Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 7
"Aku mau ngajakin kamu makan siang!"
Rani hanya mengangkat nampan berisi piring bekas pelanggan "Kerjaan aku lagi banyak benget"
Revan mengangkat tangannya kearah salah seorang pelayan "Sorry!"
Wanita yang mengenakan seragam cafe itu mendekat "Ya tuan!"
"Tolong panggilkan manager nya!" Titahnya dan pelayan wanita itu mengangguk
"Kamu mau apa sih?" Tanya Rani, pria tinggi itu hanya mengedikkan bahunya
Tak lama seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahunan datang menghampiri keduanya
"Ada yang bisa di bantu, tuan?" Tanya pria yang merupakan seorang manager itu
"Saya mau makan siang bersama calon istri saya, jadi saya mau kalian kosongkan cafe ini untuk saya dan calon istri saya!" Ujar Revan
Rani terkejut, Revan memang tak bisa ditebak. Rani hanya tersenyum sungkan kearah atasannya
"Gimana? Bisa kan?"
"Tentu tuan!" Pria itu menunduk hormat, kemudian memberi perintah pada semua bawahannya untuk mengerjakan perintah tamu VVIP mereka
Revan tersenyum, sungguh ia merasa jika dirinya adalah pria idaman semua wanita
"Hebat kan aku?" Tanyanya dengan nada sombong
Rani menatapnya tajam, Revan memang orang kaya. Lahir dari keluarga konglomerat, membuatnya ingin selalu mendapatkan apa yang ia inginkan dan Rani tak suka itu
"Kamu berlebihan Revan" ketus Rani pada calon suaminya
"Ini semua demi kamu sayang!" Revan menggenggam tangan kekasihnya
"Aku gak butuh kamu seperti ini Revan! Aku mau kita terlihat seperti pasangan normal!" Keduanya masih berdebat ketika salah seorang pelayan datang
"Meja untuk tuan dan nona Rani sudah siap!" Rani menatap tajam pada rekan kerjanya itu, jelas sekali jika temannya tengah meledeknya
"Ayo!" Revan menggenggam tangan sang kekasih lalu membawanya ke arah meja pesanannya
"Kamu dengerin aku gak sih?"
"Aku denger, tapi aku gak peduli!"
Rani menghela napasnya berat, sungguh Revan jauh dari kriteria suami yang ia inginkan. Revan selalu ingin menang, ia tak suka berdebat dan mendengarkan pendapat orang lain
"Apa kamu akan seperti ini setelah kita menikah nanti?" Tanya Rani
"Kamu pasti terbiasa sayang, udahlah, ayo kita makan!"
Sejenak Rani berpikir, entah akan seperti apa rumah tangganya bersama Revan nanti
***
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, entah kenapa kendaraan roda dua milik Reyhan malah menuju cafe tempat Rani bekerja
Disana Rani tengah berdiri didepan cafenya, seperti tengah menunggu seseorang
"Hay!" Sapa Reyhan
"Reyhan? Kamu ngapain disini?" Tanya Rani
"Mau pulang bareng!" Ajaknya
"Ojek aku udah mau dateng, Rey!" Tolak Rani, karena memang ojek online pesanannya akan tiba
Benar saja, Reyhan masih disana saat ojek online pesanan sang sahabat berhenti tepat didepan keduanya
"Aku duluan yaa!" Pamit Rani, namun Reyhan menarik tangannya hingga langkahnya berhenti "Ada apa?"
"Ini mas! Dia sama saya!" Reyhan menyodorkan uang pecahan lima puluh ribu pada mas tukang ojek
"Apaan sih! Gak perlu!" Rani terkejut saat Reyhan menyerahkan uangnya
"Ayo naik! Kamu pulangnya sama aku!" Karena Reyhan memaksa akhirnya Rani memutuskan untuk ikut sang mantan
Rani duduk di jok belakang, tangannya hanya memegang bagian belakang jaket yang Reyhan kenakan
"Pegangan Ran!"
"Nggak!" Rani menolak, Reyhan tersenyum. Rani memang masih sama, tak ada yang berubah dari mantan kekasihnya itu
Motor melaju dengan kecepatan sedang, hingga tiba-tiba saja turun hujan yang cukup lebat. Reyhan menepikan motornya didepan sebuah halte bus
"Kita neduh dulu yaa!" Ujar Reyhan, ia sedikit berteriak agar suaranya tak tertutup suara hujan
"Iya!" Keduanya saling menatap
"Maaf yaa!"
