NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Titik Nol di Balik Kabut

Aruna masih bersila di lantai ruang tamunya yang dingin. Berkali-kali ia mencoba memutar kunci kristal di lehernya, memusatkan seluruh ingatannya pada aroma embun perak dan kedamaian Hutan Sanubari. Namun, hasilnya nihil. Apartemennya tetap pengap, sepi, dan gelap. Gerbang ajaib itu seolah telah menolaknya untuk masuk.

​"Kenapa, Ibu? Apa aku melakukan kesalahan?" gumamnya dengan suara serak yang hampir putus asa.

Ketegangan di kantor tadi, drama saat melihat Siska kabur, hingga pertengkaran dengan Tristan, kini mulai mengalami rasa lelah dan kantuk yang berat. Aruna tidak sanggup lagi berjalan ke tempat tidur. Dengan punggung bersandar pada sofa, ia membiarkan matanya terpejam, dan perlahan, kesadarannya terseret ke dalam mimpi.

Dunia Mimpi

Aruna berdiri di sebuah padang rumput yang tertutup kabut tebal. Langit di atasnya tidak berwarna ungu tenang seperti biasanya, melainkan hitam gelap tanpa bintang.

​"Aruna..."

Sebuah suara lembut memanggil namanya. Aruna menoleh dan menemukan sosok wanita dengan gaun putih pucat berdiri di tengah kabut.

"Ibu!" Aruna berlari ingin memeluknya, namun ada pembatas tak terlihat yang memisahkan mereka. "Ibu, kenapa aku nggak bisa masuk? Kenapa Hutan Sanubari menutup pintunya untukku? Bukankah amarahku yang dulu membukanya?"

Ibunya menatap Aruna dengan tatapan penuh kesedihan. "Dulu, air matamu yang membukakan jalan, Nak. Karena itu adalah amarah seorang korban yang mencari kebenaran. Tapi sekarang, energi itu telah berubah. Benih Karma yang kamu gunakan tadi telah menyerap kebencian yang terlalu dalam untuk Tristan. Hutan ini menutup diri bukan karena membencimu, tapi untuk melindungimu. Jika kamu masuk dengan dendam yang hebat seperti sekarang, kamu akan menghncurkan tempat ini dan dirimu sendiri."

​​Aruna terdiam, tangannya yang menyentuh dinding tak terlihat itu perlahan turun.

​"Waspadalah, Aruna," suara Ibunya mulai menjauh bersama kabut yang semakin tebal. "Musuhmu kini bukan lagi mereka yang memegang pisau di depanmu, melainkan mereka yang memberikan perlindungan di belakangmu. Kamu harus menemukan titik nol di hatimu. Jangan tertipu oleh perlindungannya. Hendrawan sedang menunggumu lengah. Bersihkan hatimu, Aruna, atau kamu hanya akan jadi boneka di tangannya."

Aruna terdiam. Hawa dingin di padang kabut itu membuatnya menggigil hebat.

​"Ibu... bagaimana Ibu bisa tahu kalau Paman Hendrawan dalang dari semua ini?" suara Aruna bergetar hebat. "Bukankah selama ini dia yang paling mendukungku dan Ayah?"

Suara ibunya kini menhka "Ada sisa kemarahan yang bukan milikmu, Aruna. Hutan ini menutup diri karena ia mencium aroma pengkhianatan yang kamu bawa pulang. Bersihkan dirimu, atau kamu takkan pernah bisa kembali ke hutan itu."

Aruna mengepalkan tangan, mencoba mencerna kenyataan pahit itu.

​"Tenangkan jiwamu, Aruna. Jika kamu tidak bisa tenang, kamu tidak akan bisa melihat ular yang sedang bersembunyi di balik senyum orang yang mengaku menyelamatkanmu..."

**"

Aruna terbangun dengan napas tak karuan. Ia tidak punya waktu untuk merenung karena ponselnya terus bergetar. Setelah menerima telepon dari Hendrawan,

Aruna bergegas ke rumah sakit dengan topeng kesedihan yang sudah ia siapkan. Bau tajam cairan disinfektan yang menyengat langsung menyambutnya begitu ia melangkah masuk ke koridor ICU. Suasana sepi yang tegang hanya ada suara gesekan sepatu perawat di atas lantai porselen yang dingin.

