NovelToon NovelToon
Magic Knight: Sunder-soul

Magic Knight: Sunder-soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Antagonis
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: Arion Saga

Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Perjalanan Ke Cakrawala Kerajaan Beast

Hutan bukan berasal dari badai, melainkan dari derap ribuan kaki kuda yang menghantam bumi secara sinkron.

Desing suara zirah yang saling bergesekan menciptakan musik perang yang mencekam bagi siapa pun yang mendengarnya dari kejauhan. Di barisan paling depan, membelah angin yang menusuk, Arion berkuda dengan gagah. la menolak untuk duduk nyaman di dalam kereta logistik yang empuk.

Baginya, duduk diam di dalam ruang tertutup adalah sebuah trauma.

la memacu kuda hitamnya dengan punggung yang tegak lurus-sebuah punggung yang tampak sekokoh karang, namun menyimpan luka yang sangat dalam.

Para prajurit Black Knight yang berada di belakangnya terus menatap punggung itu dengan campur aduk antara semangat dan kekhawatiran.

Silih berganti, para ajudannya mendekat, mencoba membujuk tuan mereka untuk sedikit melunak.

"Tuan Muda,"

Liora memacu kudanya hingga sejajar.

"Angin di perbatasan ini sangat tajam. Apakah Anda tidak ingin beristirahat di kereta? Elara terlihat cemas menatap Anda dari jendela."

Arion tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada cakrawala yang luas.

"Aku sudah cukup lama duduk diam dan membusuk, Liora. Biarkan angin ini mengikis sisa-sisa bau penjara dari kulitku." Liora tertegun. la tahu, yang dimaksud Arion dengan 'penjara' bukanlah sebuah sel bawah tanah yang sempit di ibu kota.

Baginya, penjara itu adalah Kastil Black Knight itu sendiri. Selama tujuh tahun, tembok-tembok megah kastil itu telah menjadi jeruji yang mengurungnya dalam keputusasaan, kegelapan, dan kebosanan yang mencekik- tempat di mana ia dikhianati dan dibiarkan terlupakan oleh dunia.

Perjalanan ini, bagi Arion, bukan sekadar ekspansi militer. Ini adalah pelarian pertamanya dari penjara berbentuk kastil yang telah menelan masa mudanya.

"Khawatirkan saja palumu, Hanz,"

sahut Arion dingin ketika sang penempa raksasa itu mencoba ikut memprotes.

"Aku lebih baik mati jatuh dari kuda ini daripada harus kembali meringkuk di dalam ruangan tertutup."

Jauh di depan rombongan, Nyx melesat seperti hantu.

Sebagai yang paling lama berada di sisi Arion, Nyx adalah satu-satunya yang benar-benar paham betapa Arion membenci bau batu kastil yang dingin.

la ingat saat-saat di mana Arion hanya menatap jendela kamar kastilnya dengan tatapan kosong selama berbulan-bulan, seolah-olah ia adalah narapidana yang menunggu hukuman mati yang tak kunjung datang.

Setelah menempuh perjalanan panjang, rombongan akhirnya berhenti untuk berkemah di sebuah ngarai luas setelah melewati perbatasan. Dinding-dinding batu raksasa di kiri dan kanan memberikan perlindungan alami.

Saat malam tiba dan pasukan mulai beristirahat, Arion menyelinap pergi.

la menemukan sebuah dataran luas di sudut ngarai yang disinari rembulan.

Di sana, ia kembali menyiksa tubuhnya dengan latihan.

Sring! Sring!

Ayunan Sunder-Soul membelah udara malam. Peluh membasahi kemeja hitamnya, membuat luka di punggungnya kembali berdenyut.

Sakit ini... masih jauh lebih baik daripada rasa sesak di dalam kastil itu. Di sana, aku tidak bisa bernapas. Di sana, aku hanya seorang pangeran yang menunggu ajalnya.

la menghentakkan kakinya, membelah sebuah batu besar dengan tebasan horizontal yang kasar. la terengah-engah, membiarkan dadanya naik-turun menghirup udara liar pegunungan.

Satu orang di istana yang tahu aku sudah keluar... dia pasti mengira aku akan tetap bersembunyi di balik tembok kastil ku. Dia salah. Aku sudah menghancurkan sel itu. Dan sekarang, aku akan menghancurkan siapa pun yang mencoba mengurungku lagi.

