NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Bayangan di Balik Kaca

​Pagi itu, suasana rumah terasa jauh lebih "normal" dari biasanya, namun bagi Hana, normalitas ini terasa seperti kebohongan yang dipoles rapi. Aris berangkat kerja dengan setelan jas abu-abu tua yang disetrika licin oleh Hana. Ia bahkan sempat mengecup kening Hana—sebuah formalitas yang sudah lama ia lupakan—seolah bunga mawar putih semalam telah menghapus semua dosa dan kecurigaan.

​"Aku pulang agak malam lagi, Na. Ada peresmian cabang baru," ucap Aris sambil memakai jam tangannya.

​Hana tersenyum. Senyum yang kini ia latih di depan cermin setiap pagi. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siang."

​Begitu mobil Aris menghilang di tikungan kompleks, senyum Hana luruh seketika. Ia segera masuk ke dalam rumah, mengunci pintu, dan meraih ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal yang ia simpan dengan inisial 'D'.

​“Target menuju kantor. Saya sudah di posisi. Anda yakin ingin ikut hari ini?”

​Hana mengetik dengan jemari gemetar. “Saya yakin. Jemput saya di persimpangan depan minimarket sepuluh menit lagi.”

​Hana segera berganti pakaian. Ia menanggalkan daster batiknya dan mengenakan celana jins hitam, kaos polos, serta jaket hoodie gelap. Ia juga mengenakan masker dan topi. Ia tidak ingin ada tetangga atau kenalan yang mengenalinya. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Hana merasa seperti seorang kriminal di hidupnya sendiri. Namun, bukankah Aris-lah yang lebih dulu mencuri kepercayaannya?

​Sepuluh menit kemudian, Hana sudah duduk di dalam sebuah mobil SUV hitam yang terparkir agak jauh dari rumahnya. Di sampingnya duduk seorang pria paruh baya dengan pakaian santai namun tatapan matanya sangat waspada. Itu adalah Pak Gun, detektif swasta rekomendasi Maya.

​"Ibu Hana?" tanya Pak Gun pendek.

​Hana mengangguk. "Ya. Kita ikuti dia sekarang?"

​"Sabar, Bu. Mengikuti orang itu butuh strategi. Kalau terlalu dekat, dia akan curiga. Suami Ibu cukup teliti, dia sering melihat spion," ujar Pak Gun sambil mulai melajukan mobilnya dengan tenang.

​Hana hanya diam, menatap keluar jendela. Pikirannya melayang pada anting mutiara yang ia sembunyikan di lemari. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan. Ia takut melihat apa yang akan ia temukan, namun ia lebih takut hidup dalam kebohongan selamanya.

​Perjalanan itu membawa mereka ke daerah perkantoran elit di Sudirman. Mobil Aris masuk ke gedung kantornya seperti biasa. Pak Gun memarkirkan mobilnya di sebuah kafe seberang gedung yang memiliki pandangan langsung ke pintu keluar parkir.

​"Kita tunggu di sini. Biasanya jam makan siang adalah waktu paling krusial," kata Pak Gun.

​Dua jam berlalu. Hana merasa mual. Perutnya kosong, tapi ia tidak sanggup menelan apa pun. Tepat pukul 12.15, mobil BMW hitam Aris terlihat keluar dari gedung. Namun, Aris tidak sendirian. Melalui kaca depan yang tidak terlalu gelap, Hana bisa melihat seorang wanita duduk di kursi penumpang depan.

​Hati Hana mencelos. Wanita itu berambut panjang, pirang kecokelatan yang tertata rapi, sangat berbeda dengan rambut hitam Hana yang selalu diikat ala kadarnya.

​"Ikuti mereka, Pak," bisik Hana. Suaranya hampir hilang.

​Mobil Aris berhenti di sebuah restoran Italia kelas atas yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan di daerah Menteng. Pak Gun memarkirkan mobil agak jauh, namun cukup dekat untuk Hana bisa melihat mereka turun dari mobil.

​Aris turun lebih dulu, lalu ia memutari mobil dan membukakan pintu untuk wanita itu. Sebuah perlakuan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Aris berikan pada Hana. Wanita itu turun dengan anggun, mengenakan gaun sutra berwarna emerald yang pas di tubuhnya. Dan di telinganya... Hana melihat kilauan yang sangat familiar.

​Anting mutiara. Pasangan dari anting yang Hana temukan di saku celana Aris.

​"Itu dia..." gumam Hana. Air mata mulai mengalir di balik maskernya. "Itu wanita pemilik anting itu."

​"Tenang, Bu Hana. Ambil napas dalam-dalam. Saya akan mengambil foto dan video mereka," kata Pak Gun dengan tenang sembari menyiapkan kamera dengan lensa zoom panjang.

