NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Digendong

Pertarungan itu—jika bisa disebut demikian—berakhir dalam waktu kurang dari enam puluh detik.

Tidak ada drama perkelahian jalanan yang panjang. Tidak ada adu pukul yang seimbang. Itu adalah pembantaian sepihak. Ketiga preman itu kini terkapar di aspal basah, mengerang kesakitan sambil memegangi tulang rusuk atau lengan mereka yang patah.

Salah satu pengawal menginjak dada si preman besar, memastikannya tidak bangun lagi. Pengawal lainnya berdiri tegak, napasnya bahkan tidak terengah, lalu mengangguk hormat ke arah Ciarán.

Gang itu kembali sunyi. Hanya suara rintihan tertahan dan suara napasku yang tersengal-sengal yang terdengar.

Aku masih terbaring di lumpur. Tubuhku gemetar hebat, bukan lagi karena dingin, tapi karena sisa-sisa adrenalin dan rasa syok yang melumpuhkan saraf. Tanganku mencengkeram sisa kain kaosku yang robek di dada, berusaha menutupi kulitku yang terekspos.

Ciarán melangkah maju.

Dia berjalan melewati tubuh-tubuh yang menggeliat kesakitan di lantai tanpa melihat ke bawah, seolah mereka hanyalah sampah yang berserakan. Ujung sepatu kulitnya yang mengkilap berhenti tepat di samping kepalaku.

Aku mendongak.

Dari sudut pandang ini, dia terlihat seperti raksasa. Menjulang tinggi, menutupi cahaya lampu jalan, melemparkan bayangan panjang yang menelan tubuhku sepenuhnya.

Aku menunggu.

Aku menunggu dia membungkuk. Aku menunggu dia mengulurkan tangan. Aku menunggu dia bertanya, "Kau baik-baik saja?" atau "Maaf aku terlambat."

Tapi Ciarán tidak bergerak.

Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, berdiri tegak dengan postur sempurna. Matanya menatapku dari ketinggian itu. Tatapan yang sama datarnya dengan saat dia melihatku dua belas tahun lalu di balik kaca jendela mobil.

Dia melihat lumpur di pipiku. Dia melihat darah kering di bibirku. Dia melihat robekan di bajuku.

Tapi tidak ada rasa kasihan di matanya. Yang ada hanyalah validasi dingin, seperti seorang ilmuwan yang melihat hipotesisnya terbukti benar.

"Sudah puas?" tanyanya akhirnya.

Suaranya tenang, tidak mengandung ejekan, tapi kata-katanya menghunjam lebih sakit daripada pukulan preman tadi.

Aku ternganga, air mata baru mengalir dari sudut mataku. "A-apa...?"

"Lari dari kenyataan. Menolak bantuan. Berjalan sendirian di sarang serigala hanya untuk membuktikan poin yang tidak berguna," Ciarán memiringkan kepalanya sedikit. "Aku tanya padamu, Elara. Kau sudah selesai bermain-main dengan egomu?"

Tenggorokanku tercekat isak tangis. Aku ingin memarahinya. Aku ingin berteriak bahwa aku hampir diperkosa. Aku ingin dia memelukku.

Tapi aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Karena jauh di lubuk hatiku yang paling gelap, aku tahu dia benar. Harga diriku yang membawaku ke sini. Kesombongankulah yang membuatku berakhir di lumpur ini, di bawah kakinya.

Aku menutup mataku, membiarkan air mata panas membasahi pipi yang kotor. Aku mengangguk lemah. Satu anggukan pasrah yang menandakan kekalahan total.

"Bagus," kata Ciarán.

Baru saat itulah dia berjongkok. Bukan untuk memelukku, tapi untuk mendekatkan wajahnya ke wajahku, memastikan aku mendengar setiap kata berikutnya.

"Mulai detik ini, kau tidak punya hak untuk lari. Kau tidak punya hak untuk menolak. Nyawamu yang menyedihkan ini..." Dia menyentuh daguku dengan jari telunjuknya, memaksa mataku terbuka menatap mata hitamnya. "...sekarang milikku. Karena aku baru saja membelinya dari malaikat maut."

...***...

"Berdiri."

Itu bukan permintaan. Itu perintah.

