NovelToon NovelToon
Aluna : Bayang - Bayang Luka

Aluna : Bayang - Bayang Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pelakor / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Naik ranjang/turun ranjang / Cintapertama
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Kebenaran di Balik Pintu Tertutup

​Matahari sudah tinggi, sinarnya menembus celah jendela kamar yang gordennya masih tertutup rapat. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Seharusnya, aku sudah bangun sejak pukul lima, menyiapkan pakaian kerja Arvino (meski dia tidak pernah memakainya), dan memastikan kebutuhan Lili terpenuhi (meski aku dilarang menyentuhnya).

​Tapi hari ini, tubuhku menolak bekerja sama.

​Aku mencoba bangun dari "tempat tidurku"—karpet tebal di kaki ranjang—namun kepalaku terasa berputar hebat. Duniaku berguncang. Rasa dingin menusuk tulang-tulangku, padahal keringat membanjiri dahiku. Tenggorokanku sakit, rasanya seperti menelan pecahan kaca setiap kali aku mencoba menelan ludah.

​"Haus..." rintihku lirih. Suaraku hilang, hanya desisan serak yang keluar.

​Aku melirik ke atas, ke arah ranjang raja yang kosong. Arvino sudah berangkat kerja. Lili pasti sudah dibawa Sus Rini. Aku sendirian, tergeletak tak berdaya di lantai kamar mewah ini seperti sampah yang lupa dibuang.

​Tok. Tok. Tok.

​"Non Aluna? Non?"

​Itu suara Mbok Nah, asisten rumah tangga senior yang sudah bekerja sejak aku kecil.

​"Non Aluna belum turun sarapan? Tuan Besar dan Ibu Besar mencari Non di ruang makan."

​Aku ingin menjawab, tapi tenagaku habis. Pandanganku mulai menggelap lagi.

​Pintu terbuka perlahan.

​"Permisi Non, Mbok masuk ya..."

​Mbok Nah melangkah masuk. Detik berikutnya, terdengar jeritan tertahan. Nampan yang dibawanya jatuh ke lantai, menimbulkan suara gaduh yang memekakkan telinga.

​"Ya Allah! Gusti! Non Aluna!!"

​Mbok Nah berlari menghampiriku, berlutut dan menyentuh dahiku. Tangannya yang kasar terasa sejuk di kulitku yang terbakar demam.

​"Panas sekali! Ya ampun, kenapa Non tidur di lantai?! Tuan Besar! Tuan Ardo! Tolong!!"

​Teriakan histeris Mbok Nah menjadi hal terakhir yang kudengar sebelum kesadaranku timbul tenggelam dalam lautan demam.

​Aku terbangun karena merasakan sentuhan dingin di lengan. Bau alkohol medis yang tajam menyengat hidungku.

​Perlahan, aku membuka mata. Wajah Papa yang buram perlahan menjadi jelas. Papa sedang memasang infus di punggung tanganku. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras menahan amarah yang meluap-luap.

​Aku sadar, aku tidak lagi di lantai. Aku sudah dibaringkan di atas ranjang—ranjang Arvino dan Mbak Sarah.

​"Pa..." bisikku lemah.

​"Sstt... diam dulu, Nak. Simpan tenagamu. Kamu dehidrasi berat. Demammu 39,8 derajat," suara Papa bergetar, bukan karena sedih, tapi karena murka.

​Di sudut ruangan, Mama sedang menangis sesenggukan di pelukan Nenek. Ardo berdiri bersandar di dinding, matanya menatap tajam ke arah pintu, seolah menunggu mangsa.

​"Kenapa..." Papa menghentikan aktivitasnya sejenak, menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa kamu tidak bilang pada Papa kalau dia memperlakukanmu seperti binatang?"

​Aku menggeleng lemah. "Aku... aku baik-baik saja, Pa. Aku cuma suka tidur di karpet..."

​"Jangan berbohong!" bentak Papa, membuatku tersentak. Papa mengambil bantal dan selimut tipis yang tadi tergeletak di lantai. Dia melemparnya ke sofa dengan kasar.

​"Papa melihatnya, Aluna! Papa melihat 'tempat tidurmu'! Suami macam apa yang membiarkan istrinya yang sakit tidur di lantai dingin sementara dia tidur di kasur empuk?!" Papa mengusap wajahnya kasar. "Ini tidak bisa dibiarkan. Papa sudah memanggilnya pulang."

​Jantungku berdegup kencang. "Jangan, Pa... Kak Vino nanti marah..."

​"Biar dia marah! Papa yang akan menghadapinya!"

​Tepat saat itu, suara langkah kaki tergesa terdengar di koridor. Pintu kamar terbuka kasar. Arvino muncul dengan napas memburu, jas kerjanya tersampir asal di lengan.