​Hana menatap pemandangan di depannya dengan perasaan hancur yang tak terlukiskan. Ia melihat Aris tertawa lepas, sesuatu yang jarang ia lakukan di rumah. Aris menyentuh tangan wanita itu di atas meja, mengusapnya dengan ibu jari, persis seperti yang dulu ia lakukan pada Hana saat mereka masih berkencan di bangku kuliah.

​Dunia Hana serasa runtuh. Sepuluh tahun pengabdian, ribuan piring yang ia cuci, jutaan doa yang ia panjatkan, semuanya seolah menguap begitu saja saat melihat binar di mata Aris untuk wanita lain. Wanita itu terlihat begitu sempurna, begitu bercahaya, dan begitu... bukan Hana.

​"Siapa dia, Pak?" tanya Hana parau.

​"Namanya Citra, Bu. Dia desainer interior yang baru saja menyelesaikan proyek renovasi kantor cabang suami Ibu. Mereka sudah sering terlihat makan siang bersama selama dua bulan terakhir," jelas Pak Gun tanpa emosi, karena baginya ini hanyalah tugas rutin.

​Dua bulan. Selama dua bulan ini, Hana sibuk memasak makan malam yang selalu berakhir dingin di meja makan, sementara suaminya sedang menikmati anggur dan tawa bersama wanita bernama Citra ini.

​Tiba-tiba, Hana melihat Aris mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Ia memberikannya pada Citra. Wanita itu membukanya, wajahnya tampak sangat bahagia, lalu ia mengecup pipi Aris di depan umum tanpa ragu.

​Hana memalingkan wajah. Ia tidak sanggup melihat lebih lama lagi. Rasa sesak di dadanya kini berganti menjadi kemarahan yang membara. Kemarahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kemarahan seorang istri yang telah memberikan segalanya namun dikhianati dengan cara yang paling rendah.

​"Pak, bawa saya pulang," ucap Hana tegas.

​"Ibu tidak mau menunggu sampai mereka selesai?"

​"Tidak. Saya sudah melihat cukup banyak untuk hari ini," jawab Hana. Tangannya mengepal kuat di atas pangkuannya.

​Di sepanjang jalan pulang, Hana hanya terdiam. Ia tidak lagi menangis. Matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong namun tajam. Di dalam kepalanya, ia mulai memutar kembali setiap kata-kata manis Aris, setiap bunga yang ia berikan, setiap janji yang ia ucapkan. Semuanya sekarang terasa seperti racun yang mematikan.

​Sesampainya di rumah, Hana masuk dengan langkah yang mantap. Ia tidak lagi merasa takut. Ia menuju dapur, menatap sisa bunga mawar putih dari Aris yang masih tegak di dalam vas. Dengan satu gerakan kasar, Hana mengambil vas itu dan membantingnya ke lantai.

​PRANG!

​Pecahan kaca berserakan di lantai dapur, air membanjiri keramik putih yang selalu ia pel hingga mengilap. Bunga-bunga mawar itu kini tergeletak di antara puing-base, terlihat menyedihkan dan tak berarti.

​"Surga yang tak dirindukan?" gumam Hana sambil menatap reruntuhan itu. "Tidak, Mas. Ini adalah neraka yang kamu bangun sendiri. Dan aku... aku akan memastikan kamu terbakar di dalamnya."

​Hana mengambil sapu, membersihkan pecahan kaca itu dengan gerakan yang sangat tenang. Ia tidak ingin Aris curiga saat pulang nanti. Ia harus tetap menjadi "Hana yang sabar" sampai saatnya tiba.

​Ia berjalan ke lemari, mengambil kotak perhiasan rahasianya, dan menaruh foto-foto yang baru saja dikirimkan Pak Gun melalui WhatsApp ke dalam sebuah folder tersembunyi di ponselnya. Ia menatap kembali anting mutiara itu.

​"Citra... kamu mungkin punya anting pasangannya," bisik Hana. "Tapi aku punya kebenaran yang akan menghancurkan kalian berdua."

​Malam itu, pukul 19.30, Aris pulang dengan wajah lelah yang dibuat-buat.

​"Capek sekali hari ini, Na. Peresmiannya berjalan lancar," ucap Aris sambil melepas sepatunya.

​Hana berjalan mendekat, mencium tangan suaminya seperti biasa. Ia bahkan bisa mencium aroma parfum floral yang lebih kuat menempel di jas Aris. Namun kali ini, Hana tidak mual. Ia hanya tersenyum dingin.

​"Baguslah kalau lancar, Mas. Aku sudah siapkan teh hangat untukmu. Minumlah, supaya kamu punya tenaga untuk... hari-hari berat ke depan," ujar Hana lembut.

​Aris mengernyitkan dahi. "Hari-hari berat? Maksudmu proyek baru?"

​"Bisa jadi, Mas. Atau mungkin kejutan yang tak terduga," jawab Hana sambil berlalu menuju dapur, meninggalkan Aris yang terpaku sejenak menatap punggung istrinya dengan perasaan yang mendadak tidak enak.

1
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!