"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Rumah Yang Sebenarnya Adalah Kamu
Hujan gerimis kembali turun membasahi bumi Jakarta saat mobil SUV Akbar berbelok mulus memasuki pelataran carport. Suara rintik air yang mengetuk atap mobil menciptakan irama yang menenangkan, seolah mengiringi detak jantung Hannah yang perlahan mulai berirama senada dengan suaminya.
Akbar mematikan mesin. Namun, seperti biasa, ia tidak langsung buru-buru keluar. Ia menoleh ke arah Hannah, memastikan istrinya siap.
"Tunggu sebentar ya, Dek. Mas ambil payung dulu di bagasi. Kamu jangan keluar dulu, nanti gamis kamu basah," ucap Akbar sigap.
Belum sempat Hannah menjawab, Akbar sudah menerobos gerimis, mengambil payung besar berwarna hitam dari bagasi, lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu di sisi Hannah.
Cklek.
Pintu terbuka. Akbar berdiri di sana, memegang payung dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya terulur untuk menyambut Hannah.
"Ayo, Tuan Putri," ajaknya dengan senyum teduh.
Hannah menyambut uluran tangan itu. Tangan Akbar besar, hangat, dan kasar. Tangan seorang pekerja keras. Namun genggamannya begitu lembut, seolah ia sedang memegang sayap kupu-kupu.
Mereka berjalan beriringan menuju pintu depan di bawah naungan payung yang sama. Akbar memiringkan payungnya dominan ke arah Hannah, membiarkan bahu kirinya sendiri terkena percikan air hujan, asalkan istrinya tetap kering.
Detail kecil itu tidak luput dari pengamatan Hannah.
Dulu, Hannah mungkin akan menganggap ini sebagai sikap gentleman biasa. Tapi malam ini, setelah "tamparan" di pengajian tadi, Hannah melihatnya sebagai manifestasi dari kesiapan Akbar menjadi seorang Qawwam (pemimpin/pelindung). Akbar tidak hanya siap secara finansial, tapi mentalnya sudah sepenuhnya terbentuk untuk melayani dan melindungi.
Sesampainya di dalam rumah, kehangatan langsung menyergap. Akbar meletakkan payung basah di tempatnya, mengunci pintu, lalu menyalakan lampu ruang tengah.
"Kamu mandi dulu gih, biar segar. Biar Mas yang siapin teh anget," suruh Akbar sambil melonggarkan dasinya. "Atau mau makan malam dulu?"
"Nanti aja makannya, Mas. Hannah mandi dulu," jawab Hannah.
Hannah masuk ke kamar, tapi ia tidak langsung mandi. Ia duduk di tepi ranjang, merenung sejenak. Ia melihat sekeliling kamar tidur mereka. Semuanya tertata rapi. Ada botol air minum yang selalu Akbar isi penuh di nakas sisi Hannah setiap malam. Ada sajadah yang selalu Akbar rapikan setelah sholat subuh jika Hannah buru-buru kuliah.
Mas Akbar... dia benar-benar sudah siap, batin Hannah.
Selama ini Hannah sibuk dengan ketidaksiapannya sendiri. Aku belum bisa masak, aku belum lulus kuliah, aku belum dewasa. Hannah sibuk melihat kekurangannya. Padahal di sebelahnya, ada sosok yang sudah selesai dengan dirinya sendiri dan siap menambal segala kekurangan Hannah.
Selesai mandi dan berganti pakaian tidur yang sopan namun wangi, Hannah keluar menuju ruang tengah. Aroma teh melati menguar di udara.
Akbar sedang duduk di sofa, menonton berita di TV dengan volume kecil. Di meja, sudah tersaji dua cangkir teh hangat dan toples kue kering.
Melihat Hannah datang, Akbar langsung menegakkan duduknya dan menepuk sisi sofa di sebelahnya.
"Sini, Dek. Tehnya keburu dingin."
Hannah duduk di samping Akbar. Jarak mereka dekat, lutut mereka hampir bersentuhan. Kali ini, Hannah tidak menggeser duduknya menjauh. Ia justru menyandarkan bahunya ke lengan kekar suaminya.
Akbar tampak sedikit terkejut dengan inisiatif fisik Hannah, namun ia langsung meresponnya dengan merangkul bahu istrinya, memberikan tempat ternyaman untuk bersandar.
"Mas..." panggil Hannah pelan, matanya menatap uap teh yang mengepul.
"Dalem, Sayang?"
"Hannah kagum sama Mas."
Akbar menunduk, menatap puncak kepala Hannah yang tertutup jilbab instan rumahan. "Kagum kenapa? Karena Mas ganteng?" candanya mencoba mencairkan suasana.
Hannah menggeleng, lalu mendongak menatap mata suaminya serius.
"Bukan. Ganteng itu bonus," jawab Hannah. "Hannah kagum karena Mas itu... Mas itu dewasa banget. Mas benar-benar sosok suami yang siap. Bukan cuma siap nikah, tapi siap ngurusin orang lain."
Hannah mengubah posisi duduknya sedikit agar bisa menatap wajah Akbar lebih leluasa.
