Ini benar-benar kado ulang tahun terburuk. Di saat Vira tidak mempunyai fikiran untuk menikah di usia muda, tepat di ulang tahunnya yang ke-20 orang tuanya memberikan hadiah calon suami untuknya. Jangankan bisa menolak, bahkan dia tidak punya kesempatan untuk sekedar bernegosiasi.
Begitu juga dengan Vino. Di saat dia sedang memperjuangkan kekasihnya, orang tuanya malah sudah memutuskan siapa yang akan menjadi istrinya tanpa berdiskusi dulu sebelumnya.
Tidak perduli bahkan jika Vino harus kehilangan segalanya, dia akan tetap pada pilihannya. Menikahi kekasihnya. Beberapa tawaran kerap di ajukan. Intinya jika Vino mau menikahi Vira terlebih dahulu, dia bisa menceraikannya nanti kalau memang Vino merasa tidak cocok. Tentu saja itu hanya sebuah kalimat bujukan saja. Nyatanya orang tuanya tidak akan membiarkan hal itu terjadi dengan mudah.
Gadis kampung, pasti kuno. Aku harap dia benar-benar buruk rupa sehingga aku bisa segera menceraikannya. Bukan keterlaluan, hanya saja alasan itulah yang pertama kali muncul di otak Vino.
Sayangnya, Vira adalah seekor angsa cantik yang sedang menyamar menjadi seekor itik buruk rupa.
" Hubungan kita hanya sebatas partner kerja sama. Bukan sebagai suami istri!! "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivi Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan calon mertua
Akhirnya tamu yang di tunggu-tunggu keluarga Vira pun sudah datang. Yunita, Yudis dan Dira.
" Wah, Vira kecil ku sekarang sudah besar dan semakin cantik."
" Terimakasih tante," sahut Vira sopan.
" Sayang sekali calon suami kamu tidak bisa ikut kesini hari ini sayang. Maaf katanya dia masih banyak urusan yang harus di selesaikan sebelum acara pernikahan." Yudis.
" Eh ia tidak apa-apa om." Tersenyum kaku.
" Kenapa masih panggil om sama tante? Mulai sekarang panggil kami mama sama papa ya sayang."
" Eh i...ia."
" Halo kakak Ipar," sapa Dira dengan senyum lebar yang terukir di wajahnya.
Vira hanya menjawab sapaan Dira dengan tersenyum kaku.
Kakak Ipar pantat mu. Gerutu Vira.
Mereka mulai bercengkrama ria di ruang tamu. Membicarakan Vino. Vira hanya pura-pura tersenyum bahagia tidak berkomentar apapun. Sudah setengah jam mereka bercengkrama, membuat Vira semakin merasa bosan. Akhirnya Vira memutuskan untuk pergi dari ruangan itu, menjadikan Dira sebagai alasan.
" Bunda, Vira ajak Dira istirahat ke kamar Vira ya. Kasihan kayaknya Dira lelah, sekalian Vira mau berbincang-bincang sama Dira."
" Ah ia baiklah pergilah, nanti kalau sudah waktunya makan siang kalian turun ya, ajak Neneng juga."
" Baik bunda."
" Ayo, " ajak Vira seraya menyeret tangan Dira buru-buru agar bisa segera pergi dari ruangan membosankan itu.
Di dalam kamar Vira.
" Hai kak Neneng," sapa Dira.
" Dira, masih ingat sama aku rupanya. Apa kabar? "
" Tentu saja ingat, alhamdulillah kabar baik."
Mereka mulai mengobrol bergosip tentang Vino. Vira terus mengorek-korek informasi mengenai Vino dari adiknya itu.
" Dira, apa Vino benar-benar sudah setuju dan memutuskan untuk menikah dengan ku? "
" Ia kakak ipar "
" Dia tidak memberontak sama sekali? Walaupun dia akan dinikahkan dengan perempuan yang tidak dicintainya? "
" Ia kakak ipar, memangnya ada apa? Apa kakak ipar tidak menginginkan pernikahan ini? "
" hmm."
" Tapi kenapa kakak ipar? "
" Entahlah, aku enggak yakin apa bisa pernikahan berjalan tanpa cinta? "
" Tenang saja kakak ipar, cinta akan perlahan tumbuh seiring berjalannya waktu. Dulu mama sama papa Dira juga di jodohkan dan katanya mereka juga enggak saling mencintai pada awalnya, tapi buktinya sekarang ada Dira dan kak Vino lahir di dunia ini dan mama sama papa masih terus bersama bahagia saling mencintai samapi sekarang. Dira yakin nanti kak Vino sama kakak ipar juga akan seperti itu."