​"Ada apa Pa? Ardo bilang Aluna kritis? Jangan bercanda, dia pasti cuma—"

​Kalimat Arvino terhenti saat melihat tatapan membunuh dari Papa, Ardo, dan bahkan Mama. Dia melihatku terbaring lemah dengan infus di tangan.

​"Bagus kau sudah pulang, Tuan Direktur," sindir Ardo tajam.

​Arvino masuk, mencoba mempertahankan wajah datarnya. "Dia kenapa? Demam biasa, kan? Kenapa harus heboh sampai memanggilku pulang dari rapat penting?"

​PLAK!

​Tamparan keras mendarat di pipi Arvino. Bukan dari Papa, tapi dari Mama.

​Seluruh ruangan hening. Mama, wanita yang selalu memuja menantunya itu, kini berdiri dengan tangan gemetar setelah menampar pipi Arvino hingga memerah.

​"Ma?" Arvino memegang pipinya, matanya membelalak tak percaya.

​"Mama menitipkan putri Mama padamu, Arvino!" teriak Mama histeris. "Mama tahu kau berduka karena Sarah, Mama juga hancur! Tapi Aluna juga anak Mama! Dia adik Sarah! Bagaimana bisa kau membiarkannya tidur di lantai seperti anjing penjaga?! Bagaimana bisa kau mengabaikannya sampai dia sakit parah begini?!"

​"Ma, dia yang memilih tidur di sana," bela Arvino, tapi suaranya mulai goyah.

​"Bohong!" potong Papa. Suara Papa rendah namun menggelegar. Beliau melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Arvino. Tinggi badan mereka hampir sama, tapi aura Papa jauh lebih dominan.

​"Papa diam selama ini karena Papa pikir kalian butuh waktu. Tapi melihat kondisi Aluna hari ini..." Papa menunjukku yang menggigil di kasur. "...Papa sadar Papa sudah membuat kesalahan besar dengan menikahkan kalian."

​"Apa maksud Papa?" tanya Arvino defensif.

​"Kemas barang-barangmu, Aluna. Kita pulang," perintah Papa tanpa menoleh padaku.

​"Pa?" Aku terkejut. "Tapi Lili..."

​"Ardo, bawa Lili juga. Kita bawa cucu Papa pulang ke rumah kita," lanjut Papa tegas.

​Wajah Arvino berubah pucat pasi. Ketakutan terbesarnya muncul. "Tunggu! Pa, tidak bisa begitu! Lili anakku! Ini rumahku!"

​"Dan kau menelantarkan ibunya!" balas Papa lantang. "Hak asuh anak bisa dicabut jika lingkungan tumbuh kembangnya tidak sehat. Dan rumah ini..." Papa merentangkan tangannya, menunjuk sekeliling. "...rumah ini beracun. Kau sakit jiwa, Arvino. Kau melampiaskan dendammu pada orang yang salah, dan itu membahayakan cucuku."

​"Aku tidak menyakiti Lili! Aku merawatnya!" Arvino mulai panik. Dia mencengkeram lengan Papa. "Pa, tolong. Jangan bawa Lili. Dia satu-satunya yang kupunya dari Sarah. Jangan ambil dia."

​Papa menepis tangan Arvino. "Kalau begitu perlakukan ibunya selayaknya manusia! Papa tidak minta kau mencintainya sekarang. Papa tahu itu sulit. Tapi demi Tuhan, Arvino, dia manusi! Dia wanita! Dia adik iparmu yang kau kenal sejak kecil! Di mana hati nuranimu?!"

​Arvino terdiam, napasnya naik turun. Dia menoleh ke arahku. Untuk pertama kalinya, aku melihat keraguan di matanya. Bukan rasa bersalah, melainkan ketakutan kehilangan Lili yang memaksanya menelan egonya.

​Dia menunduk dalam. "Maafkan aku, Pa. Ma. Aku... aku khilaf. Aku terlalu stres."

​"Minta maaf pada istrimu. Bukan pada kami," ujar Nenek dingin.

​Arvino berjalan kaku menuju sisi ranjang. Dia berdiri di sampingku. Aku menatapnya takut-takut, melihat bekas tamparan Mama yang memerah di pipi kirinya.

​"Maaf," ucapnya singkat, tanpa menatap mataku. Matanya tertuju pada selimut. "Aku tidak bermaksud membuatmu sakit."

​Itu permintaan maaf paling tidak tulus yang pernah kudengar, tapi Papa tampaknya menganggap itu cukup sebagai peringatan pertama.

​"Dengar baik-baik, Arvino," ancam Papa. "Sekali lagi Papa melihat Aluna menderita fisik seperti ini, atau sekali lagi Papa tahu dia tidur di lantai, detik itu juga Papa akan bawa Aluna dan Lili pergi, dan kau tidak akan pernah melihat mereka lagi. Papa punya kuasa hukum dan medis untuk membuktikan ketidakmampuanmu. Jangan uji kesabaran Papa."

