Ye Fan adalah seorang psikopat yang menjadikan orang-orang jahat sebagai target eksekusinya. Ia menikmati perburuan tersebut tanpa rasa bersalah.
Sebelum kematiannya, Ye Fan menghabiskan waktu dengan sebuah game kultivasi yang menurutnya sangat menarik, karena di dalamnya ia bisa memburu dan membunuh para penjahat tanpa batas.
Namun, hidupnya berakhir ketika ia tewas ditembak polisi. Saat membuka mata kembali, Ye Fan mendapati dirinya telah bereinkarnasi ke dalam dunia kultivasi—dunia yang persis seperti game yang pernah ia mainkan, tempat hasrat lamanya kini dapat terwujud sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Eksekusi di Ambang Batas
Hening yang dingin menyelimuti ruangan sempit itu. Di tengah kegelapan, seorang pria meraih perangkat VR haptic dan memasangnya perlahan. Saat sensor menyentuh kulitnya, kesadarannya tersedot, terlempar jauh dari realitas menuju dunia yang penuh dengan aroma darah dan besi: Dunia Kultivasi.
"Tangkap iblis itu! Dia membantai seluruh Sekte Awan Biru tanpa sisa!"
Teriakan kemarahan memecah langit. Ribuan kultivator dari berbagai penjuru—mulai dari tetua beraliran putih yang suci, pendekar aliran hitam yang licik, hingga barisan biksu Shaolin—datang menyerbu dengan amarah yang meluap. Mereka bergerak bak ombak manusia menuju reruntuhan Sekte Awan Biru yang kini tak lebih dari lautan mayat dan genangan darah yang mengental.
Di tengah reruntuhan itu, seorang pria berambut putih berdiri tegak. Jubahnya yang semula bersih kini legam oleh darah yang masih hangat. Ia meludah ke samping, menatap remeh tumpukan mayat di bawah kakinya.
"Kukira Sekte Awan Biru adalah pilar kekuatan dunia ini," gumamnya, suaranya serak namun tajam. "Ternyata hanya sekumpulan lalat sombong yang hancur dalam sekali tebas."
"Serang!" pemimpin barisan berteriak. Ribuan senjata pusaka bersinar, mengincar nyawanya.
Pria itu, Ye Fan, justru menyeringai lebar. Pupil matanya bergetar karena kegilaan yang murni. Aura predator terpancar kuat dari gestur tubuhnya yang santai namun mematikan.
"Inilah yang tidak bisa kudapatkan di dunia nyata yang membosankan itu... sensasi memburu para bajingan!"
Ye Fan menerjang. Gerakannya bukan lagi seni bela diri, melainkan tarian kematian yang efisien. Dengan tangan kosong, ia merobek tenggorokan lawan, menghindar dari sabetan pedang dengan presisi milimeter, dan menghujamkan telapak tangannya menembus dada musuh hingga jantung mereka berhenti berdetak di tangannya.
[DING!]
[Skenario Selesai: Tingkat Penyelesaian 100%]
Pandangan Ye Fan menggelap. Ia melepas perangkat VR-nya dengan tangan yang gemetar karena sisa adrenalin. Saat penglihatannya kembali ke dunia nyata, pemandangan di depannya tidak jauh berbeda dengan di dalam game.
Apartemennya kacau balau. Bau amis darah asli menyeruak, lebih menyengat daripada simulasi mana pun.
"Lepaskan aku, sialan! Kau tidak tahu siapa aku?!" sebuah lengkingan ketakutan terdengar dari balik pintu kamar yang terbuka sedikit.
Ye Fan berdiri, melangkah tenang melewati genangan darah di lantai ruang tamunya. Di sudut kamar, seorang pria kurus dengan pakaian mahal tampak mengenaskan, terikat erat dengan tali nilon yang menyayat kulitnya. Mata pria itu melotot penuh kebencian sekaligus horor saat melihat Ye Fan mendekat.
"Dasar psikopat bangsat! Kenapa kau menculikku?!" teriaknya histeris.
Ye Fan tidak menjawab. Ia hanya mengambil sebuah amplop cokelat, lalu melemparkan beberapa lembar foto ke depan wajah pria itu. Foto-foto yang menangkap basah aksi bejat sang pria kurus.
"Aku tidak menculik orang sembarangan," suara Ye Fan dingin, tanpa emosi. "Sebelas wanita. Kau menghancurkan hidup mereka, memperkosa mereka, dan mengubur beberapa dari mereka seperti sampah saat kau bosan. Beberapa yang tersisa kini membusuk di rumah sakit jiwa dengan janin haram di rahim mereka."
Ye Fan menginjak dada pria itu hingga terdengar bunyi retakan tulang rusuk. Senyumnya mengembang, namun matanya tetap sedingin es. "Aku hanya penagih utang untuk mereka yang terlalu lemah untuk membalas."
Tepat saat Ye Fan mengangkat pisau bedahnya, sebuah dentuman keras menghancurkan pintu depan.
BRAK!
"Polisi! Angkat tangan! Jangan bergerak, Ye Fan!"
Moncong pistol mengarah tepat ke kepala Ye Fan. Pasukan taktis masuk mengepung ruangan sempit itu. "Kau sudah dikepung! Kau bertanggung jawab atas belasan pembunuhan berantai bulan ini!"
Ye Fan tetap bergeming. Ia melirik para polisi itu dengan tatapan kasihan. "Kalian salah bidik. Seharusnya bajingan ini yang kalian tembak, bukan aku. Coba bayangkan, jika korban-korbannya tahu bahwa monster ini hanya akan dipenjara beberapa tahun lalu bebas karena pengacara mahal, apa kalian pikir hukum kalian itu adil?"
"Itu urusan pengadilan! Jatuhkan pisaumu sekarang!" teriak sang komandan polisi.
Ye Fan justru mendekatkan mata pisau yang berkilau itu ke leher sanderanya. "Tembak saja jika kalian berani."
Dalam keheningan yang mencekam, Ye Fan memberikan senyuman terakhirnya—senyuman seorang pria yang merasa tugasnya telah usai. Dengan satu sentakan cepat, ia menggorok leher korbannya hingga darah menyemprot ke wajahnya sendiri.
DOR!
Satu peluru menembus pelipis Ye Fan. Pandangannya langsung memutih, namun ia jatuh ke lantai dengan tawa kecil yang tertahan. Baginya, ini adalah akhir yang sempurna untuk sang pemburu.
...
"Hah! Uhuk... Uhuk!"
Ye Fan tersentak bangun. Paru-parunya terasa seperti terbakar saat menghirup udara. Ia meraba kepalanya—tidak ada lubang, tidak ada darah. Ia melihat ke sekeliling; langit-langit kayu tua, aroma dupa, dan pakaian sutra kasar yang melekat di tubuhnya.
"Tempat ini... jauh dari kata modern," gumamnya bingung. "Arsitektur ini, energi di udara ini... rasanya persis seperti latar game kultivasi yang baru saja kumainkan."
[DING!]
[Sistem Kultivasi Abadi Diaktifkan]
[Status Host: Ye Fan - Reinkarnasi Berhasil]
Mata Ye Fan berkilat. Jika dunia ini benar-benar seperti game itu, maka di sini, ia tidak perlu lagi bersembunyi di balik perangkat VR untuk memburu mangsanya.