NovelToon NovelToon
Kontrak Dua Minggu

Kontrak Dua Minggu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Wanita Karir
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.

Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Misi Infiltrasi Kunci Terlarang

Marisa merasakan perutnya bergejolak, bukan hanya karena lapar, tetapi karena ketakutan. Taksi telah berhenti di depan gerbang besi tempa yang menjulang tinggi, dikelilingi pagar batu alam yang kokoh. Di balik gerbang itu, terbentang halaman luas yang berakhir pada rumah bergaya Mediterania modern, terlihat tenang namun mencekam. Ini adalah kediaman Grup Angkasa Raya.

"Siap, Tunangan?" Dalend tersenyum licik.

"Siap, Pria Gelandangan," balas Marisa, memasang kacamata hitamnya, mengalihkan pandangan dari gemerlap rumah mewah itu.

Taksi bergerak perlahan menuju gerbang samping, tempat pos penjagaan kecil berdiri. Dalend membuka sedikit jendela.

"Pak Ujang!" Sapa Dalend dengan suara rendah.

Seorang pria paruh baya dengan seragam satpam yang rapi segera mendekat, matanya membesar melihat Dalend yang lusuh.

"Den Dalend? Astaga, kenapa penampilan Aden jadi begini?" Pak Ujang berbisik cemas, matanya melirik ke arah Marisa yang tegang disamping.

"Lagi ada drama sebentar, Pak. Tolong jangan bilang Mama. Saya ke sini cuma mau ambil kunci apartemen yang ada di meja konsol dekat pintu utama. Mama ada di dalam kan?" Dalend mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Nyonya besar lagi ada pertemuan arisan di ruang tengah, Den. Aman. Tapi Pak Bima ada di ruang kerja. Aden cepat saja. Saya bukakan gerbang belakang."

Dalend mengangguk lega. "Mantap, Pak Ujang. Nanti saya kasih bonus."

Gerbang samping terbuka, dan taksi meluncur masuk melalui jalan setapak yang ditutupi kerikil putih. Dalend menyuruh sopir taksi menunggu dibawah pohon besar yang tersembunyi.

"Dengar, Marisa. Kita masuk lewat pintu belakang. Langsung kedapur, dan tembus ke ruang tamu. Kuncinya pasti ada di meja konsol dekar pajangan guci cina. Cepat ambil dan kita kabur," bisik Dalend, suaranya kini penuh komando.

"Gimana kalau kita ketemu Pak Bima?" Tanya Marisa.

"Pak Bima itu kepala keamanan sekaligus asisten Papa. Dia protektif banget. Kalau ketemu dia, senyum. Bilang Lo teman kampus gue, baru datang, terus buru-buru izin pulang. Jangan gugup."

Marisa menarik napas. Dia sudah setuju untuk itu. Sekarang, dia harus berakting.

Mereka keluar dari taksi. Marisa, dengan gaun toscs-nya,  terlihat sedikit lebih tenang, meskipun tangannya berkeringat dingin.

Menyelinap melalui pintu belakang yang terhubung langsung ke dapur besar. Dapur itu kosong, hanya qda aroma masakan mewah ysng menguar.

Tiba-tiba, suara tawa dan obrolan wanita terdengar samar dari kejauhan. Arisan Nyonya besar sedang berlangsung.

"Ayo!" Dalend memberi isyarat.

Mereka berjalan cepat melewari dapur yang mengkilap, koridor sempit, hingga tiba di ruang tamu utama yanh megah. Ruangan itu di dominasi warna krem dan emas, dipenuhi perabotan antik dan pajangan mahal.

Mata Marisa segera tertuju pada meja konsol kayu jati di samping pintu masuk. Ada sebuah kunci perak dengan gantungan kunci berlogo 'A' (Angkasa). Itu pasti kunci apartemen Dalend.

"Gue ambil," bisik Marisa.

Saat Marisa melangkah maju, tiba-tiba sebuah suara berat menginterupsi.