Rani mengerutkan keningnya "Maaf untuk apa?"
"Karena ikut aku baik motor kamu jadi basah-basahan kayak gini!" Reyhan tak enak hati, calon suami Rani itu orang yang sangat kaya, tapi ia malah membawa Rani hujan-hujanan seperti ini
"Apaan sih kamu Rey, gak pa-pa lagi!" Rani mengulas senyumnya, entah kenapa hujan-hujanan seperti ini bersama Reyhan membuatnya bahagia
"Kamu kedinginan yaa?" Tanya Reyhan saat melihat Rani mengusap lengannya
Wanita cantik itu mengangguk, dengan gentle Reyhan melepas jaketnya lalu ia lampirkan pada bahu Rani, membuat wanita itu merasa lebih hangat
"Makasih ya Rey" Reyhan tak menjawab, tatapannya intens kearah wanita yang bertahun-tahun lalu mengisi hatinya itu
Reyhan mengusap pipi Rani dengan lembut, wanita cantik itu mencoba menghindar namun Reyhan lebih cepat dengan menahan tengkuknya
"Kamu mau apa Rey?" Tanyanya panik, entah kenapa dirinya malah merasa nyaman
Wajah Reyhan kian mendekat, hingga bibir keduanya bertemu. Keduanya terbawa suasana yang begitu hangat, hujan memang cukup lebat hingga tak ada yang melihat apa yang mereka lakukan
Rani mendorong tubuh kekar pria dihadapannya, napas keduanya masih memburu
"Apa yang kamu lakukan Rey?" Rani masih mencoba mengatur detak jantungnya, entah kenapa debaran itu datang lagi, sudah sangat lama ia tidak merasakan perasaan ini setelah hubungannya bersama Reyhan berakhir
"Maafkan aku Rani! Aku. Aku, aku terbawa suasana!" Reyhan mengutuk dirinya sendiri, entah setan' apa yang merasukinya hingga bisa melakukan hal itu
"Aku mau pulang!" Rani seperti ingin menghilang saja
"Hujannya masih lebat Ran!"
"Aku gak peduli! Kalau kamu gak mau nganterin aku, biar aku pulang sendiri aja!" Rani sudah hendak keluar dari halte namun Reyhan menarik tangannya
"Aku anterin!"
Alhasil keduanya berkendara di bawah guyuran hujan, tak peduli dengan tubuh keduanya yang basah yukup
Keduanya diam, baik Reyhan dan Rani tak ada yang bicara, kejadian di halte beberapa menit yang lalu seolah terus terlintas dikepala mereka
"Aku gak mau jadi pelakor! Reyhan udah nikah, aku gak mungkin menghancurkan rumah tangga wanita lain!" Batin Rani, hati dan otaknya seperti tengah berperang
"Manis" Reyhan mengulas senyumnya "Rani masih sama, semua yang ada dirinya juga masih sama"
Motor matic itu berhenti didepan sebuah rumah sederhana milik Rani dan keluarganya. Rani tinggal bersama ayah serta ibunya
"Makasih" Rani turun dari motor
"Rani tunggu!" Wanita cantik itu berbalik menatap pria lancang dihadapannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan "Soal tadi.."
"Kita lupakan saja Rey, anggap semuanya tidak pernah terjadi!"
Entah kenapa ada perasaan tak rela saat Rani mengatakan hal itu, ia merasakan hal aneh pada hatinya dan wanita itu mengatakan akan melupakannya
"Aku gak bisa Ran! Aku gak tau, tapi rasanya aku..!"
"Cukup Reyhan!" Bentak Rani, bahkan Reyhan belum melanjutkan ucapannya "Kita lupakan semuanya!"
"Apa kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan?"
Rani terlihat gelisah, entah kenapa pertanyaan Reyhan kali ini menjebaknya
"Kita gak seharusnya melakukan ini, kamu sudah menikah dan aku sebentar lagi juga akan menikah!" Rani sendiri tak mengerti dengan hatinya
Ada rasa hangat pada hatinya saat pria yang masih memiliki tempat dihatinya itu menyentuh nya