Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.
[On Going]
Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.
Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.
Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?
Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?
Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.
2 hari, 1 bab! Jum'at libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 — Kepercayaan, Keraguan
Arena yang masih dipenuhi asap akibat benturan dua kekuatan sebelumnya perlahan menampakkan sosok Xinyi yang masih berdiri tegak. Pandangannya tertuju ke langit, ke arah kekuatan yang terus mencoba merenggut nyawanya.
Kali ini ia berhasil. Langit tidak lagi menekannya mundur. Justru Xinyi yang memukul mundur petir dari atas sana. Hukuman dari langit tidak ia terima begitu saja, melainkan ia lawan dengan kehendaknya sendiri.
Namun kondisi tubuhnya jauh dari baik.
Bagian kanan pakaiannya robek parah karena tak mampu menahan tekanan petir, membiarkan kulitnya yang seputih susu terekspos hingga ke bahu.
Darah kembali menyembur dari mulutnya, menandakan bahwa serangan balik tetap menghantam tubuhnya.
Bagaimanapun juga, petaka petir adalah hukuman. Sekalipun dilawan, serangan baliknya tidak bisa dihindari sepenuhnya.
Hanya saja kali ini berbeda. Xinyi merasakannya. Dampaknya memang masih menyakitkan, namun tidak sebrutal sebelumnya. Melawan petir memang sulit, tetapi itu mampu mengurangi kehancuran yang ia terima.
Kini hanya tersisa satu petir terakhir.
Dan tubuh Xinyi sudah berada di batasnya.
Ia perlahan duduk bersila di tengah arena yang rusak. Kedua tangannya disatukan. Dengan mata terpejam, Xinyi mulai merasakan arus Mana di sekitarnya. Energi itu perlahan mengalir ke tubuhnya. Cepat, namun tetap terkendali.
Ia harus benar-benar fokus. Tak boleh ada gangguan sedikit pun. Petir terakhir akan menjadi hukuman terkuat. Jika ia gagal mempersiapkan diri, maka kematian sudah pasti menunggunya.
Dari kejauhan, warga desa mulai menatapnya dengan ekspresi berbeda. Tak ada lagi bisikan penghinaan. Yang tersisa hanyalah harapan.
Perjuangan Xinyi membuat mereka terdiam kagum. Tak pernah ada yang berjuang sekeras ini saat menghadapi petaka.
Bukan pria berotot besar yang menganggap dirinya terkuat. Bukan pula orang yang merasa mampu menantang langit.
Kali ini yang berdiri melawan petaka hanyalah seorang wanita biasa. Orang asing yang bahkan tidak mengenal mereka. Namun justru dia yang mempertaruhkan segalanya.
Mengapa ia berjuang sejauh ini hanya untuk orang-orang yang tak ia kenal?
Pertanyaan itu membuat hati banyak orang bergetar. Perlahan, mereka mulai mempercayai Xinyi. Kebanyakan memilih diam, memberi ruang agar ia bisa memulihkan dirinya dengan tenang.
Di sisi lain, Xun'er menghela napas lega untuk sesaat. Xinyi berhasil bertahan dari petir kedua, meski nyaris kehilangan nyawanya. Namun ketenangan itu tak bertahan lama. Di dalam benaknya, ia mulai memikirkan petir ketiga.
"Orang yang menentang petaka, semuanya mati pada petir pertama atau kedua. Belum pernah ada yang bisa mencapai petir ketiga."
Xun'er membuka telapak tangannya. Di sana terletak sebuah kalung dengan permata merah yang berkilau redup.
"Ini adalah pertama kalinya aku akan melihat petir ketiga, dan yang melawan petir ketiga ini pertama kalinya adalah... Xinyi."
Ia jelas cemas. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah mempercayakan segalanya pada Xinyi.
Harapan orang-orang kini tertuju pada satu orang. Beban itu terlalu berat.
Jika Xinyi gagal, bukan hanya kematian yang menantinya. Ia juga akan membawa kekecewaan bagi banyak orang.
Memikirkan hal itu membuat dada Xun'er terasa sesak. Ia takut Xinyi akan dibenci karena gagal. Ia takut kehilangan Xinyi. Satu-satunya orang yang memandangnya berbeda dari yang lain.
"Kau tidak boleh mati... kau sudah berjanji padaku," gumamnya pelan.
Tidak hanya warga desa, Yao Li juga mulai merasakan kekaguman.
"Orang asing... hanya orang asing, tapi kenapa mau menerima sakit seperti itu?"
Ia tidak pernah menganggap Xinyi sebagai teman. Namun ia juga tak pernah melihatnya sebagai ancaman. Bahkan ia masih bingung mengapa Tetua justru menunjuk orang luar untuk menerima petaka.
