Pernah denger nggak ada mitos yang bilang kalau dua orang yang wajahnya mirip itu berarti jodoh ? dan itu yang dialami nadin, di hari pertama dia menginjakkan kaki di SMA Garuda dia bertemu dengan pria yang wajahnya mirip dengan nadin namanya Gavin. Sejak saat itu mereka selalu jadi pasangan yang sering mendapatkan "ciye ciye" oleh satu sekolah, Padahal yang sebenarnya Nadin dan Gavin tidak pernah akur sama sekali.
8 Tahun kemudian Nadin mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris di sebuah perusahaan di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Nadin yang sangat mencintai uang memiliki misi untuk memacari salah satu petinggi di perusahaan itu. Tapi imajinasi nya akan boss yang tampan dan kaya luntur seketika saat dia mendapati kalau orang yang menerimanya sebagai sekretatis tidak lain adalah Gavin, musuh abadinya.
Dengan seringai jahat gavin berkata " ingat, gue boss lo ! gue gak terima kata tidak !"
Dan sejak saat itu nadin merasa kalau neraka ada di depan matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NONA GINCU MERAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Nadin Almira Queen
Gue berjalan secepat yang gue bisa gak jelas mau pergi kemana yang penting gak melihat muka gavin yang ngeselin itu. Kalian tau gavin mencuri ciuman pertama gue tadi di pesawat, ya walaupun gue yakin sih dia ngelakuin itu juga karena ulah gue yang sengaja godain dia.
Tapi sumpah niat awal gue godain dia itu, murni cuma mau dia akuin kalau gue ini wanita cantik, tapi kenapa jadi gue yang dirugikan akk sial sial sial
Dia tadi menawarkan gue uang 10 juta supaya gue mau maafin dia, cih.. Gue emang matre tapi 10 juta cuma buat membayar ganti rugi ciuman pertama gue yang udah dia renggut paksa, seriously?!
Keterlaluan emang si kutu kupret itu dia fikir gue ini apa? Wanita penghibur? Brengsek emang si gavin gue nyesel dulu pernah... Nggak nadin jangan inget masa lalu itu lagi.
Fikiran gue udah mulai kacau, gue butuh spa segera. Terapi paling ampuh kalau gue lagi stress akut selain belanja gila-gilaan di mall tentu saja. Apalagi ini di Bali tempat yang paling populer dengan spa tradisional nya yang terkenal sampai ke negeri tetangga, spa i'm coming..
Saat gue melintasi lobi menuju tempat spa di hotel ini. Gue melihat seorang perempuan dan anak kecil yang sedang berdiri di meja resepsionis. Semakin gue perhatikan sepertinya wanita berbaju putih itu sangat familiar.
Karena penasaran, gue berjalan mendekati wanita itu. Saat jarak kami cukup dekat wanita itu berbalik badan, gue reflek memundurkan badan karena nyaris saja kami bertubrukan.
"Nadin ..."pekik wanita dengan wajah sumringah.
"Astaga aurora... Akk " gue memeluk tubuh langsing itu,
Dan untuk beberapa saat kami hanya berpelukkan seperti teman lama yang sudah lama tak berjumpa. Gue menghiraukan tatapan orang-orang dan si mbak resepsionis yang menatap kami dengan tatapan aneh.
Gue mengajak aurora untuk duduk di sofa nggak jauh dari meja resepsionis. Gue duduk di hadapan aurora, sementara anaknya duduk anteng sambil bermain miniatur pesawat di sampingnya. Kalian tau? Gue suka banget sama anak kecil. Tapi gak semua anak kecil gue suka sih, anak kecil yang gue suka itu yang kulitnya putih, pipi nya chuby dan nggak cengeng. Persis seperti anaknya aurora ini.
"Ra.. Anaknya lucu banget, siapa namanya? "
"Justin nad, ayo justin kasih salam ke aunty nadin "
Justin berjalan perlahan ke hadapan gue kemudian menyalami tangan gue dengan tangannya yang lebih kecil 3 kali lipat dari tangan gue itu, omo cute.
"Tin aunty.. "Ujar justin dengan bahasa yang masih sulit dipahami.
"Ra.. Justin boleh gue gendong gak, gak bakal diculik kok "
"Boleh dong nad, justin sana main sama aunty nadin "
Justin yang tadi sudah duduk di samping aurora, berjalan perlahan ke arah gue. Hap langsung aja gue tangkep bocah imut itu dan gue taruh di atas pangkuan gue. Justin diam saja sambil kembali memainkan miniatur pesawatnya.
