Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.
"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"
"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."
"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."
Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?
note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan Mantan Pembunuh—Permainan Pembunuh yang Sesungguhnya.
Santaroni masih terlihat ragu. Sammy menatap ke arah Santaroni dengan ekspresi yang tajam, menunggu Santaroni untuk memberitahu kebenaran.
"Aku berjanji akan membantumu, tapi ijinkan aku mengunjungi seseorang, berikan aku sedikit privasi untuk satu hal ini. Aku mohon," pinta Santaroni terdengar tulus.
Sammy sedikit mengernyit. ‘Kurasa dia tidak sedang berusaha berbohong. Tapi entah kenapa rasanya dia seolah sedang berusaha melindingi seseorang.' pikir Sammy kemudian mengangguk setuju. "Baiklah, aku yang akan mengawasi mu secara langsung.
Kesepakatan pun tercapai. Disaat yang sama, ponselnya berdering.
"Ya, Dokter?" sapa Sammy menerima panggilan dari Dr.Sophia.
"Kau dimana? Bisakah ke tempatku sekarang juga?" pinta dari seberang panggilan.
"Baiklah!" jawab singkat Sammy bergegas menutup ponselnya.
Sammy meraih jaketnya yang tadi ia letakkan di ujung brangkar, kemudian mengenakannya seraya menatap tajam ke arah Santaroni. "Sebaiknya kau istirahat, setidaknya malam ini. Aku akan kembali besok pagi!" ujarnya tegas.
Santaroni mengangguk patuh. "Terimakasih karena masih membiarkanku hidup." jawaban sedikit aneh terdengar dari mulut Santaroni.
"Hm, aku tahu kamu bisa dipercaya." sahut Sammy bernada mengambang kemudian meninggalkan Santaroni, setelah sebelumnya memerintahkan dua petugas untuk berjaga. Satu di luar ruangan dan satu lagi di dalam ruangan itu.
Sammy meninggalkan ruangan, meninggalkan Santaroni yang masih terbaring di tempat tidur. Santaroni menatap ke arah pintu yang tertutup, kemudian mengambil napas dalam-dalam.
"Terimakasih, karena kau pun masih hidup. Hanya kau yang bisa kupercaya,” monolog Santaroni.
…….
Sammy berjalan keluar dari rumah sakit, menuju ke tepi jalan untuk mencari taksi.
Tak lama kemudian Sammy pun tiba di ruang otopsi, Dr. Sophia tampak sudah menunggunya.
"Apa yang kamu temukan, Dokter?" tanya Sammy tergesa.
Dr. Sophia mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab. Tatapan jengah, lelah kesal bercampur amarah namun juga teduh karena rasa empati pada korban yang baru saja selesai ia otopsi.
“Jejak yang sama persis dengan korban yang sebelumnya,” lirih Dokter Sophia. “Kau harus segera menemukan pelakunya. Entah pikiranku ini salah atau tidak, tapi kurasa dia akan terus melakukan pembunuhan.”
“Apa maksudmu, Dok?
“Goresan di punggung hari ini ada dua, dan sayatan yang hilang di tungkai pun ada dua. Aku rasa itu pesan bahwa ini adalah korban kedua.” Dokter Sophia kembali menghela napas lebih dalam ada amarah tersirat jelas di Setipa ucapannya.
“Aku mengerti, di TKP pun ada pesan yang sama.”
“Hm, sialnya, tak ada jejak pelaku tertinggal sedikitpun!” kesal Dokter Sophia.
“Apa?” tuntut Sammy menuntut penjelasan lebih detail.
“Baik itu di tubuh korban, di pakaiannya, bahkan di jejak lukanya, sama sekali tak ditemukan sosok jadi ataupun DNA tertinggal.”
Lemas, itulah perasaan Sammy saat itu. ‘Lalu… bagaimana caraku menemukan petunjuk tentang pelaku?’ pikirnya.
“Kau hanya bisa berharap akan menemukan jejak di TKP!” tegas Dokter Sophia.
Sammy mengangguk lemas. Lelah yang sejak pagi tak dirasakannya, entah kenapa kali ini menyeruak, seolah seluruh tulangnya tiba-tiba terasa linu dan pegal.
Sammy berjalan lunglai meninggalkan rumah sakit forensik, kemudian merogoh ponsel dari sakunya.
