"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Pagi Yang Terganggu
"Tidak. Tidak bisa...."
"Kau tidak bisa meninggalkanku Kanaya!!"
Jerit frustasi itu menggema sesak. Suara yang biasa terdengar angkuh itu bergetar penuh ketakutan. Kalendra--- dia memangku tubuh sang istri yang telah kaku dengan wajah yang membiru. Mulutnya sedikit terbuka dengan busa putih yang keluar melalui celahnya.
"Bangun. Aku perintahkan dirimu untuk bangun."
"Bangun atau aku akan menghukummu!"
Tidak ada reaksi. Perempuan itu tetap damai dalam tidurnya. Membuat Kalendra semakin meraung. Mengguncang tubuh istrinya kalut.
"Kenapa kau melakukan ini, hah? Kau bodoh. Kau tidak punya otak!"
"Kenapa dari sekian banyak pilihan, kau memilih berakhir seperti ini Kanaya..."
Sudah tidak ada lagi teriakan. Kini suara itu terdengar lirih penuh keputus-asaan. Tanpa laki-laki itu sadari, setetes air mata jatuh mengenai wajah sang istri yang pucat. Sampai akhirnya dia merengkuh tubuh ringkih itu. Membawanya ke dalam dekapan erat sembari menggumamkan kata ajaib yang sudah tidak ada gunanya.
"Maaf...."
.
.
Kanaya mengerjabkan matanya. Meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, perempuan itu mengernyitkan kening saat merasakan beban di atas perutnya.
Menoleh ke bawah, dapat dia lihat sebuah tangan kekar merengkuh tubuh mungilnya erat. Membuat Kanaya seketika terpekik sembari menghempaskan dekapan tangan itu.
"Dasar brengsek. Bisa-bisanya dia mencuri kesempatan saat aku tertidur." sang figuran menggerutu kesal.
Saat akan bangun, Kanaya lagi-lagi memekik saat Kalendra menarik tubuhnya hingga terhuyung ke atas tubuh laki-laki itu. Kedua tangannya melingkar erat pada pinggang istrinya hingga tidak ada celah untuk memberontak.
"Ck, lepas." decak Kanaya tak suka yang hanya diabaikan oleh sang pelaku.
"Kalendra, lepas."
"Tidak mau." balas sang protagonis yang masih setia memejamkan matanya. Mempererat pelukan seolah memang tidak mau ditinggalkan.
Kanaya kesal sendiri. Seperti biasa, laki-laki di bawahnya ini selalu bersikap seenaknya.
Menyalurkan rasa dendamnya, Kanaya tekan hidung Kalendra kuat. Berharap Kalendra tidak bisa bernafas dan enyah dari hadapannya.
Lumayan kan, dapat warisan banyak.
Satu detik, Kalendra masih menahannya. Hingga hitungan ke sepuluh, laki-laki itu menyingkirkan tangan Kanaya dari hidungnya. Membuka mata, netra Kalendra menatap istrinya dalam.
Kanaya mengerutkan keningnya. Ada apa dengan tatapan Kalendra itu?
"Apa kau ingin membunuhku, hm?" ujar Kalendra dengan suara serak khas bangun tidur.
"Iya. Agar aku dapat warisan."
Kalendra mendengus. Ia balikkan tubuhnya hingga kini posisi mereka terbalik. Laki-laki itu berhasil mengunci pergerakan Kanaya yang terkejut dengan gerakan spontannya. Istri Kalendra itu menggigit bibirnya gugup, merasakan jantungnya yang berdetak liar.
"Kau suka sekali mengigit bibir." gumam Kalendra menekan bibir istrinya dengan ibu jari. Menatapnya intens dengan mata tajamnya itu.
"Aku juga ingin melakukannya."
Kanaya memutar bola matanya malas. Mencoba mengusir perasaan gugup yang tengah melandanya. Setidaknya, dia tidak boleh terlihat lemah dan mudah dikendalikan. Dia tidak mau.
"Lakukan saja. Tidak ada yang melarangmu mengigit bibirmu sendiri."
Kalendra menyeringai jahil. Semakin menekankan bibir sang istri sehingga sedikit terbuka. Seharusnya Kanaya menolaknya. Namun dengan bodohnya dia malah diam saja dengan mata menatap Kalendra...sayu.
Seakan menunggu sesuatu.
"Bukan bibirku. Aku ingin mengigit bibirmu."
Semu merah tercetak samar pada pipi Kanaya. Oh, sungguh. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya. Kenapa dia jadi murahan seperti ini. Ayolah, menjadi perempuan kurang belaian bukanlah style Kanaya sama sekali.
Tapi--- saat Kalendra mendekatkan wajahnya. Meraup bibir mungilnya penuh hasrat, yang Kanaya lakukan malah mengeluarkan erangannya. Mencari rambut sang suami untuk diremasnya. Menekannya agar laki-laki itu semakin memperdalam ciu-mannya.
