NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana

Wanita Mantan Narapidana

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Selingkuh / Bad Boy / Chicklit / Tamat
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.

Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.

Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.

Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.

Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengumpulkan Bukti Dan Saksi

#8

Pemakaman usai, suasana duka masih kental terasa, tempat kejadian perkara masih dikelilingi garis kuning, tapi rumah yang dulu menjadi tempat hangat sepasang pengantin baru, kini hanya terlihat seperti rumah angker. 

Mutia yang tinggal di depan rumah Ayu, menatap nanar teras rumah tetangganya tersebut, biasanya ia dan Ayu bicara ringan dengan suara saling bersahutan sambil mengerjakan pekerjaan rumah. 

Sebenarnya sudah lama Mutia tahu apa yang terjadi di rumah tersebut, ingat ketika tanpa sengaja ia melihat Restu pulang dengan dipapah seorang wanita, begitu pula semalam di saat kejadian. 

Ingin rasanya Mutia menerobos masuk ke dalam rumah, membela Ayu yang terpojok sendirian, tapi suaminya melarangnya ikut campur. Maka Mutia pun tak berani melangkah keluar, kini hanya penyesalan yang terasa menyesakkan dada. Lembayung Senja si wanita lembut berhati mulia itu, harus mendekam di balik jeruji penjara. 

Entah benar atau tidak perbuatannya, tapi satu hal yang Mutia yakini, Ayu tak mungkin tega membunuh suaminya sendiri. 

Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depan rumah Restu dan Ayu, rupanya itu Ismail dan Karmila yang juga membawa bayi mereka. 

“Kak Muti—” sapa Karmila. 

“Eh, Mila.” Lamunan Mutia buyar. “Mau apa kau?”

“Mau bersih-bersih, Kak. Sekalian merapikan barang-barang Bang Restu dan Kak Ayu.” 

“Akui bantu, boleh, kah?” tanya Mutia menawarkan jasa. 

“Boleh, Kak. Tapi apa tak merepotkan?” 

“Kau ini, macam sama siapa saja, sudah lama aku bertetangga dengan abang dan kakak iparmu.” 

Mutia menggulung lengan bajunya, ia turun dari teras rumahnya lalu berjalan menghampiri Karmila. “Wah, nyenyak kali anak kau.” 

“Iya, Kak. Semoga tak rewel selama kita bersih-bersih nanti.” Karmila membaringkan bayinya di atas dipan ruang tengah. Sementara Ismail mulai menggeser kursi dan meja yang tak karuan tata letaknya, usai pemeriksaan TKP semalam hingga pagi tadi. 

Mereka mulai bekerja tanpa banyak bicara, sesekali menghela nafas, bahkan Karmila tak kuasa menahan tangis ketika melihat dapur kakak iparnya yang tidak memiliki bahan makanan sama sekali. 

“Kenapa, Mil?” tanya Ismail yang membawa sampah-sampah untuk di bakar di pekarangan belakang. 

“Tidak ada bahan makanan, Bang. Apa yang dimakan kakak ipar belakangan ini? Pantas saja jika badannya terlihat kurus kering, padahal dia sedang hamil tua.” 

Ismail kehilangan kata-kata, “Mari kita doakan yang terbaik untuk kakak ipar, semoga ia bisa segera dibebaskan bila memang tak bersalah.” 

Beberapa saat kemudian, “Mila, kakak temukan ini di kamar.” 

Pelukan Ismail dan Karmila terlepas, kemudian mereka mendatangi Mutia yang membawa kantong lusuh serta kalung. “Apa ini, Kak?” tanya Mutia ketika melihat kantong lusuh tersebut. 

Mutia meraba dan meremas isi di dalam kantong lusuh tersebut. “Kakak, tak tahu, tapi sepertinya kalung juga.” 

Dan ternyata benar, setelah kantong itu dibuka, dua buah kalung keluar dari dalamnya. 

Ketiganya saling pandang, “Mungkin ini perhiasan kakak ipar kalian.”

“Iya, Kak. Mungkin saja—”

“Permisi—”

Ucapan Karmila terjeda oleh suara dari arah depan, mereka bertiga kompak melihat siapa yang datang.

Ismail yang datang menghampiri sang tamu, “Cari siapa, Pak?”

Keduanya berjabat tangan, “Saya Gunawan, pengacara yang bekerja di pengadilan tingkat daerah. Saya kemari karena ingin mencocokkan barang bukti dengan keterangan keterangan Bu Ayu.” 

“Oh, iya. Silahkan saja, kami bersedia membantu,” pungkas Ismail. 

“Maaf, Anda ini siapa?” 

“Saya adik ipar almarhum Bang Restu, ini istri saya.” Ismail memperkenalkan Karmila, kemudian Mutia. “Dan beliau ini tinggal di depan.” 

Gunawan menganggukkan kepalanya, ia melihat ke sekeliling ruangan, mencoba menyamakan ucapan Ayu dengan lokasi kejadian. 

Di ruang interogasi, Ayu terlihat murung, hanya satu kata yang ia ucapkan, bahwa ia tak pernah melakukan pembunuhan, jadi tak ada hal yang harus ia ungkapkan. 

Tapi dengan kegigihan Gunawan, akhirnya pria itu bisa mengorek sedikit keterangan tentang bagaimana tabiat almarhum suaminya. 