​Papa berbalik, memberi isyarat pada Mama dan Ardo. "Kita biarkan Aluna istirahat. Biarkan suaminya yang merawatnya. Buktikan ucapanmu, Arvino. Rawat dia sampai sembuh."

​Satu per satu mereka keluar kamar. Nenek menatapku sedih sebelum didorong keluar oleh Ardo.

​Pintu tertutup.

​Kini hanya ada aku dan Arvino di kamar luas itu.

Hening yang mencekam kembali menyelimuti.

​Arvino berdiri mematung selama beberapa detik, lalu dia menoleh menatapku. Tatapan ketakutan tadi hilang, berganti dengan kilatan amarah yang lebih dingin dan terkontrol.

​"Hebat," desisnya pelan. Dia berjalan mendekat, membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan wajahku. "Kau mengadu pada Papa? Kau ingin pamer betapa teraniayanya dirimu?"

​"A-aku tidak bilang apa-apa..." cicitku, air mata kembali menggenang.

​"Sekarang kau senang? Kau berhasil membuatku ditampar Mama. Kau berhasil membuat Papa mengancamku," Arvino tertawa hambar. Tangannya terulur, aku memejamkan mata takut dia akan memukulku.

​Tapi dia tidak memukul. Dia membenarkan letak selimutku dengan gerakan kasar.

​"Baiklah, Nyonya HARDINATA. Kau menang babak ini. Kau boleh tidur di kasur ini. Kau boleh menikmati fasilitas ini."

​Arvino menegakkan tubuhnya, menatapku dengan jijik.

​"Tapi ingat satu hal. Papa bisa memaksaku membiarkanmu tidur di sini, tapi dia tidak bisa memaksaku menyentuhmu atau mencintaimu. Bagi ku, kau sekarang bukan hanya pembunuh, tapi juga pengadu domba yang licik."

​Dia berjalan menuju sofa, mengambil bantal yang tadi dilempar Papa, dan meletakkannya kembali. Lalu dia berjalan ke lemari, mengambil baju ganti.

​"Cepat sembuh," ucapnya dingin sebelum masuk ke kamar mandi. "Aku muak melihat wajah menyedihkanmu itu."

​Aku menarik selimut menutupi wajahku, menangis dalam diam.

Aku selamat dari tidur di lantai, tapi dinding di antara kami kini semakin tinggi dan tebal, terbuat dari lapisan kebencian yang baru.

...****************...

Bersambung...

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
leahlaurance
kabur aja menjau sana aluna.hatinya tetap untuk sarah istrinya
leahlaurance
tungu aja istri mu mati ,mungkin rasa bersalamu sampai masuk kubur
leahlaurance
kenapa si kamu bodoh amat wajai perempuan tingalin aja dia
اختی وحی
trllu bertele² ceritanya, sampe bab ini msih bgitu² aja,kejadian berulang
leahlaurance
kan ada pengasuh
leahlaurance
makanya jangan bodoh,masa enga ada kamar lain
اختی وحی
ada bab yg seolah² mrk ini tinggal bareng sma mertua,tp ad bab yg menjelaskan klw mrk tdk serumah dngn orang tuanya, bingung jg
leahlaurance
perempuan bodoh,kau pantas dapat perlekuan seperti itu.
leahlaurance
bagus bangat ceritanya,jiwa ku ikut terseksa tambah beben fikiran😂🤭
leahlaurance
menurut ku aluna juga punya hak menolok.tapi demi cinta butanya kali ya.
leahlaurance
bertepuk sebelah tangan ya aluna
shabiru Al
sebaiknya jika ingin memulai lagi,, carilah rumah baru agar suasana nya pun baru tanpa ada kenangan menyakitkan dan bayangan sarah
shabiru Al
entah dengan cara apa arvino bisa meluluhkan hati aluna
shabiru Al
hukuman yang terberat adalah pengabaian dan rasa yang sudah hilang sepenuhnya
shabiru Al
benar maaf saja tdk cukup untuk satu tahun penyiksaan yang kejam dan tdk berdasar.. enak aja
shabiru Al
aluna yang malang tpi hebat mau bangkit dan ttp maju kedepan💪
shabiru Al
bodoh kalau aluna ttp bertahan demi lili
shabiru Al
ya kirain bakalan berubah fikiran aluna nya,, good aluna setidaknya tdk terlalu tercekik berada dlm atap yang sama
shabiru Al
aku kira aluna tdk akan berani memperjuangkan kebahagiaan nya sendiri kebebasan nya sendiri,, good job aluna... 👍
Yulianti Yulianti
ini udah tamat sampai sini bukan kak
tanty rahayu: belum ka 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!