NovelToon NovelToon
Fall In Love With You, Mr Tomi.

Fall In Love With You, Mr Tomi.

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst
Popularitas:25.3k
Nilai: 5
Nama Author: selvi serman

"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.

Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.

Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9.

"Selamat pagi, tuan..... selamat pagi, pak Azam." Sonia bangkit dari duduknya dan menunduk hormat saat menyadari kedatangan Tomi dan asisten Azam.

"Pagi, Nona Sonia." Berbeda dengan Azam yang membalas sapaan Sonia, Tomi hanya mengangguk sekilas.

Menyaksikan Tomi dan asisten Azam telah memasuki ruangan CEO, Sonia duduk kembali dan melanjutkan pekerjaannya, memeriksa schedule Tomi untuk hari ini. Ya, sebagai sekretaris Tomi tentu Sonia wajib mengingatkan Tomi akan schedule pria itu setiap harinya. Jika sampai terjadi kesalahan, bosnya itu melewatkan salah satu schedule yang ada, sudah pasti Sonia yang akan mendapat teguran.

"Dret....dret....dret....." Ponsel Sonia bergetar. Rupanya Abil yang meneleponnya.

"Halo mas."

"Apa kamu sibuk hari ini?." Tanya Abil dari seberang sana.

"Lumayan sibuk. Memangnya ada apa, mas?."

"Kemarin tim pengacara almarhum uncle dan aunty Syifa menghubungi mas. Katanya mereka ingin membicarakan tentang harta peninggalan orang tuamu, termasuk perusahaan milik uncle." Sebenarnya Abil tidak tega menyampaikan perihal harta warisan kepada Sonia mengingat kuburan kedua orang tua Sonia masih basah, namun berita penting itu harus disampaikan oleh Abil mengingat itu merupakan hak serta kewajiban Sonia sebagai pewaris tunggal dari harta peninggalan kedua orang tuanya.

Deg

Sonia tak langsung menjawab, kata harta warisan sanggup membuat hati Sonia kembali berdenyut nyeri. Kata-kata tersebut seolah menegaskan bahwa kini ia telah ditinggal selamanya oleh kedua orang tuanya. Air mata Sonia berlinang membasahi pipi. Gadis itu kembali menangis tanpa suara.

"Maafkan mas, Sonia! Mas tidak bermaksud membuat kamu bersedih." Walaupun ia tidak dapat melihat mimik wajah adik sepupunya itu namun Abil yakin saat ini Sonia pasti kembali bersedih.

Sonia mengusap jejak air mata di pipinya, menarik napas dalam untuk menetralkan perasaannya, kemudian berkata.

"Mas tidak salah, tidak perlu minta maaf! Nanti jika ada waktu luang, Sonia akan menghubungi mas kembali. Tapi untuk waktu dekat ini sepertinya Sonia belum bisa mas, karena masih banyak pekerjaan di kantor. Takutnya kalau Sonia minta izin, pekerjaan Sonia malah keteteran dan takutnya malah menyebabkan sesuatu yang tidak diinginkan nantinya." Sonia sadar betul akan tanggung jawabnya, dan itu meyakinkan Abil bahwa adik sepupunya tersebut sudah memiliki banyak perubahan. Satu tahun bekerja di perusahaan Tomi merubah Sonia menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab.

"Baiklah. Mas juga tidak memaksamu untuk secepatnya menemui pengacara. Mas hanya mengingatkan kamu bahwa ada tanggung jawab besar yang sedang menantimu, Sonia." Itulah tujuan utama dari penyampaian Abil sebenarnya, agar Sonia sadar bahwa ia juga harus kembali ke tempat di mana ia seharusnya berada, yakni di perusahaan milik mendiang Daddy-nya, melanjutkan kerja keras Daddy-nya untuk memimpin perusahaan.

"Sonia paham, mas." balas Sonia.

Setelahnya, Abil pun pamit untuk menyudahi panggilannya.

Sonia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya. Kini usianya baru dua puluh satu tahun, mampukah ia mengembangkan tanggung jawab sebesar itu usianya saat ini? Pertanyaan itu terbesit di benak Sonia. Bahkan kuliahnya saja belum rampung, ia sudah harus memikul tanggungjawab besar dipundaknya.

Di saat Sonia sedang memikirkan beratnya tanggung jawab yang sedang menantinya, di waktu yang sama Asisten Azam tengah melaporkan hasil meeting nya semalam bersama model yang akan bekerjasama dengan perusahaan Andrean Group.

"Apa tidak sebaiknya tuan bertemu langsung dengan model tersebut, sebelum menandatangani kontrak kerjasama ini?." Saran Asisten Azam saat Tomi hendak menandatangani kontrak kerja sama dengan calon model mereka.

