Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal baru, harapan baru
Terbangun dalam ayunan langkah yang ramai, Zhou Yu merasakan sisa-sisa keletihan yang menghimpit dadanya. Langit malam telah berganti menjadi fajar yang pucat saat ia menyadari dirinya berada di gendongan kokoh Da Ge.
"Ke mana..." bisiknya, suaranya parau, nyaris hilang tertelan angin gunung.
"Ah, kau sudah sadar!" Da Ge menyahut dengan nada kegembiraan . "Nyonya Liu memimpin kita ke sebuah tempat. Ia bilang itu adalah tempat ia menghabiskan masa mudanya surga tersembunyi yang ia tinggalkan sebelum hari-hari gelap di tambang merenggut kebebasannya."
Zhou Yu terdiam, kelopak matanya terasa berat. Di tengah kabut kesadarannya, ia mencari satu sosok. "Ling'er... di mana dia?"
"Dia aman, Zhou Yu. Ling'er berada di depan bersama Nyonya Liu dan warga lainnya," jawab Da Ge menenangkan.
Mendengar itu, sebuah ketenangan pun timbul di hati Zhou Yu. Ia mulai memperhatikan sekeliling. Mereka mendaki jalan setapak berbatu yang membelah rimbunnya hutan bambu. Cahaya matahari pagi mulai menembus celah-celah dedaunan, menciptakan pilar-pilar emas yang magis di tengah udara pegunungan yang jernih. Aroma tanah basah dan daun pinus perlahan membasuh kepenatan jiwanya.
"Turunkan aku, Da Ge. Aku sudah bisa berjalan sendiri," ucap Zhou Yu lebih tegas. Setelah sedikit perdebatan kecil, ia memijakkan kaki di tanah. Di belakangnya, ia melihat barisan panjang para pekerja tambang wajah-wajah yang biasanya kuyu dan penuh debu kini memancarkan binar yang berbeda. Harapan telah menyatukan mereka.
"Kita sudah dekat!" seruan Nyonya Liu memecah kesunyian hutan.
Langkah kaki yang semula lambat seketika berubah menjadi derap langkah penuh semangat. Saat mereka melewati sebuah celah di lereng pegunungan, pemandangan itu terbentang luas sebuah lembah hijau yang tersembunyi, dipeluk oleh tebing-tebing tinggi dengan air terjun yang jatuh seperti tirai perak dari ketinggian. Gemuruh air dan kicau burung menyambut mereka layaknya sebuah simfoni selamat datang.
Nyonya Liu berdiri di sebuah batu besar, rambut putihnya berkibar ditiup angin. Meski fisiknya renta, suaranya menggelegar penuh wibawa. "Mulai saat ini, kawasan ini adalah milik kita. Tempat ini tak tersentuh kekaisaran, jauh dari jangkauan penindas. Inilah rumah kita!"
Sorak-sorai pecah, namun Nyonya Liu mengangkat tangannya, meminta keheningan sesaat. "Dan untuk menjaga rumah ini, aku menyarankan Zhou Yu kecil sebagai pemimpin kita. Adakah yang keberatan?"
Zhou Yu terkesiap. Ia merasa dunia seolah berhenti berputar. Namun, sebelum ia sempat memprotes, suara-suara dukungan mulai bersahutan. "Sudah seharusnya begitu!" "Kami mempercayaimu, Zhou Yu!"
Da Ge menepuk bahunya keras, "Kau pasti bisa."
Melihat kerumunan orang yang kini menatapnya dengan penuh rasa hormat dan harapan, Zhou Yu merasakan kehangatan yang menjalar dari dadanya hingga ke ujung jemari. Di tempat yang baru saja mereka sebut rumah, ia menyadari bahwa beban di pundaknya kini bukan lagi rantai besi tambang, melainkan harapan ribuan nyawa. Ia bersumpah dalam hati, fajar ini bukan hanya akhir dari penderitaan mereka, melainkan awal dari sebuah legenda yang akan ia tulis dengan tangannya sendiri.
Udara pegunungan yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun kehangatan yang menjalar di dada Zhou Yu jauh lebih kuat. Ia berdiri di atas sebuah batu besar, menatap hamparan lembah hijau yang kini menjadi tanggung jawabnya. Suara gemuruh air terjun terdengar seperti detak jantung kehidupan baru yang baru saja dimulai. Di bawah sana, para mantan pekerja tambang orang-orang yang selama bertahun-tahun hanya mengenal gelapnya parit dan dinginnya cambuk kini bergerak dengan binar mata yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Nyonya Liu mendekat, langkahnya yang gemetar namun pasti menyisakan jejak di tanah yang basah oleh embun. Ia meletakkan tangannya yang keriput di bahu Zhou Yu. "Kau melihat mereka, Nak?" bisiknya. "Mereka tidak hanya melihat seorang pemimpin. Mereka melihat hari esok yang tidak lagi berbau debu mesiu dan kematian."