Nyx, yang mengawasi dari balik bayangan tebing, menundukkan kepalanya dalam- dalam. la menyadari bahwa latihan ini adalah cara Arion membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia benar-benar telah bebas.

"Dia bukan sedang berlatih untuk berperang," bisik Nyx pada Liora yang baru saja menyusul ke atas tebing.

"Dia sedang merayakan kebebasannya dengan cara yang paling menyakitkan."

Malam itu di ngarai perbatasan, Arion terus mengayunkan pedangnya hingga fajar menyingsing.

Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ia merasa benar-benar hidup, meski tubuhnya penuh dengan luka.

**

Malam kedua di perjalanan menuju cakrawala Beast terasa lebih dingin, namun atmosfer di sudut ngarai itu justru memanas.

Di dataran luas yang disinari rembulan, Arion kembali bergerak.

Ayunan pedangnya tidak lagi sekadar latihan; itu adalah tarian maut yang semakin presisi. Di atas tebing, Hanz dan Liora memperhatikan dengan saksama.

"Gerakannya semakin tajam... menurutmu bagaimana, Hanz?" bisik Liora, matanya yang biasa penuh godaan kini terpaku serius.

"Mata itu... terlalu mengerikan untuk kita lihat sekarang." Hanz mengangguk, uap dingin keluar dari napasnya.

"lya, aku tahu. Dia bukan lagi pangeran yang mengejar kekuasaan atau keadilan seperti masa lalu. Menarik, badai akan menggemparkan dunia ini."

Tiba-tiba, Arion menghentikan gerakannya. la mengatur napasnya yang berat, lalu bersuara lirih namun tajam.

"Sebas!" Hampir seketika, Sebas muncul dari balik bayangan di belakang Arion dengan postur sempurna.

"Saya di sini, Tuan Muda."

"Panggil Vorgon dan Kaelith ke sini."

Sebas membungkuk dalam dan segera melaksanakan perintah.

Tak lama kemudian, dua komandan unit-Vorgon yang bertubuh besar dengan kapak ganda dan Kaelith yang ramping dengan pedang tipis-datang dengan wajah tegang sekaligus bangga.

"Keluarkan senjata kalian," perintah Arion dingin.

"Serang aku, kalian bisa datang sekaligus."

Suara benturan logam bergema keras di dinding ngarai.

Vorgon dan Kaelith terengah- engah, tubuh mereka dipenuhi debu dan goresan kecil, sementara Arion masih berdiri tenang. Rambut hitamnya sedikit berantakan tertiup angin malam, namun matanya menatap mereka dengan tatapan menghina.

"Apa saja yang kalian lakukan 7 tahun ini?"

Suara Arion terdengar berat, sarat dengan kekecewaan yang dingin.

Vorgon meraung frustrasi, mengayunkan kapaknya dengan kekuatan penuh yang bisa menghancurkan tembok pertahanan. Namun, dengan gerakan minimalis, Arion hanya memutar tubuhnya. Kapak itu lewat tepat satu inci di samping pinggangnya.

"Kemampuan kalian masih sama seperti saat aku mengacuhkan kalian," lanjut Arion.

la menangkap gagang kapak Vorgon dengan tangan kosong dan menyentaknya hingga sang komandan terhuyung.

"Kalian masih mengandalkan kekuatan meluap-luap yang kasar itu. Apa kalian pikir di medan perang nanti musuh akan diam saja saat kalian mengumpulkan tenaga?"

Kaelith mencoba masuk dari titik buta dengan kecepatan penuh. Namun, Arion bahkan tidak menoleh.

la menepis pedang tipis Kaelith dengan punggung tangan yang dilapisi mana, membuat senjata itu bergetar hebat di tangan pemiliknya.

"Teknik dasar kalian hancur,"

Arion melangkah maju, menekan mental kedua komandannya.

"Kalian terlalu sibuk memuja kekuatan besar hingga lupa bagaimana cara bernapas yang benar dalam pertarungan. Tujuh tahun... dan kalian masih bertarung seperti amatir yang baru memegang besi."

Di pinggir lapangan, Liora tertawa sinis, wajahnya menampakkan kepuasan melihat kedua rekannya diinjak-injak secara mental oleh Arion.

"Dengar itu? Tuan Muda benar. Kalian hanya tumpukan daging yang membawa senjata mahal." Namun, Nyx melangkah maju satu tindak, membuat bayangannya memanjang di bawah kaki Vorgon dan Kaelith.

