Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Momen di Aula
Suatu sore, Aruna tertahan di Aula karena tugas tambahan mendekorasi panggung pentas seni yang belum selesai, ia seperti kesulitan menempatkan bagian bagian tertentu, membuatnya Frustasi.
- Aduh gimana sih ini, mana harus beres hari ini lagi. Aruna mengomel.
Seperti biasa, setiap hari. Faisal selalu mencari keberadaan Aruna, bukan untuk mengajaknya kencan romantis. Melainkan untuk mengganggu waktu luangnya. Namun, dibalik gangguan itu, perlahan ada retakan di tembok kokoh yang dibangun Aruna. Faisal tak pernah mengijinkan siapapun menyentuh apalagi mengganggu Aruna. Ia membentuk semacam perisai tak terlihat disekitar Aruna.
Pintu Aula terbuka, Faisal memasuki Aula dengan langkah pelan agar tak mengacaukan suasana. Tetapi suara langkahnya terdengar oleh beberapa teman Aruna yang langsung menyadari keberadaan Faisal.
" Aku cari kemana mana, ternyata masih disini." Faisal berjalan mendekat ke arah Aruna melihat cat minyak yang berceceran disekitarnya.
" Lagi bikin apa? Abstrak? "
Aruna mendongak, matanya terlihat lelah.
" Gausah mulai deh kak, ini aku lagi mikirin pola buat pemandangan, tapi bingung harus mulai darimana."
Faisal mengamati banner kosong itu, dengan tangan yang diketahui banyak orang biasa dipakai untuk memukul atau sekedar berkelahi. Dengan lembut ia mengambil kuas dan mulai menggambar situasi pedesaan di kaki gunung.
" Kak, serius. Jangan becanda, ini tugas serius."
Faisal menoleh selama beberapa detik, lalu melanjutkan lukisannya.
Setelah beberapa lama.
"Nih udah beres, tinggal kamu tambahin detailnya. " Ucap Faisal sambil mengusap keringat yang menetes di dahinya.
Aruna terdiam. Ia tak terlalu memperdulikan lukisannya, ia terpaku pada kelihaian Faisal dalam menggambar. Tangan itu, tangan yang biasanya digunakan untuk berkelahi, tadi terlihat gerakannya sangat hati hati. Ini kali pertama Faisal menunjukan fokus dan kesabaran pada sesuatu yang tidak berhubungan dengan kekacauan.
" Kak! Ini serius? Ini terlalu bagus untuk sekedar hiasan pentas....." Ucap Aruna sambil memperhatikan lukisan Faisal.
" Kenapa? Kamu pasti heran kan." potong Faisal. " Gausah heran, aku emang hobi menggambar."
Aruna membiarkan Faisal melanjutkan lukisannya untuk menutupi momen canggung itu.
" Makasih banget kak," Kata Aruna tulus, menatap hasil karya Faisal.
Teman temannya heboh tak menyangka Faisal akan melukis dengan serius.
Faisal hanya mengangguk, tetapi ia tak segera pergi. Ia duduk disamping Aruna, diam diam menemani nya menyelesaikan tugas lain. Kehadiran Faisal yang dulu adalah ancaman, kini berubah menjadi dukungan.
" Na, aku mau ngomong sesuatu. Boleh? "
" Ngomong aja kak." jawab Aruna.
" ga jadi deh, nanti aja."
Aruna mengerutkan kening, dibalas dengan senyuman oleh Faisal.
......
Dua hari kemudian, giliran Aruna yang membuat langkah kecil. Faisal tak terlihat di lingkungan sekolah. Pulang sekolah, alih alih langsung pulang, Aruna menyempatkan untuk pergi warung belakang sekolah yang terkenal sebagai markas SHADOW VIPERS , Ia membawa tas yang berisi buku catatannya.
Faisal terkejut melihat Aruna berdiri kaku di gang kotor yang berisik dan penuh sampah berserakan.
" Kamu ngapain kesini, Na?" Tanya Faisal.
Aruna berjalan kearahnya, berhenti dijarak aman. " Aku sengaja kesini, kak. Soalnya tadi disekolah aku ga liat kakak."
Faisal menatapnya tak percaya.
" Apa? Kamu kesini cuman buat nyari aku? Ada apa emang? Ada yang gangguin kamu tadi disekolah?"
" Ya, aneh aja. biasanya kan kakak yang suka gangguin aku, tapi hari ini ga ada. Aku kira kakak sakit."