"Bebeberapa bulan ini, Hannah nyusahin Mas terus. Hannah moody, Hannah sering nolak kalau diajak ngobrol serius, Hannah juga belum bisa ngelayanin Mas dengan bener. Tapi Mas nggak pernah sekalipun ngeluh. Mas nggak pernah bawa masalah kantor ke rumah. Mas selalu pulang dengan senyum, seolah-olah di rumah ini ada bidadari, padahal cuma ada Hannah yang cengeng."
Akbar tersenyum simpul, mendengarkan dengan sabar.
"Teman-teman Hannah yang nikah muda banyak yang curhat, Mas," lanjut Hannah. "Suami mereka masih suka main game sampai lupa waktu, masih suka nongkrong ninggalin istri, atau emosinya meledak-ledak kalau lagi capek kerja. Tapi Mas Akbar beda. Mas Akbar stabil banget. Mas Akbar bikin Hannah merasa aman."
Hannah meraih tangan Akbar, menggenggamnya dengan kedua tangan mungilnya.
"Sikap Mas yang sabar, yang nggak pernah nuntut hak Mas padahal Mas berhak... itu bikin Hannah sadar. Mas Akbar bukan cuma siap jadi suami, tapi Mas Akbar itu rumah."
Mata Hannah berkaca-kaca karena haru.
"Hannah ngerasa nyaman banget sama Mas. Dulu Hannah takut nikah karena takut dapet suami galak dan tidak memperbolehkan Hannah kuliah. Tapi ternyata Allah kasih Hannah suami yang selembut ini. Mas selalu bikin Hannah ngerasa berharga, bahkan saat Hannah ngerasa diri Hannah nggak ada harganya."
Akbar tertegun mendengar pujian panjang lebar itu. Ia tidak menyangka sikap diam dan sabarnya selama ini diperhatikan sedalam itu oleh Hannah. Baginya, itu hanyalah kewajiban standar seorang pria. Namun bagi Hannah, itu adalah dunia.
Akbar meletakkan cangkir tehnya, lalu menangkup wajah Hannah dengan kedua tangannya.
"Dek," suara Akbar terdengar berat dan dalam. "Mas jadi begini karena Mas sadar tanggung jawab Mas besar. Mas ngambil kamu dari Abah kamu dengan janji di hadapan Allah. Janji untuk memuliakan."
Akbar mengusap pipi Hannah dengan ibu jarinya.
"Mas mungkin terlihat siap dan dewasa di mata kamu. Tapi jujur, Mas juga belajar setiap hari. Mas belajar nahan ego, Mas belajar memahami kode-kode perempuan yang rumit," Akbar terkekeh pelan. "Dan alasan Mas bisa sabar itu cuma satu: karena Mas sayang kamu."
"Kalau kamu nyaman, itu berarti tujuan Mas tercapai. Karena bagi seorang suami, nggak ada pujian yang lebih tinggi daripada istrinya bilang: 'Aku merasa aman bersamamu'."
Hannah tersenyum manis, air matanya menetes satu. "Hannah aman, Mas. Sangat aman."
Suasana hening sejenak. Hanya suara hujan di luar yang mengisi kesunyian. Namun kali ini, kesunyian itu tidak canggung. Kesunyian itu penuh dengan rasa saling pengertian yang mendalam.
Hannah melepaskan tangan Akbar dari wajahnya, lalu ganti ia yang memeluk pinggang suaminya erat. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Akbar, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang dan kuat.
Di dalam pelukan itu, Hannah merasakan benteng pertahanan terakhirnya runtuh.
Tidak ada lagi rasa takut. Tidak ada lagi rasa asing.
Yang ada hanya keyakinan bahwa pria ini adalah tempatnya pulang. Bahwa menyerahkan dirinya kepada pria ini bukanlah sebuah pengorbanan atau kewajiban yang memberatkan, melainkan sebuah bentuk kepercayaan tertinggi.
"Mas..." bisik Hannah dari balik dada Akbar.
"Ya?"
"Terima kasih sudah bikin Hannah nyaman. Terima kasih sudah sabar nunggu Hannah siap."
"Sama-sama, Humaira."
"Mas lapar nggak?" tanya Hannah tiba-tiba, mengalihkan topik namun dengan nada yang berbeda. Lebih intim.
"Lumayan. Mau makan apa?"
"Nggak usah makan berat ya. Hannah suapin buah aja mau? Tadi Hannah potong mangga harum manis."
Akbar tersenyum. "Boleh."
Malam itu berlanjut dengan sederhana. Mereka makan buah sambil bercerita ringan. Namun di balik kesederhanaan itu, ada perubahan energi yang nyata.
Hannah melayani Akbar dengan lebih luwes. Tidak ada lagi kecanggungan saat tangan mereka bersentuhan. Tatapan mata Hannah tidak lagi lari saat Akbar menatapnya lama.
gapapa Annisa, yakinlah bahwa wanita baik untuk laki2 yg baik pula. jd tetap jaga hati hanya untuk sang Maha pemilik hati, agar hatimu tetap terjaga dari kekecewaan.😍
tetep semangat buat othor, jangan berhenti ditengah jalan yah 👍