Dalam kondisi seperti ini, bukankah lebih baik Xinyi melarikan diri.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Xinyi menantang petaka secara langsung.
Untuk apa sebenarnya. Siapa dia? Mengapa ia mau melakukan ini?
Yao Li memikirkannya berkali-kali, namun tetap tak menemukan jawabannya.
Sementara itu, Yuan Xi hanya terdiam.
Pandangannya terpaku pada Xinyi yang sedang memulihkan diri di arena. "Petir selanjutnya akan segera datang, bagaimana bisa dia begitu tenang," batinnya.
Meski terlihat tenang dari luar, sebenarnya Xinyi juga dipenuhi kecemasan. Ia terus bertanya pada dirinya sendiri apakah ia benar-benar mampu menahan petir terakhir. Beban itu menekan pikirannya, namun ia memaksa dirinya untuk tetap tenang.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya, Orang Asing."
Yuan Xi mengerutkan kening. Ia kesal pada perasaannya sendiri. Mengapa ia harus peduli pada orang luar?
Seharusnya ia tidak peduli. Ia tahu seperti apa orang asing. Terakhir kali ia bertemu dengan orang luar, ia kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Tangannya mengepal.
Sejak saat itu, ia menganggap orang luar sebagai ancaman.
"Apa aku salah—tidak. Yang kulakukan tidak salah... orang asing patut untuk dicurigai. Siapapun dia, bagaimanapun kondisinya."
Ia terus mengamati Xinyi dari kejauhan. Tak ada rasa khawatir di wajahnya. Ia tidak percaya orang luar bisa melewati petaka.
Karena sejak awal, petaka adalah hukuman bagi Keturunan Darah Berdosa. Untuk menebus dosa mereka. Dan tidak pernah ada satu pun yang berhasil melewatinya.
Lalu bagaimana dengan orang luar.
"Berhasil melewati petir kedua saja sudah bagus, dia akan gagal diakhir. Aku tidak ingin berharap kalau pada akhirnya akan dikecewakan."
Yuan Xi menutup matanya sesaat. Ia tahu ini akan berakhir. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum Xinyi mati.
Saat membuka mata, pandangannya tertuju pada Xun'er. "Kenapa kau berharap banyak padanya... apa tidak takut kecewa?" batinnya. Ia tidak berani mengucapkannya secara langsung.
Sementara Yuan Xi terjebak dalam pikirannya sendiri, Miju Xie justru menunjukkan ketertarikan yang semakin dalam pada Xinyi.
"Berhasil di petir kedua... ini benar-benar pencapaian besar. Aku tidak salah menilainya." Senyum tipis muncul di wajahnya.
Pria itu terbiasa melihat kegagalan. Namun kali ini, Xinyi benar-benar mengejutkannya. Ia melihat keraguan di dalam diri Xinyi, namun keraguan itu tidak menghentikannya.
"Kesombongannya... benar, kesombongan menutupi keraguannya."
Tangannya menyentuh dagu. "Lin Xinyi seorang manusia abadi yang kehilangan ingatan. Namun masih memiliki kekuatannya, sifat sombongnya itu... apa mungkin berasal dari dirinya yang dulu."
Tatapannya kembali tertuju pada Xinyi yang duduk bersila di tengah arena.
"Seandainya bisa, mungkin ia akan kujadikan milikku." Ia berhenti sejenak lalu melirik ke arah Xun'er. "Agak disayangkan. Aku terlambat... seseorang telah mengambilnya lebih dulu."
Meski hanya sekilas, Miju Xie menyadarinya.
Ia kembali menatap Xinyi. Mana di sekeliling wanita itu semakin padat, berputar lembut seperti melindunginya. Seolah energi dunia sendiri menyayanginya.
"Sebentar lagi... jika Lin Xinyi berhasil, maka kami akan terbebas." Kedua tangannya berada di belakang punggung. "Aku menantikan hasil darimu... Lin Xinyi."
Meski Miju Xie tidak mengatakannya secara langsung, Xinyi bisa merasakan harapan banyak orang yang terus menumpuk di pundaknya.
Perasaan itu membuat bulu kuduknya sedikit merinding. Namun juga membakar tekadnya untuk tidak tunduk pada langit.
Kalahkan langit. Bebaskan Keturunan Darah Berdosa.
Sambil memikirkan itu semua, waktu terus berjalan.
Dan hanya tersisa sedikit waktu sebelum petir terakhir turun untuk menentukan hidup dan mati.
apa ada sejarah dengan nama itu?