Dan kini Gunawan datang guna memperjelas kesaksian, agar nanti bisa dikumpulkan menjadi pembuktian, bahwa Ayu tidak bersalah. 

“Apakah ada yang tahu bagaimana perangai Almarhum pada Bu Ayu selama mereka berumah tangga?” 

Mutia hendak berucap, namun, ia segan, takut jika Karmila menyangkal perkataannya. “Kami tinggal terpisah, jadi tak begitu paham bagaimana keseharian abang dan kakak ipar.” 

Gunawan mengerutkan alisnya, “Lalu Anda, Bu? Anda, kan tetangga di depan rumah ini, apakah Anda tahu sesuatu?”

Mutia masih menyimpan keraguan, Karmila paham jika wanita itu segan padanya. “Kak Muti tenang saja, katakan apa yang Kak Muti tahu tentang mereka.” 

Mutia menelan ludahnya, ia gugup bukan main, “Beberapa bulan kebelakang, saya lihat mereka tidak harmonis.” Mutia mengawali ucapannya. 

“Tidak harmonis bagaimana, Bu?” 

Mutia meremas ujung kain pakaiannya, membayangkan bagaimana Ayu menghemat uang belanja, membuat batinnya menjerit pilu. “Ayu tak pernah mengatakannya dengan gamblang, tapi saya bisa melihat, Ayu tak pernah makan dengan layak, karena uang pemberian suaminya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan.” 

“Dan dua hari kemarin, aku pun nampak Restu pulang jalan sempoyongan seperti orang mabuk, bersama seorang wanita,” imbuh Mutia. 

Karmila terbelalak, selain mabuk, Restu juga pulang bersama seorang wanita, sungguh kenyataan yang jauh di luar jangkauan nalar Karmila. “Wanita itu, siapa, Kak?” tanya Karmila ragu bercampur takut setelah mendapat jawaban. 

“Kau kenal, lah, sama dia. Itu si Anjani, mantan kekasih abang kau.” 

“Apa, kak? T-tapi— semalam Anjani yang bilang kalau kakak ipar yang—”

“Kalian percaya begitu saja?!” sergah Mutia kesal, “kalau aku jelas tak percaya pada si Jani itu, dia itu bukan perempuan baik-baik. Sampai-sampai bapak kalian pun menentang hubungan Restu dan dia, kan?” 

“Boleh saya tahu dimana tempat tinggal wanita bernama Anjani ini?” 

Mutia pun menginformasikan pada pengacara, semua hal yang ia ketahui tentang Anjani, tempat tinggalnya, serta dimana wanita itu bekerja. 

Karena begitu besar harapannya, agar Gunawan bisa membebaskan Ayu dari ketidakadilan. 

•••

Di rumah kontrakan Anjani, wanita itu tengah mondar-mandir sambil menghisap nikotin yang terselip di antara kedua jari tangannya, sementara Jono pergi karena tak mau dituduh sebagai sindikat.

Semalam Jani mengisahkan apa yang terjadi padanya, dan Jono begitu marah, lalu pergi begitu saja, karena kenyataannya Jani sendiri yang merencanakan semua sendirian. 

Karena lelah mondar-mandir sendirian, Jani pun memutuskan pergi ke bar, disana bisa bertemu orang-orang yang ingin mencari kesenangan. Tapi setelah tiba di sana, Jani dikejutkan dengan kehadiran pria tampan yang tengah menanti kedatangannya. 

“Uwaow,” gumam Jani yang langsung silau dengan kegagahan serta paras rupawan Pak Gunawan. 

Wanita itu pun cengar-cengir kegeeran, sambil merapikan rambut serta menarik pakaian agar menutupi perutnya. Tapi justru kini belahan gunung kembarnya yang terlihat menantang, menggoda iman para pria hidung belang. 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang baru terasa ya😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
memudar
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pantes aja desainnya hasil curian semua karena emang otaknya ga mampu😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Didikan yg salah 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
Eva Karmita
ayu kamu harus kuat 😭😭😭😭
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagusss
Rahmawati
oke, lanjutttt
Endang Sulistia
Alhamdulillah ya yu...
Bun cie
karya yg bagus👍 cerita ttg ketidakadilan perselingkuhan fitnah dan kasih sayang ibu anak yg dikemas dengan baik.
trims kak thor
Er Ri
tetap lanjut dooonkk😄
Aditya hp/ bunda Lia
disini kekuasaan dan uang mengalahkan segalanya
R⁵
astaghfirullah othor bikin jantungan.. tau2 end wae😓
Patrick Khan
q kira tamat beneran..😁😁ternyata ada lanjutan nyok pindah tempat
DozkyCrazy
kaggettt 😁😁
Esther Lestari
dilanjut di judul yang lain....mampir ah
Siti Siti Saadah
baru di balas anak nya aja udah makjleb. gimana kalau ayu dah beraksi😄
Reni
huaaaaaa meluncur kak
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah
Sh
ayoooo.. loyo makan apa ? atau dikasih koyo cabe biar the end sekalian😅😅
Nar Sih
ayu pasti jdi wanita hebat dgn bantuan juga arahan dri madam giana ,org yg sama,,terluka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!