Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.
Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Lance mengamati sebuah bangunan bulat di tengah-tengah hutan. Pikirannya seketika terbang ke masa lalu. "Aku tidak menduga aku akan kembali ke tempat ini. Seperti perkataan orang-orang, sejauh apa pun kau pergi kau akan tetap pulang ke rumah."
George menoleh pada mobil dan banyak barang yang dibawa oleh para robot. "Rumah ini cukup bagus. Apa alasanmu sampai memilih tempat ini?"
Gray, Gavin, Baba, Bennet, dan Bruce mendekat.
"Rumah ini adalah tempat tinggalku dan ibuku dahulu. Ayahku menempatkan kami berdua dan hanya sesekali mengunjungi kami mengingat dia adalah sosok yang dicari oleh UltraTech. Meski begitu, dia memberikan semua hal terbaik bagi kami," jawab Lance.
Lance mengembus napas panjang. "Kita harus bergegas sekarang. Aku akan menunjukkan kalian ruangan bawah tanah."
Lance mendekati pintu. Ia meletakkan tangan kanannya di sebuah alat pemindai. Sistem segera memproses dan pintu mendadak terbuka. Lampu-lampu di dalam bangunan dan sekeliling rumah seketika menyala, begitu pun dengan sebuah kubah pelindung.
Lance memasuki bangunan lebih dahulu, mengamati keadaan sekeliling. Ia seketika terbayang masa-masa kecilnya dahulu bersama mendiang ibunya. Tak lama setelahnya, George, Gray, Gavin, Baba, Bennet, dan Bruce menyusul. Tidak ada obrolan selama beberapa waktu. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing, merasa sangat lelah.
Lance mendekatkan wajahnya ke sebuah alat pemindai. Sistem mendeteksi kehadirannya dan membuka pintu. Sebuah tangga menurun seketika terlihat. lampu-lampu menyala dengan otomatis.
Tangga seketika menurun secara otomatis. Lance dan yang lain masih menutup mulut. Di waktu yang sama, para robot seketika bergerak sesuai perintah. Mereka menyusun barang-barang sekaligus mengatur ruangan demi ruangan.
Hujan mengguyur deras di sebagian besar pulau, kecuali bangunan dan sekitarnya yang terlindung oleh kubah. Dari kejauhan, kubah itu menghalangi setiap pandangan. Bangunan tertutup oleh pepohonan yang menjulang tinggi.
Sebuah pintu besar seketika terbuka. Lance dan yang lain memasuki sebuah ruangan luas dengan deretan layar, meja, kursi, serta perabotan lain. Beberapa robot seketika memasuki ruangan, menghubungkan diri dengan sistem di ruangan.
"Kita memiliki waktu satu jam untuk beristirahat sebelum kita memulai pekerjaan kita." Lance menoleh pada Gray, Gavin, Baba, Bennet, dan Bruce. "Terkhusus kalian berlima, kalian masih harus berlatih kemampuan kalian."
"Aku memang kelelahan setelah perjalanan panjang." Bennet mengembus napas panjang, mengamati beberapa pintu. “Aku sebaiknya segera membereskan barang-barangku dan beristirahat.”
Bennet memasuki sebuah pintu. Ruangan seketika terang benderang. "Kamar ini cuku bagus. Dengan sedikit sentuhan, kamar ini akan menjadi kamar luar biasa."
Bennet mengaktifkan robot kucing miliknya. Robot itu seketika membuka dan mengatur barang-barangnya. Sepuluh menit kemudian, Bennet sudah tertidur pulas di ranjang.
Gray, Gavin, Baba, dan Bruce mulai beristirahat.
George bersantai di dekat jendela, mengamati keadaan luar. Beberapa robot penjaga berjaga di beberapa lokasi. "Tempat ini sangat cocok untuk bersantai. Sayangnya, aku datang bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk melakukan banyak tugas."
George meneguk kopinya, mengembus napas panjang. Pikirannya seketika tertuju pada Graham. "Aku tahu ketua sangat hebat, tetapi dia tetaplah manusia yang memiliki hari sial."
George mengepalkan tangan erat-erat, menoleh pada Lance yang tengah fokus mengetik dan mengawasi layar. Tabung-tabung kaca seketika bermunculan di sebuah lemari kaca. Progres menunjukkan tujuh puluh persen.
"Aku tahu kita berada dalam masa genting, tetapi kau tidak boleh memaksakan diri, Lance. Kau adalah orang terpenting dalam situasi ini. Jika kau kelelahan apalagi sampai kau sakit dan tidak sadarkan diri, kita akan berada dalam bahaya."
