NovelToon NovelToon
Gus, I'Am In Love

Gus, I'Am In Love

Status: tamat
Genre:Obsesi / Beda Usia / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dapur Ndalem

Abigail berjalan menuju ndalem (rumah utama pengasuh pesantren) dengan perasaan campur aduk. Ini pertama kalinya dia masuk ke wilayah pribadi keluarga Kyai. Harum aroma kayu cendana dan masakan rumahan langsung menyambutnya begitu ia melangkah ke area dapur yang luas dan bersih.

Di sana, Umi Khadizah sedang berdiri di depan meja kayu besar, memotong buah-buahan. Beliau menoleh dan tersenyum sangat hangat, tipe senyuman yang membuat Abigail merasa sedang pulang ke rumah.

"Sini, Sayang. Tanganmu masih sakit?" tanya Umi Khadizah lembut.

"Sudah mendingan, Umi. Gus Zayn yang... eh, maksudnya Gus Zayn yang suruh saya ke sini," jawab Abigail agak gugup, pipinya mendadak merona teringat kejadian di lapangan tadi.

Umi Khadizah terkekeh pelan. "Zayn itu memang kelihatannya dingin seperti es di kutub, tapi hatinya mudah luluh. Apalagi kalau melihat orang yang gigih seperti kamu. Sini, bantu Umi buat es sirupnya. Ini sirup buatan Umi sendiri, dari bunga telang dan pandan."

Abigail mulai membantu mengaduk sirup di dalam teko kaca besar. Sambil bekerja, Umi Khadizah bercerita banyak hal, termasuk bagaimana dulu Zayn pernah mogok makan di dapur ini karena merindukan almarhumah ibu kandungnya.

"Kamu tahu, Abby? Zayn itu dulu paling benci kalau ada orang yang sok mengatur hidupnya. Makanya, saat dia melihat kamu dikerjai ustadzah lain, dia merasa harus membela. Karena dia tahu rasanya disudutkan," tutur Umi Khadizah sambil menuangkan es batu.

"Umi... apa benar aku ini Debu yang nggak pantes di sini?" tanya Abigail tiba-tiba, suaranya mengecil. "Ustadzah Najwa bilang, laki-laki baik cuma buat perempuan baik. Aku merasa jauh banget dari kata itu."

Umi Khadizah berhenti memotong buah. Beliau memegang bahu Abigail dan menatap matanya dalam-dalam. "Abigail, Allah itu tidak melihat siapa kamu di masa lalu, tapi siapa kamu yang sedang berusaha sekarang. Ustadzah Najwa mungkin tahu banyak isi kitab, tapi dia lupa isi hati manusia. Kamu punya kejujuran yang tidak semua orang punya. Dan buat Umi, kamu itu bukan debu, tapi berlian yang cuma butuh sedikit dibersihkan dari lumpur."

Mata Abigail berkaca-kaca. Belum sempat ia membalas, suara langkah kaki terdengar masuk ke dapur.

"Umi, Zayn mau ambil..."

Zayn terpaku di ambang pintu dapur. Ia melihat Abigail sedang memakai celemek milik Uminya, rambutnya diikat asal, dan wajahnya masih sedikit cemong karena debu lapangan, tapi tampak sangat damai.

"Ambil apa, Le?" tanya Umi Khadizah menggoda putrinya.

"Ambil... air putih," jawab Zayn singkat, padahal di tangannya sudah ada botol minum yang penuh.

Abigail segera mengambil gelas, mengisinya dengan es sirup yang baru saja ia buat, dan menyodorkannya pada Zayn dengan tangan yang masih gemetar sedikit. "Nih, Gus. Es sirup debu New York. Berani coba?"

Zayn menatap gelas itu, lalu menatap Abigail. Ia mengambil gelas itu, menyesapnya perlahan di depan mereka. "Terlalu manis," ucapnya dingin.

Abigail baru saja mau cemberut, tapi Zayn melanjutkan sambil berjalan keluar dapur, "Tapi... saya suka."

Umi Khadizah tertawa renyah melihat Abigail yang membeku di tempat dengan wajah merah padam seperti kepiting rebus. "Sepertinya es di kutub itu benar-benar mulai mencair, Abby."

.

.

Suasana di dapur ndalem malam itu terasa sangat tenang. Abigail sedang belajar mengeja huruf hijaiyah bersama Umi Khadizah.

