NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Lampion Merah dan Darah di Gang Sempit

Bab 9: Lampion Merah dan Darah di Gang Sempit

Kota Raja Wilwatikta adalah jantung dari Kekaisaran Arcapada. Kota ini tidak pernah tidur. Di siang hari, ia adalah pusat perdagangan tempat rempah-rempah dari timur dan sutra dari utara bertukar tangan. Di malam hari, ia berubah menjadi lautan cahaya dan dosa.

Malam ini adalah malam Festival Lampion Seribu Harapan.

Sungai Brantas yang membelah kota dipenuhi oleh ribuan lampion teratai yang hanyut perlahan, membawa doa-doa penduduk kota. Di langit, kembang api meledak silih berganti, mewarnai awan malam dengan percikan merah, hijau, dan emas.

Di jalanan utama, manusia berdesak-desakan seperti semut. Pedagang kaki lima berteriak menjajakan sate lilit, tuak manis, dan topeng mainan. Suara gamelan jalanan beradu dengan gelak tawa dan tangisan bayi.

Bara berjalan menyusuri keramaian itu dengan tudung jubah kumuh menutupi kepalanya. Ia tidak menyukai keramaian. Bagi seseorang yang membawa Bencana Alam di dalam dadanya, kerumunan manusia adalah bom waktu.

"Banyak sekali manusia," keluh Garuda, suaranya terdengar pusing di kepala Bara. "Bau keringat mereka membuatku mual. Kapan kita bakar tempat ini?"

"Tahan nafsumu, Burung Tua," balas Bara sambil menyelip di antara dua pedagang kain. "Kita di sini untuk bisnis, bukan pembantaian."

Bara berhenti di depan sebuah bangunan kayu bertingkat tiga yang terlihat elegan dan tenang, kontras dengan pasar malam di sekelilingnya.

Kedai Teh Teratai Putih.

Tempat ini eksklusif. Hanya bangsawan dan pendekar tingkat Wira Sukma ke atas yang boleh masuk. Penjaga di depan pintu—dua orang bertubuh kekar dengan gada besi—menatap Bara dengan pandangan merendahkan.

"Tempat ini bukan untuk pengemis, Nak. Pergi cari makan di tong sampah belakang," usir salah satu penjaga.

Bara tidak marah. Ia hanya merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah keping logam perak dengan ukiran ombak.

Lambang tamu kehormatan Wangsa Tirtamaya.

Mata penjaga itu membelalak. Keringat dingin langsung muncul di pelipisnya. Keping perak itu hanya diberikan oleh anggota inti keluarga Tirtamaya.

"M-maafkan kelancangan hamba, Tuan!" Penjaga itu membungkuk dalam-dalam, gemetar. "Silakan masuk. Ruangan VVIP Seruni di lantai tiga sudah disiapkan."

Bara menyimpan kembali keping itu dan melangkah masuk.

"Kekuasaan memang kunci pintu yang paling efektif," batin Bara sinis.

Dia menaiki tangga kayu jati yang dipoles mengkilap. Aroma teh melati dan dupa cendana semakin kuat di lantai atas. Di Lantai 3, suasana sangat sunyi dan privat.

Bara membuka pintu geser ruangan Seruni.

Di dalam, duduk di tepi balkon yang menghadap langsung ke sungai lampion, adalah Rara Anjani.

Gadis itu... terlihat berbeda. Dia tidak mengenakan seragam perguruan ataupun gaun pesta mewah. Dia mengenakan Kebaya Encim¹ berwarna putih tulang dengan selendang biru muda yang disampirkan longgar di bahu. Rambutnya digelung sederhana, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai wajah cantiknya.

Tanpa makeup tebal, tanpa mahkota. Dia terlihat seperti gadis biasa yang sedang menikmati pemandangan malam.

"Kau datang," sapa Anjani tanpa menoleh, menyesap teh dari cawan kecil.

Bara melepas tudung kepalanya, lalu duduk di kursi rotan di hadapan Anjani. Dia langsung mengambil teko dan menuang teh untuk dirinya sendiri tanpa basa-basi.

"Teh Oolong dari Pegunungan Kabut," komentar Bara setelah menyesapnya. "Mahal. Satu cangkir ini setara gaji pelayan selama sebulan."

Anjani tersenyum tipis, meletakkan cawannya. "Kau tidak cocok bicara soal gaji pelayan, Bara. Kau baru saja membuat dua penjaga pintu di bawah hampir terkencing di celana."

"Hanya meminjam wibawamu," Bara meletakkan cawan itu. "Jadi? Apa 'sesuatu' yang kau janjikan itu? Aku tidak punya banyak waktu sebelum jam malam asrama berlaku."

