Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!
Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.
Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.
1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.
Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Reno datang ke rumah? Wah ini
Sudah satu jam lamanya Aluna hanya terdiam, menatap kosong ke arah wallpaper layar ponsel di genggamannya.
Ironis memang.
Dulu, ia bermimpi bisa memiliki iPhone dari hasil keringatnya sendiri.
Namun sekarang, saat benda mewah itu sudah ada di tangannya, rasanya justru sangat menyakitkan.
Aluna mencoba mengalihkan pikirannya dengan mengunduh Instagram.
Duduk di lantai terlalu lama membuat punggungnya terasa kaku.
Ia pun beranjak, duduk di depan cermin rias dan mulai mencari akun Reno. Mengingat popularitas pria itu di kampus dulu, tidak sulit bagi Aluna untuk menemukannya di antara deretan akun alumni kampus.
Setelah ragu sejenak, ia mulai memberanikan diri mengetik pesan di kolom DM.
@alunarae
Hai, Ren. Ini aku, Aluna...
@Renooooo27
Eh, ini kamu, Luna? Astaga, aku berkali-kali mencoba meneleponmu tadi...
@Renooooo27
Kenapa nomormu tiba-tiba tidak bisa dihubungi?
Aluna menggigit bibir bawahnya, jemarinya bergetar di atas layar.
@alunarae
Maaf... Ren, ponselku—
Aluna segera menghapus kalimat itu. Ia menggelengkan kepala cepat, menolak untuk terlihat lemah atau mengasihani diri sendiri di depan teman lamanya. Ia butuh alasan yang masuk akal tanpa harus membongkar kehidupannya saat ini.
@alunarae
Maaf, ponselku yang tadi rusak karena jatuh. Ini aku pakai ponsel cadangan.
@Renooooo27
Oh, pantas aja tadi ada suara pria yang ngangkat? Dia bilang kamu lagi ada 'sesi penting'. Itu siapa, Lun? Suaranya galak banget...
Aluna tertegun. Ia lupa bahwa Arkan sempat bicara sebelum menghancurkan ponsel lamanya.
@alunarae
Itu... itu sepupuku yang sedang berkunjung. Dia memang agak tegas orangnya. Maaf ya sudah bikin bingung.
@alunarae
Oh iya, Ren, soal ijazah itu...
...****************...
Di kantor, suasana pagi yang seharusnya tenang justru serasa pengap.
Pria itu tampak gelisah, ia mondar-mandir tanpa arah.
Pikirannya tertuju pada Reno.
Jika Reno mendekati Aluna, skandal besar bisa saja meledak dan menghancurkan citra keluarga Seo yang ia bangun susah payah.
Tak tahan lagi, Arkan menyambar jasnya kasar.
Ia memutuskan akan mengambil sendiri ijazah Aluna agar Reno tak punya alasan lagi untuk menghubungi wanita itu.
Dion, sang asisten langsung sigap, segera mengekor di belakang bosnya.
"Tuan, Anda mau ke mana?" tanya Dion.
"Ambil ijazah. " sahut Arkan.
"Siapa yang baru lulus, Tuan?" Dion mengernyit heran.
Arkan berhenti mendadak, menatap Dion tajam. "Bukan begitu, sialan! Saya mau mengambil ijazah wanita itu dari tangan temannya!"
"Oh..." Dion mengangguk cepat, mulai memahami situasi yang sedang terjadi.
Arkan terdiam di tengah koridor kantor.
Ia baru sadar, ia bahkan tak tahu harus mencari teman kuliah Aluna ke mana.
Ia mundur perlahan, mencoba mengatur napasnya.
"Lacak lokasi Reno sekarang, Dion! Cari tahu dia ada di mana. Kalau perlu, suruh dia datang ke kantor dan serahkan ijazah itu langsung ke tangan saya. Mengerti?"
Dion menunduk patuh, segera duduk dan membuka laptopnya.
Jemarinya menari lincah di atas keyboard, melacak jejak keberadaan Reno dengan kecepatan luar biasa.
Sementara itu, Arkan kembali ke kursinya, namun ia tetap tak bisa tenang.
Keringat dingin mulai membasahi pelipis.
'Ada apa denganmu, Arkan? Tenanglah... biarkan dia yang datang ke sini. Jangan terlihat kacau, ' batinnya menarik nafas dalam.
Namun, hanya bertahan beberapa menit.
Dion tiba-tiba bangkit dari sofa dengan wajah pucat, membawa laptopnya ke hadapan Arkan.
Arkan menaikkan sebelah alis, "Kenapa? Sudah ketemu?"
"Tuan, ini... Reno sudah berada di depan rumah Anda," ucap Dion pelan sembari memperlihatkan titik koordinat GPS yang berhenti tepat di depan gerbang kediaman Seo.
"Saya benar-benar tidak tahu bagaimana dia bisa menemukan alamat Anda, tapi dia sudah ada di sana..."
Wajah Arkan seketika berubah gelap.
Kemarahannya memuncak seketika hingga ke ubun-ubun.
"SHIT! Bagaimana bisa?!" umpat Arkan keras.
Tanpa membuang waktu, ia berlari keluar ruangan menuju basement. Ia memacu mobilnya secara gila-gilaan, tak peduli pada keselamatan orang lain.
...****************...
Didepan gerbang terdengar kericuhan sampai ke dalam.
Memanfaatkan kelengahan pengawal pribadinya yang sedang asyik merokok di pojokan, Aluna berlari menuju sumber suara.
Jantungnya mencelos melihat Reno sedang dikerubungi oleh beberapa satpam yang mencoba menghalaunya masuk dengan cara kasar.
"LUNA! LUNA! KAMU DI DALAM, KAN?!" teriak Reno sekeras-kerasnya.
Aluna terperangah. "Pak, tolong berhenti! Dia teman saya!" jeritnya.
"Teman Nyonya? Apa ada izin dari Tuan Arkan?" tanya salah satu satpam curiga.
Saat itulah, mata Reno tertuju pada wajah Aluna. Tertegun melihat hansaplast yang menempel di pipi Aluna dan luka kering di bibirnya yang membengkak.
Reno menyentuh dagu Aluna dengan sangat lembut, matanya menyiratkan rasa khawatir yang sangat mendalam.
"Luna... kamu tidak apa-apa? Aku ke sini hanya ingin memberikan ijazahmu..."
"Terima kasih, Ren," lirih Aluna cepat-cepat mengambil dokumen itu dan memalingkan wajah.
"Maaf ya, Mas bukan bermaksud,"
"Tapi suaminya Nyonya jauh lebih tampan dan mapan dari Mas."
Dunia Reno seakan runtuh setelah mendengarnya.
"Suami? Luna, apa maksudnya? Kamu tidak pernah bilang sudah menikah..."
Sebelum Reno sempat meminta penjelasan lebih lanjut, sebuah mobil sport meraung— berhenti mendadak di depan mereka.
Aluna mundur seketika, tubuhnya bergetar— ia seakan sudah trauma dengan kedatangan Arkan yang selalu datang tiba-tiba.
Arkan keluar dari mobil dengan aura membunuh.
Tanpa basa-basi, ia mencekal lengan Aluna.
Namun, Reno tidak tinggal diam. Ia menarik lengan Aluna yang satunya, menahan wanita itu agar tidak dibawa masuk.
"Luna, tunggu! Jelaskan padaku apa yang terjadi!" seru Reno.
Aluna yang ditarik dari dua sisi hampir terjatuh jika saja punggungnya tidak ditahan oleh tangan Arkan yang kokoh.
Arkan menatap Reno dengan tatapan menghina.
"Lepaskan tangan kotormu dari istri saya."
"Istri?! Tidak masuk akal! Luna tidak pernah bercerita soal pernikahannya!" balas Reno tak mau kalah.
Rahang Arkan mengeras. Ia melirik Aluna dengan pandangan maut yang membuat Aluna menciut.
"Masih belum jelas? Lepaskan istri saya, bajingan!" Arkan menyentak tangan Aluna dengan satu tarikan kencang hingga Aluna merintih kesakitan.
Melihat Aluna yang kesakitan ditarik ke sana kemari, Reno akhirnya mengendurkan pegangannya karena tak tega.
"Luna... setelah ini kita harus berte—"
"Tidak ada setelah ini," potong Arkan ketus.
Ia kemudian menarik tengkuk leher Aluna, memaksa kepala wanita itu masuk ke dalam dekapannya.
"Siapa kau? Salah satu pelanggan malamnya? Apa kau belum puas mencicipi jalang ini sampai harus mengejarnya ke rumahku?"
Reno terperanjat mendengar penghinaan itu. Bagaimana mungkin seorang suami meludahi martabat istrinya sendiri seperti itu? Arkan tertawa garing yang terdengar sangat mengerikan di telinga.
"Bagaimana? Apa kalian berencana untuk check-in lagi setelah ini?"
"Jaga mulut Anda!" teriak Reno murka.
"Jika Anda benar suaminya, perlakukan dia seperti wanita!" Reno menatap Aluna, berharap wanita itu melawan.
Namun, Aluna hanya menunduk dengan pandangan kosong, seolah jiwanya sudah tiada.
"Luna... ikutlah bersamaku. Jika kamu hanya tersakiti di sini—"
"Tersakiti? Begitu maksudmu?" Arkan menaikkan alisnya, lalu dengan sengaja ia menarik wajah Aluna ke atas dan melumat bibirnya dengan kasar tepat di depan mata Reno.
