Pada kehidupan sebelumnya Ashilla dipaksa menikah dengan seorang pria yang dikabarkan kejam dan diduga sadis namun secara tegas Ashilla melawan keinginan ayahnya itu sehingga ia malah dibebankan hutang yang sangat besar karna sudah dibesarkan oleh keluarga Clinton namun tidak membalas budi.
Bertahun-tahun kemudian saat ia hendak membayar hutang tersebut, ibu tirinya datang dan memaksanya untuk menanggung kesalahan atas putrinya yang menabrak seseorang saat mengendarai mobil dengan ugal-ugalan.
Saat itulah kehidupannya hancur, untungnya waktu kembali berputar pada hari dimana semua tragedi tersebut belum terjadi dan kali ini Ashilla bertekad untuk menikahi pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 9 - Pembicaraan Singkat namun Berkesan
Kanara memperhatikan Ashilla dengan saksama. Wajah gadis itu tampak menawan, cukup untuk membuat kebanyakan orang di sekitarnya terlihat biasa saja. Namun anehnya, berdiri di samping wajah dingin Ken, justru terlihat serasi.
Rasa puas langsung muncul di hati Kanara. Ia menahan bahu Ashilla agar berdiri tegak dan berkata sambil tersenyum, “Tidak perlu terlalu sopan. Jangan berdiri di sini, ayo kita bicara di dalam.”
Ashilla tersentak kecil, lalu mengangguk cepat. “Baik, Bibi.”
Ken melirik mereka sekilas, lalu melangkah lebih dulu, membuka jalan.
Ashilla masih merasa gugup, apalagi dengan tatapan Ken yang sesekali meliriknya dari samping.
Begitu mereka duduk, Kanara menuangkan teh untuk Ashilla sendiri.
“Tenang saja, anggap seperti berbincang dengan orang tua di rumah.”
Ashilla buru-buru menerima cangkir itu dengan dua tangan. “Terima kasih, Bibi.”
Namun Kanara tidak mempersulitnya. Pertanyaannya ringan dan sikapnya ramah, membuat suasana tidak terasa menekan.
“Apakah kamu sudah lama tinggal di luar kota?”
“Tidak, Bibi. Aku baru kembali beberapa hari lalu.”
“Sendirian?”
“Iya… hanya dengan Ibu sebelumnya.”
Ashilla sendiri tidak merasa ada yang perlu disembunyikan dari latar belakang hidupnya. Lagi pula, ayahnya—Miller—telah meninggalkan ibu dan dirinya demi menikah dengan wanita lain.
Dalam kehidupan sebelumnya, keluarga Adam pasti sudah menyelidiki latar belakangnya sebelum memilihnya, sehingga percakapan kali ini pun berlangsung cukup lancar.
Setelah mengetahui kisah hidup Ashilla, Kanara tidak memberi penilaian, hanya menghela napas ringan.
“Pasti tidak mudah untuk ibumu.”
Ashilla tersenyum tipis.
Sementara itu, alis Ken sedikit berkerut ketika mendengarkan, membuat Ashilla sempat mengira mereka tidak puas pada keluarganya—atau bahkan merasa jijik padanya.
Namun sebenarnya, rasa tidak suka itu tertuju pada keluarga Clinton, dan pikiran itu justru membuat Ashilla diam-diam lega.
Ken tiba-tiba berkata, “Keluarga Clinton tidak berhak memperlakukanmu sembarangan.”
Ashilla terkejut, menoleh menatapnya.
Kanara ikut terdiam sejenak, lalu melirik putranya, seolah baru menyadari sesuatu.
Meski terdengar kejam, Ashilla memang berniat memanfaatkan kekuatan keluarga Adam untuk menekan keluarga Clinton.
Dengan dukungan keluarga Adam, ia juga akan berusaha membalas semua perlakuan buruk yang pernah ia terima.
Ia yakin, di kehidupan ini ia bisa menghasilkan jauh lebih banyak uang dari menulis dibandingkan kehidupan sebelumnya.
'Selama keluarga Clinton mendapatkan balasan yang setimpal, aku bahkan rela menyerahkan semua penghasilanku pada keluarga Adam.'
