Melia-Dimas yang bermula dari Hubungan Tanpa Status berakhir di jenjang pernikahan yang masih terlalu muda.
Takdir seolah tak membiarkan keduanya asing, setelah berpisah karena orang tua yang harus berpindah negara, mereka kembali di pertemukan dengan satu sama lain dengan perasaan yang masih sama tanpa berkurang sedikitpun.
Bagaimana kelanjutannya? Simak selengkapnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Lia, cepetan loh! Udah di tungguin Dimas di depan itu" teriak Gina menggelegar di dekat kamar Melia.
"Iya Ma, ini mau turun" sahut Melia sembari menyeret satu koper berisi pakaian nya.
"Disana hati-hati, jangan nyusahin Dimas. Kabarin kalau udah sampai ya" ucap Gina di balas deheman dari Melia dengan malas.
"Cuma tiga hari Ma, nggak lama banget juga" cibir Melia ia mencoba mengangkat koper nya saat turun tangga.
"Tetap aja, jangan nyusahin Dimas disana pokoknya" ucap Gina ikut Melia untuk turun.
Dimas datang menyusul setelah memasukkan koper milik nya sendiri ke bagasi. "Biarin disitu, jalan duluan aja" ujar Dimas yang sedang berjalan naik di tangga membuat Melia menurunkan koper nya.
"Lia kesana juga cuma buat konfirmasi aja kok, nggak lama" ucap Melia diangguki Gina yang pasrah.
Sampai di tangga terakhir. Dimas mendongak menatap Gina memberi isyarat.
"Li, kamu pamitan dulu sana sama Papa. Mereka di halaman depan nungguin kamu siap-siap" ucap Gina yang paham isyarat Dimas.
Melia mengangguk dan melenggang lebih dulu keluar dari rumah.
"Titip Lia ya Dim, training kamu sebelum beneran nikah sama Lia" pesan Gina di angguki Dimas yang tersenyum tipis.
"Iya Tante, kerjaan dekor dan yang lainnya aku serahin ke Tante dan Mama ya, tolong bantuan nya" pinta Dimas.
Para orang tua berencana untuk menahan Melia di Belanda bersama Dimas sampai hari pernikahan tiba.
"4 hari buat ngurus seperti nya waktu yang cukup pas,walau nggak bisa santai karna mepet, tapi nggak papa yang penting Lia nggak di Indonesia dulu untuk sementara" ucap Gina membuat Dimas tersenyum sedikit lebih lebar.
"Ah sudah, yuk keluar. Nanti Lia curiga terus masuk lagi kalau kita kelamaan mengobrol disini" ucap Gina sembari berjalan lebih dulu.
Dimas pun mengikuti dengan menyeret koper milik Melia yang tak langsung Melia bawa saat ke halaman depan.
...****************...
Melia nampak merenggangkan kedua lengan nya saat turun dari pesawat, setelah menempuh perjalanan panjang sekitar hampir 17 jam di dalam pesawat.
"Kita berangkat dari Jakarta jam berapa Kak?" tanya Melia melirik ke arah samping menatap Dimas yang juga sama lelah nya.
"Jam 6 pagi" jawab nya dengan singkat, sudah terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan Melia yang entah ada berapa bait lagi.
"Berarti.. Ini di jam 10 malam ya? Kok masih terang" gumam Melia setelah menghitung perbandingan jam.
Dimas menghela napas. "Musim panas, beda kondisi sama Indonesia" sahut Dimas memilih untuk merangkul pinggang Melia agar berjalan lebih cepat dan tidak bertanya lagi.
Melia diam menurut dengan kegugupan yang tiba-tiba melanda akibat perlakuan Dimas.
Sampai di rumah keluarga Dimas, ia segera berkeliling sejenak.
"Koper kamu udah aku taruh di kamar" ucap Dimas dari lantai dua saat melihat Melia yang sibuk melihat-lihat.
Melia mengangguk dan menyusul Dimas naik ke lantai dua.
"Aku punya kamar sendiri?" tanya Melia nampak antusias, ia mengira koper nya akan di taruh di kamar tamu yang ada di bawah.
Dimas menggeleng. "Itu kamar ku" jawab Dimas langsung berbalik menuju ruang istirahat, ia ingin tidur agar lelah nya hilang.
Melia melongo kemudian mengikuti Dimas yang masuk ke dalam satu kamar yang terbuka.
Tak ada foto atau lukisan, hanya warna monokrom yang identik dengan kepribadian Dimas.
"Terus Kakak tidur dimana?" tanya Melia saat Dimas menghadap nya dengan mata sayu.
Dimas menghela napas pelan. "Mau nya tidur satu kasur sama kamu, tapi aku masih punya otak buat nggak macam-macam sebelum waktu nya" bisik Dimas sebelum pergi dari hadapan Melia.