"Dalend Angkasarapu. Apa-apaan penampilanmu itu?" Seorang pria berusia sekitar lima puluhan, dengan setelan jas mahal dan kacamata berbingkai tipis, berdiri di ambang pintu ruang kerja. Dia adalah Bima, asisten sekaligus pengawasan Dalend. Wajahnya dingin dan tatapannya tajam.

Dalend segera memasang wajah sok akrab. "Paman Bima! Long time no see! Saya baru saja pulang dari kegiatan alam bebas sebentar, makanya kotor begini. Cuma sebentar kok disini, mau ambil kunci apartemen."

Mata Bima beralih menatap Marisa, mengamati setiap detail dari ujung rambut hingga sepatu Marisa yang tertutup. Marisa merasakan tatapan itu seperti sinar-X. Ini saatnya. Mainkan peranmu.

Marisa memaksakan senyum yang paling manis dan percaya diri yang ia punya. Ia melangkah maju, berdiri tepat di samping Dalend.

"Selamat pagi, Bapak. Saya Marisa. Teman kuliah Dalend," kata Marisa, suaranya sedikit bergetar, tapi ia berhasil menyembunyikannya.

Bima menyipitkan mata. "Teman kuliah?" Nada suaranya penuh keraguan. "Saya belum pernah melihat Nona."

"Tentu saja, Pak. Dalend punya banyak teman di luar lingkaran pergaulan Bapak. Kami dari fakultas yang berbeda, dan kami baru dekar belakangan ini, " jelas Marisa, berusaha terdengar natural.

Bima tampak tidak yakin, namun Dalend segera menimpali. "Dia bukan cuma teman, Paman. Marisa adalah tunangan saya. "

Kata-kata itu, diucapkan begitu saja di ruangan sunyi dan mewah itu, terasa seperti guntur. Wajah Bima yang tadinya dingin, kini menunjukan ekspresi terkejut yang samar. Marisa pun juga sama tercekatnya. Kaget karena tiba-tiba bilang.

Marisa harus berakting. Dengan refleks yang mengejutkan, Marisa menyentuh lengan Dalend dan tersenyum lembut, seolah Dalend baru saja mengucapkan hal yang romantis.

"Dalend, jangan begitu. Aku kan sudah bilang, biarkan suprise ini kuberitahukan pada ibumu nanti, " Marisa berbisik manja kepada Dalend, tetapi cukup keras agar Bima mendengarnya.

Dalend tampak takjub dengan akting Marisa. Dia membalas genggaman tangan Marisa di lengannya. "Maaf, Paman. Saya dan Marisa sudah bertunangan diam-diam sejak dua bulan lalu. Kami akan umumkan secara resmi segera. Jadi, urusan perjodohan dengan anak klien Papa di London... itu sudah tidak relevan lagi," kata Dalend dengan nada tegas, tatapannya menantang Bima.

Bima terdiam sejenak. Ia tampaknya sedang menganalisis situasi ini dengan cepat. Jika Dalend benar-benar bertunangan, rencana perjodohan yang sudah disusun matang oleh Tuan Angkasa bisa berantakan.

"Nyonya Angkasa akan terkejut. Tentu saja, Tuan dan Nyonya akan perlu memverifikasi ini, Dalend," kata Bima, suaranya masih skeptis.

"Tentu, Paman. Kami akan datang dengan baik-baik untuk memperkenalkan diri setelah kami pindah ke apartemen yang baru. Kami akan segera menikah, jadi kami harus mandiri dulu, " jawab Dalend dengan percaya diri. Ia lalu menyenggol Marisa. "Sayang, ambilkan kuncinya sebentar. Aku ingin segera menata bahan makanan yang kita bawa ke apartemen."

Marisa mengangguk seolah itu adalah permintaan wajar.  Ia berjalan anggun ke meja konsol, mengambil kunci berlogo 'A' itu, dan menyimpannya di saku dress-nya. Misi berhasil.

"Kami permisi dulu, Paman Bima. Marisa baru saja sampai dari luar kota dan dia sudah lelah. Kami harus segera pindah, " Dalend menarik Marisa, dan tanpa menunggu jawaban Bima, mereka bergegas kembali ke dapur.

"Tunggu!"

Langkah mereka terhenti. Mereka menoleh. Bima berdiri di ambang pintu.