"Suami lo di mana ra? Nggak ikut kesini? "
Ekspresi wajah aurora langsung berubah, apa pertanyaan gue menyinggung dia ya? Duh salah ngomong nih gue jangan-jangan.
"Dia.. Lagi pulang ke Amerika. Ada urusan bisnis katanya "aurora tersenyum, kenapa gue ngerasa senyum nya terpaksa ya?
Gue menggelengkan kepala berusaha menghindari fikiran-fikiran aneh yang menggerayangi otak gue, singkirkan naluri kepo mu itu nadin.
"Lo disini sama siapa ra? "
"Gue disini sama.... "
"Aurora "
Gue hafal banget suara cempreng yang dulu sempet gue puji mirip suara Shawn Mendes itu, nyesel gue pernah membandingkan suara si ganteng shawn sama shawn the sheep ini.
Aurora langsung berjalan menghampiri gavin yang baru saja datang dari arah pintu masuk. Dan kalian tau, si pria itu tanpa malu memeluk tubuh aurora dan ngapain juga matanya ngeliatin gue begitu. Gue balas menatap gavin dengan tatapan seolah berkata "bangga banget ya jadi perbut bini orang ".
Aurora mengajak gavin untuk bergabung bersama kami. Gue cuma bisa pasrah dan menyetujui saja perkataan Aurora. Padahal sumpah, hari ini kalau bisa gue gak mau lihat wajah gavin.
"Jadi kalian satu SMA? kok bisa kebetulan banget ya?? "ujar aurora setelah mendengar cerita bagaimana gue dan gavin saling mengenal.
Aurora nampak terkejut tapi raut wajahnya juga bahagia. Dia bahkan bertanya hubungan kami ( gue dan gavin) seperti apa. Dengan senyum yang gue tau banget sengaja di manis-manisin gavin menjawab kalau kami berdua teman akrab, akrab dari Hongkong.
"Iya karena aku sama dia akrab makanya aku cocok kerja bareng sama dia "
Mulut manis gavin mulai melancarkan aksinya. Mendadak gue mules denger semua perkataan gavin, gue butuh ke toilet sepertinya.
"Duh.. Kalian itu kenapa gak pacaran aja sih, wajah kalian mirip, kalian juga akrab, terus kerja bareng lagi udah jadian aja " aurora terlihat begitu antusias dan serius dengan ucapannya, duh aurora lihat gak sih kalau wajah gue dari tadi udah pengen nampol orang rasanya.
"Haha nggak mungkin lah ra, nadin itu jauh dari tipe gue "gavin menatap gue yang duduk di sebelahnya, terpaksa banget sebenernya karena gak ada kursi lain.
"Tipe saya juga jauh tuh dari ciri-ciri bos gavin "gue bales menatap dia dengan tatapan meremehkan, enak aja dia bilang begitu.
"Hah? Gak salah denger ya nad? Bukannya dulu waktu SMA lo pernah nembak gue? Ups keceplosan "gavin menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
Someone please help me now!! Ada yang punya jarum jahit gak sih buat nutup mulut ember nya si gavin ini.
"Hah yang bener ra? Tuh kan vin apa yang kurang? Nadin cantik, baik, pinter lagi dan dia juga suka anak kecil tipe kamu banget kan? Nad kamu mau gak terima gavin lagi? "
Ini aurora gak bisa liat situasi ya kalau wajah gue udah berubah merah padam dan sebentar lagi mungkin tanduk iblis muncul dari kepala gue. Di kepala gue bahkan sudah mucul berbagai ide untuk membunuh makhluk di samping gue ini aurora. Tolong peka sama keadaan.
"Aurora.. Tolong dong lo itu peka sedikit sama keadaan "ujar gavin, tumben omongannya bener.
"Gue mana mungkin suka sama cewek manja yang bisanya cuma jadi lintah darat bagi cowok kaya, alias cewek ini matre "
Gue cuma bisa diem sambil menatap gavin. Gue tau persis gavin itu kalau ngomong suka gak pake disaring dulu alias ceplas ceplos. Gue akuin gue memang matre dan bukan sekali dua kali gue mendengar orang berujar hal yang sama tentang gue.
Tapi entah kenapa mendengar gavin berbicara langsung di depan gue seperti itu apalagi di hadapan aurora, hati gue langsung mencelos. Gue merasa perkataan dia menohok dan shit gue gak sadar kalau gue baru saja mengeluarkan cairan bening itu lagi, air mata.
"Gavin lo keterlaluan tau gak!! "Suara aurora terdengar sangat keras membentak gavin.