"Tidak perlu. Aku percayakan semuanya padamu." Balas Tomi seraya membubuhi tanda tangannya pada tempat yang telah disediakan.

"Baiklah kalau begitu, tuan." Berhubung ini bukan kali pertama Tomi memberikan kepercayaan sepenuhnya terhadap dirinya, maka Asisten Azam pun mengiyakan perintah Tomi.

Setelahnya, asisten Azam pamit undur diri guna kembali melakukan meeting bersama calon model mereka, guna penandatanganan kontrak dari pihak model yang akan bekerjasama dengan perusahaan Andrean Group.

*

"Mamah mau ngapain?." Suara bariton sang suami mengejutkan mamah Ika. Ya, Ika Saraswati merupakan nama dari ibunya Tomi.

"Papah...bikin kaget saja." Spontan mamah ika menjauh tangannya dari handle pintu kamar anak dan menantunya.

"Mamah mau ngapain ke kamar anak dan menantu kita? Bukankah mamah sendiri tahu, kalau saat ini mereka sedang bekerja dan tidak berada di rumah?." Papah Andrean berpikir istrinya ingin menemui Tomi dan Sonia di kamarnya.

"Kalau mereka lagi ada di dalam, mana mungkin mamah mau masuk, pah."

Alis papah Andrean bertaut dengan sempurna, tak paham dengan maksud ucapan istrinya.

"Apa maksud, mamah?."

"Entahlah.... Mungkin ini hanya perasaan mamah saja, pah. Mamah merasa hubungan Tomi dan istrinya tidak seperti yang mereka tunjukkan dihadapan kita. Untuk meyakinkan, mamah ingin memastikannya sendiri, pah." Mamah Ika pun melanjutkan niatnya yang sempat tertunda, hingga mau tak mau papah Andrean pun ikut masuk bersama sang istri.

Mamah Ika mengedarkan pandangan ke isi ruangan, mencari sesuatu yang janggal di sana. Namun, hingga beberapa saat berada di kamar anak dan menantunya tersebut, mamah Ika sama sekali tidak menemukan kejanggalan. Seisi kamar nampak seperti kamar pasangan suami-isteri pada umumnya. Pakaian Sonia tersusun rapi di dalam lemari, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan putra dan menantunya tidur di tempat yang berbeda, seperti kejadian yang sering terjadi pada kasus pernikahan tanpa cinta. Misalnya, suami tidur di sofa, dan istri tidur di ranjang, atau malah sebaliknya.

"Sebaiknya kita segera keluar dari kamar ini, mah! Tidak enak kalau sampai ketahuan sama Tomi ataupun Sonia. Lagipula semua terlihat baik-baik saja, tidak ada yang aneh kan mah." Papah Andrean merasa istrinya terlalu overthinking. "Makanya, mamah jangan terlalu keseringan nonton sinetron, begini kan jadinya! Curigaan." Sambung papah Andrean.

"Mamah kan cuma ingin memastikan kalau feeling mamah itu tidak benar, pah. Lagian apa salahnya sebagai orang tua, kita memastikan jika anak dan menantu kita benar-benar menjalani kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya, tanpa ada sandiwara atau semacamnya. Kalau begini, mamah kan jadi lega, pah."

"Tapi, tunggu dulu....!"

"Apa lagi sih, mah?." Papah Andrean menghentikan langkahnya dan menoleh pada sang istri yang terlihat meletakkan jari telunjuk di kening. Seperti sedang berpikir.

Seketika senyum mengembang di bibir ibu dua anak tersebut tatkala sebuah ide brilian merasuki pikirannya. Mamah Ika berlalu begitu saja melewati tubuh papah Andrean yang masih berdiri di ambang pintu kamar Tomi, dengan wajah bingungnya.

*

Karena banyaknya pekerjaan di kantor, Tomi terpaksa lembur lagi malam ini. Dan kali ini ia meminta Sonia menunggu di ruangannya. Menurut Tomi dengan menunggu di ruangannya, Sonia bisa rebahan di sofa, tak harus berlama-lama menunggu di meja kerjanya yang pastinya akan lebih melelahkan. Pukul setengah sepuluh malam Tomi telah selesai memeriksa beberapa berkas yang menurut pria itu sebaiknya diperiksa kembali olehnya untuk memastikan semuanya sudah sesuai. Tepat pukul sepuluh malam Tomi dan Sonia meninggalkan perusahaan. Untuk malam ini Tomi tak lagi membiarkan Sonia telat makan malam sebab sebelum lembur tadi, Tomi meminta asisten Azam menyiapkan makan malam untuk mereka. Tomi dan Sonia makan malam berdua di ruangan Tomi.

