NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:931
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : Sampah Sekte

Matahari baru naik ketika Xu Tian sudah berada di halaman belakang sekte.

Di sana, tumpukan tong kayu dan karung pasir disusun memanjang. Tanahnya becek, bercampur lumpur dan sisa air cucian dari malam sebelumnya. Bau lembap dan anyir bercampur, menempel di udara pagi.

Xu Tian berdiri di samping satu tong kosong.

“Angkat.”

Perintah itu datang dari senior penjaga tugas. Ia berdiri di bawah naungan pohon, tangan terlipat di dada.

Xu Tian membungkuk. Ia memeluk tong kayu itu dengan kedua lengan. Permukaannya kasar, dinginnya langsung menempel di kulit.

Ia mengangkat.

Tong itu terangkat setengah, lalu jatuh kembali. Bunyi kayu menghantam tanah terdengar berat.

Beberapa murid yang lewat melambatkan langkah. Ada yang berhenti di tepi halaman.

“Masih nggak kuat juga,” kata seseorang.

Xu Tian mengatur ulang posisi kakinya. Ia mengangkat lagi. Kali ini tong itu naik sedikit lebih tinggi, cukup untuk diseret.

Ia berjalan menyeret tong itu menuju ujung halaman. Setiap langkah meninggalkan jejak di lumpur. Nafasnya cepat, bahunya naik turun.

Senior itu berjalan mendekat.

“Bukan diseret,” katanya. “Diangkat.”

Ia menendang sisi tong dengan ujung sepatu. “Kalau lantai rusak, kau yang tanggung.”

Xu Tian berhenti. Ia menatap tong itu sebentar, lalu mengangkatnya lagi. Otot lengannya menegang, jari-jarinya mencengkeram lebih kuat.

Tong itu terangkat.

Langkahnya goyah. Lututnya sedikit bergetar. Lumpur memercik ke jubahnya.

Beberapa murid tertawa kecil.

Xu Tian terus berjalan. Saat hampir sampai, kakinya tergelincir. Tong itu jatuh dari pelukannya, menghantam tanah dengan suara keras.

Air kotor di dalamnya memercik ke mana-mana.

Senior menghela napas. “Ulang.”

Xu Tian berjongkok. Ia memungut tong itu lagi. Tangannya kotor oleh lumpur dan air keruh.

Ia mengangkat untuk ketiga kalinya.

Kali ini ia sampai di ujung halaman. Tong itu diletakkan dengan bunyi berat. Ia berdiri terdiam sejenak, napasnya kasar.

“Berikutnya,” kata senior.

Ia menunjuk ke tumpukan karung pasir.

Xu Tian berjalan ke sana. Karung pertama ia angkat ke bahu. Beratnya langsung menarik tubuhnya condong.

Ia melangkah satu langkah. Bahunya turun sedikit. Karung itu hampir jatuh.

Ia menahan dengan tangan.

Beberapa murid berkumpul lebih dekat. Ada yang duduk di pagar batu, ada yang bersandar santai.

“Kalau jatuh lagi, angkat dua,” kata senior.

Xu Tian mengangguk tipis. Ia melanjutkan langkah.

Pasir di dalam karung bergeser. Bebannya tidak merata. Setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya.

Saat ia menurunkan karung itu di titik tujuan, bahunya langsung jatuh. Ia berdiri terhuyung, hampir kehilangan keseimbangan.

Ia tidak jatuh.

Senior tersenyum tipis. “Masih hidup rupanya.”

Beberapa murid tertawa.

Xu Tian mengambil karung berikutnya. Tangannya sudah gemetar ringan saat mengangkat. Ia memaksakan bahu menahan beban.

Matahari naik lebih tinggi. Panas mulai terasa, bercampur bau lumpur dan pasir.

Keringat mengalir dari pelipis Xu Tian. Jubahnya menempel di punggung. Langkahnya melambat, tapi tidak berhenti.

“Cepat,” kata senior.

Xu Tian mempercepat langkah. Karung di bahunya bergeser. Pasir di dalamnya berguncang.

Ia tersandung batu kecil.

Karung itu jatuh ke tanah. Pasir keluar dari celah jahitan, membentuk gundukan kecil.

Senior mendekat. Ia menendang pasir itu hingga menyebar.

“Berantakan,” katanya. “Bersihkan.”

Xu Tian berlutut. Ia meraup pasir dengan tangan kosong. Butirannya kasar, menggesek kulit.

Ia memasukkan pasir kembali ke karung sebisanya. Sisanya ia kumpulkan ke pinggir halaman.

Tangannya memerah. Lumpur dan pasir bercampur di telapak.

“Lihat tangannya,” kata seorang murid. “Cocok jadi tukang gali.”

Yang lain tertawa lebih keras.

Xu Tian berdiri lagi. Ia mengangkat karung yang sama. Kali ini lebih ringan, tapi bahunya terasa lebih sakit.

Ia mengantarnya ke titik tujuan tanpa jatuh.

Senior meliriknya sekilas. “Lanjut.”

Tugas berlanjut.

Tong demi tong. Karung demi karung.

Waktu bergerak lambat. Bayangan pohon bergeser di tanah. Murid-murid datang dan pergi, tapi Xu Tian tetap di tempat yang sama.

Beberapa murid yang sedang berlatih di sisi lain halaman berhenti sejenak untuk melihat. Gerakan mereka ringan, bersih, dan teratur.

Xu Tian lewat di dekat mereka sambil memanggul karung. Nafasnya terdengar jelas. Bahunya turun sebelah.

Seorang murid menutup hidung. “Bau.”

Xu Tian tidak menoleh.

Saat ia kembali ke tumpukan, senior berdiri tepat di depannya.

“Air di sana,” kata senior sambil menunjuk ke sudut halaman. “Ambil. Siram lantai depan aula.”

Xu Tian mengambil dua ember kayu. Ia mengisi keduanya dengan air dari bak besar. Airnya dingin, membuat jari-jarinya kaku.

Ia mengangkat ember itu bersamaan.

Langkah pertamanya sudah goyah. Air di dalam ember bergoyang, hampir tumpah.

Ia berjalan perlahan menuju aula. Setiap langkah membuat lengannya terasa lebih berat.

Di depan aula, lantai batu sudah kering. Murid-murid lain lalu lalang di sana.

Xu Tian menuangkan air. Air mengalir di lantai, menyebar cepat.

“Lebih rata,” kata senior.

Xu Tian menuang ember kedua. Air memercik ke kakinya sendiri.

Ia menggosok lantai dengan kain kasar. Batu di bawahnya dingin meski matahari sudah tinggi.

Beberapa murid berhenti tepat di depannya.

“Pelan amat,” kata salah satu dari mereka.

Xu Tian terus menggosok.

Kain itu tersangkut di celah batu. Ia menariknya. Gerakannya terlalu keras.

Tubuhnya condong ke depan. Lututnya menyentuh lantai dengan bunyi tumpul.

Tawa terdengar lagi.

Xu Tian bangkit perlahan. Ia mengangkat kain pel dan melanjutkan tanpa melihat ke sekitar.

Senior mengangguk puas. “Teruskan.”

Xu Tian menggosok sampai lantai basah merata. Tangannya mati rasa. Bahunya terasa berat.

Saat ia berdiri, pandangannya sedikit kabur. Ia mengedip sekali, lalu dua kali.

Ia tetap berdiri.

Air di ember habis. Kain pel jatuh ke lantai.

Senior melangkah pergi. “Jangan ke mana-mana.”

Xu Tian berdiri di depan aula, tubuhnya basah oleh air dan keringat. Murid-murid di sekitarnya kembali berlatih, tertawa, atau berbincang.

Tidak ada yang menatap lama.

Xu Tian tetap di tempatnya, menunggu perintah berikutnya.

