Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERANGAN BALIK BLUEJAM
Seminggu berlalu dalam latihan yang lebih brutal dari sebelumnya.
Yamamoto tidak bercanda soal menambah intensitas. Sekarang kami bangun jam empat pagi—sebelum subuh. Lari sepuluh putaran menanjak dengan beban batu di punggung. Latihan pedang sampai tangan lecet. Sparring tanpa henti. Dan latihan Haki yang menguras habis energi spiritual.
Tapi hasilnya terlihat jelas.
Armament Haki-ku sekarang bisa bertahan dua belas detik—hampir tiga kali lipat dari seminggu lalu. Observation Haki-ku juga meningkat—bisa merasakan keberadaan dalam radius sepuluh meter bahkan dengan mata terbuka dan sambil bergerak.
Sabo juga berkembang pesat. Meskipun belum bisa manifestasi Armament, Observation Haki-nya bahkan lebih tajam dari aku. Dia bisa merasakan serangan dari arah mati sekalipun.
"Kalian berdua punya bakat berbeda," Yamamoto berkomentar saat kami istirahat siang. "Ace lebih ke tipe serang langsung—kekuatan murni. Sabo lebih ke tipe bertahan dan counter—kecepatan dan presisi."
"Maksudnya?" Sabo bertanya sambil minum air rakus.
"Maksudnya kalian harus berkembang sesuai kekuatan masing-masing. Ace, fokus ke Armament dan kekuatan api. Buat serangan yang bisa hancurkan pertahanan musuh. Sabo, fokus ke Observation dan kecepatan. Buat kombinasi yang bisa tembus celah terkecil."
Itu masuk akal. Dalam timeline asli, Ace memang tipe fighter bertarung frontal dengan kekuatan overwhelming. Sedangkan Sabo—setelah jadi Chief of Staff Revolusioner—lebih ke tipe tactical fighter dengan teknik rumit.
"Mengerti!" kami menjawab bersamaan.
"Bagus. Sekarang lanjut latihan. Kali ini aku akan serang kalian berdua sekaligus. Kalian harus bertahan lima menit tanpa terkena pukulanku."
"Lima menit?!" wajah kami pucat. Yamamoto dalam mode serius itu mengerikan—bahkan anak buahnya yang dewasa sering babak belur.
"Ya. Mulai sekarang. SIAP?!"
Dia tidak menunggu jawaban. Langsung menyerang dengan kecepatan gila.
Aku dan Sabo melompat ke arah berlawanan—reflex survival. Yamamoto mengejar aku duluan—tinjunya terarah ke perut.
Aku block dengan tangan yang dilapisi Armament—WHAM!—tetap terlempar mundah beberapa meter meski sudah pakai pelindung.
"Jangan cuma block! Dodge!" Yamamoto berteriak sambil menyerang lagi.
Aku dodge ke kanan—tinjunya melewati wajah dengan jarak sejengkal. Aku counter dengan uppercut berapi—dia parry dengan mudah dan kick ke arah kakiku.
Aku melompat—tapi Yamamoto sudah prediksi. Tinjunya menunggu di udara—
"ACE!" Sabo tiba-tiba muncul dari samping dengan swing tongkat ke arah kepala Yamamoto.
Yamamoto terpaksa mundur untuk hindari. Aku mendarat dengan selamat.
"Kerja sama bagus!" Yamamoto memuji sambil langsung menyerang Sabo dengan kombinasi jab-jab cepat.
Sabo mundur sambil deflect dengan tongkat—tapi kecepatan Yamamoto terlalu tinggi. Salah satu jab menembus pertahanan dan hampir kena wajah—
Sabo memiringkan kepala di detik terakhir. Jab meleset sejengkal.
"Observation Haki! Bagus!"
Tapi pujian itu jebakan. Kick datang dari bawah—Sabo terlambat react—
Aku lempar bola api ke arah kick itu. Yamamoto terpaksa tarik kaki untuk hindari panas.
"Kombinasi makin bagus!"
Pertarungan berlanjut brutal. Lima menit terasa seperti lima jam. Setiap detik adalah survival. Setiap gerakan adalah pilihan antara kena pukul atau berhasil menghindar.
Tapi entah bagaimana—dengan kombinasi Observation Haki Sabo dan Armament Haki-ku—kami bertahan.
Saat waktu habis, kami kolaps di tanah—napas terengah-engah, tubuh penuh keringat dan debu.
