Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Mogok di KM 97: Ujian Cinta atau Ujian Mesin?
Honda Jazz tahun 2015 milik Rania berwarna silver kusam, dengan penyok sedikit di bumper belakang (kenang-kenangan nabrak tiang parkiran RS tahun lalu), berhenti tepat di depan lobi apartemen mewah tempat Adrian tinggal.
Pukul 17.00 WIB.
Adrian keluar dari lobi. Penampilannya, seperti biasa, flawless. Dia mengenakan kemeja turtle neck hitam dipadu blazer abu-abu dan celana bahan yang potongannya tajam. Dia membawa travel bag kulit yang terlihat mahal.
Rania menurunkan kaca jendela mobilnya yang berbunyi ciiiit.
"Masuk, Pangeran. Kereta kencana sudah tiba," seru Rania.
Adrian menatap mobil itu dengan keraguan yang mendalam. Dia membuka pintu penumpang depan dengan hati-hati, seolah takut gagang pintunya menularkan penyakit.
Begitu dia duduk, Adrian langsung disambut oleh aroma kabin yang unik: campuran wangi pengharum jeruk nipis yang menyengat, bau sepatu kets, dan samar-samar bau fast food.
"Rania," kata Adrian sambil memasang sabuk pengaman. "Kapan terakhir kali mobil ini di-salon?"
"Salon?" Rania tertawa sambil menginjak gas. Mobil tersentak maju. "Duitnya mending buat beli skincare pasien gue yang nggak mampu beli salep, Ad. Udah, nikmatin aja. Anggap aja wisata alam."
Perjalanan keluar Jakarta cukup lancar. Tapi begitu masuk Tol Cipularang, suasana di dalam mobil mulai "memanas". Bukan karena AC-nya mati, tapi karena perebutan kekuasaan atas audio player.
Rania menyetel playlist andalannya: "Dangdut Koplo Semangat Jaga Malam".
Lagu Rungkad bergema dengan bass yang membuat dashboard mobil bergetar.
"Matikan," perintah Adrian sambil memijat pelipisnya. "Otak saya bisa mencair mendengar ini. Kita mau seminar medis, Rania. Kita butuh ketenangan untuk brainstorming materi."
"Dih, enak aja. Supir berhak menentukan lagu," Rania menaikkan volume. "Ini biar gue nggak ngantuk, Ad. Jalanan gelap, lurus, ngebosenin. Gue butuh gendang biar melek."
Adrian menghela napas, lalu tanpa permisi tangannya menjulur mematikan audio.
"Hei!" protes Rania.
"Bicara saja sama saya. Itu lebih efektif bikin melek daripada lagu ini," kata Adrian. Dia mengeluarkan iPad-nya. "Saya mau tanya. Kenapa kamu ambil spesialis Bedah Umum? Kenapa nggak Bedah Jantung atau Bedah Saraf yang lebih... prestisius?"
Rania terdiam sejenak, matanya fokus ke jalan tol yang mulai menanjak dan berkelok.
"Karena Bedah Umum itu garda depan," jawab Rania pelan, nadanya berubah serius. "Di kampung gue dulu, Puskesmas jarang ada dokter spesialis. Kalau ada usus buntu pecah, tumor payudara, atau kecelakaan, mereka harus dirujuk 5 jam ke kota. Keburu mati."
Rania mencengkeram setir lebih erat.
"Gue mau jadi dokter yang bisa ngerjain apa aja. Dari ujung kepala sampai kaki. Gue nggak butuh prestise, Ad. Gue butuh skill buat nyelamatin tetangga gue, Pak RT gue, atau tukang sayur langganan gue. Sesederhana itu."
Adrian menatap profil samping wajah Rania. Cahaya lampu jalan yang temaram menyinari wajah wanita itu, memperlihatkan gurat kelelahan tapi juga tekad yang keras. Untuk pertama kalinya, Adrian tidak melihat "The Butcher" yang kasar. Dia melihat seorang dokter sejati.