...

Senior kembali saat matahari tepat di atas kepala.

Ia membawa tong kecil berisi air kotor. Bau asam langsung menyebar begitu tutupnya dibuka.

“Angkat,” katanya.

Xu Tian melangkah mendekat. Ia mengangkat tong itu dengan kedua tangan. Isinya tidak penuh, tapi beratnya tidak seimbang.

“Bawa ke tengah halaman,” kata senior.

Xu Tian berjalan. Setiap langkah membuat air di dalam tong berguncang. Bau menyengat naik ke wajahnya.

Murid-murid mulai berkumpul lagi.

Beberapa duduk di tangga aula. Yang lain berdiri melingkar, sengaja meninggalkan ruang di tengah halaman.

Xu Tian berhenti di titik yang ditunjuk.

“Tuang,” kata senior.

Xu Tian memiringkan tong. Air kotor mengalir keluar, membasahi tanah. Bau makin kuat.

Beberapa murid menutup hidung. Ada yang tertawa keras.

“Bersihkan,” kata senior. “Pakai tangan.”

Xu Tian berlutut. Tangannya menyentuh tanah basah. Lumpur bercampur air kotor menempel di kulit.

Ia meraup tanah itu, memindahkannya ke pinggir. Setiap gerakan lambat, jari-jarinya kaku.

“Pelan sekali,” kata seorang murid.

Yang lain menyahut, “Mungkin memang segitu kemampuannya.”

Xu Tian terus meraup.

Air kotor merembes ke lengan bajunya. Jubahnya berubah warna di bagian bawah. Bau menempel, tidak hilang.

Senior berjalan mengitari lingkaran murid. Langkahnya santai.

“Kalau bersihnya setengah-setengah,” katanya, “ulang dari awal.”

Xu Tian menekan tanah lebih keras. Kuku-kukunya menggores batu kecil di bawah lumpur.

Seseorang meludah ke tanah di dekatnya.

“Tambahan,” kata murid itu sambil tertawa.

Senior tidak menegur.

Xu Tian menggeser lumpur itu juga. Tangannya semakin kotor. Kulit di sela jari tampak pecah-pecah.

Saat ia mengangkat tangan, cairan cokelat menetes kembali ke tanah.

Tawa terdengar lagi.

“Lihat,” kata seseorang. “Benar-benar cocok.”

Xu Tian berdiri sebentar untuk memindahkan lumpur ke pinggir. Punggungnya lurus sebentar, lalu kembali membungkuk.

Senior berhenti tepat di depannya.

“Kau pikir ini adil?” tanyanya.

Xu Tian tidak menjawab. Ia terus bekerja.

Senior menendang tanah di depannya. Lumpur kembali menyebar.

“Ulang,” katanya.

Xu Tian berhenti sejenak. Tangannya menggantung di udara. Lalu ia berlutut lagi dan meraup dari awal.

Murid-murid bersorak kecil, seolah melihat hiburan baru.

Waktu berlalu. Bayangan mereka memendek, lalu memanjang lagi. Panas menekan dari atas.

Xu Tian bergerak lebih lambat. Setiap kali ia berdiri, tubuhnya sedikit goyah.

Senior memperhatikan.

“Angkat kepala,” katanya.

Xu Tian mengangkat kepala. Matanya setengah terbuka, pandangannya lurus.

Senior menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum tipis.

“Bagus,” katanya. “Masih bisa berdiri.”

Ia menoleh ke murid-murid lain. “Lihat baik-baik.”

Beberapa murid mendekat. Lingkaran mengecil.

Senior menunjuk tanah yang masih basah. “Belum kering. Lap.”

Seseorang melemparkan kain kasar ke tanah. Kain itu jatuh tepat di depan Xu Tian.

Xu Tian mengambil kain itu. Bau lama dan kotoran menempel.

Ia menggosok tanah. Gerakannya pendek. Setiap tarikan kain terasa berat.

“Lebih kuat,” kata senior.