"Jika dasar kalian saja masih seburuk ini, kalian tidak lebih dari umpan panah. Berlatihlah sampai tulang kalian retak, atau menyingkir lah dari jalan Tuan Muda sebelum aku sendiri yang menyingkirkan kalian."

Vorgon jatuh terduduk, menumpukan tangan pada kapaknya yang berat.

la merasa harga dirinya sebagai komandan unit Black Knight hancur berkeping-keping. Kaelith tertunduk, memandang pedangnya yang terasa tidak berguna di depan Arion.

Maafkan aku jika ini menyakitkan. Tapi dunia yang akan kita tuju tidak akan memberikan ampunan. Jika aku tidak menghancurkan kebanggaan kosong kalian sekarang, musuh lah yang akan menghancurkan nyawa kalian nanti.

Arion mengangkat Sunder-Soul, menunjuk tepat ke arah dada mereka secara bergantian.

"Bangun," perintah Arion, suaranya tidak menerima penolakan.

"Kekuatan yang meluap-luap hanya akan membunuhmu jika kau tidak punya teknik untuk mengaturnya. Serang aku lagi. Kali ini, buang ego kalian dan gunakan otak kalian jika ingin tetap hidup di Kerajaan Beast nanti."

Malam itu, latihan berlanjut dengan intensitas yang lebih mengerikan.

Arion terus mengincar kelemahan dasar mereka, memaksa para komandannya untuk merangkak kembali dari nol.

la sedang membentuk pasukan yang tidak hanya kuat, tapi juga presisi dan mematikan di bawah standar pribadinya yang mustahil.

Arion menyarungkan Sunder-Soul dengan suara denting logam yang tajam, menandakan sesi latihan tanding itu berakhir.

Vorgon dan Kaelith jatuh bertumpu pada lutut mereka, napas mereka terputus-putus, dan tubuh mereka bergetar hebat akibat kelelahan fisik serta tekanan mental yang baru saja mereka terima.

Arion berdiri tegak di tengah kegelapan ngarai, menatap sisa-sisa pasukannya yang mengamati dari kejauhan dengan tatapan dingin yang tak terbaca.

"Dengarkan aku baik-baik," suara Arion bergema pelan namun menusuk hingga ke tulang setiap ksatria yang ada di sana.

"Malam ini hanyalah pemanasan. Aku baru saja menyentuh debu di zirah kalian."

la melirik Liora dan Nyx yang masih berdiri di pinggir lapangan, lalu kembali menatap barisan Black Knight.

"Siapkan diri kalian. Beritahu semua pasukan yang ada di perkemahan ini,"

Arion memberikan jeda yang menyiksa.

"Malam besok, aku tidak akan lagi bertindak sebagai tuan kalian yang sedang melatih bawahannya. Malam besok... aku akan datang untuk menghancurkan kalian."

Suasana ngarai seketika membeku. Kata "menghancurkan" yang keluar dari mulut Arion bukanlah sebuah kiasan.

Itu adalah janji bahwa ia akan menyerang dengan niat membunuh yang murni, memaksa setiap orang di sana untuk melampaui batas kemanusiaan mereka atau mati di bawah pedangnya.

"Jika kalian ingin tetap bernapas saat kita menginjakkan kaki di Kerajaan Beast, pastikan kalian tidak membiarkan satu inci pun celah terbuka besok malam," pungkas Arion.

la berbalik, berjalan menuju tendanya tanpa menoleh lagi.

Dunia ini tidak butuh ksatria yang hanya tahu cara mematuhi perintah. Aku butuh monster yang tahu cara bertahan hidup di tengah keputusasaan. Dan jika aku harus menjadi iblis bagi mereka agar mereka bisa menjadi monster itu... maka biarlah begitu.

 Nyx dan Liora saling pandang. Ada kegembiraan yang gelap di mata Liora, sementara Nyx hanya mengangguk pelan, menyadari bahwa perjalanan ini akan mengubah Black Knight menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari sejarah mana pun.

Fajar mulai menyingsing di cakrawala, namun bagi pasukan Black Knight, cahaya matahari pagi itu terasa seperti hitung mundur menuju malam penghakiman yang akan segera tiba.

Bersambung...

1
Leon 107
ngak tau lagi apa yang mau dibaca...
Leon 107
pertama...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!