Jhon, bertarung demi kehormatan di medan perang. mengalami penyergapan yang terpaksa membuatnya harus meledakkan kekuatan terakhirnya. Dia kehilangan ingatan, kehilangan kekuatan, kehilangan identitas, bahkan nyaris kehilangan segalanya. Dari Jenderal bintang lima, Dari seorang pewaris keluarga William, seketika berubah menjadi bukan siapa-siapa dan bahkan dianggap lebih buruk dari sampah.
Mampukah Jhon menemukan kembali kekuatan yang pernah dia miliki, mampukah Jhon kembali menemukan jati dirinya? Ikuti kisahnya dalam karya saya yang berjudul 'PEWARIS YANG HILANG 2'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edane Sintink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jhon dijadikan tameng
...Bab 30...
Hari ini, tepat setelah beberapa hari menunggu, akhirnya hari memasuki kampus pun tiba.
Pada hari ini, Canyon of university resmi membuka mata kuliah bagi mahasiswa baru yang mendaftar.
Suasana tampak meriah dengan area kampus dipenuhi oleh muda mudi yang telah mendaftar sebagai mahasiswa.
Ada ramai mahasiswa dari berbagai golongan kelas baik itu dari kelas bawah, menengah maupun kelas atas. Dan ini dapat terlihat dari beberapa mobil sport yang terparkir di area parkir.
Di kamar asrama nomor 69, nomor yang sangat sakral bagi sebagian orang yang memiliki pemikiran kotor, tampak Jhon sibuk membangunkan keempat sahabatnya.
Jhon memang dikenal sebagai orang yang paling kurang tidur diantara keempat lainnya. Bahkan mereka sering melihat bahwa Jhon keseringan terlihat duduk bersila layaknya seorang yang bersemedi. Dan Jhon sendiri tidak tau alasannya. Dia hanya merasa bahwa hal ini tidak asing baginya. Dan setiap kali dia melakukan ritual seperti itu, dia merasa bahwa tubuhnya menjadi segar dan pikirannya menjadi jernih.
"Aku bangun!" Kata Jay Landers sambil melemparkan bantal ke arah Jasson.
Mendapat lemparan bantal, Jasson pun tersedak lalu buru-buru bangkit.
Tau siapa yang melakukan pelemparan tadi, Jasson segera mengejar Jay dan persekutuan pun terjadi diantara keduanya.
"Cepat lah. Bukankah kita harus cepat ke kelas dan memilih kursi dengan posisi bagus. Siapa tau nanti bisa dekat dengan salah satu kembang kampus,"
"Otak mu hanya dipengaruhi dengan kembang kampus. Bagaimana kalau itu Tiffany?"
Jay Landers meneguk liurnya. Entah kenapa ketika Jasson menyebabkan nama Tiffany, yang ada di otaknya adalah musibah kemalangan.
"Takut kan?" Ejek Jasson. Puas rasa hatinya melihat Jay ketakutan hanya dengan mendengar nama si pembawa kesialan tersebut disebabkan.
"Halah. Memangnya kembang kampus ini hanya mereka bertiga? Kan masih ramai kembang kampus yang lainnya. Lagipula, kalau dipikir-pikir, apakah ketiga gadis ini masuk ke dalam daftar sweety girls masih menjadi tanda tanya. Daftar Sweety girls terdiri dari seratus gadis tercantik di kampus ini. Dan selain ketiga gadis itu, aku masih berkesempatan mendekati yang sembilan puluh tujuh lainnya," katanya penuh percaya diri dan pengharapan.
"Nanti kita jangan duduk berdampingan ya. Siapa tau nanti kita bisa memiliki kesempatan berdekatan dengan gadis-gadis itu. Nasib siapa tau. Tapi jika kita duduk bersebelahan, kesempatan itu akan hilang," kata Jasson yang disambut dengan anggukan oleh David dan Erick.
"Sudah. Kalian selalu saja lupa waktu kalau membahas masalah perempuan. Lihat Jhon sudah bersiap!" Erick yang melihat Jhon sudah rapi langsung menegur sahabatnya yang lain. Dan mereka pun saling tarik dan dorong untuk menuju kamar mandi. Sedangkan Jhon hanya bisa menatap kosong kearah empat sahabatnya itu.
Tidak sampai setengah jam, keempatnya sudah selesai mandi. Entah mandi atau hanya cuci muka saja, hanya mereka yang tau. Dan tanpa ada janjian, mereka berlima bergegas meninggalkan kamar asrama dengan Jhon yang menjadi pemimpinnya.
Ketika mereka tiba di bawah, sebelum menuju ke kampus, mereka melihat keramaian yang tampak menarik perhatian mereka.