Xu Tian menggosok lagi. Bahunya turun. Nafasnya terdengar jelas di tengah keramaian.

Seorang murid menirukan suara napas itu. Yang lain tertawa.

Xu Tian tidak berhenti.

Kain itu terseret, meninggalkan jejak basah. Saat ia mengangkatnya, tangannya bergetar.

Senior menginjak ujung kain itu dengan sepatu.

Xu Tian berhenti menarik.

Senior menatapnya. “Lepas.”

Xu Tian melepaskan kain. Senior menendangnya kembali ke lumpur.

“Ulang dari situ,” katanya.

Xu Tian mengambil kain itu lagi. Lumpur menempel lebih tebal.

Ia mulai menggosok dari awal.

Beberapa murid mulai bosan. Ada yang pergi. Ada yang tetap menonton sambil mengobrol.

Di kejauhan, latihan lain tetap berjalan. Suara langkah dan benturan terdengar teratur.

Kontrasnya jelas.

Xu Tian berdiri sendirian di tengah halaman, membungkuk, menggosok tanah yang sama.

Saat kain itu terlepas dari tangannya, ia berhenti.

Tangannya terbuka. Jari-jarinya kaku. Ia mencoba menggenggam, lalu melepaskan.

Senior memperhatikan. “Jatuh?”

Xu Tian menggeleng tipis. Ia mengambil kain itu lagi.

Saat ia berdiri, lututnya melemah. Tubuhnya condong ke depan.

Ia menahan dengan satu tangan di tanah. Telapak tangannya menyentuh batu keras.

Suara benturan terdengar tumpul.

Beberapa murid berseru pelan.

Xu Tian berdiri lagi. Gerakannya lambat. Debu dan lumpur menempel di lutut.

Senior mendekat. Ia berdiri sangat dekat.

“Kalau tidak sanggup,” katanya pelan, “bilang.”

Xu Tian menatap tanah di antara kaki mereka. Ia mengangkat kain lagi.

Senior mundur setengah langkah. “Teruskan.”

Xu Tian menggosok hingga tanah tampak lebih kering. Bau masih ada, tapi tidak sekuat tadi.

Ia berhenti.

Senior melihat sekeliling. “Cukup.”

Beberapa murid menghela napas, ada yang kecewa.

Senior menunjuk Xu Tian. “Berdiri di sana.”

Xu Tian berjalan ke titik yang ditunjuk. Ia berdiri di tengah halaman, tubuhnya kotor, jubahnya basah.

Murid-murid membentuk setengah lingkaran di depannya.

Senior berjalan ke depan mereka. “Ingat wajah ini.”

Ia menepuk bahu Xu Tian sekali. Tidak keras, tapi cukup membuat tubuhnya sedikit goyah.

“Ini hasilnya,” kata senior. “Kalau tidak punya apa-apa.”

Beberapa murid mengangguk. Ada yang tersenyum.

Seorang murid perempuan lewat di tepi kerumunan. Ia melirik sebentar, lalu melangkah pergi tanpa berhenti.

Senior mengikuti arah pandang murid itu.

“Lin Ruo’er,” katanya sambil tersenyum. “Dia tidak suka tempat kotor.”

Beberapa murid tertawa.

Senior menatap Xu Tian lagi. “Kau juga jangan mendekat.”

Xu Tian berdiri diam. Tangannya tergantung di sisi tubuh. Lumpur menetes perlahan dari ujung jubah.

Senior berbalik pergi. Murid-murid mulai bubar, sambil masih membicarakan sesuatu dengan suara rendah.

Xu Tian tetap berdiri.

Di halaman yang kembali longgar, bau kotoran masih tertinggal. Tanah di bawah kakinya lembap dan dingin.

Ia menunduk sedikit, lalu mengangkat kepala lagi.

Nama itu masih menggantung di udara.

1
Arceusssxara
ah mataku sakit maaf karena satu paragraf nya panjang amat kalimatnya. 😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!