Elang Erlangga seorang mafia kejam berdarah dingin. Suatu malam Erlangga di kepung oleh para musuhnya di kota Jogja, saat sedang menjalankan sebuah misi untuk mencari ibu nya. Karena kebocoran informasi pada tentang keberadaan nya, dia nyaris mati. Untung nya dia di selamatkan oleh seorang gadis desa baik hati. Tersentuh akan kebaikan dan kelembutan sang gadis desa. membuat Elang ter obsesi untuk bisa memiliki gadis desa tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
"Kok malah bengong saya kalian, ayo masuk!" kata Nilam mempersilahkan kedua nya, ketika pandangan nya, tertuju pada Elang, Nilam sempat tertegun sejenak. Mengapa wajah anak ini terasa sangat familiar? Dan seolah rasanya aku ingin memeluk nya. Dia mengigatkan ku pada Elang putra ku. Batin Nilam dalam hati.
Elang menjabat tangan Nilam ada getaran aneh pada dalam dada yang sulit untuk di mengerti Nilam, sedang Elang merasa semua ini seolah mimpi, Namun Elang pandai dalam menyembunyikan perasaan nya, jadi tampilan nya tetap terkesan santai dan sopan. Seolah tidak mengenal Nilam.
"Siapa ini Meisya, Pacar baru kamu ya, iamu sudah putus dengan Dwika?" Tanya Nilam sambil menunjuk ke arah Elang.
"Eh, bukan kok tante, sebenarnya hampir datu bulan yang lalu Meisya tak sengaja bertemu dengan dia, yang sedang di keroyok oleh beberapa orang. keadaan nya cukup parah, kerangka kepala nya di pukul keras menggunakan tongkat bisbol, dan tubuhnya juga penuh luka. Setelah di bawa kerumah sakit terdekat. Dia ternyata mengalami Amnesia. Dan malam itu juga saya bawa saja kerumah si mbah, dan di rawat oleh mantri terdekat. Cerita Meisya.
Nilam mengeryit kan dahi, tak paham. Kasihan sekali dia, kenapa kamu tak lihat saja KTP nya? Lalu kenapa kamu ajak dia kemari nak?"
"Benar juga ya, kok Meisya gak kepikiran sampai situ. Soalnya tante, setelah kejadian tersebut sepertinya orang-orang itu mencari keberadaan nya, sampai memasang wajah nya di mana-mana dan meng iming-imingi hadiah yang cukup besar bagi mereka yang menemukan nya. Jadi Meisya lebih fokus untuk menyembunyikan nya dari warga, dengan merubah penampilan wajah nya sedikit. Dan kapan hari, ada orang yang menyebabkan nama Tante, dan Agus memberikan respon seolah mengenal tante." Cerita Meisya panjang lebar.
"Deg.. !!
"Boleh nak Tante lihat KTP nya, karena dia mengigatkan Tante dengan seseorang. Tanya Nilam. Tetapi Nilam sendiri masih ragu, mana mungkin putra nya bisa berada di tempat ini. Dan tidak mungkin suaminya itu mengizinkan Elang untuk mencari nya. Ya ternyata Nilam dan chao Jinggou belum bercerai secara hukum.
"Maaf tante, em Agus gak bawa barang apapun saat kesini, karena dia gak tahu menahu, kalau mau saya ajak kesini." Kata Meisya.
Nilam menghela nafas berat, entah mengapa firasat nya sangat kuat, bahwa dia ada hubungan nya dengan Elang, di tambah cerita dari Meisya, membuat nilam semakin kuat.
Selama di sana Elang hanya mengamati kedua wanita beda usia itu, mengobrol membicarakan tentang nya, dia masih terus mencari pandang ke arah Nilam. Sampai mereka pamit pulang pun Elang hanya diam saja.
*
*
Sesampainya di desa Godean, dan menuju arah pulang. Meisya menanyakan pendapat Elang tentang Nilam. "Bagaimana Gus, kamu mengigat tante Nilam tidak?"
Elang menggeleng pelan, "tidak. Tetapi aku merasa ada ikatan yang kuat dengan nya."
"Kenapa saat kita disana kamu hanya diam saja?" tanya Meisya bingung.
Elang tersenyum. "Lalu, aku harus bicara apa sya? Aku bahkan tidak mengingat apapun!"
Meisya mengangguk mengerti. Benar juga ya, kan Elang sedang dalam keadaan Amnesia, bagaimana Meisya bisa melupakan itu. Dan ternyata Dwika telah menunggu Meisya dan elang di dekat gapura masuk kedesa Godean kebetulan di dekat nya ada penjual angkringan. Jadi Dwika sekalian nongkrong di sana.