"Lulus. Kalian bertahan tanpa kena pukulan satupun." Yamamoto terlihat... bangga? "Seminggu lalu kalian tidak akan bisa bertahan tiga puluh detik. Sekarang lima menit penuh. Perkembangan luar biasa."
Pujian dari Yamamoto adalah hadiah terbesar.
Tapi istirahat singkat langsung berakhir saat salah satu anak buah Dadan berlari dengan wajah panik.
"DADAN-SAN! BLUEJAM! Dia kembali! Dengan lima puluh orang!"
Lima puluh?!
Itu jauh lebih banyak dari perkiraan!
Dadan langsung berdiri. "Panggil aliansi! Sekarang!"
"Sudah! Mereka dalam perjalanan kesini!"
"Berapa lama sampai Bluejam tiba?"
"Maksimal sepuluh menit!"
Sepuluh menit untuk persiapan. Tidak banyak tapi harus cukup.
"Yamamoto, siapkan strategi bertahan! Anak buah, ambil senjata dan berkumpul di area terbuka! Ace, Sabo—"
"Kami ikut bertarung," aku memotong dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Dadan menatapku. Ingin protes. Tapi melihat mataku—melihat tekad disana—dia menghela napas.
"Baiklah. Tapi kalian tidak boleh jauh dari aku dan Yamamoto. Mengerti?!"
"Mengerti!"
Sepuluh menit berlalu dengan cepat. Semua orang berkumpul di area terbuka depan gubuk—empat puluh orang dari aliansi bandit, lengkap dengan senjata beragam.
Lalu mereka datang.
Dari balik pepohonan, muncul gerombolan besar. Lima puluh orang dengan senjata lengkap—pedang, kapak, bahkan beberapa pistol flintlock. Di depan mereka, Bluejam berjalan dengan senyum penuh percaya diri.
"Dadan! Aku kembali seperti janji!" dia berteriak dengan suara menggelegar. "Dan kali ini aku bawa cukup orang untuk hancurkan kalian!"
"Kami juga sudah siap, Bluejam!" Dadan berteriak balik. "Kau pikir kami cuma diam saja menunggu?!"
Bluejam menatap pasukan kami—empat puluh orang—dan tertawa keras.
"Aliansi? Kau buat aliansi? Hahaha! Tidak masalah! Kami tetap lebih banyak! Dan yang penting—" dia menatapku dengan tatapan berbahaya. "Aku mau bocah Devil Fruit itu. Hidup atau mati!"
Amarah meledak di dadaku. Api mulai menyala di kedua tangan tanpa kusadari.
"Kalau mau aku, datang dan ambil sendiri!"
Bluejam menyeringai lebar. "Dengan senang hati! SERANG! BUNUH SEMUA! TANGKAP BOCAH ITU!"
Lima puluh bajak laut menyerbu dengan teriakan perang.
"PERTAHANKAN POSISI! JANGAN MUNDUR!" Dadan berteriak.
Dua pasukan bertabrakan di tengah area terbuka.
CLANG! CLANG! WHAM! BOOM!
Suara besi bertabrakan, teriakan, ledakan—semua jadi satu kekacauan.
Yamamoto bergerak seperti badai—pedangnya menari, menebas lima orang dalam sekejap. Dadan bertarung dengan kapak besar—setiap swing menghantam satu musuh.
Aku dan Sabo bertarung berdampingan. Sabo dengan tongkat besi—cepat, presisi, setiap pukulan mengenai titik vital. Aku dengan kombinasi Armament Haki dan api—setiap pukulan meninggalkan luka bakar.
"ACE! KIRI!" Sabo berteriak.
Aku reflex dodge—pedang melewati tempat kepala aku tadi berada. Aku counter dengan punch berapi ke perut penyerang—dia terpental dengan baju terbakar.
"SABO! ATAS!"
Sabo backflip—hindari kapak yang datang dari atas. Dia landing dan langsung swing tongkat ke kaki penyerang—patah dengan suara menjijikkan.
Kami bergerak seperti satu unit—saling melindungi, saling menutupi blind spot.
Tapi lima puluh lawan terlalu banyak. Perlahan pasukan kami terdesak.
"DADAN-SAN! Mereka terlalu banyak!" salah satu bandit aliansi berteriak panik.
"TETAP BERTAHAN!"
Tapi moral mulai turun. Beberapa bandit aliansi mulai mundur—takut mati.