"Ungh—"
Aluna memukul dada Arkan lemah, wajahnya merah padam, sesak napas sendiri.
Arkan melepaskan ciumannya dan tertawa mengejek.
"Lihat, jalang ini bahkan tidak menolak. Dia sudah saya bayar mahal... sia-sia kalau barang milik saya harus dijual lagi dengan harga nego kepada orang sepertimu."
Reno berteriak frustrasi, "JANGAN MENGADA-ADA ANDA YA! LUNA, ayo kesini!"
"Masih kurang?" tanya Arkan dingin, memberikan isyarat pada para pengawalnya untuk semakin menekan Reno.
Reno terdiam, harga dirinya sebagai pria yang hanya bekerja sebagai kurir makanan seolah diinjak-injak.
"Bagus. Akhirnya dia diam juga. Ayo masuk, sayang," bisik Arkan dengan nada menggoda.
Ia menyeret Aluna masuk ke dalam mansion.
...****************...
Aluna berdiri mematung di bawah guyuran amarah Arkan yang meledak-ledak.
Bagi Arkan, ciuman kasar di depan gerbang tadi hanyalah hal normal, sebuah sandiwara murah untuk mengusir lalat.
Bagi Aluna, ia saja yang wajahnya bersemu merah padam seperti tomat.
Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun rasa kebas menjalar dari pergelangan tangan yang tadi dicengkeram Arkan dengan kekuatan luar biasa.
Aluna mendongak dengan mata yang sudah menggenang di pelupuk.
"Sudah saya katakan, bukan? Ijazahmu itu biar saya yang ambil!" bentak Arkan, suaranya menggema di ruang tamu.
"Kenapa musang itu bisa sampai di sini?!"
Aluna tak berani bersuara. Ia tak mungkin mengakui bahwa ia sempat berencana menemui Reno di persimpangan jalan.
Ia tak menyangka Reno akan senekat itu datang langsung ke kediaman Seo. Aluna hanya bisa menunduk, menutupi wajahnya dengan tangan.
"Aku juga tidak tahu, Mas... dia tiba-tiba..."
"Sekarang mau berdalih?!" Arkan memotong kalimatnya dengan bentakan yang lebih keras.
"Mana ponselmu?! Berikan pada saya!"
Dengan tangan gemetar, Aluna merogoh saku dan ia serahkan.
Jantungnya seakan berhenti berdetak saat Arkan melihat layar yang menampilkan akun Instagram Reno.
Arkan sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi, nyaris melempar ponsel mahal yang baru di beli itu ke lantai, namun ia mengurungkan niatnya di detik terakhir.
Ia justru menyambar ponsel itu ke dalam saku celananya sendiri.
"Jangan temui dia lagi! Sudah saya peringatkan berkali-kali, tapi kau tetap sama saja!"
Aluna bungkam. Tatapannya kosong, menembus lantai marmer di bawah kakinya.
Ia merasa bahwa di rumah ini, bahkan sekadar bernapas pun adalah sebuah kesalahan di mata Arkan.
"Ijazahmu sudah dipegang, kan? Jadi tidak ada alasan lagi untuk bertemu dengannya. "
Karena tak mendapat jawaban, Arkan yang geram mendorong pundak Aluna hingga punggung wanita itu menghantam sandaran kursi.
BRUK!
Arkan mencondongkan wajahnya, mengunci tatapan Aluna dengan mata yang berkilat penuh ancaman.
"Kalau kau berani mendekati musang itu lagi, saya pastikan ijazah yang kau perjuangkan mati-matian itu akan saya bakar sampai jadi abu. Tidak ada kuliah, kau akan di rumah ini selamanya. Mau pilihan itu?"
Aluna menggelengkan kepala cepat, tangisnya pecah seketika.
"Hiks! Hiks—"
Isak tangis sesenggukan keluar dari bibirnya yang lukanya terbuka karena ciuman ganas tadi.
Arkan berdecak kesal, alih-alih merasa iba, ia justru menggenggam tangan Aluna lagi kencang.
Namun kali ini, ia tidak menyeret Aluna ke kamarnya, melainkan ke ruang kerja pribadinya.
Arkan membalikkan badan setelah mereka masuk, lalu memutar kunci pintu.
Klik!
"Kau tetap di sini bersama saya semalaman! Tidak boleh keluar satu langkah pun!"
Aluna jatuh terduduk di atas lantai dingin.
Bersambung...
REAKSI AUTHOR SAAT MENULIS INI:
REAKSI PEMBACA SAAT MEMBACA NOVEL INI:
TUNGGU BAB SELANJUTNYA YA BEBS😘
BEHIND THE SCENE SSTTTT🤫
ALUNA SAID: emang cuma kamu aja yang bisa kasar di tempat syuting? Ayo gelut kita... 🤣