Setelah Meisya dan Elang terlihat, Dwika segera menghampiri mereka berdua dan langsung menarik tangan Meisya agar menjauh dari Elang. Elang mengeryit tak suka, entah kenapa ada perasaan tak rela melihat Meisya di perlakukan seperti itu oleh Dwika. Namun ia segera sadar, bahwa itu bukan lah urusan nya. Jadi Elang hanya melihat saja, asal tidak membahayakan Meisya.
"Sang kenapa kamu pergi dengan nya?" protes Dwika, memandang Elang penuh permusuhan. Namun yang di tatap hanya cuek tak mau tau. Membuat Dwika semakin geram saja.
"Iya, aku hanya mengantar Agus, untuk ketemu dengan kerabat nya saja." Kata Meisya tak sepenuhnya bohong.
"Meski dia Saudara jauh kamu, aku tak suka jika kamu terlalu dekat dengan nya! Aku sangat cemburu sayang!" Protes Dwika.
Meisya tersenyum, hatinya langsung merasa bahagia ketika Dwika mengungkapkan rasa cemburu pada Elang. "bagaimana pun Agus ini kerabat aku, dam dia tinggal di sini bersama ku, hanya aku dan nenek yang dia kenal. Jadi kamu jangan cemburu ya, aku cinta nya cuma sama kamu kok!
Elang yang mendengar nya langsung memutar bola matanya, dan serasa ingin muntah mendengar gombalan receh dari kedua nya. Lebih baik dia pergi duluan saja. Tanpa memperdulikan dua sejoli itu yang saling melempar bualan cinta. Belum jauh Elang melangkah, dia langsung menoleh, ketika tukang angkringan menagih uang pada Dwika.
"Mas.. Mas.. Main pergi saja, mas kan belum bayar!!" Teriak tukang angkringan.
Dwika menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Sayang, boleh ngak bayarin dulu, nanti kalau mas Udah ada uang, mas ganti deh."
Meisya menghela nafas pelan. "Berapa mas semuanya?"
Tukang angkringan itu segera menghitung total yang telah di habiskan oleh Dwika. "delapan puluh ribu saja mbak!"
Meisya terkejut, bagaimana bisa Dwika menghabiskan biaya segitu banyak nya untuk dirinya sendiri. Sebenarnya apa saja yang Dwika makan dan minum ini?
Namun Meisya tetap membayar nya tanpa protes.
"Mbak.. Mbak.. Cantik-cantik kok mau saja, di manfaatkan pacar nya." gumam tukang angkringan pelan, lalu kembali ke tempat dagangan nya. Meski pelan Meisya masih bisa mendengar gumaman tukang angkringan tersebut. Namun Meisya memilih abai. Elang tersenyum miring melihat kejadian itu. Bahkan tukang angkringan saja yang baru bertemu dengan Meisya dan Dwika sekali, langsung bisa menyimpulkan seperti itu. Tetapi Meisya belum bisa sadar juga.
*
*
Sesampainya di rumah Elang segera menghubungi Asisten nya Arnold. Sambungan telepon pun terhubung. "Halo, siapa disana?" Tanya Arnold di seberang sana. "Ini aku Elang!" Jawab Elang.
"Wah, Boss, kamu masih hidup? Sekarang anda berada di mana? Bos besar, sedang bingung mencari mu kemana-mana. Bahkan memerintahkan semua anak buah kita, untuk berpencar di berbagai kota di Indonesia. Tetapi belum juga dapat menemukan anda!" Seru Arnold dengan heboh.
Elang memijit kepala nya, mendengar suara heboh dari Arnold. "Jangan katakan pada siapapun jika aku menghubungi mu, termasuk Daddy ku!" perintah Elang
"Memang nya kepada boss? padahal Boss besar sangat Hawatir sekali pada anda!"
"Ikuti saja perintah ku, dan ada pekerjaan untuk mu? Kamu berada di Indonesia juga kan?" Tanya Elang
"Tentu saja boss, saya ada di Indonesia, karena ikut mencari keberadaan boss muda yang tiba-tiba menghilang. Menggemparkan seluruh klan dan juga tuan besar. Ngomong-ngomong pekerjaan apa boss.
"Selidiki, semua tentang wanita yang bernama Nilam sari, yang berada di alamat yang akan saya kirimkan nanti. Dan ingat!! Jangan sampai Daddy mengetahui nya, jika Deddy sampai mengetahui nya, kamu akan menerima akibatnya!!"
Untuk setelah dialog ada dialog tag, itu pakai huruf kecil ya. Akhiran dialog itu pakai koma, jika bukan tanda tanya atau tanda seru, kecuali selanjutnya adalah aksi setelah dialog jika pakai titik.
Pliss namanya aestheticc bgt lhoo🫣
Contoh:
Dadanya bergedup kencang dan wajahnya peluh oleh keringat dingin yang membasahinya.
Ini contoh sederhana yang masih bisa disempurnakan.
→ Dengan hasutan...
→ Karena hasutan...
Tanpa menyebut lagi pun ini sudah menjelaskan.