bisa merasa diperhatikan. Tapi bisa juga merasa privasinya disentuh."
CEO itu menoleh sedikit, alisnya mengernyit tipis. "Jadi itu bukan hal yang baik?"
"Bukan selalu buruk juga, Pak. " Jawab asistennya hati-hati. "Tergantung niatnya... dan hubungan mereka."
Ruangan kembali hening.
CEO itu berjalan perlahan menuju kursinya, namun tak langsung duduk. Jemarinya menyentuh sandaran kursi.
"Kalau seseorang hanya ingin memastikan orang lain baik-baik saja, tanpa ingin diketahui, itu aneh?" nada suaranya lebih personal.
Asistennya tersenyum kecil, memahami arah pembicaraan.
"Tidak aneh, Pak. Hanya... biasanya orang yang melakukan itu terlalu peduli untuk bersikap biasa saja."
Tatapan CEO berubah sedikit tajam, tapi bukan menegur.
"Kamu terlalu banyak menyimpulkan." akhirnya dia duduk menyandarkan punggungnya.
Untuk pertama kalinya hari itu, ekspresi profesionalnya sedikit runtuh.
Ia kemudian mengambil berkas di meja, seolah kembali ke rutinitas biasa.
"Jadwal selanjutnya?"
"Meeting berikutnya pukul empat sore, Pak. Proposal divisi pemasaran sudah menunggu persetujuan," lapor sang asisten membuka tablet di tangannya.
Nadira baru saja kembali dari ruang fotokopi ketika seorang staf dari divisi pemasaran menghampirinya dengan map berwarna abu-abu.
"Dir, ini proposal kampanye kuartal depan. Katanya harus naik ke direksi hari ini." ujar seorang wanita sambil menyerahkan berkas tersebut.
Nadira menerimanya cepat, meski tangannya agak penuh dengan beberapa dokumen lain. Sejak Naya izin harus menjaga ayahnya di rumah sakit, sebagian pekerjaannya otomatis dialihkan kepadanya.
"Oh... Sebentar saya cek dulu." Katanya sambil membuka map itu.
Ia melihat halaman pengesahan dengan teliti. Tanda tangan kepala divisi pemasaran sudah ada. Lampiran anggaran lengkap. Tidak boleh ada kesalahan jika dokumen harus naik ke lantai direksi.
Waktu sudah hampir sore, sementara proposal itu harus sampai sebelum meeting pukul empat.
Dengan membawa map proposal, Nadira berjalan menuju lift. Langkahnya sedikit cepat.
Namun saat di depan pintu bertuliskan Direksi, langkahnya melambat. Suasananya langsung berbeda.
Ia mengetuk pelan.
Pintu terbuka, asistennya muncul.
"Permisi, Pak. Proposal divisi pemasaran untuk persetujuan." ujar Nadira sambil menunduk sopan.
"Silahkan, Pak CEO sedang menunggu berkasnya." katanya sambil membuka pintu lebih lebar.
Nadira mengangguk kecil. Ia melangkah masuk dengan hati-hati. Di balik meja kerjanya, CEO itu duduk fokus pada layar laptopnya.
Nadira berjalan mendekat, menyerahkan map itu dengan kedua tangan.
"Proposal divisi pemasaran, Pak."
CEO itu menerima berkas tersebut tanpa banyak bicara. Hanya anggukan kecil sebagai tanda mengerti.
"Letakkan di sini."
Nadira menaruh map di meja, sedikit menunduk lalu segera berbalik. Tidak ada percakapan.
Saat berjalan melewati koridor lantai direksi, pikirannya tiba-tiba kembali pada makan malam itu. Meja makan yang besar. Namun pria yang tadi bahkan tidak menatapnya saat itu.
Ia menghela napas. "Sepertinya dia tidak mengingatku." pikir Nadira dalam hati.
Lift terbuka di depannya. Ia masuk dan menatap pantulan dirinya. "Aduh, Dir.... fokus kerja aja," gumamnya pelan sambil memegang pipinya.
Tangannya masih menempel di pipinya, namun ekspresinya berubah, mengingat sesuatu.
"Oh.... Naya," katanya pelan.