Kanara tidak berbincang terlalu lama. Meski Laura hanya ibu tiri, tetap saja ia adalah perwakilan keluarga Clinton yang membawa Ashilla ke perjamuan ini.
Tidak pantas jika mereka mengabaikan pihak Clinton dan berbicara terlalu lama dengan Ashilla.
Karena itu, Kanara tersenyum dan berkata,
“Baiklah, kita lanjutkan lain waktu. Ken, antar Ashilla kembali.”
Ken berdiri. “Baik.”
Ashilla ikut bangkit. “Terima kasih, Bibi.”
Kanara menepuk punggung tangannya dengan lembut. “Jangan tegang. Datang lagi lain kali.”
Saat Ashilla dibawa pergi oleh Ken, Laura terkejut sekaligus gelisah.
Keluarga-keluarga yang sebelumnya tak terlalu memerhatikan keluarga Clinton mulai merasa tidak senang, seolah Ashilla yang dibawa Laura justru mendapatkan keuntungan lebih dulu.
“Apa maksudnya ini, Nyonya Clinton?”
“Bukankah tadi kalian baru datang?”
“Gadis itu siapa sebenarnya?”
Dalam waktu singkat, mereka mulai menyindir dan menekan Laura dengan berbagai ucapan terselubung.
Laura memaksakan senyum. “Ah… hanya kebetulan saja.”
Di tengah kesibukan menghadapi mereka, Laura juga diliputi kekhawatiran—takut jika Ashilla menolak perjodohan dengan keluarga Adam.
Sejak awal, semua tamu datang dengan kesepakatan tak tertulis untuk menjalin hubungan dengan keluarga Adam.
Jika Ashilla menolak setelah menarik perhatian Nyonya Adam, itu sama saja mempermalukan keluarga Adam di depan umum—dan keluarga Clinton pasti ikut menanggung akibatnya.
'Tidak mungkin.. Miller bilang ia setuju untuk datang kemari.. artinya ia tidak akan menolak atau mempermalukan Clinton'
Rencana awal Laura sebenarnya hanya mengandalkan keberuntungan. Jika berhasil, ia akan memaksa atau membujuk Ashilla untuk menikah. Jika gagal, maka dianggap nasib buruk.
Namun siapa sangka, gadis itu bukan hanya berbicara dengan Ken, tapi bahkan dipanggil langsung oleh Nyonya Adam.
“Kenapa bisa jadi begini…” gumam Laura pelan.
Kalau sampai Ashilla menolak, kesempatan keluarga Clinton untuk mendekati keluarga Adam akan benar-benar hilang.
Miller akan murka, dan Laura pun tak akan selamat dari amarah itu.
Karena emosi yang campur aduk antara harapan dan ketakutan, Laura tampak linglung dan menanggapi orang lain dengan asal-asalan.
“Ah, maaf… saya kurang tahu juga,” jawabnya berulang kali.
Saat para tamu menyadari tak ada informasi yang bisa digali darinya, mereka pun berhenti mengepung Laura dan hanya bisa berharap Ashilla kembali dari pertemuannya dengan ibu dari Ken.
Ketika Ashilla kembali ke aula, perhatian semua orang langsung tertuju padanya.
“Sudah selesai?”
“Kenapa begitu cepat?”
Namun begitu mereka melihat Ken berjalan di sampingnya, sebagian besar segera kehilangan minat.
Dari sikap keduanya, jelas menunjukkan bahwa pembicaraan tadi tidak menemui jalan buntu.
Mata Laura berbinar melihat itu.
Ia segera melangkah maju. “Tuan Ken, kalau tidak keberatan—”
Namun ketika ia baru mendekat, Ken justru berhenti, menoleh pada Ashilla, dan berkata singkat,
“Hati-hati di jalan.”
Ashilla tertegun. “Ah… baik. Terima kasih.”
Ken mengangguk, lalu berbalik pergi tanpa sedikit pun menoleh ke arah Laura.
Senyum di wajah Laura langsung membeku karna mendapat reaksi dingin dari Ken, namun ada hal yang lebih penting dari itu.
"Ashilla, ayo kita pulang.. kamu harus menjelaskan apa yang terjadi"