" Haish berhentilah memanggilku kakak ipar!! Itu menggelikan."
" Kakak Ipar harus mulai membiasakan diri dong, sebentar lagi kan kak Vira akan menikah dengan kak Vino hehe."
" Dira numpang ke kamar mandi ya," sambungnya.
" Ia."
" Neng gimana dong ini? " Bisik Vira setelah melihat Dira masuk ke dalam kamar mandi.
" Mau gimana lagi, emang udah enggak bisa di apa-apain lagi. Kamu emang udah harus siap menjalankan rencana A dan B."
" Peluang kamu untuk menjadi janda yang masih tersegel kayaknya tipis." Bisik Neneng di telinga Vira kemudian tertawa bahagia.
" Seneng banget kamu tertawa di atas penderitaan ku," ucap Vira sambil memukul tangan Neneng yang sedang tertawa terpingkal-pingkal.
" Sudahlah, terima saja nasib mu menjadi nyonya Anggara."
Sementara di ruang tamu, orang tua Vino mulai menceritakan mengenai Vino yang setuju untuk menikahi Vira namun dengan syarat. Baik Yudis maupun Yunita mereka masih terus berusaha meyakinkan orang tua Vira terutama meyakinkan Lusi yang mulai ragu lagi akan rencana perjodohan putrinya.
" Gimana dong ini mbak, Lusi benar-benar takut dan khawatir. Apa mbak sama mas enggak kasihan sama Vira? Vira harus menikah dengan Vino secara diam-diam, dan Vino masih bisa berhubungan dengan kekasihnya. Apa ini enggak terlalu kejam buat Vira?"
" Ia ini memang kejam, tapi tenang saja mbak akan melakukan cara apapun agar Vino dan Vira terikat selamanya. Mbak enggak akan membiarkan Vira terluka."
" Ia Lusi, saya akan menjamin kebahagian lahir batin Vira."
" Gimana dong ini mas? " tanya Lusi kepada suaminya sambil mencengkram erat tangan suaminya.
" Sudahlah Lus, mas percaya sama mas Yudis sama mbak Yunita. Semuanya pasti akan baik-baik saja."
" Baiklah kalau begitu."
Akhirnya perjodohan Vira dan Vino tetap dilanjutkan. Sekarang sudah masuk waktunya makan siang, akhirnya mereka berkumpul dan makan bersama di ruang makan.
" Vira, kak Vino enggak bisa dateng kesini buat nemuin kamu. Kak Vino lagi sibuk, jadi kemungkinan kalian bisa ketemu kalau Vira ikut tante ke kota. Jadi Vira bisa ikut tante ke kota hari ini dan tinggal di rumah tante sampai acara pernikahan kalian nanti."
" Emhh enggak usah deh tante, biar Vira tinggal di rumah sepupu Vira aja yang ada di kota. Lagian enggak enak juga tante kalo Vira tinggal di rumah tante sebelum Vira di halalin sama kak Vino."
" Ehem cie kakak Ipar." goda Dira.
" Ayah, Bunda, boleh kan Vira tinggal di rumah kak Nia nanti pas di kota ya bunda ya, " pinta Vira.
" Baiklah nanti bunda kabarin dulu sepupu kamu."
" Yes, nanti Vira di temenin Neneng ya bund."
" Emang kamu bisa Neng nemenin Vira? Emang kamu enggak pergi kuliah ke kota? "
" Bisa tante, kebetulan Neneng lagi libur panjang."
" Baguslah kalau begitu."
Akhirnya sudah di putuskan, untuk sementara Vira akan tinggal di rumah sepupunya yang ada di kota sampai acara pernikahan mereka diselenggarakan.
To be continued, don't forget to like and vote💜💜💜
suka bgt sm karakter vira
dia tu ttep gemes sampek akhir
mana ceplas ceplos tanpa basa basi ga menye² meskipun karakter vino kurang greget tp ya makesense si masa iya semua karakter utama bagus² doang
hu aku maraton ampek subuh sumpah emosinya dapet bgt gabosen dan gaskip samsek de bab awal
knp baru baca skrg ya
aku datang 2023 coy