“Kau sudah menginterogasi warga itu?” tanyanya lemah dalam panggilan telepon.
Jack yang diseberang menjawab dengan lantang penuh semangat. “Ehei, apa aku pernah lalai dalam tugas, Senior?” balasnya.
“Ah, benar juga. Kau memang bisa diandalkan.”
“Ada apa ini, kau dimana… kenapa kau terdengar lemas sekali, seperti seseorang yang sedang patah hati?”
“Pulanglah, ini sudah terlalu larut, kita kembali bekerja besok pagi,” ucap lemah Sammy kemudian berniat menutup teleponnya.
“Tidak bisa! Ada hal penting yang harus aku laporkan secara langsung, sekarang!” cegah Jack.
“Hm?” balas Sammy tak bersemangat.
“Ini tentang warga itu, mereka melihat….”
Seketika Sammy terbelalak, menyadari sesuatu. “Baiklah tunggu aku di markas!” serunya memotong ucapan Jack, seolah menemukan satu titik terang dari benang kusut yang mengganggunya seharian ini.
“Pak, putar balik ke kantor polisi, ya!” pinta Sammy kemudian pada sang sopir taksi.
.............
Di kediamannya yang mewah, Pria keji itu duduk di sofa, menikmati kopi dan camilan ringan sambil menatap keluar jendela besar yang menampilkan pemandangan pantai dan laut malam yang indah. Dia tampak santai, seolah tidak ada yang salah.
Khalila dan beberapa gadis lain yang masih terikat dalam bilik masing-masing menatap pria itu penuh dengan ketakutan dan harapan untuk diselamatkan. Perut Khalila bergolak karena lapar dan haus, tapi dia mencoba untuk tidak memperlihatkan kelemahan.
Pria itu mengambil napas dalam-dalam, kemudian berbicara dengan suara dingin. "Kalian lapar? Tidak! Kalian adalah makanan, kenapa harus merasa lapar?" katanya, tanpa menoleh ke arah gadis-gadis itu.
Salah satu gadis di bilik keempat, yang tampak lemah dan pucat, mencoba untuk berbicara.
"T...tolong... lepaskan aku..." pintanya, suaranya lirih.
Pria itu berbalik, mata hitamnya menatap ke arah gadis itu dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Dia berdiri kasar, kemudian mengambil pisau yang tergeletak di meja besar di tengah ruangan itu. Dengan gerakan yang cepat, dia menancapkan pisau itu di ujung meja, membuat gadis-gadis itu terkejut dan menutup mata mereka.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku akan memberimu makan... segera," katanya, suaranya penuh dengan ejekan.
Khalila menatap ke arah pria itu dengan mata yang penuh dengan kebencian, dia tahu bahwa dia harus mencari cara untuk melarikan diri dari sini sebelum terlambat.
Pria itu menatap ke arah bilik keempat, dengan mata yang penuh dengan kebencian, kemudian tersenyum bengis.
"Jadi kau menawarkan diri untuk menjadi yang ketiga. Baiklah akan aku wujudkan!" seru ya kemudian melangkah mendekati wanita dalam bilik keempat itu.
"Polisi keras kepala itu... dan pembunuh berwajah Santa itu... mereka akan tahu siapa tokoh utama yang sebenarnya!" ujarnya lagi diakhiri dengan tawa keras, penuh rasa kebencian.
Suara tawanya mengguncang ruangan, membuat gadis-gadis lain menutup mata mereka, tidak sanggup membayangkan apa yang akan dikerjakan pria itu.
Pria itu berhenti tertawa, kemudian menatap ke arah gadis-gadis dengan mata yang dingin. Ia menyingkap tirai panjang yang tepat berada di sisi ruangan itu. Di balik tirai, tampak anjing-anjing berbulu hitam yang besar dan ganas, menjulurkan lidahnya dan menunjukkan liur yang menetes. Sorot mata tajam anjing-anjing itu membuat para gadis menjerit ketakutan.
"Diam! Jangan berisik! Kalian mengacaukan ketenangan malam ini!" bentak pria itu, suaranya keras dan menakutkan.
Gadis-gadis itu langsung diam, mata mereka terfokus pada anjing-anjing yang ganas itu. Khalila menelan ludah, dia tahu bahwa dia harus sangat berhati-hati jika ingin keluar dari sini hidup-hidup.
...****************...
Bersambung....