Gue yang gak bisa menahan air mata dan rasa malu yang teramat sangat memutuskan untuk pergi dari hadapan mereka. Gue akuin ini drama banget, mirip seperti yang sering gue tonton dulu di sinetron sepulang sekolah. Tapi sungguh, kalau boleh milih gue juga gak mau ada di drama sialan ini.
Gavin Christopher
Kalian tau menurut gue cowok yang sering buat cewek menangis itu lebih pantes disebut banci. Kasta paling rendah dari seorang laki-laki adalah pria brengsek yang dengan sengaja buat orang lain apalagi itu cewek nangis. Dan sekarang gue menjilat ludah gue sendiri, gue gak pantes di sebut cowok.
Nadin pergi begitu saja setelah gue berkata tentang alasan kenapa gue gak bisa terima dia jadi pacar gue. Serius gue gak bermaksud buat dia sakit hati apalagi nangis seperti itu, Aurora menatap gue dengan tatapan kecewa. Lengkap sudah semua hal yang menyudutkan gue dan berakhir sebagai cowok brengsek di hadapan Aurora.
Bahkan nadin aja belum memaafkan gue atas kesalahan gue yang dengan bego nya main cium dia di pesawat. Dan sekarang perkataan gue ke dia mungkin aja buat dia sakit hati dan semakin gak mau memaafkan gue.
Jujur saja nadin gak pernah berbuat jahat sama gue, perlakuan dia yang dulu selalu membuat gue susah mungkin saja bentuk perlawanan dia karena dia gak terima gue bully. Gue merenungi semua hal yang pernah gue katakan ke nadin, dan semakin gue ingat semakin gue sadar kalau gue betul-betul pria brengsek.
Gue tau nadin bukan cewek jahat, walaupun terkadang omongan nya pedas seperti mercon tapi dia ngomong apa adanya. Dan sikap dia yang blak blakan mendeklarasikan diri sebagai cewek matre, sebenernya patut gue acungi jempol. Di saat seluruh cewek di luar sana berpura-pura gak butuh uang dan ujung-ujungnya tetep morotin harta laki-lakinya nadin berprilaku sebaliknya.
Waktu SMA gue pernah nggak sengaja ketemu nadin di toko tempat jual tas-tas mewah. Dia disana sambil ngelus-ngelus tas LV yang gue prediksi itu salah satu tas kesayangan dia. Gue memperhatikan dia dengan seksama sambil bersembunyi di balik tembok, sampai-sampai gue merasa seperti stalker.
Gak lama setelah itu nadin keluar sambil memasukkan amplop coklat ke dalam tas sekolahnya. Karena iseng gue buntuti aja dia pakai motor yang kebetulan hari ini gue kendarai. Hampir 30 puluh menit gue membuntuti dia sampai dia membelokkan mobil nya masuk ke parkiran rumah sakit khusus kanker.
Gue sempat berfikir jangan-jangan nadin sakit terus umur nya udah gak lama lagi ? Buru-buru gue mengikuti nadin, tentu saja masih dengan cara mengendap-endap. Kalau sampai beneran nadin sekarat, gue harus buru-buru minta maaf sama dia sebelum dia mati. Eh doa gue buruk banget astaga.
Nadin berhenti di sebuah ruangan, sambil tersenyum bahagia dia mendorong pintu yang kebetulan ada celah yang bisa gue gunakan untuk mengintip. Nadin mengelus kepala bocah laki-laki yang berkepala botak dan kalau menurut prediksi gue bocah itu habis melakukan kemoterapi. Nadin tampak tertawa dan terlihat akrab sekali dengan bocah itu kedua orang tua bocah itu juga merangkul nadin dan terlihat sangat menyayangi nadin.
Apa dia orang tua dan adik nadin? Tapi kalau gue perhatikan mereka gak mirip. Insting ke kepo an gue betul-betul ingin tahu siapa orang-orang itu dan apa hubungannya mereka dengan nadin.
Gue celingukkan mencari orang yang bisa gue jadikan sumber informasi. Dan pas banget seorang suster sedang berjalan ke arah gue, sepertinya dia akan memberikan obat untuk pasien di kamar ini.
"Sust.."
"Iya mas? Ada yang bisa saya bantu? "
"Perempuan itu siapa ya sust ? "Gue menunjuk pada nadin yang sedang duduk sambil memegang buku di samping tempat tidur bocah laki-laki itu.
"Oh itu mba nadin mas, dia salah satu donatur di RS ini "
What? Nadin? Jadi donatur di RS? Kalau jadi penyumbang keuntungan para penjual tas mahal sih gue percaya ini yang gue gak percaya si suster ini gak bohong kan?