Deg
Melia terdiam dengan wajah cengo nya setelah mendengar bisikan Dimas, ia bahkan tak menyadari Dimas sudah tak di tempat lagi.
Glek
"Tadi dia bilang apa.." gumam Melia dengan napas tersengal-sengal karena melupakan untuk bernapas saking syok nya.
...****************...
Siang nya, Melia bangun dari tidur nyenyak nya. Lalu bersiap-siap untuk ke kampus mengkonfirmasi bahwa ia akan berkuliah di kampus impian nya itu.
"Nggak nyangka bisa ke Belanda" lirih nya dengan tatapan kagum pada pemandangan sekitar saat mata nya menatap ke arah jendela.
Tok tok tok
Melia menoleh ke belakang lalu berjalan dengan terburu-buru ke arah pintu untuk membuka nya.
"Ya?" seru Melia langsung menyembulkan kepala nya, seperti biasa yang ia lakukan di rumah.
Dimas menggaruk tengkuk nya karena melihat tingkah Melia yang begitu menggemaskan.
"Makan dulu, biar ku antar ke kampus" ucap Dimas di angguki Melia yang langsung membuka pintu lebar.
"Habis dari kampus boleh jalan-jalan dulu?" tanya Melia sembari menuruni tangga bersama Dimas di belakang nya.
"Mau kemana?" tanya Dimas dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana nya.
"Ya jalan-jalan aja gitu, biar aku tau tempat-tempat bagus di Rotterdam" jawab Melia sembari berputar dan melangkah mundur agar ia bisa menatap Dimas.
Dimas dengan sigap memegang tangan Melia agar gadis nya itu tidak jatuh, apalagi mereka masih berada di tangga.
"Liat depan Lia" tegur Dimas membuat Melia mengerucutkan bibir nya dan berbalik.
"Iya, tapi kamu tau sendiri kan Rotterdam kurang banyak wisata nya. Nggak kayak di Amsterdam" ucap Dimas saat sudah di anak tangga paling akhir.
Melia kembali berbalik dengan wajah sumringah. "Bagus dong, jadi nggak perlu seharian buat menjelajah" balas Melia kemudian langsung berlari kecil ke arah meja makan.
Dimas terkekeh di sertai gelengan kepala pelan. "Nggak harus hari ini, kamu bakal kuliah di sini, jadi bisa kapan aja" ujar Dimas sembari menyediakan piring bersih untuk Melia.
Dimas begitu memperhatikan semua yang ia berikan pada Melia, tanpa di suruh atau di pinta sedikitpun.
Melia nampak berpikir. "Iya juga ya, urus penerimaan mahasiswa aja belum tentu sebentar, besok udah harus pulang lagi" keluh Melia di akhiri helaan napas berat.
Dimas tersenyum tipis. "Eet ze" ucap Dimas mengucapkan kata selamat makan sembari menyodorkan sepiring nasi goreng di tambah telur omelette.
"Aku perlu belajar bahasa Belanda dari Kakak" ucap Melia sebelum menyuapkan nasi beserta omelette ke dalam mulut nya.
Dimas tersenyum kemudian melahap makanan bagian nya juga. "Kamu akan terbiasa dengan bahasa Belanda" sahut Dimas di angguki Melia yang sibuk mengunyah.
"Tasty" puji Melia dengan satu jempol di tambah senyuman manis.
Dimas mengangguk. "Fokus makan dulu, jangan ngomong" tegur Dimas membuat Melia menurut.
Usai makan, kedua nya bekerja sama membersihkan piring-piring dan alat-alat lain nya.
"Kamu udah mandi?" tanya Dimas saat Melia sedang mencuci piring di wastafel.
Melia terhenyak saat mendengar pertanyaan Dimas yang tiba-tiba dari arah belakang, bahkan Dimas benar-benar ada di belakang nya dengan kedua tangan mengunci pergerakan nya.
Melia mengangguk kaku, lidah nya kelu karena terlalu gugup.
"Kalau gitu tunggu, aku mandi dulu. Ku tinggal mandi nggak papa?" ucap Dimas di angguki Melia lagi.
Dimas ikut mengangguk lalu berbalik pergi dari dapur untuk bersiap-siap menemani Melia ke kampus.
Akhirnya Melia dapat bernapas lega, masih terasa di pundak nya napas Dimas yang hangat dan berbau mint itu menerpa membuat tubuh nya meremang.
"Sadar Lia sadar! Dia calon suami orang lain, jangan tergoda" tegur Melia kemudian kembali mencoba fokus mencuci piring yang tinggal satu di tangan nya.
buat yg vote, like, komen, dan meraih peringkat 1 akan aku kasih hadiah kecil-kecilan buat nambah semangat kalian supaya rajin ngegift hehe🤭