Setibanya di rumah, Sonia langsung mandi karena tubuhnya sudah terasa lengket akibat rutinitasnya seharian. Seperti biasa, usai Sonia menggunakan kamar mandi, Tomi pun menggantikan posisi Sonia yang kini telah berada di ruang ganti.

Tiga puluh menit kemudian, Tomi keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang dililitkan pada pinggangnya. Kedua alis tebal milik Tomi nampak bertaut dengan sempurna menyaksikan Sonia telah berbaring di atas ranjang dengan posisi menutupi tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher.

"Kamu kenapa? demam?."

Sonia sontak menggelengkan kepalanya.

Tomi mendekat pada Sonia, meletakkan punggung tangannya di dahi Sonia untuk memastikan apakah Sonia sedang demam atau tidak. Pasalnya, apa yang tengah dilakukan oleh Sonia terlihat seperti orang yang sedang demam, menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya hingga hanya terlihat bagian kepala saja.

"Tidak panas." Tutur Tomi setelah memastikan suhu tubuh Sonia normal-normal saja. Tomi hanya geleng kepala melihat keanehan Sonia. Pria itu hendak berlalu menuju ruang ganti. Namun sebelum itu, Tomi menanyakan keberadaan charger ponselnya pada Sonia.

"Apa kamu melihat charger ponselku?."

"Di dalam laci nakas, mas." Jawab Sonia sembari menuding ke arah nakas dengan dagunya

Tomi lantas memeriksa laci nakas yang dimaksud oleh Sonia namun nihil, ia tak menemukan charger ponselnya di sana.

"Tidak ada."

"Mana mungkin tidak ada, sementara aku menaruhnya di situ tadi pagi sebelum berangkat ke kantor."

Menyadari tatapan galak Tomi, mau tak mau Sonia harus turun tangan menunjukkan keberadaan charger tersebut pada Tomi.

"Kamu ini kenapa sih?." Sudahlah kesal mencari keberadaan charger namun tidak ketemu juga, di tambah lagi dengan keanehan sikap Sonia turun dari ranjang tanpa melepas selimut yang menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya.

Saking kesal sekaligus penasaran dengan keanehan sikap Sonia, Tomi lantas menarik selimut tersebut hingga terjadi adegan tarik-menarik yang cukup melelahkan bagi Sonia. Sampai pada akhirnya Sonia mengalah pada tenaga Tomi, dan mengikhlaskan selimut putih yang digunakannya berpindah tangan pada Tomi.

Glek.

Tomi menelan Saliva nya dengan susah payah menyaksikan penampilan Sonia saat ini.

1
Ami LeoGirl
Cikarang selatan hadir.... kpn up lgi thorr
Nurul
Ditunggu lanjutannya......
Uba Muhammad Al-varo
Tanggerang hadir kakak Author 🙏🙏💪💪💪💪💪
Uba Muhammad Al-varo
cilli....... bukan nya sadar malah tambah gila karena obsesi dan keegoisanmu dan karena perbuatan ini juga kamu akan berakhir menderita dan menyesal, nggak mau menurut sih apa yang dikatakan oleh Linda 👿👿
sutiasih kasih
cili cari hidup susah...
Ami LeoGirl
Lajutkn up semangt
Lentera Aksara
kota udang hadir Thor 😁
Nurminah
jangan sampe kejebak ama obat perangsang ya Thor jujur muak liatnya
secret
akhirnya perjuanganmu membuahkan hasil tom, hrs hati2 karena si cabe blom kapok
secret
Palembang thorr, salam kenal dari wong kito galo😁
Lusi Hariyani
hati2 tomi jaga sonia bahaya mengancam
Syifa
kaka yg banyak donk aplopnya
Ayila Ella
waduh gawat si ular mau bikin olah
Syarifah
Penajam Paser Utara Kaltim Thor 🙏
Lia siti marlia
iya tom kamu harus hati hati sama c cili jaga sonia dengan baik kalau sampai terjadi lagi bisa bisa kamu gak ketemu sama sonia untuk waktu yang tidak bisa di tentukan ....halo kak aku dari garut jabar 🥰
Dwi ratna
Cilapop kak alias Cilacap, tau gk daerah itu? hehehe 🫣🫣🫣
Delvyana Mirza
Iya Tom,si ulat bulu,da punya rencana yang menjijikkan,yang membuat kesal,
Uba Muhammad Al-varo
begitu cintanya Tomi ke Sonia, membuat dia melakukan segala supaya Abil mau beri ijin Tomi membawa Sonia pulang ke rumahnya 💪💪💪
Lentera Aksara
lucu ih Tomi demi istri apapun dilakukan🤣🤣🤣
Lia siti marlia
hahaha semangat terus tom demi luluhin hati abil dan merjuangin istri dan calon anak mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!