"Saya harus melaporkan ini pada Tuan dan Nyonya Angkasa. Ini urusan yang sangat penting. Tapi satu hal, Nona Marisa," Bima menatap Marisa tajam. "Tuan dan Nyonya Angkasa tidak pernah nenerima pacar Dalend yang tidak serius. Jika kamu memang tunangannya,  buktikan pada mereka di acara malam ini."

Marisa dan Dalend saling bertukar pandang kaget.

"Acara apa?" Tanya Dalend.

"Malam ini ada acara makan malam keluarga dengan Tuan Tirtayasa dan putrinya, di Restoran Le Mirage. Tujuannya adalah untuk memfinalisasi perjodohanmu dengan putri Tirtayasa. Jika kamu benar-benar sudah bertunangan, tunjukan dirimu disana malam ini. Dan kamu, Dalend, Jika kamu tidak datang, semua kartu dan asetmu akan diblokir selamanya, dan kamu harus ke London besok pagi. "

Bima memberi senyum tipis, kemenangan. "Saya tunggu kalian berdua. Pukul delapan malam." Bima berbalik dan menghilang ke ruang kerjanya.

Marisa menatap Dalend dengan mata melotot. "Gila! Kenapa Lo enggak bilang ada acara malam ini?"

"Gue enggak tahu! Nyokap gue mungkin sengaja enggak bilang! Dia pasti mau bikin kejutan!" Dalend meremas rambutnya yang berantakan. "Sial! Rencana dua minggu kita jadi cuma satu hari! Kita harus muncul malam ini!"

“Makan malam? Restoran Le Mirage? Lo tahu pakaian gue cuma ini? Gaun pengantin gue sudah jadi lap!” Marisa menunjuk dress tosca-nya yang sederhana. “Kita bahkan belum mandi, dan uang gue habis buat belanjaan mewah Lo!”

“Tenang, tunanganku!” Dalend menarik Marisa keluar dari pintu belakang, kembali ke taksi yang menunggu. “Kita sudah dapat kuncinya, itu yang penting. Sekarang, kita ke apartemen.”

Di dalam taksi, Dalend segera mengambil kunci itu dan menatapnya penuh arti.

“Kita punya waktu sembilan jam, Marisa. Kita harus berubah dari gelandangan menjadi pasangan elit yang meyakinkan,” kata Dalend. “Kita harus tunjukkan pada Paman Bima, dan terutama orang tua gue, bahwa Lo bukan cewek murahan yang cuma mau uang, tapi cewek yang pantas mendampingi pewaris Angkasa Raya.”

“Kenapa Lo semangat banget? Lo mau balas dendam sama keluarga Lo?” tanya Marisa.

“Gue cuma nggak mau dijodohin sama cewek kaku yang belum pernah gue lihat. Itu saja. Dan Lo, Lo mau lima puluh juta buat ibu Lo, kan? Kita harus berhasil.” Dalend menatap Marisa. “Kita harus berhasil malam ini.”

Taksi berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit kaca dan baja yang sangat modern. Pintu apartemen Dalend, di lantai 45, terasa dingin dan sunyi.

Begitu pintu terbuka, Marisa tercengang. Apartemen itu luas, dengan jendela setinggi langit-langit yang menawarkan pemandangan kota yang menakjubkan. Interiornya didominasi warna monokrom dan minimalis tampak seperti sampul majalah arsitektur.

Dalend meletakkan kunci dan tas belanjaan di meja marmer.

"Selamat datang di rumah kita, Tunangan, " Dalend berkata, lalu melirik arlojinya. "Sekarang jam 10.30 pagi. Kita punya waktu tujuh jam sebelum harus bersiap. Pertama, mandi. Kedua, kita harus cari uang tunai."

"Uang tunai? Kartu Lo di blokir, kan?"

"Iya, tapi gue punya aset yang nggak bisa mereka blokir," Dalend tersenyum misterius.  Ia mengeluarkan sebuah dompet kecil lagi dari saku celana dalamnya. "Ini bukan kartu ATM, tapi kunci brankas."