Hendrawan berdiri di depan pintu ICU, masih dengan jas mahal yang tak sedikit pun kusut. Ia menunduk, mengusap wajahnya dengan gerakan yang seolah-olah menunjukkan beban berat, namun Aruna tahu itu hanya bagian dari pertunjukan. Pria itu tampak begitu meyakinkan dalam akting yang sempurna.

"Aruna!" Hendrawan langsung menghampiri dan memeluk bahu Aruna. "Paman baru dengar semuanya. Tristan benar-benar binatang! Paman sudah meminta dokter terbaik untuk menjaga Ayahmu 24 jam. Kamu tidak perlu khawatir lagi sekarang, ada Paman di sini."

Aruna menunduk, memastikan matanya hanya menatap lantai. Di dalam pelukan itu, ia teringat kata-kata ibunya.

Ular, batinnya.

"Terima kasih, Paman," bisik Aruna dengan suara serak. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpa Paman. Semuanya terjadi begitu cepat..."

Hendrawan mengusap kepala Aruna pelan, namun matanya melirik ke arah pintu ruang ICU dengan tatapan gelisah. "Tenanglah. Paman akan memastikan Tristan membusuk di penjara, dan Siska... Paman sendiri yang akan menemukannya untukmu."

***

Aruna melepaskan pelukan itu perlahan, lalu mengusap sudut matanya yang sebenarnya kering. Seolah menghapus sisa tangis yang tak pernah ada. Ia harus memberikan performa terbaiknya. Jika Hendrawan ingin bermain peran sebagai pahlawan, maka Aruna akan menjadi keponakan malang yang sangat bergantung padanya.

"Paman benar," ucap Aruna dengan nada lemah yang dibuat-buat. "Aku merasa sangat sendirian. Untungnya ada Paman. Tapi... dokter yang Paman panggil itu, siapa ya? Apa dia bisa dipercaya untuk menangani Ayah?"

Hendrawan tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya membuat Aruna merasa tenang, namun kini justru membuatnya waspada.

"Tentu saja. Dia Dokter Gunawan, spesialis saraf terbaik dari kolega Paman. Dia akan memastikan Ayahmu segera bisa bicara kembali. Paman tahu kemarin Kak Adiwangsa sudah mulai sadar dan bisa menggerakkan anggota tubuhnya, tapi itu saja tidak cukup, Aruna. Kita butuh dia pulih total agar bisa memberikan kesaksian di pengadilan nanti."

Hendrawan menghentikan kalimatnya, matanya menatap tajam ke arah ruang perawatan. "Kondisi Kak Adiwangsa masih sangat rentan. Sedikit saja ada kesalahan penanganan, sarafnya bisa kembali lumpuh. Itulah kenapa Paman membawa dokter pribadi sendiri." gumam Hendrawan tanpa menoleh.

Aruna mengangguk-angguk kecil, wajahnya menunjukkan ekspresi lega yang dibuat-buat, padahal di dalam hatinya ia merasa muak. Kalimat "sedikit saja ada kesalahan penanganan" terasa seperti ancaman nyata di telinganya.

​"Syukurlah kalau begitu, Paman. Aku benar-benar takut kalau penanganan dokter rumah sakit kurang maksimal," ucap Aruna dengan suara yang sengaja dibuat sedikit gemetar. "Aku tidak tahu lagi harus percaya pada siapa. Tristan sudah menghancurkan segalanya... Aku hanya punya Paman sekarang."

Hendrawan menoleh, menatap Aruna dengan mata yang tidak bisa berbohong. Meski suaranya terdengar prihatih. "Jangan bicara begitu, Aruna. Selama Paman masih ada, posisi Ayahmu dan perusahaan akan Paman jaga. Kamu fokus saja pada kesehatanmu dulu."

​"Boleh aku masuk menemui Ayah sebentar, Paman?" pinta Aruna.

