NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Pilihan Alana

Alana turun perlahan dari motor Rayyan. Kedua kakinya sempat goyah saat menyentuh paving halaman. Tatapannya tertuju ke rumah mewah tiga lantai yang ada tepat di depannya. 

Alana menatapnya lama, menarik napas perlahan namun dalam, seperti memastikan dirinya mampu untuk berdiri.

Alana akhirnya mengambil langkah pertama menuju pintu. Langkahnya terlihat mantap. Tidak setegar biasanya, tapi lebih baik daripada kemarin.

Rayyan mengikutinya dari belakang, menjaga jarak satu langkah.

Begitu masuk, Alana menemukan Dharma di ruang keluarga. 

Dharma menoleh. Matanya menangkap sosok Alana. Wajahnya berubah dingin seketika.

“Kamu sudah gugurkan anak itu?” 

Alana tidak langsung menjawab. Satu tangannya menyentuh perut. 

Rayyan melangkah masuk mengikuti Alana. Begitu sosoknya terlihat di balik bahu Alana, Dharma terdiam. Rahangnya mengeras. Tatapannya berubah tajam begitu menatap Rayyan.

“Pa, Lana minta maaf. Lana mau pertahanin kandungan Lana,” ucap Alana tenang.

Wajah Alana terlihat tenang, walaupun ada sedikit ketakutan di wajahnya. Bibirnya sedikit bergetar, tapi matanya tidak. 

Dharma memicingkan mata, wajahnya menegang. “Apa yang kamu pikirkan, Lana?” tanyanya, separuh terheran, separuh marah. 

“Anak itu anak haram. Masa depan kamu rusak karena anak itu.”

Alana mengangguk pelan. Sorot matanya tidak berubah. “Lana tahu, Pa. Lana tahu keputusan Lana akan buat Papa lebih marah dan kecewa sama Lan.  Lana juga marah sama diri Lana sendiri karena buat keputusan ini.” 

Rahang Alana mengeras. “Tapi keputusan Lana sudah bulat. Lana siap buat bayar keputusan yang Lana ambil.”

Dharma mendengus. Dia maju dua langkah, sorot matanya pada Alana berubah tajam.

“Jangan berpikiran bodoh, Alana. Hidup kamu akan hancur dengan tetap disini dan pertahankan anak haram itu. Kamu lebih baik ikut Papa pergi dan lanjutkan hidup kamu di tempat yang baru.”

Alana menggeleng pelan. Rambutnya yang panjang ikut bergerak, tapi wajahnya tetap mengarah ke Dharma, stabil. 

“Lana mau jadi seperti Mama, Pa.”

Begitu nama itu disebut, bahu Dharma terangkat sedikit. Refleks yang menunjukkan dia tersentak.

“Mama yang kuat pertahanin dan lahirkan Lana meskipun harus bayar mahal dengan nyawanya. Lana mau jadi kuat seperti mama.”

“Itu berbeda, Lana!” Dharma berteriak.  Dadanya naik turun dengan cepat.

“Mama kamu… kamu anak yang kami harapkan, kamu anak yang papa nantikan selama bertahun-tahun.”

Alana tetap tidak goyah. “Anak Lana juga berhak hidup, Pa. Lana nggak mau jadi seorang pembunuh. Lana nggak mau lari dari masalah lagi. Lana mau disini, hadapi masalah Lana.”

Keheningan turun sejenak.

Lalu Dharma mengangkat tangan dan menuding Rayyan dengan kasar.

“Kamu mau tetap disini sama laki-laki itu? Kamu mau sama bocah ingusan yang bahkan tidak bisa bertanggung jawab sama dirinya sendiri?” 

Rayyan menunduk sedikit. Untuk pertama kalinya, dia merasa begitu kecil di depan orang lain. 

Dharma menghela napas panjang, frustrasi, lalu kembali menatap Alana. “Papa udah tahu tentang dia. Dan dia tidak pantas untuk kamu, Alana.”

Alana masih menatap Dharma dengan tenang, walau beberapa kali rahangnya terlihat menegang. “Iya, Pa. Lana tahu.”

Dharma mengangkat suaranya lagi, nyaris putus asa. “Kamu masih mau sama dia?! Kamu mau menghancurkan hidup kamu lebih jauh lagi?!” 

Dharma menghela napas kasar. “Alana, pikirkan baik-baik! Gunakan akal sehat kamu! Keputusan kamu sama sekali tidak rasional! Sama sekali tidak menguntungkan kamu!”

Alana hanya mengangguk. “Alana tahu, Pa.”

Dharma menatap Alana dengan tatapan tajam. Tapi Alana tetap bergeming. Terlihat tidak goyah sedikitpun dengan keputusannya.

Akhirnya Dharma mendesis, menutup mata sejenak, mencoba menahan emosi namun gagal.

“Oke.” Nada suaranya turun, dingin. 

“Kalau itu yang kamu mau, semua fasilitas dari Papa akan Papa tarik termasuk uang jajan kamu. Silahkan kamu pergi dari sini dan jangan pernah temui Papa lagi.”

Lagi, Alana mendapatkan kalimat itu. Kalimat yang telak menghantam dada Alana.   

“Na,” panggil Rayyan pelan. 

“Iya, Pa.” 

Hatinya memang hancur. Tapi keputusannya sudah bulat. Alana tetap tenang di hadapan Dharma. Sorot matanya penuh keyakinan.

Alana rela membayar apapun untuk keputusannya. 

“Lana akan pergi dari sini.” 

Tatapan Alana melembut. “... tapi Lana pasti akan kembali untuk temui Papa. Papa tahu, Lana sayang sekali sama Papa.” 