" Ngga ko, aku gapapa. Lain kali kamu gausah nyari aku. Itu tugas aku, biar aku yang nyari kamu."
Faisal memejamkan mata selama beberapa saat. Sudah bertahun tahun ia hanya menerima hukuman dan cacian. jarang sekali mendapat perhatian, hingga kini Faisal mendapatkan sentuhan perhatian yang tak menuntut balasan, ia merasa asing. Walau sedikit menghangatkan.
Faisal menatap Aruna, sorot matanya lembut.
" Lain kali, gausah repot repot nyari aku ya. harusnya aku yang nyari kamu, biasanya kan juga gitu." Suaranya sangat pelan.
Aruna hanya membalas dengan senyuman penuh arti.
" Pulang sekarang,Na. Ini bukan tempat kamu." Perintah Faisal.
" Aku bisa jaga diri kak." balas Aruna.
Faisal menggelengkan kepala, Ia mengulurkan tangan. Kali ini bukan untuk usil, melainkan untuk melindungi. " Aku antar sampai gerbang ya. Biar semua orang tau. Mulai sekarang, kamu milik aku. Biar semua orang yang mau ganggu kamu ngerasa segan, karena ada aku dibelakang kamu."
Faisal tak menunggu jawaban, ia langsung menggandeng pergelangan tangan Aruna.
Saat mereka berjalan keluar dari kebisingan itu, Aruna tak menolak sentuhan itu. Ia merasakan sentuhan hangat dihatinya, ia tahu. Ada hati yang sedang berusaha keras untuk luluh, sebuah harapan yang membuahkan hasil ditengah pdkt yang tak biasa ini. Hubungan mereka kini sudah mengarah pada pengakuan publik, dan sentuhan pertama yang mengarah pada perlindungan.
" Yaudah kak, makasih ya. Kakak jangan pulang terlalu sore. Jangan lupa juga belajar. Aku duluan ya kak." Ucap Aruna sambil melangkah pergi.
" ARUNA! TUNGGU! " Teriak Faisal.
Faisal bergegas menghampiri Aruna, merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu.
" Ini, simpen. Buat kamu, sebagai tanda terima kasih karena udah khawatirin aku. " Faisal menyodorkan sebuah gantungan kunci berbentuk perahu, oleh oleh khas pantai.
" Ini buat aku kak? Ya ampun, bagus banget. Sekali lagi makasih ya kak."
Aruna melanjutkan langkahnya.
Faisal kembali ke warung di belakang sekolah. Disana beberapa temannya sudah berkumpul.
Yadi, " Kalian liat tuh kelakuan ketua kita, senyum senyum sendiri kaya orang gila." Yadi dan teman temannya tertawa.
" Ngetawain gue ya lu pada?" Tanya Faisal sambil melemparkan jaket parasut andalannya kearah Yadi.
" Lu mah sensian bos, orang kita lagi ngetawain Mang Ade. Iya ga mang?"
Mang Ade ( pemilik warung yang biasa dijadikan titik kumpul SHADOW VIPERS )
" Iya aja biar cepet."
" Kemana nih kita hari ini, masa cuman nongkrong disini." Ucap Yadi.
" Yelah di, mending lu cari cewe gih biar ga bosen. Eh lupa kan ga ada yang mau ya sama Lu." Faisal tertawa diikuti teman temannya.
" Eh bos, lu boleh hina gue sekarang. Tapi liat nanti gue bakal bawa cewe gue kesini."
"Kapan?" Faisal kembali tertawa melihat Yadi yang tak bisa menjawab.
" Eh bro, semuanya. Gue duluan ya, ada kerjaan nih dirumah." Ucap Faisal.
" Kerjaan apa kerjaan? " Yadi curiga.
" Mang Ade, titip nih orang gila ya, awas nanti lupa bayar dia."
" Aman atuh Sal, itu mah." balas Mang Ade.
" Yaudah bro gue duluan, nitip anak anak ya."
" Yaudah deh hati hati lu dijalannya, kalo ada apa apa telpon gue." ucap Yadi sambil menepuk nepuk pundak Faisal.
Faisal melangkah dengan penuh percaya diri, diiringi senyum kebahagiaan sepanjang jalan. Ia tahu ia tak boleh menunda nunda momen seperti ini, ia harus terus memperjuangkan Aruna sampai benar benar luluh.