"Tentu, Sayang. Masuklah. Tapi jangan terlalu lama, ya? Dokter Gunawan bilang dia harus melakukan observasi tenang tanpa gangguan."

Hendrawan membukakan pintu dengan gestur yang sangat sopan. Aruna sempat menyentuh gagang pintu besi yang dingin, seolah memberikan peringatan bahwa ia sedang melangkah masuk ke sarang musuh.

Aruna melangkah masuk ke dalam ruang ICU. Suara mesin pendeteksi jantung berbunyi, pip... pip... pip... Di atas tempat tidur, ayahnya terbaring diam. Saat Aruna mendekat, ayah membuka matanya. Ada ketakutan yang sangat dalam di sorot mata ayahnya saat melihat ke arah pintu, tepat di mana Hendrawan berdiri mengawasi dari balik kaca.

Aruna menggenggam tangan ayahnya yang dingin. Ia merasakan jemari ayahnya sedikit tegang, seolah ingin memegang tangan Aruna untuk memberi peringatan.

​"Ayah... ini Aruna," bisik Aruna rendah, memposisikan tubuhnya membelakangi jendela agar Hendrawan tidak bisa membaca gerak bibirnya. "Aruna tahu segalanya. Ayah jangan takut. Pura-pura saja tidak tahu jika paman masuk. Aruna akan segera mengeluarkan Ayah dari sini."

Mata ayah berair, setetes air mata jatuh di sudut matanya, namun ia tetap diam sesuai instruksi Aruna.

Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang pria paruh baya dengan jas putih dan kacamata tebal masuk. Langkah kakinya terdengar berat dan kaku di atas lantai. Ia bisa mencium bau tembakau samar yang keluar dari jas putih pria itu bau yang sangat tidak pantas untuk seorang dokter spesialis.

"Maaf, Mbak Aruna. Saya Dokter Gunawan. Saya harus menyuntikkan vitamin tambahan untuk membantu pemulihan saraf motorik Bapak Adiwangsa," ucapnya tanpa menatap mata Aruna. Tangannya bergerak cepat mengambil obat dari saku jasnya, bukan dari nampan medis rumah sakit.

Aruna berdiri, hatinya berdegup kencang. Ia teringat cairan kuning pucat yang ia curigai sebelumnya. "Vitamin apa itu, Dok? Boleh saya lihat labelnya?"

Gerakan tangan Dokter Gunawan terhenti sesaat. Ia melirik ke arah pintu memastikan Hendrawan masih mengawasi sebelum kembali menatap botol kecil di tangannya. "Ini formula khusus dari Jerman, Mbak. Tidak tersedia di apotek biasa. Sudah seizin Paman Anda."

"Oh, begitu ya? Baguslah kalau begitu," Aruna tersenyum manis, senyum yang paling palsu yang pernah ia buat. "Tolong berikan yang terbaik untuk Ayah, Dok. Saya benar-benar menaruh harapan besar pada Anda."

Aruna melangkah keluar menutup pintu rapat-rapat hingga bunyi kliknya terdengar. Begitu merasa cukup jauh dari jangkauan Hendrawan, ia memgambil ponsel dari sakunya. Napasnya masih pendek-pendek saat ia mulai mengetik pesan untuk Pak Baskara.

[Pak Baskara, ambil sampel cairan infus di kamar Ayah malam ini secara diam-diam. Dan tolong, bawa pengawal kepercayaan kita untuk menjaga pintu ICU dari kejauhan. Jangan biarkan Dokter Gunawan menyentuh Ayah tanpa pengawasan orang kita.]

Aruna menatap layar ponselnya, lalu beralih menatap kunci kristal di lehernya. Pintu Hutan Sanubari mungkin masih tertutup, tapi instingnya sebagai seorang pewaris Adiwangsa sudah sepenuhnya bangun.

Ular tidak sadar kalau mangsanya sudah tahu cara menggigit balik, batin Aruna tajam.

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel: Wah, makasih banyak ya Kak Ida! 🥰 Senang banget kalau ceritanya menghibur. Bagian mana nih yang paling bikin nagih?
total 1 replies
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!