"Mulia," gumam Adrian pelan, nyaris tak terdengar. "Naif, tapi mulia."
"Apa lo bilang?"
"Nggak. Awas, ada truk di depan."
Tiba-tiba, bencana terjadi.
Saat mobil sedang mendaki tanjakan panjang di KM 90-an, indikator suhu di dashboard melonjak ke zona merah.
Pusssssss!
Asap putih tebal mengepul dari kap mesin, menghalangi pandangan.
"Sial!" teriak Rania. Dia langsung menyalakan lampu hazard dan menepikan mobil ke bahu jalan yang sempit dan gelap.
Mobil berhenti dengan sentakan kasar. Asap putih membumbung tinggi di tengah kegelapan Tol Cipularang yang terkenal angker dan rawan kecelakaan.
"Bagus," komentar Adrian datar. "Sangat bagus. Kita terjebak di tengah hutan antah berantah, malam hari, dengan mobil yang memutuskan untuk bunuh diri."
"Jangan cerewet!" Rania melepas sabuk pengaman dan mencari senter di laci dashboard. "Paling cuma overheat. Radiator gue emang agak manja belakangan ini."
"Kamu mau keluar? Di luar gelap, Rania. Dan banyak truk ngebut."
"Terus mau gimana? Nungguin peri datang niupin mesin?"
Rania nekat keluar. Adrian mengumpat pelan, lalu ikut keluar dari sisi penumpang. Angin malam di pegunungan terasa dingin menusuk tulang.
Rania membuka kap mesin. Uap panas langsung menyembur ke wajahnya. Dia terbatuk-batuk sambil mengibaskan tangan.
"Pegangin ini," Rania menyodorkan senter ke Adrian.
Adrian, dengan jas mahalnya, kini berdiri di pinggir jalan tol, memegang senter murahan sambil menerangi mesin tua yang berasap. Pemandangan yang sangat tidak aesthetic.
"Air radiatornya abis," diagnosa Rania setelah mengintip tabung reservoir. "Bocor selangnya. Gue butuh air. Ad, ambil botol air mineral di jok belakang!"
"Itu air minum saya. Evian," protes Adrian.
"Bodo amat mereknya Evian atau air zam-zam! Mesin ini butuh minum! Cepetan!"
Adrian menurut dengan wajah masam. Dia mengambil botol air mahalnya dan menyerahkannya pada Rania.
Rania mengambil lap kain bekas yang kotor, lalu bersiap membuka tutup radiator.
"Tunggu!" seru Adrian. "Jangan dibuka sekarang! Masih bertekanan tinggi! Nanti meledak ke muka kamu!"
"Gue tau caranya, Pangeran! Gue lapisin kain tebal, terus bukanya pelan-pelan buat buang anginnya dulu. Gue udah sering gini," bantah Rania keras kepala.
Rania memutar tutup radiator itu setengah putaran.
Cesssssss!
Uap panas menyembur keluar dari celah.
Rania kaget dan refleks menarik tangannya, tapi uap panas itu sempat mengenai punggung tangan kanannya.
"Akh!" Rania menjerit, menjatuhkan kain lapnya.
"Rania!"
Adrian melempar senter ke tanah (untung tidak pecah) dan langsung menyambar tangan Rania. Di bawah cahaya lampu hazard yang berkedip-kedip, kulit punggung tangan Rania terlihat merah padam. Luka bakar derajat satu, mungkin hampir derajat dua di beberapa titik.
"Dasar keras kepala!" omel Adrian, tapi suaranya penuh kepanikan. "Saya bilang tunggu dingin dulu! Kamu itu dokter bedah, tangan itu aset! Kalau sarafnya rusak gimana?!"
Rania meringis menahan perih. "Sakit, Ad..."