Zhou Yu menelan ludah. Beban kepemimpinan ini terasa lebih berat daripada bongkahan batu yang biasa ia panggul di tambang. "Nyonya, aku hanyalah seorang pemuda yang beruntung bisa bertahan hidup. Bagaimana mungkin aku menuntun mereka membangun sebuah desa dari nol?"
"Keberuntungan adalah ketika kesiapan bertemu dengan kesempatan," jawab Nyonya Liu dengan senyum bijak. "Kau memiliki keberanian yang menyatukan mereka saat pemberontakan itu terjadi. Sekarang, gunakan keberanian itu untuk menghidupi mereka."
Hari-hari berikutnya adalah ujian yang sesungguhnya. Lembah itu indah, namun keindahan tidak memberi makan perut yang lapar. Di bawah komando Zhou Yu, warga mulai membagi tugas. Da Ge, dengan kekuatannya yang luar biasa, memimpin kelompok pria untuk menebang pohon bambu dan kayu guna membangun gubuk-gubuk darurat. Sementara itu, para wanita di bawah bimbingan Nyonya Liu mulai memilah tanaman hutan yang bisa dimakan dan mencari lahan yang cocok untuk bercocok tanam.
Zhou Yu tidak hanya duduk diam memerintah. Ia adalah orang pertama yang bangun sebelum matahari terbit dan orang terakhir yang memejamkan mata.ia dan beberapa warga lain nya punya tugas sebagai pemburu yang memburu hewan di pegunungan, walaupun sudah selesai berburu ia tidak bermalas malasan, Ia ikut memanggul kayu, kakinya lecet tertusuk duri, dan tangannya kembali kasar oleh kerja keras. Namun, kali ini setiap tetes keringatnya terasa manis, karena ia tahu ia bekerja untuk kemerdekaan mereka sendiri.
Suatu malam, badai besar melanda lembah. Hujan turun seolah langit sedang tumpah, dan angin kencang merobohkan beberapa gubuk yang baru setengah jadi. Kepanikan mulai menjalar di antara para warga. Suara tangis anak-anak pecah di tengah kegelapan.
"Zhou Yu! Aliran sungai meluap! Jika terus begini, lahan tanam kita akan hanyut!" teriak Da Ge di tengah deru hujan.
Zhou Yu berlari keluar tanpa alas kaki. Di bawah guyuran hujan, ia melihat keputusasaan mulai kembali menghantui wajah-wajah rakyatnya. Jika ia membiarkan ketakutan ini menang, semangat mereka akan hancur.
"Semuanya!, Ikuti aku!" teriak Zhou Yu dengan suara yang menggelegar, mengatasi suara guntur.
Ia memimpin mereka menuju tepian sungai, menggunakan badannya sendiri untuk menahan tumpukan batu dan batang pohon guna mengalihkan arus air. Ia terjatuh berkali-kali ke dalam lumpur, namun ia selalu bangkit. Melihat kegigihan pemimpin muda mereka, warga yang tadinya ragu mulai bergerak. Mereka saling bahu-membahu, membentuk rantai manusia di tengah badai. Malam itu, mereka tidak hanya melawan alam mereka melawan trauma masa lalu mereka, bahwa mereka adalah orang-orang buangan yang lemah.
Saat fajar menyingsing, badai mereda. Lahan mereka selamat. Zhou Yu berdiri dengan tubuh gemetar karena kedinginan dan kelelahan, seluruh pakaiannya tertutup lumpur pekat. Da Ge menghampirinya, lalu tanpa kata, ia berlutut dan menundukkan kepala. Satu per satu, warga lainnya melakukan hal yang sama. Bukan karena perintah, tapi karena hormat yang lahir dari lubuk hati terdalam.
Beberapa bulan berlalu, lembah itu kini telah berubah. Gubuk-gubuk bambu yang rapi berdiri mengelilingi sebuah lapangan tengah. Asap mengepul dari dapur-dapur warga, membawa aroma ubi bakar,daging, dan sayuran segar. Kehidupan telah bersemi di
"Desa Harapan" nama yang diberikan Nyonya Liu untuk tempat itu.
Siang itu, setelah rapat panjang mengenai pembagian hasil panen pertama, Zhou Yu berjalan menjauh dari kebisingan desa. Ia menuju ke arah air terjun, tempat favoritnya untuk menjernihkan pikiran. Di sana, ia melihat sesosok gadis sedang duduk di tepi sungai, membiarkan kakinya terendam air yang jernih.
Itu Ling'er,sejak mereka tiba di lembah, Ling'er telah menjadi sosok yang sangat penting bagi warga. Ia mengobati yang sakit dengan pengetahuan tanaman herbal yang ia pelajari dari Nyonya Liu. Namun, karena kesibukan masing-masing, Zhou Yu jarang memiliki waktu untuk sekadar berbicara dengannya.
Zhou Yu berjalan perlahan, berusaha tidak mengejutkannya. "Airnya pasti dingin di jam seperti ini," ucapnya lembut.
Ling'er menoleh, senyum tipis tersungging di bibirnya yang pucat namun manis. "Lebih dingin rasa sepi di tambang daripada air ini, Kak."