Jay, orang yang serba ingin tau langsung mendahului untuk bergabung dengan keramaian. Sedangkan Jhon seperti tidak tertarik. Tapi David malah menariknya dan mereka pun ikut berbaur dengan kerumunan orang.
Di tengah-tengah kumpulan orang-orang tersebut, tampak seorang pemuda tampan mengenakan outfit kekinian ala anak muda kaya sedang berlutut dihadapan semua gadis cantik yang sepertinya kaget dengan tingkah pemuda itu.
Gadis cantik itu tidak lain adalah Lee Na. Tak jauh darinya berdiri Christiane yang juga seperti Lee Na. Wajahnya terlihat heran. Karena dia tidak mengenal siapa pemuda yang tiba-tiba menyatakan cinta kepada sahabatnya didepan umum.
"Lee Na. Mungkin kau sudah lupa bahwa sebenarnya kita pernah bertemu di sebuah acara yang berlangsung di Distrik Utara. Kala itu kau datang bersama dengan Paman Blake. Mungkin kau tidak memiliki kesan, namun aku, ketika melihat dirimu langsung merasakan bahwa tulang rusuk ku bergetar. Apa kau tau, setelah pertemuan itu, aku merasa bahwa kau lah dunia ku. Aku merasakan kerinduan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Makan tak kenyang, tidur tak lena. Aku berharap semoga kau sudi mempertimbangkan ku sebagai seorang yang sangat memuja mu. Aku berjanji akan baik kepadamu seumur hidupku!"
"Wow..berapa romantisnya," kata seorang gadis diantara kerumunan. Dia terharu sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Kalau aku yang diperlukan seperti itu, tentu aku akan merasa sangat tersanjung,"
"Oh Tuhan, sisakan satu lelaki seperti itu untuk ku!"
Kerumunan menjadi heboh dan bisik-bisik pun terjadi diantara mereka.
Hampir semua gadis merasa terharu. Lalu entah siapa yang terlebih dahulu memulai, mereka langsung bersorak.
"Terima! Terima! Terima!"
Di tengah-tengah kerumunan, tampak pemuda itu tersenyum penuh percaya diri. Dia tau akan pesona yang dia miliki. Ditambah lagi dengan dorongan orang ramai, tentu saja Lee Na akan menerima pernyataan cintanya.
Sementara itu, Lee Na sendiri tampak terjebak. Dia tidak tau harus menolak dengan cara apa. Matanya jelalatan seolah-olah sedang mencari pegangan saat terseret arus.
Di belakangnya, Christiane mencolek tangannya sambil berbisik. "Jhon ada di kerumunan. Tepatnya arah jam sepuluh!"
Lee Na menarik nafas lega. "Maafkan aku Jhon!" Katanya dalam hati. Kemudian dia segera melangkah ke arah kerumunan.
Kerumunan orang langsung membuka jalan.
Ketika tiba di hadapan Jhon, Lee Na langsung tersenyum kemudian meraih tangan Jhon lalu menariknya ke tengah.
Jhon sendiri merasa terkejut bukan main. Apa-apaan ini. Tiba-tiba saja tangannya di tarik.
Perhatian semua orang tertuju ke arah dirinya. Ini yang membuatnya menjadi salah tingkah.
"Alan kan? Maafkan aku, sebenarnya aku sudah memiliki pasangan. Perkenalkan, kekasihku bernama Jhon. Dan kami sudah berpacaran sejak setahun yang lalu. Bukannya aku ingin menolak mu. Tapi hati ku hanya satu dan itu sudah dimiliki oleh lelaki yang berada di samping ku ini,"
"Eh, setahun? Sejak kapan ki...,"
Jhon langsung menghentikan kata-katanya. Dia melihat Lee Na memelototinya. Dia khawatir kalau dia melanjutkan kata-katanya, Lee Na pasti akan menggigit kupingnya sampai putus.
Pemuda yang tidak lain adalah Alan mengepalkan tangannya. Wajahnya diselimuti kemarahan bercampur rasa malu. Tapi itu hanya sesaat dan dia kembali seperti sedia kala. Namun, perubahan yang sesaat itu tak luput dari perhatian Jhon.
"Hmmm. Musibah baru akan datang!" Pikirnya dalam hati.
"Apakah benar orang ini adalah pacar mu? Tidak ku sangka ternyata Lee Na, putri dari seorang penguasa distrik timur memiliki selera yang sangat rendah. Lee Na, setidaknya jika ingin berbohong dan mencari perisai, carilah yang masuk akal. Jika orang itu adalah salah satu dari tuan muda di Canyon City ini, aku akan dapat menerima. Akan tetapi, manusia pra sejarah seperti ini yang kau jadikan sebagai tameng, apakah kau ingin menhina kecerdasan ku?" Kata Alan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat menyakitkan dan penuh dengan penghinaan.
semangat author untuk terus berkarya..../Good/💪