Adrian menyeret Rania ke sisi mobil yang lebih aman dari lalu lintas. Dia membuka travel bag-nya dan mengeluarkan kotak P3K portable yang sangat lengkap (khas orang obsesif).
"Diam. Jangan gerak," perintah Adrian tegas.
Dia mengeluarkan botol NaCl (cairan infus) dan menyiram luka bakar itu dengan lembut untuk mendinginkan. Rania mendesis perih, tapi dinginnya air sedikit meredakan rasa terbakar.
Adrian bekerja dengan cekatan. Dia mengoleskan gel aloe vera khusus luka bakar (bukan odol atau mentega seperti mitos orang awam), lalu menutupnya dengan kasa steril non-adherent agar tidak lengket.
Jarak wajah mereka sangat dekat. Rania bisa melihat fokus yang intens di mata Adrian. Pria itu memperlakukan tangan kasarnya seolah-olah sedang merestorasi lukisan Mona Lisa.
"Sudah," kata Adrian setelah membalutnya rapi. Dia masih memegang tangan Rania, tidak langsung melepaskannya. "Masih perih?"
Rania menggeleng pelan. Jantungnya berdetak kencang, menyaingi deru truk yang lewat. "Udah mendingan. Thanks, Ad. Tangan lo... gentle banget."
Adrian mendongak. Mata mereka bertemu lagi. Di pinggir jalan tol yang berisik, gelap, dan berbahaya, ada momen hening di antara mereka.
"Tangan kamu kasar," komentar Adrian pelan, mengusap ibu jari Rania yang kapalan.
Rania hendak menarik tangannya karena malu, tapi Adrian menahannya.
"Kasar karena kerja keras," lanjut Adrian. "Tangan yang menyelamatkan banyak nyawa. Saya... saya menghargai itu."
Rania merasa pipinya memanas. "Lo... lo lagi muji gue apa ngehina gue sih?"
Adrian tersenyum tipis. "Anggap saja pujian langka. Jangan besar kepala."
Tiba-tiba, rintik hujan mulai turun.
"Ayo masuk mobil," ajak Adrian. "Kita tunggu mesin dingin 15 menit lagi, baru isi air. Jangan sok pahlawan lagi."
Mereka berdua masuk kembali ke dalam mobil. Basah, kedinginan, dan lelah.
Rania menyandarkan kepalanya ke setir. "Sori ya, Ad. Gara-gara mobil butut gue, kita jadi telat. Jas lo kotor lagi."
Adrian melihat lengan jasnya yang terkena noda oli sedikit. Anehnya, dia tidak marah. Dia menatap Rania yang terlihat rapuh dengan tangan diperban.
"Nggak apa-apa," jawab Adrian. Dia mengambil tisu, lalu dengan ragu-ragu membersihkan noda hitam di pipi Rania bekas asap tadi.
Rania membeku saat jari Adrian menyentuh pipinya.
"Lagipula," kata Adrian lembut, matanya menatap lekat ke manik mata Rania. "Saya jadi punya alasan untuk tidak mendengarkan lagu dangdut kamu lagi."
Rania tertawa. Tawa yang lepas dan ringan. "Sialan lo."
"Tidur sebentar, Rania. Nanti kalau mesin sudah dingin, saya yang isi airnya. Saya yang nyetir sampai Bandung."
"Lo bisa nyetir mobil manual? Ini bukan matic lho."
"Saya pernah jadi juara 2 rally amatir waktu kuliah di Korea," jawab Adrian sombong.
"Oke, Tuan Takur. Mobil gue serahkan padamu."
Rania memejamkan mata. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah perkenalan mereka, Rania merasa aman menyerahkan kendali pada Adrian.
Di luar, hujan turun makin deras, seolah mencuci bersih permusuhan tujuh tahun di antara mereka, menyisakan sesuatu yang baru, rapuh, dan hangat di dalam kabin Honda Jazz tua itu.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca 💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget