Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Pesta Ulang Tahun yang Berantakan
Malam ini seharusnya menjadi malam perayaan. Salah satu anggota senior ALVEGAR mengadakan pesta ulang tahun besar-besaran di sebuah clubhouse mewah. Semua orang hadir, termasuk The Queens dan seluruh inti ALVEGAR. Namun, alih-alih suasana pesta, ruangan itu terasa seperti medan perang yang membeku.
🎭 Pura-Pura Bahagia
Arazka datang dengan setelan hitam, terlihat sangat tampan namun auranya sangat dingin. Tak lama kemudian, Maura datang mengenakan gaun simpel berwarna merah marun yang membuatnya terlihat sangat elegan.
Miko mencoba menyelamatkan suasana. "Woi! Pasangan headline kita sudah datang! Ayo dong, jangan kaku kayak manekin!"
Arazka mendekati Maura, mencoba meraih pinggangnya untuk menjaga image di depan umum. Namun, Maura dengan halus menghindar, pura-pura memperbaiki tasnya.
"Jangan di sini, Arazka. Gue lagi nggak mau akting," bisik Maura tajam.
Arazka menyipitkan mata. "Loe masih marah soal hujan kemarin?"
"Loe nggak minta maaf sama Kinara, dan loe masih diemin Danis. Gue nggak bisa pura-pura semua oke," balas Maura sebelum berjalan menjauh menuju meja minuman.
💔 Dansa yang Salah
Di sudut lain, Danis sedang duduk berdua dengan Kinara. Suasana di antara mereka masih canggung. Kinara berusaha mengajak Danis bicara, tapi Danis lebih banyak diam, matanya terus mengikuti gerak-gerik Maura di seberang ruangan.
Tiba-tiba, sebuah lagu slow diputar. Miko dan Fanila (yang dipaksa Miko) mulai berdansa konyol di tengah lantai.
Arazka, yang ingin membuktikan dominasinya, berjalan ke arah Kinara. "Kinara, mau dansa sebentar? Anggap saja permintaan maaf gue soal kemarin."
Danis langsung berdiri, wajahnya menegang. "Zka, jangan mulai lagi."
"Cuma dansa, Dan. Loe takut?" tantang Arazka.
Kinara yang merasa tidak enak dan tidak ingin ada keributan lagi, akhirnya berdiri. "Cuma satu lagu ya, Kak Danis."
Saat Arazka membawa Kinara ke tengah lantai, Maura yang melihat itu merasakan hatinya seperti diremas. Di saat yang sama, Danis menghampiri Maura.
"Maura... mau dansa sama gue?" tanya Danis, suaranya terdengar tulus namun penuh luka.
Maura menatap Arazka yang sedang berdansa dengan Kinara, lalu menatap Danis. "Oke, Dan."
⚡ Ledakan di Tengah Lantai
Kini, dua pasangan itu berdansa berdekatan. Arazka dengan Kinara, dan Danis dengan Maura. Suasana menjadi sangat panas. Arazka terus menatap tajam ke arah tangan Danis yang berada di pinggang Maura.
"Loe kelihatan cocok sama dia, Maur," bisik Arazka cukup keras agar terdengar oleh Danis.
"Atau mungkin loe yang kelihatan lebih menikmati dansa sama Kinara, Zka?" balas Maura pedas.
Danis melepaskan tangannya dari Maura dan menatap Arazka. "Berhenti jadi pengecut, Arazka! Kalau loe ada masalah sama gue, selesain sama gue. Jangan bawa-bawa cewek gue, dan jangan sakiti Maura!"
Arazka melepaskan Kinara dan maju mendekati Danis. "Gue ketua di sini, Dan! Gue yang nentuin siapa yang tersakiti dan siapa yang enggak!"
"Ketua? Loe cuma seorang diktator yang kesepian!" teriak Danis.
BRAK!
Arazka mendorong Danis hingga menabrak meja minuman. Gelas-gelas pecah berserakan. Musik berhenti seketika. Semua orang melongo.
🌑 Keputusan Rangga
Di tengah keributan itu, Rangga berdiri di lantai dua, memegang gelasnya dengan tenang. Dia melihat sahabat-sahabatnya hancur. Dia melihat Arazka yang kehilangan kendali dan Danis yang penuh dendam.
"Sempurna," bisik Rangga.
Dia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke grup besar ALVEGAR (tanpa Arazka dan Danis).
"Besok jam 4 sore, kumpul di gudang lama. Kita perlu bicara soal masa depan ALVEGAR tanpa pemimpin yang emosional."
Maura berlari ke arah Danis untuk membantunya berdiri. "Danis! Loe nggak apa-apa?"
Arazka melihat itu dengan mata merah padam. Dia merasa dikhianati oleh semua orang. Tanpa kata, dia berbalik dan pergi meninggalkan pesta, mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menembus malam.
Miko terduduk di lantai, menatap pecahan gelas. "ALVEGAR... beneran mau hancur ya, Nila?"
Fanila hanya bisa mengusap bahu Miko, tidak tahu harus menjawab apa.
TO BE CONTINUED