Lance merenggangkan badan beberapa kali, tertawa tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Kau benar, George. Aku akan berlibur setelah menyelesaikan persiapan ini. Jika kau mengantuk, kau bisa beristirahat lebih dahulu."
"Itu sebuah penawaran yang bagus. Aku nyaris tidak beristirahat sejak kemarin." George menguap beberapa kali, memasuki sebuah kamar.
Lance berbaring di kursi, memejamkan mata. Ia berusaha bersikap setenang mungkin, tetapi di saat yang sama dirinya sangat mengkhawatirkan banyak hal, terutama keselamatan Lance karena pria itulah yang hanya dirinya miliki sekarang.
"Ayah." Lance menoleh pada liontin di balik bajunya. Ia membuka kotak liontin, mengamati dirinya sedang bersama ayah dan mendiang ibunya. "Aku sudah lama tidak mengunjungi pusara ibu. Aku sebaiknya pergi sekarang."
Lance mengamati layar dan para robot, memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya sebelum ia pergi. Ia menaiki sebuah papan luncur otomatis. Dua robot kapsul seketika mengikutinya dari samping.
Kilatan petir terlihat saat Lance keluar dari ruangan. Seluncur bergerak ke belakang bangunan. Lance termenung selama beberapa waktu, terjebak di antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Pikirannya terasa sangat rumit saat ini.
Lance berhenti di dekat sebuah batu penanda. Ia tersenyum, turun dari seluncur. Pria itu mengambil sebuah bunga, meletakkan di atas tanah.
"Ibu, aku sungguh minta maaf karena aku baru menemuimu sekarang. Aku terlalu sibuk dengan keadaan. Meski begitu, aku tidak pernah melupakanmu." Lance tersenyum, mengelus nisan. "Ibu, ayah sedang berada dalam bahaya sekarang. Aku tahu dia sangat hebat, tetapi entah mengapa aku merasa sangat takut. Tolonglah dia, Bu."
Lance memejamkan mata, tenggelam dalam kenangan masa silam. Ia tumbuh dan besar di tempat ini bersama sang ibunda di pulau ini bersama para robot. Ia sering berhubungan dengan Luc melalui telepon. Jika bertemu langsung pun, mereka hanya menghabiskan waktu beberapa hari saja.
Lance berada di pusara selam setengah jam. Tidak banyak hal yang dirinya lakukan di sana. "Aku harus kembali, Bu."
Lance menaiki papan seluncur, meninggalkan pusara. Angin menggoyangkan bunga ke kiri dan kanan. Suasana begitu sangat hening dan tenang. George, Gray, dan yang lain tertidur saking lelahnya menyiapkan semua hal.
Lance kembali ke ruangan, mengamati foto keluarganya. Sebuah robot bergerak ke arahnya, meletakkan sebuah kotak.
Lance membuka kotak, mengambil sebuah buku tua dengan lembaran kertas yang sudah menguning dan berdebu. "Ibu mengatakan jika buku-buku ini adalah peninggalan leluhurnya. Sampai saat ini, aku masih belum sepenuhnya percaya jika ibu adalah keturunan dari suku pedalaman."
Lance membuka lembaran kertas. "Tulisan di buku ini sama persis dengan tulisan yang digunakan oleh keluarga Baba. Tulisan ini mengandung beberapa mantra sihir yang dipercaya oleh suku asal ibu."
Lance menoleh pada lemari kaca berisi serum-serum, berkutat dengan beberapa kesibukan di tengah hujan yang terus mengguyur.
Di waktu yang sama, Simon mulai membuka mata, meringis kesakitan. Ia terkejut saat mengingat kejadian yang menimpanya, Taro, dan anggota kelompoknya beberapa waktu lalu.
"Aku masih hidup?" Simon memeriksa keadaannya, memaksakan diri bergerak ke arah Taro yang masih tidak sadarkan diri. "Luka-lukanya sudah terobati. Siapa yang sudah melakukannya? Apa mungkin ...."
Simon sontak mundur saat melihat seseorang berdiri di depannya. Ia segera menarik pistol, terkejut saat menyadari sosok di depannya. "Kau?"
"Kau dan temanmu berhutang budi padaku," ujar Lorcan.
Di waktu yang sama, Osvaldo Tolliver tiba di sebuah bangunan. Anggota Galata memasukkannya ke sebuah ruangan dengan penjagaan ketat.
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