Kelanjutan dari Gadis Mungil (I Love You)
Beralih dari kerumitan di masa lalu, setelah terpuruknya keluarga Agus, kini Mona harus menghadapi kehidupan baru. kehidupan setelah lulus SMA, bersiap untuk menikah dan apa yang akan di lakukan setelah menikah.
Mona dan Arga, masih saling mencintai dengan cara mereka masing-masing. pertengkaran, kenyolan seperti biasanya.
jika ada kesalahan nama tokoh maupun tempat, mohon di mengerti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motifasi_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Mulai Dari Baron
Sesuai dengan tujuan awal, pagi ini Meri langsung bergegas melajukan mobilnya menuju perusahaan Joanda Group. Meri tahu, Tian pasti ada di sana.
Jika bukan karena penasaran dengan kejadian yang Meri dengarkan lewat ponsel semalam, Meri juga malas jika harus menemui Tian. Namun, mengingat kembali bahwa perusahaan Joanda Group menjadi tanggung jawabnya juga, Meri tentu harus setiap hari datang kesana.
“Kau baru datang?” tanya Tian dengan santai saat mengetahui Meri masuk ke dalam ruangannya.
Dengan malas, usai menutup pintu, Meri langsung berlenggak masuk menghampiri Tian yang sedang duduk menghadap layar laptopnya. “Sebenarnya aku malas datang ke sini. Bukan malas karena harus mengurus perusahaan ini, tapi aku malas bertemu denganmu.” Meri menarik kursi kosong, lalu mendaratkan pantat di atasnya.
Sementara di tempat duduknya, Tian nampak mengulum senyum lalu menggeser laptop tanpa menutupnya terlebih dahulu. “Ada perlu apa kau menemuiku?” tanya Tian.
“Bukan apa-apa, aku hanya penasaran dengan apa yang terjadi di rumahmu semalam,” ujar Meri tanpa basa-basi.
Tian yang belum paham, hanya menautkan dua alisnya. Tian tak mengerti dengan kejadian semalam yang di maksud oleh Meri. “Maksudmu apa?”
Meri berdecak. “Kan semalam aku menelponmu... saat tersambung, kau malah tidak bicara denganku, tapi justru kau malah berdebat dengan seseorang. Ada apa?”
“Oh itu....” Tian menghela napas lalu menyender pada dinding kursi. “Itu karena Baron.”
“Baron? Memangnya Baron kenapa?”
“Aku juga belum tahu dengan kejadian sebenarnya... tapi—.”
Krekeet!
Belum selesai berbicara, seseorang membuka pintu dengan perlahan. Baron yang memang sedang di bicarakan justru muncul. Dia berjalan gontai seolah malas untuk masuk ke dalam ruangan ini.
“Nah, kita tanya saja orangnya langsung,” celetuk Tian begitu Baron sudah maju lebih dekat.
“Apakah masalahnya sangat serius?” Meri mulai penasaran ketika mengamati dua wajah pria di hadapannya terlihat datar.
“Tentu saja sangat serius!” dengus Tian dengan menjulingkan mata ke arah Baron. Baron yang merasa disindir, memilih melangkah kemudian duduk di sofa. Meri hanya diam tapi memutar kursi menghadap di mana Baron berada.
“Serius, tapi kan juga bukan kesalahanku,” ujar Baron tak mau jika dirinya disalahkan.
“Sebenarnya masalahnya itu, apa? Serius? Serius yang bagaimana?” Meri melempar pertanyaan.
“Kau tanya saja sama Baron!” Tian semakin terlihat masam.
Meri langsung menatap tajam ke arah Baron. Sambil bersenderan, Baron langsung menarik napas, mengusap jidatnya yang berkeringat lalu mulai menggerakkan kedua bibir tebalnya. Sementara Baron, belum ditanya tapi sudah nampak lesu duluan.
“Apa yang terjadi?” tanya Meri. Biar bagaimanapun juga Baron adalah anak dari sahabatnya, tentu jika ada masalah dan Meri bisa membantu, pasti akan di lakukan.
“Ada yang menaruh ganja di klubku.”
“E— , ha?!” pekik Meri. “Bagaimana bisa? Tempatmu kan selalu dijaga dengan ketat, hal seperti ini kenapa sampai bisa lolos?”
“Itulah bodohnya dia!” hardik Tian tapa menoleh. Melihat wajah Baron, justru membuatnya geram dan ingin meninjunya.
“Ayah... bisa tidak, jika tidak mengataiku terus?!” Baron berdiri, berdecak keras dengan tatapan lurus memandang Tian. Meri hanya mengikuti pandangan itu.
“Bukankan klub itu sudah berdiri sejak puluhan tahun dan tidak pernah kejadian seperti ini?” imbuh Baron lagi.
“Lalu?” Tian berkata.
“Tentu saja aku akan segera menyelidikinya. Bukan Baron namanya jika masalah seperti ini saja, tidak bisa menyelesaikan.”
Grek!
Pintu tertutup dengan keras. Baron sudah pergi usai mengatakan itu. Baron orang berpengaruh, dan bukan tipe Baron jika harus menyelundupkan barang terlarang seperti itu. Bagaimanapun caranya, Baron harus segera membereskan masalah ini.