Bluejam melihat itu dan tertawa. "Lihat! Mereka mulai pecah! TERUS SERANG!"
Sial. Kalau ini terus berlanjut, kami akan kalah.
Aku harus lakukan sesuatu. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang bisa ubah momentum.
"SABO! Lindungi aku selama tiga puluh detik!" aku berteriak.
"Apa yang mau kau lakukan?!"
"Percaya saja!"
Sabo tidak bertanya lagi. Dia berdiri di depanku dengan stance bertahan—tongkat terangkat, Observation Haki maksimal.
Aku menutup mata. Fokus. Tarik semua energi spiritual dalam tubuh. Bukan hanya sedikit—SEMUA.
Api mulai menyala di sekujur tubuhku. Panas meningkat drastis. Udara bergetar.
Ini teknik yang belum pernah kucoba sebelumnya. Teknik yang kubayangkan dari ingatan manga—salah satu serangan signature Ace.
Tapi versi yang lebih kuat.
Energi api berkumpul di depan dadaku. Membentuk bola raksasa—sebesar kepala orang dewasa. Oranye menyala. Panas luar biasa.
"Apa itu?!" beberapa bajak laut Bluejam berhenti menyerang—menatap bola api raksasa dengan ketakutan.
"SEMUA MENJAUH DARI ACE!" Dadan berteriak panik—dia tahu apa yang akan terjadi.
Pasukan kami mundur membentuk ruang kosong.
Aku membuka mata. Menatap gerombolan Bluejam yang sekarang terlihat ragu.
"HIKEN!" aku berteriak sekuat tenaga dan mendorong bola api raksasa itu ke depan.
WHOOOOSSSHHH!
Bola api meluncur seperti meteor—cepat, panas, destruktif.
BOOOOOMMM!
Ledakan besar. Api menyebar kemana-mana. Teriakan kesakitan dari puluhan orang sekaligus.
Saat asap menipis, pemandangan mengerikan terlihat—dua puluh bajak laut Bluejam tergeletak dengan luka bakar parah. Beberapa masih sadar tapi tidak bisa berdiri. Tanah gosong hitam dalam radius sepuluh meter.
Hening total.
Semua orang—kawan dan lawan—menatap hasil ledakan dengan mulut terbuka.
Aku sendiri terengah-engah berat. Energi hampir habis total. Kaki gemetar. Penglihatan sedikit kabur.
Tapi aku tidak boleh tunjukkan kelemahan. Tidak sekarang.
"Siapa berikutnya?" aku berteriak dengan suara yang berusaha terdengar kuat.
Bajak laut Bluejam yang masih berdiri—tinggal tiga puluh orang—terlihat ketakutan. Mereka mundur perlahan.
"JANGAN MUNDUR! Dia cuma bocah! Dia pasti sudah kehabisan tenaga!" Bluejam berteriak marah.
Tapi tidak ada yang mau maju. Mereka semua melihat apa yang terjadi pada dua puluh rekan mereka.
"PENGECUT! KALIAN SEMUA PENGECUT!" Bluejam mengambil pedang sendiri. "Kalau begitu aku yang akan bunuh bocah itu!"
Dia berlari ke arahku dengan kecepatan mengejutkan untuk tubuh sebesar itu.
Aku mencoba angkat tangan—tapi tubuh tidak merespons. Energi benar-benar habis.
Sial.
"ACE!" Sabo mencoba berlari melindungiku tapi ada tiga bajak laut menghadangnya.
Dadan dan Yamamoto terlalu jauh—dihadang oleh musuh lain.
Bluejam sudah hampir sampai—pedangnya terangkat tinggi, siap menebas.
Ini dia. Ini saat dimana aku mati di kehidupan kedua juga?
Tidak.
AKU TIDAK MAU MATI DISINI!
Dengan kekuatan terakhir, aku angkat tangan. Api kecil menyala—sangat kecil, tidak cukup untuk serangan.
Bluejam tertawa. "ITU SAJA?! MATI KAU!"
Pedangnya turun—
CLANG!
Suara logam bertabrakan keras.
Tapi bukan pedangku yang block. Aku bahkan tidak punya pedang.
Di depanku, berdiri sosok yang tidak kuduga akan muncul.
Pria tua dengan rambut putih. Jubah putih dengan kata "JUSTICE" di punggung. Dan wajah yang sangat familiar.
Monkey D. Garp.
Kakek sudah datang.
Dan dia terlihat sangat, sangat marah.
BERSAMBUNG