Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Malam pekat menyelimuti perkampungan. Di sertai semilir bayu malam yang terasa begitu menusuk. Aroma tanah basah terasa menyengat seiring degap degup jantung yang terasa berdetak cepat.
Kira kira seperti itu gambaran perasaan tak karuan yang di rasakan sosok pemuda di malam itu ketika sampai di sekitar area sungai.
yang tak lain adalah Tumang yang berusaha membuktikan ucapannya sekaligus menguji nyalinya sendiri.
Di malam itu ketika Tumang baru saja melewati pematang sawah yang sebelumnya ia lewati, tanpa banyak pikiran dan terap berusaha memantapkan tekadnya, Tumang dengan segera menuju sebuah parit dan sebelumnya menajurkan kailnya. Melalui cahaya obor yang sesekali tampak meleak leok karena terterpa angin dingin, Tumang bisa melihat tali kailnya terlihat menegang dan joran pancingnya itu tampak melengkung seperti di tarik ikan. Hujung jorannya itu tampak bergoyang goyang dan berkali kali menyentuh air. Sehingga Tumang pun yang melihatnya seketika tersenyum. Karena tak salah lagi jika kailnya itu berhasil di makan ikan dan sudah bisa di pastikan mata kail sudah tersangkut kuat pada mulut ikan.
Bahkan saking bahagianya, rasa takut yang sebelumnya ia rasakan, seperti tiba tiba hilang tergantikan rasa penasaran dan mengira ngira seberapa besar ikan yang di dapatnya itu.
"lakadalah... Rejeqi anak soleh. Pasti besar ini ikannya"
Gumam tumang setelah sebelumnya menancapkan obornya di pinggiran pematang sawah. Tubuhnya setengah membungkuk dan sebelah tangannya perlahan menarik joran itu. Dan tak lama setelahnya, Tumang merasakan tali kailnya itu seperti ada tarikan yang semakin menjadi. Beberapa saat ia berusaha menarik dan mencoba mengimbangi tarikan itu. Karena jika ia terlalu terburu buru menarik kail itu, Tumang hawatir ikan itu lepas bahkan tali pancingnya itu akan putus.
Sampai pada akhirnya. Tak lama setelahnya Tumang pun mulai melihat ikan yang memakan kailnya itu. tak salah lagi jika ikan itu adalah ikan lele yang ukuranya hampir setara dengan lengannya. Ikan itu terus berontak dan membuat permukaan air bergoyang. Hatinya ketika itu semakin senang di sertai perasaannya yang tak karuan. Karena entah mengapa ketika Tumang berusaha mendapatkan ikan itu, tiba tiba dirinya mendengar suara wanita yang entah dari mana datangnya.
Suara itu samar namun membekas di ingatannya. Seiring suara katak sawah yang berbunyi tiada henti.
sehingga pantas saja ketika itu Tumang menyempatkan mendongakkan wajahnya seperti ingin memastikan jika memang ada sosok wanita yang ikut melihat ulahnya.
Namun siapa sangka, akibat gerakan itu Tumang kehilangan konsentrasi pada jorannya. Sampai pada akhirnya sebuah tarikan kuat mengejutkan dirinya lalu setengah sadar Tumang menghentakan joran pancingnya sekaligus. Yang alhasil tali pancingnya itu seketika putus.
"huuu...!!! Huaduh... Sial !!! Kurang asem !!! Kampret !!! Kok malah putus sih !!! Haduh ampun... Ampun..."
Gerutu tumang kecewa karena ikan yang sudah di pastikan besar itu harus tiba tiba terlepas. Beberapa kali Tumang tampak memukulkan joran pancing ke permukaan air yang sudah tak memiliki mata kail itu. Kepalanya tampak menggeleng di sertai tarikan nafas dalam menandakan ia kecewa berat karena tak jadi membawa ikan.
Namun sikapnya itu tak berlangsung lama. Di mana lagi lagi ia di kejutkan oleh suara wanita yang entah dari mana datangnya. Hanya saja untuk kali ini suara itu terdengar seperti cekikikan seakan tawa itu baru saja menertawakan kesialannya di malam itu.
"siapa kau sebenarnya hah !!! Ayo tunjukan dirimu. Mau setan, mau siluman, sini perlihatkan wujudmu kalo kau berani"
Ucap Tumang seperti merasa muak karena jelas jelas suara cekikikan itu adalah ungkapan yang menertawakan dirinya. Dan tak lama setelahnya, tiba tiba udara terasa semakin sejuk di sertai bau bunga melati begitu menusuk. Tak heran jika Tumang yang sebelumnya meyakini suara itu bukanlah suara manusia, bulu kuduknya menjadi meremang. beruntung untuk kali ini Tumang sudah lebih dulu waspada dan sudah mempersiapkan keberaniannya bahkan sebelum dirinya sampai ke tempat itu.
"tolonggg... Tolong saya kang... Tolong saya"
Usai tumang mengatakan itu, lagi lagi ia mendengar suara wanita untuk kesekian kalinya. Dan kali ini suara itu sama seperti baru pertama kalinya ia mendengar suara di tempat itu. Sebuah kata meminta tolong di sertai isakan tangis yang begitu menyayat hati.
"ka... Ka... Kau siapa sebenarnya ? Apa mau mu. Kenapa kau selalu mengganggu ku?"