“Kau tenanglah... tak perlu sekeras itu padanya. Sepatutnya kau itu membantu, bukan malah membentak seperti tadi,” ujar Meri. Tian hanya mendesah lalu meraup wajahnya dengan kasar.
“Bukan begitu, aku hanya heran, kenapa klub yang penjagaannya sangat ketat tapi bisa kemasukan benda haram seperti itu dengan mudah?” Tian nampak berpikir. “Yang membuatku heran, kenapa baru terjadi sekarang ini? Kalau bukan karena—.” Tian menatap Meri seolah meminta Meri melanjutkan kalimat itu.
“Kau benar. Pasti ada orang dalam di balik benda itu,” Meri paham. Tian langsung mengusap-usap ujung janggutnya.
15.30 WIB
Arga sampai di rumah lebih awal. Biasanya, Arga selalu pulang malam atau sekitar pukul delapan malam. Mungkin hari ini dia sedang tidak fokus dalam bekerja. Bahkan, pertemuan dengan pemilik Klub yang di katakan Dion pun Arga tidak menemuinya.
Begitu berdiri di ambang pintu ruang tamu, entah mengapa Arga langsung merasakan rindu dengan sosok Mona. Memang, dari semalam Arga belum sempat mengobrol dengannya, rasanya ingin sekali memeluk bocah itu. Ish! Arga masih menyebut Mona dengan sebutan itu? Terserah!
Sebelum ke lantai dua, Arga belok haluan terlebih dahulu menuju dapur. Tenggorokannya terasa kering karena memang sedari tadi siang Arga lupa minum. Tadi, hanya minum sedikit waktu makan siang saja.
“Tuan sudah pulang?” tanya Minah.
Arga menaruh tas kerjanya di atas meja. “Iya. Hari ini aku pulang lebih awal.” Arga menjawab sambil menuang minuman ke dalam gelas.
“Mau saya ambilkan makan?”
“Tidak usah. Aku sudah makan.” Setelah meneguk yang terakhir, Arga meraih tasnya dan langsung beranjak naik ke atas.
Arga berhenti. Berbalik lalu menatap Minah. “Apa ibu ke butik?”
“Sepertinya iya, Tuan,” jawab Minah.
Arga hanya membuang napas lalu berbalik lagi dan melanjutkan langkah kakinya menuju lantai atas.
Merasa sudah tak sabar, Arga memilih langsung masuk ke kamar Mona tanpa mandi atau sekedar berganti pakaian terlebih dahulu. Perlahan Arga mendorong pintu yang tak di kunci itu, kemudian masuk dan segera mendekat.
Sesampainya di dekat ranjang, Arga mengulum senyum dengan satu tangan terlipat di dada dengan menenteng tas, sementara tangan lain menyangga dagu dengan jemari mengusap-usapnya. Setelah puas memandangi wajah imut yang sedang hanyut dalam mimpi itu, Arga meletakkan tas di atas nakas, kemudian berbalik dan duduk di tepi ranjang di samping Mona yang tertutup selimut sampai di bagian perut.
“Mona, Bangun! Ini sudah sore.” Arga mengguncang kaki Mona dengan pelan. Tak ada reaksi dari Mona, ia tetap diam dan tak bergerak.
“Mona! Bangun!” kali ini guncangan di kakinya semakin cepat.
“Eummmhh.” Hanya lenguhan berat yang terdengar. Kemudian tubuh Mona bergerak dan berubah miring. Arga berdecak lalu menggeser posisi duduknya mendekat ke samping perut Mona.
“Dasar bocah!!” gerutu Arga sambil menepuk bagian bulatan yang tertutup selimut itu.
“Mona, bangun! Sudah sore!” hardik Arga lagi lebih keras. Guncangan di tubuhnya pun lebih cepat.
“Apa sih?!” keluhnya karena merasa tidurnya terusik. “Aku masih ngantuuuk!” gerutunya dengan suara berat.
Sialan! Dia membuatku bernafsu saja! Hardik Arga dalam hati. Jika terus menghadapi Mona yang tingkahnya seperti ini terus, bisa-bisa kepala Arga melepuh karena harus menahan gairahnya sendiri. Sial!
“Bangun!”
Cup! Satu kecupan mendarat di kening Mona. Sontak Mona yang merasakan sentuhan kenyal itu langsung membulatkan mata.
Arga mendengkus, menarik tubuhnya lagi dan duduk tegak dengan mencibir. “Di kasih kecupan saja, kau baru bangun! Dasar menyebalkan!” cerocos Arga masih dengan bibir mencibir.
Mona hanya merengut, lalu meregangkan badan, kemudian barulah bergegas duduk. “Aku kan kaget, makanya melek,” jawab Mona.
Dasar gila! Aku hanya mengecupnya, dia terbangun, lalu apa kabar dengan guncangan dan teriakanku tadi?! Arga justru menggerutu di dalam hati.
***
egk thu sapa yg kirim fito mona ama varel ke hp arga.
Mestinya ya paling engga dia bisalah menelaah situasi, mengerti masalah dalam keluarga... Duh author... please deh...