Zhou Yu duduk di sampingnya, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk merasakan kehadiran satu sama lain. Untuk sejenak, hanya ada suara gemericik air dan desis angin di sela bambu.
"Kau telah bekerja sangat keras," ucap Ling'er pelan, matanya menatap pantulan nya di permukaan air. "Kadang aku khawatir melihatmu. Kau memikul beban seluruh orang di bahumu, sampai-sampai kau lupa bahwa kau juga punya bahu untuk bersandar."
Zhou Yu menghela napas panjang, melepaskan ketegangan yang selama ini ia kunci rapat-rapat. "Aku hanya takut, Ling'er. Takut jika suatu saat aku gagal, mereka akan kembali ke kegelapan itu. Aku tidak ingin melihatmu atau siapapun kembali ke tambang itu."
Ling'er bergeser sedikit lebih dekat, lalu perlahan ia meletakkan tangannya di atas tangan Zhou Yu yang kasar dan penuh bekas luka. Sentuhannya terasa seperti sutra yang menyejukkan hati Zhou Yu yang gersang.
"Kau tahu, Kak..." suara Ling'er bergetar sedikit. "Saat di tambang dulu, setiap kali aku merasa ingin menyerah, aku akan mencari sosokmu di kejauhan. Melihatmu masih berdiri tegak meski dicambuk, melihatmu masih membagi jatah makanmu untuk orang tua yang kelaparan... itu yang membuatku bertahan hidup. Kau adalah cahaya bagi kami, bahkan sebelum kau menjadi pemimpin desa ini."
Zhou Yu menoleh, menatap mata Ling'er yang berbinar karena air mata yang menggenang. Di bawah cahaya rembulan, wajah gadis itu tampak begitu suci dan tulus. Ia menyadari bahwa di balik tanggung jawab besar yang ia emban, motivasi terbesarnya adalah keselamatan gadis di depannya ini.
"Ling'er," suara Zhou Yu parau. "Terima kasih karena tetap bersamaku. Tanpamu di rombongan itu, aku mungkin tidak akan punya alasan untuk sadar dari pingsanku waktu itu."
Ling'er menyandarkan kepalanya dengan lembut di bahu Zhou Yu. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Zhou Yu merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Bukan kedamaian karena kemenangan atau kekuasaan, melainkan kedamaian karena merasa dicintai dan dimengerti.
"Berjanjilah satu hal padaku," bisik Ling'er.
"Apa itu?"
"Jangan pernah berjalan terlalu jauh di depan, sehingga aku tidak bisa mengejarmu. Berjalanlah di sampingku. Kita akan membangun tempat ini bersama-sama."
Zhou Yu menggenggam jemari Ling'er dengan Udara pegunungan yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun kehangatan yang menjalar di dada Zhou Yu jauh lebih kuat. Ia berdiri di atas sebuah batu besar, menatap hamparan lembah hijau yang kini menjadi tanggung jawabnya. Suara gemuruh air terjun di latar belakang terdengar seperti detak jantung kehidupan baru yang baru saja dimulai. Di bawah sana, para mantan pekerja tambang orang-orang yang selama bertahun-tahun hanya mengenal gelapnya parit dan dinginnya cambuk kini bergerak dengan binar mata yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Zhou Yu menoleh, menatap mata Ling'er yang berbinar karena air mata yang menggenang. Di bawah cahaya rembulan, wajah gadis itu tampak begitu suci dan tulus. Ia menyadari bahwa di balik tanggung jawab besar yang ia emban, motivasi terbesarnya adalah keselamatan gadis di depannya ini.
"Ling'er," suara Zhou Yu parau. "Terima kasih karena tetap bersamaku. Tanpamu di rombongan itu, aku mungkin tidak akan punya alasan untuk sadar dari pingsanku waktu itu."
Ling'er menyandarkan kepalanya dengan lembut di bahu Zhou Yu. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Zhou Yu merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Bukan kedamaian karena kemenangan atau kekuasaan, melainkan kedamaian karena merasa dicintai dan dimengerti.
"Berjanjilah satu hal padaku," bisik Ling'er.
"Apa itu?"
"Jangan pernah berjalan terlalu jauh di depan, sehingga aku tidak bisa mengejarmu. Berjalanlah di sampingku. Kita akan membangun tempat ini bersama-sama."
Zhou Yu menggenggam jemari Ling'er dengan erat, sebuah janji tanpa kata yang terpatri di bawah saksi langit malam. Mereka berdua tahu, perjalanan mereka masih panjang, dan kekaisaran mungkin suatu saat akan menemukan mereka. Namun malam itu, di lembah yang tersembunyi itu, mereka bukan lagi budak atau pemimpin. Mereka hanyalah dua jiwa yang menemukan rumah di dalam diri satu sama lain.
Matahari mungkin akan terbit dengan tantangan baru esok hari, namun selama Ling'er berada di sampingnya, Zhou Yu tahu bahwa surga yang mereka temukan bukan sekadar tempat, melainkan sebuah harapan yang akan terus mereka jaga selamanya.
...Bersambung.......