Karena merasa hanya ada perempuan, Abigail sedikit melonggarkan kerudungnya. Rambut pirangnya yang panjang mengintip dari balik kain yang tersampir asal di bahunya.

"A-Ba-Ta..." Abigail mengeja dengan serius.

"Pintar. Sedikit lagi, Abby," puji Umi Khadizah. "Umi ke depan sebentar ya, mau ambilkan kitab tajwid untukmu."

Saat Umi Khadizah keluar, Abigail menyandarkan kepalanya ke meja, merasa gerah. Tiba-tiba, langkah kaki yang tenang terdengar mendekat. Abigail mengira itu Umi, tapi saat ia menoleh, jantungnya hampir copot. Gus Zayn berdiri di sana, membawa sesuatu di tangannya.

Zayn langsung membuang muka saat melihat kerudung Abigail yang berantakan. "Pakai jilbabmu dengan benar, Abigail. Ini area umum."

"Dapur ini sepi, Gus. Lagipula panas banget," keluh Abigail sambil mencoba merapikan kain itu, tapi tangannya yang diperban karena hukuman kemarin membuatnya kesulitan. "Argh! Penitinya jatuh entah ke mana."

Zayn menghela napas. Tanpa kata, ia melangkah mendekat. Ia menyodorkan sebuah peniti kecil berwarna perak dengan hiasan mutiara kecil. "Ini. Saya ambil dari meja rias Kak Aisyah tadi."

Zayn berdiri sangat dekat untuk memberikan peniti itu. Abigail mendongak, dan dalam jarak sedekat itu, ia bisa mencium aroma kayu manis dan sabun bayi dari tubuh Zayn. Mata Abigail menyisir wajah Zayn yang sempurna, hidung mancung, bulu mata lentik, dan...

Abigail tertegun. Di telinga kanan Zayn, tepat di cupingnya, ada bekas lubang kecil yang sudah samar namun masih terlihat jelas jika diperhatikan dari dekat.

"Gus... kamu punya bekas tindik?" bisik Abigail tanpa sadar.

Zayn terdiam, otot rahangnya mengeras. Itu adalah sisa-sisa dari masa lalunya yang liar, tanda permanen dari pemberontakannya bertahun-tahun lalu yang kini ia tutupi dengan sorban atau peci.

Terbawa rasa penasaran dan sifat aslinya yang impulsif, Abigail mengangkat tangannya. Ia ingin menyentuh bekas tindik itu, ingin merasakan sisa kegelapan yang membuat Zayn terasa begitu nyata baginya.

"Boleh aku li—"

"Zayn? Sedang apa kamu di dapur?"

Suara lantang dan tegas itu memecah suasana. Abigail dan Zayn tersentak mundur secara bersamaan.

Di ambang pintu berdiri Ustadzah Aisyah, kakak perempuan Zayn yang dikenal paling disiplin dan belum menikah. Ia menatap keduanya dengan mata menyipit penuh selidik.

Aisyah berjalan mendekat, menatap Abigail yang jilbabnya masih berantakan, lalu menatap Zayn yang tampak canggung. "Dan itu... kenapa peniti favorit Mbak ada di tanganmu, Zayn?"

Zayn berdeham, berusaha menguasai diri kembali ke mode Pangeran Es. "Tadi dia butuh peniti, Mbak. Saya hanya membantu."

Aisyah melipat tangan di dada. Sebagai sesama perempuan, ia bisa merasakan ada sisa-sisa ketegangan atau mungkin percikan di antara adiknya dan santriwati Amerika ini.

"Membantu atau sengaja cari alasan untuk berdekatan? Ingat batasan, Zayn. Dan kamu, Abigail... rapikan pakaianmu. Di pesantren ini, kehormatan wanita dijaga dari cara dia berpakaian, bukan dari seberapa dekat dia dengan Gus-nya."

Abigail segera membetulkan jilbabnya dengan cepat, wajahnya terasa terbakar. Sementara Zayn hanya menunduk singkat, lalu pergi tanpa kata, meninggalkan Abigail yang masih terngiang-ngiang dengan bekas tindik di telinga pria itu.

Dia benar-benar pernah jadi bad boy, batin Abigail. Dan entah kenapa, itu membuatnya seribu kali lebih menarik daripada ustadz mana pun.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

happy Reading😍

1
ros 🍂
😍😍
kalea rizuky
suka deh endingnya
kalea rizuky
hot ya gus/Curse/
kalea rizuky
bagus deh q baru baca novel mu yg andrian ke anak cucunya skg nemu ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!