Matanya mulai memanas, tapi Alana menahannya. Dia berusaha tetap tegar dan tenang. 

Dharma memalingkan wajahnya. Rahangnya mengeras begitu kuat sampai ototnya terlihat dari jauh.

“Kalau gitu, Lana ambil barang Lana ya, Pa,” ucap Alana pelan.

Alana melangkah. Satu langkah pertamanya terasa begitu berat. Namun, Alana menahan diri, menegakkan bahu, dan melangkah lebih cepat menuju tangga ke arah kamarnya.

Setelah Alana berada beberapa jauh dari Dharma, Dharma menoleh ke belakang. Menatap punggung Alana yang menaiki tangga, perlahan menjauh. 

“Om,” panggil Rayyan pelan.

Dharma tidak menoleh. Namun, tangannya terkepal kuat ketika mendengar suara itu.

“Saya mohon Om jangan seperti ini,” ucap Rayyan lagi. 

“Alana…”

Rayyan menatap punggung Alana yang baru sama masuk ke kamar, kemudian kembali menatap Dharma. “Alana sangat menyayangi Om. Tolong biarkan Alana tetap disini.” 

Rayyan menunduk, suaranya merendah lemah. “Dan biarkan Lana pertahankan kandungannya. Saya mohon, Om.”

Dharma menoleh. Tatapannya tertuju pada Rayyan yang berdiri menunduk di depannya.

Melihat wajah itu, darah Dharma mendidih. Kemarahan menguasai dirinya. 

“Kamu yang sudah merusak hubungan saya dan putri saya.”

...***...

Di sisi lain, Alana berdiri diam di kamar. Pandangannya mengedar, menatap setiap jengkal isi kamarnya yang penuh dengan kenangan. Alana menatap meja belajarnya. Dulu Dharma sering mengantarkan camilan untuknya ketika Alana sedang belajar. Dharma tersenyum dan mengusap lembut kepalanya. 

Alana beralih menatap ranjang tempat tidurnya. Alana sering menyandarkan kepalanya di bahu Dharma, saling berbicara lembut dari hati ke hati. Ketika Alana sakit, Dharma akan khawatir. Berkali-kali masuk kamar Alana untuk mengecek datang dengan senyum hangat yang selalu berhasil menenangkannya. 

Cepat-cepat dia mengambil satu koper besar dan memasukkan semua barang penting yang dia butuhkan.

Beberapa kali, air matanya menetes, tapi Alana dengan cepat menghapusnya. Alana tidak akan membiarkan emosi menguasai dirinya, walau hatinya kini terasa tercabik-cabik.

Alana menutup resleting kopernya. Berdiri tegak, menatap kembali ruangan itu. Tatapan Alana berhenti pada lemari boneka besar di depannya. Hampir semua boneka Alana itu pemberian Rangga. Setiap kali Rangga pulang dari Amerika, dia selalu membawakan boneka baru untuk Alana.

“Dan ini buat nemenin kamu tidur,” ucap Rangga sambil menyerahkan sebuah boneka beruang berukuran sedang pada Alana.

Mata Alana berbinar. “Wah! Lucu banget bonekanya,” komentar Alana sambil mengambil boneka itu. 

Alana menatapnya sambil mengusap boneka itu dengan lembut.

“Aku tahu kamu susah tidur kalau nggak meluk sesuatu,” ucap Rangga, suaranya merendah penuh sayang. 

“Jadi aku bawain temen baru.”

Alana memandang Rangga dengan mata berbinar. “Makasih, Mas. Aku suka banget.”

Alana menggigit bibirnya kuat-kuat. Dengan cepat, sebelum emosi menguasai dirinya, Alana berjalan keluar dari kamar. Alana turun menemui Dharma dan Rayyan.

Dharma masih memalingkan wajahnya. Sementara Rayyan berdiri dengan kepala tertunduk di depan Dharma.

“Papa, Lana pamit ya,” ucap Alana lagi. Ada getaran halus dalam suaranya yang begitu tenang.

“Papa harus jaga kesehatan. Istirahat yang cukup, makan yang banyak, jangan sering lembur. Papa jangan sampai sakit. Lana pasti sedih kalau Papa sakit.” 

Suara Alana bergetar. Alana melipat bibirnya, lalu berusaha tersenyum. Meskipun Dharma sama sekali tidak menoleh padanya.

“Lana pamit ya, Pa.” 

Alana meraih tangan Dharma dengan lembut, mencium punggung tangan Dharma begitu lama, seakan tidak mau melepaskannya. 

Begitu Alana melepaskannya, dia langsung berbalik. Berjalan cepat meninggalkan ruangan itu, sebelum keputusannya goyah.

Rayyan mengangguk hormat pada Dharma, kemudian menyusul Alana.

Setelah mereka pergi, tubuh Dharma terhempas ke sofa. Dia menutupi wajah dengan telapak tangannya. 

Sementara itu, tepat di depan pintu, Alana menghentikan langkahnya. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat, menahan gejolak di hatinya. Sekuat tenaga menahan air mata agar tidak terjatuh.

“Na, lo nggak perlu sampai segininya,” ucap Rayyan pelan. 

“Gue akan ngomong lagi ke bokap lo, Na. Gue nggak masalah kalau gue harus dipukulin atau bersujud depan bokap lo.”

Suara Rayyan merendah. “Lo nggak perlu tinggalin bokap lo.”

Alana masih diam. Berkali-kali menarik napas panjang untuk mengendalikan diri. Setelah beberapa saat, dia mulai tenang.

Air mata di pelupuk matanya sirna. Kini mata itu menatap ke depan dengan begitu tajam.

“Gue harus balas perbuatan orang itu karena gue udah bayar sangat mahal untuk ini.”

...----------------...

1
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!