Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Tak Terduga
Ayub memasang kuda-kuda. Sebagai mahasiswa pendidikan olahraga yang mendalami karate dan Muay Thai sejak kecil, ia tahu ia kalah jumlah, tapi ia tidak punya pilihan.
"Habisi dia! Jangan biarkan wajah tampannya itu masih utuh!" perintah Sheila sambil kembali duduk di sebelah Livia, seolah ingin menonton pertunjukan sirkus.
Dua pria pertama menyerang bersamaan. Ayub menghindar dengan gerakan slip yang lincah, lalu melayangkan sebuah low kick yang telak ke arah paha lawan, disusul dengan pukulan gyaku-tsuki yang menghantam ulu hati pria kedua. Suara tulang yang beradu dengan daging terdengar nyata.
Namun, empat pria lainnya segera mengepung. Ayub terkena pukulan di rahangnya, membuatnya tersungkur ke atas lantai semen yang kasar.
"Ayub! Pergi! Selamatkan dirimu!" teriak Livia dengan sisa tenaganya. Air mata mengalir deras di pipinya, melihat pemuda yang baru dikenalnya itu mempertaruhkan nyawa demi dirinya.
Ayub meludah darah. Ia bangkit kembali dengan tatapan yang lebih gelap. Menggunakan teknik Muay Thai, ia menarik kepala salah satu pria dan menghantamnya dengan lutut (knee strike) tepat di wajah. Satu lawan tumbang dengan hidung hancur. Namun, kelelahan mulai menyerang. Ayub jatuh tersungkur untuk kedua kalinya setelah sebuah tendangan mendarat di punggungnya.
"Bangun, Pahlawan! Ayo bangun!" Sheila bersorak kegirangan, bertepuk tangan seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. "Hahaha! Ini sangat menghibur! Livia, lihat kekasih kecilmu ini dihancurkan!"
****
Ayub kembali bangkit. Dengan sisa tenaga, ia melakukan roundhouse kick yang menjatuhkan pria keempat. Namun, saat ia sedang fokus menahan serangan dari depan, salah satu anak buah Sheila yang paling besar mengendap-endap di belakangnya.
Sebuah balok kayu sisa konstruksi diayunkan dengan kekuatan penuh.
BUGH!
Balok itu menghantam belakang kepala Ayub. Suara benturan itu begitu keras hingga Livia menjerit histeris. Pandangan Ayub mendadak kabur. Dunia di matanya berputar, dan kakinya yang kokoh kini terasa seperti jeli. Ia jatuh berlutut, lalu tersungkur mencium debu.
"Tidak! Ayub!" Livia meronta sejadi-jadinya, hingga kursi kayu yang mengikatnya berderak hampir patah.
Dua anak buah Sheila menjambak rambut Ayub, memaksa pemuda yang setengah sadar itu untuk berlutut menghadap Sheila dan Livia. Darah segar mengalir dari belakang kepalanya, membasahi jaket olahraganya.
Sheila melangkah mendekat, berjongkok di depan Ayub yang napasnya satu-satu. Ia meraih dagu Ayub, memaksa pemuda itu menatap matanya yang gila. "Kamu sudah kalah, Ayub. Kamu pikir kekuatan ototmu bisa mengalahkan kegilaanku? Hahahaha!"
Sheila tertawa histeris, tawa yang penuh dengan kemenangan setan. Ia menoleh ke arah Livia yang sedang menangis tersedu-sedu. "Lihat, Liv? Orang yang mencoba menolongmu sekarang sekarat. Ini semua salahmu!"
****
Sementara itu, di Rumah Sakit Medika, Attar Pangestu tidak bisa duduk tenang. Ia berjalan mondar-mandir di ruang inap VVIP, mengabaikan tatapan tajam ayahnya. Hatinya tidak tenang. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Livia yang ketakutan.
Ia berkali-kali mencoba menghubungi nomor Sheila untuk mengancamnya agar memberitahu di mana Livia, namun Sheila tidak mengangkat. Attar mulai merasa ada yang sangat salah. Sheila yang ia kenal adalah wanita yang posesif dan nekat.
"Pa... perasaanku tidak enak," ucap Attar pada Hilman. "Livia belum bisa dihubungi sejak tadi pagi. Sheila juga menghilang. Aku takut Sheila melakukan sesuatu yang gila."
Hilman menatap putranya, lalu beralih pada istrinya yang masih terlelap. "Cari dia, Attar. Gunakan semua koneksimu. Jika terjadi sesuatu pada Livia, aku sendiri yang akan memastikan kamu tidak akan pernah mendapat ampunan dariku atau Tuhan."
Attar segera berlari keluar dari ruangan. Ia menghubungi seorang kenalannya di kepolisian untuk melacak posisi terakhir ponsel Livia dan mobil merah Sheila. Di dalam mobilnya, Attar memukul setir dengan frustrasi. "Maafkan aku, Livia... tolong bertahanlah," bisiknya penuh penyesalan.