Marisa menatapnya tidak percaya. "Brankas? Lo nyimpan uang di brankas?"

"Uang yang gue tabung dari komisi bisnis kecil-kecilan. Uang yang nggak terdeteksi sama Papa. Lokasinya di bank di pinggiran kota. Lo harus pergi ke sana, ambil uangnya, dan bawa ke sini. Lo adalah satu-satunya yang gue percaya saat ini. "

"Gue? Pergi ke bank?" Marisa mulai merasa lelah dengan tingkat kerumitan hidup Dalend.

"Ya. Gue nggak bisa keluar lagi, Paman Bima pasti sudah suruh orang untuk mata-matain gue. Kalau gue ketahuan, tamat. Lo harus pergi, ambil lima puluh juta-plus fee Lo-dan sisanya buat modal kita malam ini."

Dalend menatapnya serius. "Lo harus percaya gue. Lo harus lari dari kota ini, dan gue harus lari dari perjodohan ini. Kita ada di perahu yang sama. "

Dalend menyerahkan sebuah kertas kecil dengan kode dan alamat bank yang tertera.

"Sekarang, Lo mandi dulu. Setelah Lo selesai, langsung pergi ke bank. Jangan pakai dress tosca itu. Cari Jaket dan celana gue yang ada di lemari. Pakai saja, biar Lo ngga dicurigai Bima kalau dia pasang mata-mata di jalan."

Marisa memandang Dalend, lalu kertas di tangannya. Dia baru saja mempertaruhkan semua uang terakhirnya, dan kini dia diperintahkan untuk mengambil sejumlah uang yang fantasi dari brankas bank seorang anak konglomerat.

Ia sudah terlalu jauh untuk mundur, pikir Marisa. Kepalanya mengangguk. "Oke. Gue akan ke bank. Tapi kalau Lo bohong, gue akan melaporkan Lo ke polisi."

"Deal. Sekarang, go clean yourself, Tunangan!" Dalend tertawa.

Marisa berdecak kesal, tetapi ia merasakan energi baru. Energi yang muncul dari bahaya, dari kebutuhan, dan dari kesempatan untuk balas dendam pada takdir buruknya.

Ia menuju kamar mandi mewah, sementara Dalend sibuk mencari gunting untuk memotong rambutnya yang terlihat kusut 

...

Setelah mandi, Marisa keluar dengan mengenakan celana training hitam dan hoodie abu-abu kebesaran milik Dalend. Pakaiannya itu harum, bersih, dan menenangkan. Ia merasa sedikit lebih manusia.

Dalend sudah terlihat lebih rapi. Rambutnya dipotong asal-asalan, tapi itu membuat wajah babyface-nya semakin menonjol. Ia sedang sibuk dengan tas belanjaan di dapur.

"Ini kodenya, Marisa. Cuma butub waktu setengah jam ke bank itu. Setelah Lo ambil uangnya, langsung ke Mall Plaza Bintang. Beli dress paling mahal yang Lo bisa temukan. Make-up dan high heels juga. Gue mau Lo terlihat lebih baik daripada cewe pilihan nyokap gue,"

"Gue nggak mau belanja di Mall," Marisa keberatan. "Gue nggak nyaman ditempat ramai."

"Lo harus, Sayang. Malam ini adalah panggung kita. Lo harus maksimal. Semua biaya masuk dalam kontrak. Ingat, lima puluh juta."

Marisa menghela napas. "Oke. Tapi gue nggak janji bisa seanggun cewe pilihan nyokap Lo."

"You already are, Marisa. You just don't know it yet," Dalend tersenyum tulus.

Marisa mengangguk, mengambil kunci brankas dan kode bank. Pakaian Dalend yang ia kenakan membuatnya merasa seperti penjahat amatir, siap melakukan pencurian. Namun, yang ia bawa pulang nanti adalah harapan untuk ibunya.

Ia segera meninggalkan apartemen mewah itu, siap menghadapi ibukota sekali lagi, kali ini bukan sebagai korban cinta, melainkan sebagai tunangan palsu dari pewaris kaya yang memberontak.

...

1
Sherlys01
Semangat yaa😁💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!