Anjani merogoh tas kain sutra di sampingnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak kayu hitam kecil dan mendorongnya ke arah Bara.

Bara membuka kotak itu.

Matanya yang biasanya tenang, sedikit membesar karena terkejut.

Di dalam kotak itu, tergeletak sebongkah logam seukuran kepalan tangan. Warnanya hitam pekat, tidak memantulkan cahaya, tapi permukaannya berpori-pori seperti batu karang.

Batu Meteorit Hitam (Wesi Winge).²

"Ini..." Bara menyentuh batu itu. Dingin. Sangat dingin. Tapi ada energi kosmik yang padat di dalamnya.

"Sisa dari penempaan pedang ayahku," jelas Anjani. "Itu logam dari bintang jatuh. Sangat keras, tahan panas ekstrem, dan bisa menyalurkan Prana lima kali lebih baik daripada baja biasa. Aku pikir... kujang karatmu itu butuh sedikit perbaikan."

Bara menatap Anjani. Hadiah ini nilainya fantastis. Di pasar lelang, batu sekecil ini bisa ditukar dengan satu desa.

"Kenapa?" tanya Bara singkat.

"Anggap saja investasi," Anjani menopang dagu dengan tangannya, menatap Bara lekat. "Kujangmu retak saat melawan Arya, kan? Dan semakin retak saat melawan Ular Sanca. Jika kau bertarung lagi dengan kekuatan penuh, senjata itu akan hancur. Dan kalau kau mati karena senjatamu patah... investasiku rugi."

Bara menutup kotak itu dan menyimpannya ke balik bajunya.

"Kau pebisnis yang handal, Nimas," ucap Bara tulus. "Terima kasih. Aku akan menggunakannya dengan baik."

"Bagus. Sekarang..." Anjani berdiri, merapikan selendangnya. "Temani aku jalan-jalan. Aku bosan minum teh sendirian."

Bara mengerutkan kening. "Jalan-jalan? Di luar sana banyak mata-mata, Anjani. Kau cari mati?"

"Justru itu," mata Anjani berkilat nakal. "Aku ingin memancing mereka keluar. Dan aku butuh pengawal pribadi yang handal untuk memukul lalat-lalat itu."

Bara menghela napas panjang. "Wanita ini gila," keluhnya pada Garuda.

"Dia tipeku," kekeh Garuda.

Bara dan Anjani berjalan bersisian di tepian Sungai Brantas. Anjani memakai cadar tipis untuk menyamarkan identitasnya, tapi aura kecantikannya tetap menarik perhatian beberapa pemuda yang lewat.

Bara berjalan dengan sikap waspada, meski terlihat santai dengan tangan di saku.

"Kau tahu," kata Anjani sambil menunjuk kembang api yang meledak di langit. "Dulu waktu kecil, aku pikir kembang api itu adalah sihir. Ternyata itu cuma bubuk mesiu yang dibakar."

"Semua keajaiban akan hilang kalau kau tahu cara kerjanya," jawab Bara datar.

"Seperti kau?" Anjani melirik. "Semakin aku tahu tentangmu, semakin hilang misterinya?"

"Mungkin. Atau semakin kau tahu, semakin kau sadar betapa berbahayanya berada di dekatku."

Tiba-tiba, langkah Bara terhenti.

Mereka baru saja berbelok ke sebuah gang sempit yang dihiasi lampion merah redup. Gang ini sepi, jalan pintas menuju alun-alun kota.

"Ada apa?" tanya Anjani.

"Jangan melihat ke atas," bisik Bara, suaranya berubah dingin. "Terus berjalan. Tiga langkah lagi, miringkan kepalamu ke kiri."

Anjani percaya pada insting Bara. Dia terus berjalan. Satu. Dua. Tiga.

WUSH!

Anjani memiringkan kepalanya ke kiri.

Sebuah anak panah hitam melesat dalam kegelapan, melewati tempat di mana kepalanya berada sedetik yang lalu, dan menancap di tiang kayu di depannya. Anak panah itu bergetar, bulunya berwarna hitam legam.

"Serangan!" teriak Anjani, langsung memasang kuda-kuda. Hawa dingin menyelimuti tangannya.

Dari atap bangunan di kiri dan kanan gang, enam sosok berpakaian serba hitam melompat turun, mengepung mereka. Mereka tidak memakai lambang klan apapun. Ronin (Pendekar Tak Bertuan) atau pembunuh bayaran.