"Mba nadin sayang banget mas sama paundra, paundra itu pasien kanker stadium akhir mas.. Dokter sebenernya sudah menyerah dan bilang kalau hidup bocah itu udah gak lama lagi. Tapi mba nadin kekeuh tetep kesini terus setiap hari dan bilang kalau dokter itu bukan tuhan dan pasti akan ada harapan bagi orang-orang yang percaya keajaiban "
"Mereka adik kakak sust? "
"Bukan mas, keluarga mba nadin memang sering datang kesini untuk ngasih sumbangan. Tapi mba nadin dan mamah nya yang paling sering dateng berkunjung "
"Oh gitu sust "
"Mas nya mau ikut ke dalem ketemu paundra dan mba nadin? "
Gue buru-buru menggeleng. "Nggak sust saya buru-buru masih ada urusan "ujar gue sambil tersenyum.
"Baik mas, saya permisi mau kasih obat ke paundra dulu "
Gue bergeser agar suster bisa masuk ke dalam ruangan perawatan ini. Gak tau kenapa tiba-tiba gue tersenyum melihat nadin yang masih memegang buku sambil sesekali tertawa bareng bocah itu. Nadin ternyata gak seburuk apa yang gue fikirin.
Dan disinilah gue sekarang, di depan pintu kamar nadin setelah sebelumnya mendapatkan siraman rohani dari aurora mengenai dosa nya menyakiti wanita.
Gue yakin aurora selama jadi ibu rumah tangga selalu nonton acara mamah dan aa di televisi, makanya gak heran kalau dia fasih banget nyeramahin gue tentang betapa dosa nya kalau gue menyakiti wanita.
Gue merasa gugup bukan karena gue suka atau apapun loh ya sama penghuni kamar ini. Kalian jangan negatif thingking dulu ke gue. Gue gugup karena gue takut aja kalau tiba-tiba nadin gampar gue atau bisa aja kan dia nyiram wajah gue pake air keras dan yang terparah dia nembak kepala gue pake pistol. Tamatlah riwayat gue.
Tok tok tok
Oke vin stay cool, masa lo menghadapi investor asing aja bisa? Menangin tender bernilai miliaran jago. Masa menghadapi nadin doang aja nyali lo langsut ciut, malu sama junior. Pandangan gue langsung turun ke arah aset masa depan gue, gue laki!
Cekrek pintu dibuka, nadin masih dengan wajah sembab dan rambut yang mencuat kemana-mana. Gue nyaris aja mau ketawa liat penampilannya yang mirip seperti orang gila, tapi gue tahanlah sebisa mungkin, bisa ngamuk banteng di hadapan gue ini.
"Apa ?! Lo masih belum puas hina-hina gue? "Nadin langsung bentak gue tanpa membiarkan gue mengucap salam.
"Nad gue.. Mau... Minta... "
"Minta apa? Hah! Maaf ?! Telat ! Tiket neraka udah menunggu lo ! "Nadin nyaris saja menutup pintu, untung refleks gue Bagus dan langsung menahan pintunya pakai kaki gue.
"Dengerin gue dulu dong nad "
"Oke 5 menit di mulai dari sekarang "
"Masa lima men... "
"Satu dua... "Nadin mulai menghitung, kampret nih cewek.
"Gue minta maaf nadin almira queen, gue tau gue salah. Peristiwa di pesawat dan perkataan gue tadi di lobi gue salah salah banget.. "
Nadin nampak diam aja. Apa semudah itu ya minta maaf sama nadin? Apa nadin orang yang gampang meluap-lupa terus mudah maafin ya?
"Lo... Keliatan gak tulus minta maaf sama gue "
"what ?! "
"Iya.. Lo minta maaf sama gue pasti gara-gara aurora yang nyuruh kan? Gue kenal lo vin. Gak mungkin lo ada perasaan bersalah setelah memperlakukan gue begitu buruk "
Gue diam sambil meresapi kata-kata nadin. Apa gue sebegitu buruknya di mata nadin sampai dia berfikir kalau gue gak bisa merasa bersalah atas semua hal buruk yang gue lakukan sama dia.
"Gue butuh bukti vin kalau lo serius mau minta maaf sama gue, bukan cuma omongan ! karena apapun perkataan yang keluar dari mulut lo, gak ada satu pun yang gue percaya. Selamat malam bos "
Bedebam
Nadin menutup pintu kamar nya tepat di hadapan wajah gue. Untung saja hidung mancung gue gak jadi korban atas ke ganas an perlakuan nadin.
Bersambung