****
Di gudang, Sheila mengambil pisaunya lagi. Ia mengarahkan ujung pisau yang tajam ke arah leher Ayub yang sudah tak berdaya.
"Haruskah aku menyelesaikannya sekarang? Atau haruskah aku membiarkan dia melihatmu menderita dulu, Livia?" tanya Sheila dengan nada yang sangat gembira, seolah sedang menanyakan menu makan malam.
Livia menggelengkan kepalanya dengan cepat, suaranya sudah hilang karena terlalu banyak menjerit. Di tengah kesadarannya yang mulai menghilang, Ayub berusaha menggerakkan jarinya. Ia masih hidup, dan api di matanya belum sepenuhnya padam, meski tubuhnya sudah di ambang batas.
****
Lampu indikator di ruang VVIP Rumah Sakit Medika mendadak berkedip merah disertai bunyi alarm yang melengking, memecah keheningan yang baru saja menyelimuti keluarga Pangestu. Hilman yang tadinya duduk termenung di sisi ranjang, langsung berdiri dengan jantung yang seolah berhenti berdetak.
"Suster! Dokter!" teriak Hilman parau.
Dalam hitungan detik, pintu ruangan terbuka kasar. Seorang dokter spesialis jantung diikuti dua perawat berlarian masuk dengan membawa peralatan darurat. Wajah Rahmi yang semula tenang kini tampak membiru, napasnya tersengal pendek-pendek sementara monitor EKG menunjukkan grafik yang sangat kacau.
"Tekanan darah turun drastis! Siapkan defibrilator!" perintah dokter dengan suara tegas dan cepat.
Hilman terpaksa didorong mundur oleh salah satu suster. "Mohon tunggu di luar, Pak. Kami harus melakukan tindakan segera."
Di luar ruangan, Hilman menyandarkan punggungnya ke dinding koridor yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap langit-langit, bergumam memanjatkan doa yang tak putus-putus. Kehancuran keluarganya seolah belum cukup; kini nyawa belahan jiwanya kembali berada di ujung tanduk.
****
Di gudang tua yang pengap, suasana justru semakin mencekam. Ayub masih berlutut dengan kepala tertunduk, darah dari luka di belakang kepalanya mulai mengering di lehernya. Sheila berdiri di hadapannya, menimang pisau lipat dengan tatapan yang benar-benar gila.
"Kamu sudah tamat, Bocah," desis Sheila. Ia melirik Livia yang sudah lemas karena terlalu banyak menangis. "Lihat, Liv. Pahlawanmu sebentar lagi akan menjadi mayat."
Namun, di balik kelopak matanya yang terpejam, Ayub sedang melakukan sesuatu yang tidak disadari Sheila. Sebagai atlet, ia dilatih untuk mengontrol rasa sakit dan memusatkan energi pada satu titik ledak. Ia mengatur napasnya yang pendek, mengumpulkan sisa adrenalin yang masih tersisa di pembuluh darahnya.
Satu... dua...
Tepat saat Sheila hendak mengarahkan pisau itu ke bahu Ayub sebagai bentuk siksaan baru, Ayub membuka matanya. Sorot matanya bukan lagi sorot mata orang yang kalah, melainkan kilat kemarahan yang murni.
"HAAARGH!"
Dengan satu gerakan eksplosif yang tak terduga, Ayub menyentakkan tubuhnya. Dua pria yang memegangi bahunya tak siap dengan tenaga sebesar itu. Ayub melakukan headbutt ke belakang, menghantam hidung salah satu penjaga, lalu dengan cepat ia memutar tubuhnya dan melancarkan tendangan memutar—crescent kick—yang tepat sasaran menghantam tangan Sheila.
TRANG!
Pisau lipat itu terpental jauh, jatuh ke tumpukan kayu bekas di sudut gudang. Sheila terbelalak, wajah cantiknya berubah menjadi topeng kemarahan yang luar biasa.
"Kurang ajar! Habisi dia! Kenapa kalian diam saja?!" teriak Sheila murka.
Namun Ayub jauh lebih cepat. Meski kepalanya masih terasa berputar, ia berhasil melumpuhkan satu penjaga lagi dengan pukulan upper-cut yang telak. Melihat anak buahnya kewalahan dan pahlawannya bangkit, Sheila kehilangan akal sehatnya sepenuhnya. Ia tidak lari. Ia justru menerjang Ayub seperti binatang buas.
Sheila melompat ke arah Ayub, jemarinya yang berkuku panjang dan runcing langsung mencengkeram leher pemuda itu. Ia menindih Ayub hingga mereka berdua terjatuh ke lantai semen yang kotor. Kekuatan Sheila saat itu seperti kekuatan orang kerasukan—tidak masuk akal dan penuh energi gelap.
"Mati kamu! Mati! Kenapa kamu tidak mati saja?!" teriak Sheila tepat di depan wajah Ayub.