"Serahkan gadis itu," ucap pemimpin pembunuh itu dengan suara parau. Pedangnya terhunus, memancarkan aura hijau beracun. "Dan kau, Pelayan, boleh pergi jika ingin hidup."

Bara berdiri di depan Anjani. Dia tidak mencabut Kujang-nya.

"Kalian merusak kencanku," kata Bara, nadanya terdengar kesal. "Padahal aku baru saja mau beli sate kelinci."

"Bunuh pelayan itu!" perintah si pemimpin.

Dua pembunuh menerjang Bara. Gerakan mereka cepat, setara Wira Sukma tahap awal. Pedang mereka mengincar leher dan jantung.

Bara tidak mundur. Dia maju.

Langkahnya aneh. Seolah-olah dia tergelincir, tapi tubuhnya meliuk menghindari tebasan pedang pertama dengan jarak hanya satu milimeter.

Saat dia berada di samping pembunuh pertama, Bara menyentakkan bahunya (Shoulder Check).

BUK!

Hantaman bahu Bara yang diperkuat tenaga fisik murni (Raga Besi) mengenai dada si pembunuh. Terdengar bunyi tulang rusuk remuk. Pembunuh itu terlempar menabrak tembok dan muntah darah.

Pembunuh kedua menusuk dari belakang.

Bara tidak menoleh. Dia menangkap pergelangan tangan si pembunuh dengan tangan kiri, lalu memutar tubuhnya.

KRAK!

Lengan si pembunuh dipatahkan. Bara menarik tubuh si pembunuh, menjadikannya tameng hidup untuk menahan shuriken (bintang ninja) yang dilempar oleh teman-temannya yang lain.

"Argh!" Pembunuh kedua tewas tertancap senjata temannya sendiri.

Dalam hitungan lima detik, dua musuh tumbang.

Empat pembunuh yang tersisa, termasuk si pemimpin, tertegun.

"Dia bukan pelayan biasa!" teriak pemimpin itu. "Gunakan Formasi Jaring Laba-laba!"

Keempat pembunuh itu melemparkan jaring kawat tipis yang dialiri listrik Prana ke arah Bara dan Anjani.

"Anjani, tunduk!" perintah Bara.

Anjani menunduk. Bara melompat vertikal, kakinya menendang dinding gang, membawanya terbang ke atas jaring-jaring itu.

Di udara, Bara merogoh sakunya. Dia mengambil segenggam koin tembaga kembalian beli teh tadi.

Dengan jentikan jari yang diperkuat tenaga dalam, dia menembakkan koin-koin itu seperti peluru.

"Teknik Rahasia: Hujan Uang Maut."

Tring! Tring! Tring!

Koin-koin itu melesat secepat peluru, menghantam titik-titik vital di pergelangan tangan dan lutut para pembunuh.

"ARGH!"

Tiga pembunuh jatuh berlutut, senjata mereka terlepas. Koin tembaga itu tertanam di daging mereka.

Tinggal si pemimpin. Dia menyadari targetnya terlalu kuat. Dia berbalik hendak lari memanjat tembok.

"Kau mau kemana?"

Suara Bara terdengar tepat di belakang telinganya.

Pemimpin itu menoleh dengan horor. Kapan Bara mendarat?

Bara mencengkeram leher baju si pemimpin, lalu membantingnya ke tanah berbatu.

GEDEBUK!

Pemimpin itu mengerang, tulang punggungnya terasa mau patah. Saat dia membuka mata, dia melihat ujung Kujang berkarat menempel di jakunnya.

"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Bara dingin. "Wangsa Agnimara? Atau Bayu Aji?"

Pemimpin itu meludah, darah mengenai sepatu Bara. "Heh... kau pikir aku akan bicara? Kami Gagak Hitam lebih memilih mati daripada—"

Tiba-tiba, tubuh pemimpin itu kejang-kejang. Wajahnya membiru, busa keluar dari mulutnya.

"Racun bunuh diri," desis Anjani yang sudah berdiri di samping Bara. "Dia menggigit kapsul racun di giginya."

Bara menarik Kujang-nya. "Profesional. Mereka bukan preman pasar."

Anjani memeriksa mayat-mayat itu. Dia merobek baju salah satu mayat di bagian bahu. Tidak ada tato. Tapi di bagian dalam kerah baju pemimpin itu, Anjani menemukan sebuah bordiran kecil benang merah.

Gambar kalajengking.

"Kalajengking Merah," wajah Anjani memucat. "Ini bukan Agnimara. Ini organisasi bayaran dari luar benua. Seseorang membayar mahal untuk kepalaku."

Bara menatap mayat-mayat itu dengan tatapan kalkulatif. Organisasi luar benua? Ini memperumit masalah.