Sialan sialan sialan! Kanaya merasa telah menjilat ludahnya sendiri.
Oh, ayolah. Ini hanya reaksi biologis. Yang kau rasakan adalah hal wajar, Kanaya.
Bagus. Sekarang otaknya pun mencoba mencari pembenaran. Tidak ingin disalahkan oleh perasaan naifnya.
Figuran itu mendesis lirih saat merasakan gigitan pada bibir bawahnya. Dan hal itu tidak disia-siakan Kalendra. Segera ia masukkan lidahnya pada mulut Kanaya yang sedikit terbuka. Menelusuri segala sisinya. Mengajak lidah Kanaya untuk saling melilit penuh gairah.
"Mhhh...Kalendra...."
Kalendra menggeram rendah. Lenguhan istrinya samakin membuatnya bergairah. Bagian bawahnya semakin sesak, meminta untuk dipuaskan.
Laki-laki itu melepaskan pangutannya. Menyorot netra Kanaya yang sayu. Ia tahu, perempuan di bawahnya ini juga telah terangsang. Kalendra tahu, jika Kanaya juga menginginkan lebih dari sekedar ciu-man.
Kembali mengeluarkan geraman rendahnya, laki-laki itu kembali menerjang bibir sang istri. Kali ini lebih menggebu. Lebih kasar. Lebih dalam dan intens. Tangannya mulai ikut bermain. Mengelus perut sang istri yang masih terbungkus piyama. Kemudian menyingkap kain itu, hingga telapak tangan kasarnya bersentuhan langsung dengan kulit Kanaya yang hangat dan lembut.
Pergerakannya terus ke atas, hingga menemukan titik yang dicarinya. Berhenti memberikan jeda, bibir Kalendra berpindah. Mengulum cuping telinga Kanaya dan menggigitnya. Menjilatnya hingga menimbulkan sensasi menggelitik yang membuat Kanaya lagi-lagi mengeluarkan desa-han kotornya.
"Ingat ini, Kanaya. Kau tidak bisa pergi dariku. Bahkan kematian pun tidak akan bisa mengambilmu dariku. Selamanya, semua yang ada pada dirimu, adalah milikku."
Kanaya tidak benar-benar mendengarkan bisikan rendah sarat akan peringatan itu. Perempuan itu kalut. Tak kuasa menahan setiap sentuhan yang Kalendra berikan diiringi nafas yang memburu. Bahkan perempuan itu tidak sadar, jika pakaian atasnya telah sepenuhnya terbuka. Hanya menampilkan bra sebagai pelindung sesuatu yang ada di dadanya.
Kalender menatap bagian itu dengan mata yang semakin menggelap. Giginya bergetak menahan sesuatu yang hampir akan meledak. Tiba saatnya saat laki-laki itu ingin meraih satu-satunya penghalang yang tersisa, suara dering dari benda yang tergeletak di nakas menghentikannya. Sontak, Kalendra mengumpat kesal.
Dering yang juga membuat Kanaya tersadar dengan apa yang telah terjadi.
Kalendra menjauhkan dirinya. Hal yang membuat Kanaya lega sekaligus...kecewa.
Menutupi tubuhnya dengan selimut, Kanaya perhatikan Kalendra yang mengambil ponsel dan sedikit menjauh. Berdiri di depan jendela balkon. Mengangkat panggilan yang sudah berhasil menganggu kegiatan panas mereka.
Dari ranjang, Kanaya dapat melihat seberapa tegap punggung itu. Seberapa kokoh bahu itu. Membayangkan tubuh besar Kalendra menginvasi pergerakannya, membuat dirinya tak berkutik dan tak berdaya, membuat sesuatu di bawah sana berkedut.
Sial! Berhenti berpikir kotor, Kanaya. Sajak kapan kau menjadi me-sum seperti ini?!
"Aku tidak peduli. Jika lain kali kau menggangguku lagi, aku tak akan segan untuk memecatmu."
Panggilan dimatikan. Kalendra berbalik. Menatap Kanaya yang ternyata juga tengah menatapnya. Perempuan itu tampak gelagapan dengan bola mata yang begerak liar, seperti tengah ketangkap basah.
Bibir Kalendra berkedut merasa terhibur. Menjilat bibirnya, laki-laki itu memainkan ponselnya begerak memutar.
"Sayang sekali aku harus pergi. Kita harus menunda urusan kita sampai malam tiba."
Kanaya menegang. Dadanya semakin bergemuruh. Dan sialnya, seperti ja-lang haus sentuhan, perempuan itu mengharapkan malam segera datang.
"Brengsek! Aku yakin, Kalendra telah memakai guna-guna kepadaku! "