Ucap tumang sembari sedikit menjauh dan melarak lirik mencari pemilik suara itu. obor yang sebelumnya ia tancapkan di lumpur sawah, seketika ia raih lalu ia tinggikan. Dan tentu saja kali ini suasana di sekitarnya semakin jelas oleh cahaya obornya itu.
beberapa petak sawah dan gundukan beberapa rumput liar kali ini terlihat meskipun tak benar benar jelas. Namu pemilik suara itu tetap saja tak ia lihat. Hanya beberapa siluet hitam yang membentuk bayangan bayangan aneh dan semakin membuat merasa seram yang ia rasakan. Sampai pada akhirnya pandangan Tumang tertuju pada aliran sungai utama yang tak begitu jauh dari parit di hadapanya itu.
Di sanalah Tumang melihat bayangan putih yang berdiri tepat di atas permukaan air seperti melayang tanpa menyentuh aliran air sungai. Tumang merasa yakin jika sosok di hadapanya itu bukanlah bongkahan batu yang mencuat atau rumput liar yang terbawa arus sungai. melainkan seperti tubuh yang terbungkus kain putih dan beberapa tali ikatan di beberapa bagian tubuhnya.
Wajah sosok itu tampak putih pucat dan tampak menunduk di sertai simpul ikatan di hujung kepalanya yang bergelayut perlahan tertiup angin malam.
"po... po... Po.. Pocong. Ha.. Ha... Han... Han.. Hantu"
Seketika Tumang merasa kerongkongannya tercekat dan tak sanggup bicara banyak. Suara lantang yang terkesan menantang sebelumnya, seperti di bayar lunas oleh penampakan yang membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat saking ketakutannya. Keberaniannya lagi lagi perlahan hilang. Dan yang membuat Tumang tak mengerti, kakinya itu seperti tak bisa gerakan seperti di paksa melihat penampakan sosok pocong di hadapanya.
Apa lagi Tumang semakin merasa tak karuan tat kala sosok itu melayang mendekatinya. Aroma melati itu semakin jelas tercium sampai kepalanya terasa berat. dan mengingatkan pada ustad Somad yang sudah mengalami serta sama persis yang ia alami saat ini.
Hanya saja yang membuat Tumang kuat dan tetap bertahan dalam posisi itu, sedikitpun dirinya tak mencium aroma busuk seperti yang di alami ustad Somad sebelumnya.
namun apalah artinya aroma wangi melati itu. Jika jelas jelas bersumber dari sosok pocong.
"saya mohon kang. Tolong hantarkan saya pulang. Saya tak tahu jalan pulang"
Untuk sekian kalinya sosok itu mengatakan kalimat yang sama. Namun sayangnya, yang terdengar oleh Tumang bukanlah sebuah kalimat meminta tolong. Melainkan suara cekikikan dengan suara berat.
*Tinggalkan sejenak Tumang yang merasa katakutan di malam itu. kisah beralih pada sudut pandang sosok pocong yang sebelumnya adalah seorang gadis cantik beserta sabab musabab sampai dirinya berubah menjadi sosok pocong*
Wulan.
atau nama lengkapnya ' Nawang wulan'. Sebuah nama pemberian sang Bapak sejak lahir dan sampai saat ini sesudah memasuki usia dewasa. Sebuah nama yang di ambil dan di dapatkan karena ketika lahir bersamaan malam bulan purnama. Cahaya bulan yang terang kemilau nan indah itu seperti menggambarkan dan begitu serasi dengan lahirnya seorang bayi perumpuan yang tampak mungil berkulit putih dan bersih di hari itu.
Sampai seiring berjalannya waktu, bayi itu tumbuh menjadi seorang gadis yang memiliki raut wajah cantik. Hidungnya mancung, bulu matanya lentik, kulit putih di sertai rambut hitam peket, bersama lesung pipit yang membuat gadis itu semakin mempesona ketika tersenyum. Cantiknya alami bawaan lahir dan bukan rombakan hasil kosmetik. Di sertai budi pekerti luhur dan tata bahasa yang santu pada sesama. Membuat gadis itu semakin cantik dan menjadi dambaan setiap orang terlebih untuk kedua orang tuanya.
Nawang wulan atau yang biasa di panggil dengan sebutan Neng Wulan, adalah anak gadis satu satunya dari seorang ayah yang tak lain adalah juragan Lemud. Seorang juragan terkaya di desa ketika itu. Hanya saja juragan Lemud memiliki watak keras, tegas, galak, dan berambisi pada harta dan tersohor pelitnya selangit. Berbeda dengan anak gadisnya yang bernama Wulan yang baik dan shalehah.
Kendati demikan, segalak galanya seorang bapak apalagi pada anak semata wayang. Seperti pribahasa mengatakan.
'segalak galaknya macan, tentu tak akan makan tutup termos'.
Wulan putri satu satunya itu begitu di banggakan dan di jaga dengan sepenuh hati. Tak sekalipun bah Lemud itu sanggup menolak jika putrinya memiliki keinginan. Apalagi banyaknya hartanya itu begitu menunjang. Seperti uang bukanlah soal. Asalkan putrinya bahagia, bah Lemud rela melakukan apa saja demi putrinya itu.
Namu kali ini. Usai kebahagian itu di nikmati seiring Wulan mangkak birahi dan tumbuh dewasa. Bah Lemud harus mengalami insiden yang mencelakan putrinya itu. Di mana dengan sangat terpaksa putrinya itu di katakan pada semua orang sedang pergi ke kota berlibur di rumah pamannya yang ada di kota lain. Yang padahal putrinya itu kini sedang tersesat oleh sisi gaib dan berubah menjadi sosok siluman pocong.
sehingga tak heran...