Ciarán melepaskan tangannya dari daguku, lalu berdiri tegak kembali. Dia menungguku untuk bangkit sendiri, seolah aku adalah prajurit yang jatuh di medan perang, bukan korban serangan.

Aku menelan ludah, mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenagaku yang tercecer. Aku menekan telapak tanganku ke aspal basah, mendorong tubuhku naik dengan gemetar. Rasa sakit meledak di seluruh tubuhku, di tulang rusukku yang memar, di kepalaku yang pening, dan di pipiku yang perih.

Tapi rasa sakit terburuk ada di kakiku.

Saat aku mencoba menumpu berat badan pada kaki kanan, pergelangan kakiku menjerit. Rasanya seperti ada paku panas yang ditancapkan ke sendi. Kakiku terkilir parah saat preman tadi membantingku.

"Ah!"

Aku tidak bisa menahannya. Kakiku menyerah. Tubuhku oleng kembali ke arah aspal.

Aku memejamkan mata, bersiap merasakan benturan keras lagi.

Tapi benturan itu tidak datang.

Sebuah tangan kuat menangkap lenganku di udara. Jari-jari panjang mencengkeram erat sikuku, menahanku agar tidak mencium tanah untuk kedua kalinya.

Aku mendongak kaget.

Ciarán menatapku. Kali ini, ada kerutan tipis di dahinya. Bukan kekhawatiran, melainkan kejengkelan.

"Menyedihkan," gumamnya pelan.

Dia menghela napas panjang, suara yang menyiratkan betapa merepotkannya situasi ini baginya.

Tanpa melepaskan cengkeramannya di lenganku, tangan kanannya bergerak membuka kancing jas charcoal-nya. Dia melepas jas mahal itu dengan gerakan cepat dan efisien. Jas yang harganya mungkin cukup untuk membeli gedung panti asuhan kami, dia lepas begitu saja dan dia kibaskan di udara.

Lalu, dia menyampirkannya ke tubuhku.

Kain wol Italia yang berat dan hangat itu menutupi bahuku, menutupi dadaku yang terekspos karena kaos robek, menutupi kotoran dan lumpur di tubuhku.

"Jangan kotori jok mobilku dengan darahmu," katanya datar.

Sebelum aku sempat menjawab atau berterima kasih, dunia di sekitarku berputar.

Ciarán membungkuk, menyelipkan satu lengan di bawah lututku dan lengan lainnya di punggungku. Dan dengan satu tarikan napas mudah, dia mengangkatku.

Dia menggendongku.

Aku terkesiap, secara refleks melingkarkan tanganku ke lehernya agar tidak jatuh.

Tubuhnya keras dan hangat di balik kemeja putih tipis itu. Jantungnya berdetak tenang di bawah telapak tanganku, kontras dengan jantungku yang berpacu liar seperti burung kolibri.

Saat wajahku terbenam di lekuk lehernya, aroma itu menyerbuku.

Aroma kayu cendana (sandalwood), tembakau manis, dan sesuatu yang tajam seperti musk mahal. Itu bukan bau pria biasa. Itu bau uang. Itu bau kekuasaan. Itu bau keamanan yang mencekik.

Aroma itu memabukkan. Ia menyusup ke dalam hidungku, menenangkan saraf-sarafku yang tegang dengan cara yang hampir narkotik.

Rasa sakit di kakiku perlahan menjauh. Dinginnya malam tidak lagi terasa. Suara sirine polisi di kejauhan terdengar sayup-sayup, tidak lagi penting.

Yang kurasakan hanya lengan kuat yang menahanku agar tidak jatuh lagi ke dalam lumpur.

"P-paman..." bisikku, meracau karena syok, kembali memanggilnya dengan sebutan masa kecil yang dulu dilarang Ayah.

"Ciarán," koreksinya tegas di telingaku. "Namaku Ciarán. Hafalkan itu, karena itu satu-satunya nama yang boleh kau sebut mulai sekarang."

Kepalaku terasa berat. Mataku tidak bisa lagi menahan kelopaknya. Kegelapan yang hangat dan nyaman mulai merayap di tepi pandanganku.

Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku berhenti berjuang. Aku membiarkan tubuhku lemas dalam dekapan monster ini.

Dan saat kesadaranku menghilang sepenuhnya, aku menyadari satu hal yang mengerikan: aku tidak takut padanya. Aku justru merasa... pulang.

1
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!