"Kita harus pergi," kata Bara. "Mayat-mayat ini akan menarik perhatian patroli kota. Dan aku tidak mau menjelaskan kenapa seorang pelayan membunuh lima pembunuh profesional dengan uang receh."

Mereka berdua berlari meninggalkan gang itu, menghilang kembali ke dalam keramaian festival.

Nimas Sekar menyaksikan seluruh kejadian itu dari atap menara pandang yang jauh. Dia tidak sendirian. Di sampingnya, berdiri seorang pria berjubah hijau tua dengan aura yang menyatu dengan angin.

Itu adalah Ki Bayu, salah satu komandan elit Wangsa Bayu Aji.

"Kau lihat itu, Paman?" tanya Sekar. "Teknik melempar koin itu..."

"Presisi yang mengerikan," komentar Ki Bayu. "Dia tidak menggunakan banyak Prana. Dia murni mengandalkan kekuatan jari dan mata yang tajam. Anak itu... dia dilatih untuk membunuh sejak lahir."

"Apa kita akan mendekatinya sekarang?"

"Tidak," Ki Bayu menggeleng. "Kalajengking Merah sudah bergerak. Itu artinya ada pihak ketiga yang ingin mengacaukan keseimbangan Catur Wangsa. Biarkan Bara dan Anjani menjadi umpan untuk memancing dalang di balik Kalajengking Merah."

Ki Bayu menatap sosok Bara yang menjauh.

"Lindungi dia dari jauh, Sekar. Tapi jangan sampai ketahuan. Dia aset yang terlalu berharga untuk mati di tangan orang asing."

"Siap, Paman."

Menjelang tengah malam, Bara dan Anjani sampai di gerbang belakang perguruan.

"Aku akan lewat jalur rahasia air," kata Anjani. "Kau lewat mana?"

"Aku punya jalanku sendiri," jawab Bara.

Mereka berdiri berhadapan sejenak di bawah sinar bulan. Suasana canggung, tapi ada ikatan kepercayaan yang baru saja terbentuk melalui pertarungan darah.

"Terima kasih, Bara," ucap Anjani pelan. "Untuk malam ini. Dan untuk menyelamatkanku tadi."

"Itu sudah termasuk dalam paket 'investasi' batumu," jawab Bara sambil menepuk dada tempat batu meteorit itu disimpan.

Anjani tertawa kecil. Tawa yang renyah dan tulus, tanpa beban seorang putri.

"Kau tahu... kau lumayan tampan kalau tidak sedang memasang wajah bodoh."

Sebelum Bara sempat membalas, Anjani sudah melompat, tubuhnya berubah menjadi kabut air dan menghilang menembus celah gerbang.

Bara menggelengkan kepala, tersenyum tipis.

"Hati-hati, Mitra," peringatkan Garuda. "Jangan jatuh cinta. Cinta itu racun paling mematikan bagi wadah sepertimu. Ingat apa yang terjadi pada leluhurmu."

"Aku tahu," jawab Bara dalam hati, senyumnya menghilang digantikan tatapan dingin. "Aku tidak mencari cinta. Aku mencari sekutu. Dan dia... adalah sekutu yang kuat."

Bara memanjat tembok perguruan dengan lincah. Dia harus segera menemui Ki Awan. Dia butuh tempat menempa (Smithy) rahasia. Batu meteorit ini harus segera disatukan dengan Kujang Si Sulung dan Si Bungsu sebelum perang yang sebenarnya dimulai.

Di kejauhan, lampion terakhir di Kota Raja padam ditiup angin, menandakan berakhirnya festival, dan dimulainya permainan bayangan yang lebih gelap.

Glosarium & Catatan Kaki Bab 9

Kebaya Encim: Jenis kebaya dengan potongan lebih modern dan warna cerah, biasanya dipengaruhi budaya peranakan Tionghoa-Nusantara. Memberikan kesan elegan namun santai.

Wesi Winge (Besi Wingit): Istilah untuk besi bertuah atau logam meteorit yang dianggap keramat dalam budaya perkerisan Jawa. Biasanya digunakan sebagai bahan pamor keris.

Kalajengking Merah: Organisasi pembunuh bayaran internasional (luar benua Arcapada) yang dikenal menggunakan racun syaraf. Kemunculan mereka menandakan konflik skala global mulai masuk ke wilayah lokal.

Ronin: Istilah serapan (Jepang) untuk samurai tak bertuan. Di sini digunakan untuk menggambarkan pendekar kelana yang tidak terikat pada sekte atau klan manapun, biasanya bekerja demi uang.

1
Panda
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!